Chapter 01: Heartburn (Prologue)
...*Warning: Mengandung trigger pengalaman traumatis. Harap bijaksana dalam mengonsumsi atau menyerap suatu cerita. Terima kasih!...
..."Shooting Stars: The Butterfly Effect"...
...- Chapter 01: Heartburn...
⸙
Ꝓernahkah kau terpikir bahwa hidupmu "baik-baik" saja, hingga..
"Ibu mau berpisah."
"...apa?"
"Ibu sudah tidak kuat."
"..."
Hingga kau baru menyadari.. bahwa "baik-baik" saja itu hanyalah ilusi.
"Hana? Hana! Kau masih di situ? Tolong jawab ibu.."
"Hana..!?"
Kala itu di sore hari, di sekolahku yang saat ini tampak asing, kakiku secara asing pula bergerak entah menuju kemana aku berlari.
Hatiku sakit.
Ku terduduk di sebuah ruangan, debu menyelimuti ujung hingga ujung, nampaknya sudah lama dibiarkan kosong begitu saja, meja dan kursi tergeletak tanpa beraturan.
Matahari sore menyentuh hangat tanganku yang meremas lantai, seakan-akan ia ingin menggenggam dan menghibur hatiku yang perih. Tak ada siapapun di sini, selain aku dan cahaya oranye yang hangat ini.
"Kenapa.. kenapa harus aku.."
"Kenapa harus aku yang mengalami ini semua..?"
"Kenapa harus aku, diantara semua orang..?"
⸙
Sudah berapa lama aku terduduk menyedihkan di sini?
Tak kusadari bahwa handphoneku telah menunjukkan pukul 17.31 dengan tumpukkan pemberitahuan telepon masuk dari ibu.
Aku tak bisa berpikir logis.
Sakit... dingin... pusing...
Tubuhku kenapa.. ya?
Seketika aku tersentak dengan alunan samar nyanyian merdu nan sejuk diiringi oleh petikan gitar yang pelan-pelan menyentuh hatiku. Apakah ada orang selain diriku di sini?
Apa ini?
Rasanya aku ingin terus mendengarnya.
Tangisku pecah karenanya. Sejuk sekali...
Akhirnya aku bisa menangis.. pipiku penuh dengan derai air mata yang telah terbendung.
Ah.. perasaan apa ini?
Telingaku terasa sejuk, tapi hatiku sesak. Aku tidak mengerti.
Sesaat aku baru menyadari bahwa alunan lembut yang menyembuhkan itu tidak menyentuh telingaku kembali. Apakah aku ketahuan? Ku tengok dan ku terkejut tak kepalang rasanya, sosok sejuk tersebut sudah berada di sampingku berjongkok.
Secara cepat, tubuh yang masih lemah ini tersentak dan terjatuh tepat di depannya. Aku tidak bisa melepas tatapanku padanya.
"M-maaf! Aku bukan bermak-" belum selesai kulanturkan maafku, tiba-tiba saja mata lelaki asing itu terbelalak, dengan mimik wajah penuh heran.
"Kau bisa melihatku?!" seru lelaki itu, tubuhnya menegang saat ia berdiri tegak di depanku.
Alisku mengernyit atas pertanyaannya yang menurutku tidak wajar, "eh, a-apa?"
Ia dengan gerakan canggung, tertatih-tatih mundur sembari menutup ekspresi takjubnya dengan sebuah tangan di depan mulutnya,
"k-kau bisa melihatku..."
⸙
Ɱomen ini..
Pertama kalinya kau dan aku menyadari takdir keberadaan kita.