Judes Dulu, "Jatuh Cinta Kemudian"

Judes Dulu, "Jatuh Cinta Kemudian"

Author:Pena Story.id

Bab 1: Pertemuan yang Tidak Dirindukan

"Judes Dulu, Jatuh Cinta Kemudian"

..."Awas, dong! Mata lo taruh di mana, sih?!"...

Suara tajam itu menampar udara siang yang panas di pelataran kampus. Revan baru saja menabrak seorang cewek karena terlalu sibuk membaca notifikasi di ponselnya. Kopi susu di tangan cewek itu tumpah, sebagian membasahi jaket abu-abu yang dikenakannya.

..."Aduh, maaf banget. Aku nggak sengaja—"...

..."Nggak sengaja? Kalau gue nggak sengaja nonjok lo, lo juga bakal bilang 'nggak sengaja', gitu?!"...

Revan mengangkat tangan, bingung harus minta maaf atau kabur. Cewek itu berdiri di hadapannya, dengan tatapan tajam seperti mata kucing yang siap mencakar. Wajahnya cantik, tapi aura “judes maksimal” menguap dari setiap gerak-geriknya.

Namanya Nadine. Mahasiswi hukum tingkat akhir yang terkenal galak dan tidak punya waktu untuk basa-basi. Dan Revan? Mahasiswa desain komunikasi visual yang baru pindah dari luar kota—baru sehari menginjak kampus, sudah kena semprot.

...Revan menarik napas. “Beneran, aku minta maaf. Gimana kalau aku ganti kopinya?”...

...Nadine mendelik. “Dan ganti waktu gue yang kebuang buat ngadepin lo juga?”...

...Revan terdiam, lalu tersenyum. Senyuman yang terlalu tenang, membuat Nadine makin sebal....

...“Lo senyum-senyum kenapa?” tanyanya sinis....

...“Karena baru pertama kali ada orang semarah ini cuma gara-gara kopi. Tapi oke, noted. Lo galak, tapi cakep.”...

...Nadine terbatuk karena kaget. “Apa?!”...

...Revan sudah berjalan pergi, melambaikan tangan. “Maaf, Nadine. Kita belum kenalan, tapi aku sudah tahu nama kamu dari name tag. Sampai ketemu lagi, Miss Judes.”...

Nadine menatap punggung cowok itu yang makin menjauh. Dan entah kenapa, ada sensasi aneh di dadanya. Kesal. Tapi... penasaran.

Hari pertama Revan di kampus seni rupa itu dimulai dengan gugup dan semangat yang bercampur jadi satu. Langit Jakarta yang sangat cetar membahana siang itu, seolah ikut menahan detak jantungnya yang belum siap benar menyandang status sebagai anak baru di Fakultas DKV.

Dengan tas selempang berisi sketchbook dan pena favorit, ia melangkah masuk ke gedung kuliah. Dindingnya penuh mural buatan mahasiswa, penuh warna dan ekspresi—terlihat seperti galeri jalanan yang hidup.

...Langkah Revan terhenti sejenak di depan kelas 3.1.1. Ia menarik napas, lalu masuk....

Suasana kelas sudah setengah ramai. Beberapa mahasiswa duduk bergerombol, ada yang sedang ngobrol, ada pula yang sibuk menggambar di iPad. Pandangan Revan menyapu sekeliling sebelum akhirnya duduk di bangku kosong dekat jendela.

...“Hei, lo anak baru, ya?”...

Suara itu datang dari seorang cowok berambut acak-acakan, dengan hoodie lusuh dan tote bag penuh gantungan kunci. Ia duduk di bangku sebelah Revan sambil mengulurkan tangan.

...“Gue Vano.”...

...“Revan,” jawabnya sambil tersenyum dan menjabat tangan itu....

...“DKV tahun ini banyak anak berbakat, katanya,” Vano lanjut. “Lo masuk lewat jalur portofolio, ya?”...

...Revan mengangguk. “Iya. Gambar dan sedikit puisi visual.”...

...“Wah, anak puitis nih!” Vano berseru. “Gue desainer poster. Suka bikin typografi. Nanti kita tukar karya, ya.”...

Percakapan mereka terputus saat dosen masuk. Kelas dimulai dengan perkenalan ringan. Mahasiswa diminta membuat name tag dengan desain bebas yang mencerminkan kepribadian. Revan menggambar satu helai daun jatuh yang dibentuk dari potongan kata—sebuah puisi kecil dalam sketsa.

...“Lo beneran puitis,” bisik Vano saat melihat hasilnya. “Cewek-cewek bakal klepek-klepek nih.”...

Revan hanya tertawa. Dia tak mencari itu. Yang ia cari di kampus ini hanyalah ruang untuk berkarya, bertumbuh, dan… mungkin menemukan seseorang yang mengerti cara hatinya bekerja.

Namun, niat untuk tenang-tenang saja di hari pertama hancur seketika begitu ia berjalan ke kantin dan tidak sengaja menabrak seseorang.

Kopi susu tumpah. Tangan seseorang berkacak pinggang. Suara tajam menembus telinganya.

Revan baru saja mengenal teman satu jurusannya… dan sekarang, dia kena semprot oleh cewek dari fakultas sebelah.

Yang bahkan belum ia tahu, adalah… gadis itu akan sering sekali muncul dalam hidupnya.

Dan mungkin, dalam puisinya.

...****************...

BERSAMBUNG...

Cukup Sekian Terima Kasih...

Cerita diatas hanya sekedar harapan yang sama tetapi tujuannya berbeda.

Diskusikan lah jika tata tutur kata dalam cerita diatas tidak dapat di pahami. Cukup dibaca saja jika paham alurnya, sampaikanlah point terpenting nya dan coba untuk diterapkan didalam sebuah perjalanan jika memang membutuhkan nya.

Salam Indonesia.

Jakarta, Maret 1996

//BERSAMBUNG LANJUT Di Cerita PAGE 2 (Dua).