Cahaya Yang Berubah Menjadi Bayangan

Cahaya Yang Berubah Menjadi Bayangan

Author:RenzzzXc

Bab 1: Anak yang Tidak Pernah Ditunggu

Disclaimer

Kisah dalam novel ini sepenuhnya merupakan fiksi. Tokoh, latar, dan kejadian yang digambarkan hanyalah hasil imajinasi penulis. Jika ada nama, tempat, atau peristiwa yang tampak menyerupai kenyataan, itu murni kebetulan dan bukan hasil dari niat untuk meniru, menyindir, atau merujuk pihak mana pun. Segala kemiripan yang mungkin muncul tidak disengaja.

Selamat membaca.

Langit tampak kusam, seperti tak punya keinginan untuk bersinar pagi itu. Udara lembap menyusup melalui celah-celah jendela sekolah yang sudah tua, merambat seperti kabut yang tak terlihat. Di pojok ruang kelas yang catnya mengelupas, seorang anak laki-laki duduk diam, wajahnya menunduk tanpa suara, tangan terlipat di atas meja kusam yang penuh coretan. Tak ada yang memperhatikannya. Tak ada yang ingin melakukannya.

Namanya Galendra Satmaka.

Setiap pagi, langkahnya selalu pelan saat memasuki gerbang sekolah. Bukan karena malas, tapi karena ia tahu apa yang menantinya. Tatapan sinis, ejekan, atau kadang hanya keheningan yang menghina. Ia tidak bodoh. Nilainya selalu cukup tinggi, bahkan kadang terlalu tinggi untuk membuat anak-anak lain merasa risih. Tapi nilai tidak bisa menyelamatkan seseorang dari dijadikan sasaran.

Suara langkah berat mendekat di koridor, lalu pintu kelas dibuka dengan kasar. Tiga anak lelaki masuk, satu di antaranya tinggi besar, memakai jaket dengan tudung yang dibiarkan tergantung di punggung. Namanya Bima, ketua geng kecil di sekolah itu. Tatapannya menyapu ruangan dan langsung berhenti pada Galendra yang tidak bergerak sedikit pun. Seperti biasa.

“Hei,” suara Bima berat dan malas. “Lo belum bayar ‘biaya keamanan’ hari ini.”

Galendra tidak menjawab. Ia hanya menarik napas pelan, masih menunduk. Tangannya menggenggam sesuatu di dalam saku, sesuatu kecil yang tak bernilai tapi terasa penting—sebuah gelang karet tipis bertuliskan ‘bernafaslah’. Satu-satunya hadiah dari seorang guru yang sudah pindah bertahun lalu.

“Lo denger gak sih?” tanya anak satu lagi, mendorong bahunya dari samping.

Galendra menoleh sedikit. Tatapannya kosong, bukan karena ia tidak peduli, tapi karena terlalu sering mencoba peduli dan selalu gagal. Ia membuka mulut pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara anak-anak lain yang mulai masuk ke kelas.

“Aku… gak punya uang…”

“Lho, gitu ya?” Bima tertawa kecil, lalu meraih kerah seragam Galendra dan menariknya ke atas, memaksanya berdiri. “Tapi kemarin lo makan di kantin, kan? Ada uang buat itu, tapi gak ada buat kita?”

“Waktu itu aku disisain sama—”

Sebuah dorongan keras membenturkan tubuhnya ke tembok kelas. Buku-bukunya jatuh, berhamburan ke lantai. Tak ada yang membantu. Seorang guru lewat di luar jendela, menoleh sesaat, lalu berjalan lagi seolah tak melihat apa-apa.

“Lo tuh harus tau diri, Galen. Gak punya temen, gak punya keluarga, dan sekarang gak punya uang. Jadi buat apa juga lo ada di sini?”

Ada jeda. Waktu seakan diam untuk beberapa detik.

“Aku juga gak tahu,” jawab Galendra pelan.

Hening. Bahkan anak-anak yang biasanya ikut tertawa mendadak diam. Mungkin karena suaranya begitu jujur, atau justru karena terasa seperti sesuatu yang patah. Tapi itu tidak bertahan lama. Bima mendesis, lalu menendang tas Galendra hingga terlempar ke luar kelas. Tawa pun pecah lagi, seperti gigi-gigi mesin yang kembali berputar.

Hari itu berjalan lambat. Galendra duduk sendirian saat jam istirahat, di belakang gedung olahraga yang sudah hampir roboh. Ia menarik lutut ke dadanya dan menunduk, mencoba membuat dirinya sekecil mungkin. Hujan mulai turun, gerimis kecil yang terasa seperti jarum dingin di kulit. Tapi ia tidak bergerak. Tidak menangis. Ia hanya duduk, membiarkan pakaian dan rambutnya basah.

Seseorang pernah bilang padanya bahwa dunia itu luas, dan tempat ini cuma satu titik kecil. Tapi bagi Galendra, titik kecil ini terasa seperti seluruh alam semesta yang menghukumnya karena sesuatu yang tidak ia mengerti. Ia bukan anak nakal. Ia tidak pernah membalas. Tidak pernah mengeluh. Tapi tetap saja, setiap hari rasanya seperti sedang dihukum atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.

Malam hari, ia pulang ke rumah kecil di pinggir kota. Tidak ada yang menyambut. Ibunya sudah meninggal dua tahun lalu, dan ayahnya pergi sebelum Galendra bisa mengingat wajahnya. Ia tinggal sendiri, menyalakan lampu, memanaskan sisa nasi dari kemarin, lalu duduk di lantai karena kursi satu-satunya sudah patah. Ia makan perlahan, tanpa rasa. Bukan karena makanannya hambar, tapi karena hidup terasa tidak punya rasa lagi.

Di dinding, sebuah foto tergantung miring. Foto ibunya yang sedang tersenyum memeluknya waktu kecil. Ia menatap foto itu lama, lalu bertanya tanpa suara, “Kenapa aku ada di sini?”

Tak ada jawaban. Tentu saja.

Lalu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menatap langit malam dari jendela kecil yang retaknya menjalar seperti akar pohon. Bintang-bintang tampak jauh dan dingin. Ia bertanya-tanya, kalau ia bisa menghilang malam itu, apakah ada yang akan peduli?

Dan ketika akhirnya ia tidur, tubuhnya bergetar pelan karena udara malam yang dingin. Tapi lebih dari itu, yang menggigil adalah sesuatu di dalam dadanya. Sesuatu yang tidak bisa ia hangatkan dengan selimut atau api.

Ia bermimpi. Tapi di dalam mimpinya, tidak ada langit. Tidak ada tanah. Hanya suara yang berbisik dari kejauhan, suara yang tidak asing tapi tidak juga dikenalnya.

Dan esok hari, ia akan kembali berjalan ke sekolah. Dengan kepala tertunduk, napas pelan, dan harapan yang sudah hampir padam.