BAB 1 - Keajaiban Yang Tidak Diminta
"Seorang jenius mutlak yang membuat 2 dunia tidak berjalan sesuai realitas."
Seorang siswa kelas dua SMA berpenampilan biasa dan memiliki rambut berantakan berwarna hitam dan bola mata berwarna pink pekat yang memancar.
Namanya adalah Luminael, seorang siswa biasa... setidaknya, itulah yang selalu ia coba tampilkan. Tapi dunia tahu tak ada yang biasa dari Lumianel, ia adalah jenius mutlak.
Pada saat ujian matematika diadakan secara mendadak, dimana murid lain pada panik, namun berbeda dengan Lumi, Lumi tetap tenang dan memikirkan yang tidak ada kaitan nya sama sekali dengan ujian matematika.
4 menit 22 detik pun berlalu dimana yang lain baru menjawab 2-5 soal namun Lumi sudah menyelesaikan semuanya, pandangan demi pandangan tertuju kearah Lumi, bukan pandangan kagum melainkan pandangan iri dan juga benci, namun Lumi menanggapi itu hal biasa karena itu hal yang wajar di kehidupan nya tapi yang Lumi inginkan adalah hidup normal seperti orang pada umumnya, bahkan ketika ia diam tanpa sadar pikiranya berlari maraton sejauh dimensi realitas itu sendiri.
Tapi dunia tak selalu ramah pada yang terlalu unggul. Teman? Palsu. Guru? Ingin memanfaatkan. Keluarga? Tekanan. Cinta? Fiksi.
Luminael adalah definisi dari keajaiban yang tidak diminta. Otaknya bekerja dengan pola yang tidak bisa dipahami oleh siapapun. Ia menulis sebuah teori fisika baru saat menunggu hujan reda di dalam cafe perpustakaan. Ia membantah tiga argumen filsafat eksistensial hanya karena iseng membaca catatan kecil dari buku filsafat kuno. Tapi yang membuat dirinya frustasi adalah, ia tidak pernah berniat sedikitpun untuk menjadi sehebat ini.
Dan ia Luminael, dengan semua pola pikir yang ia miliki, hanya ingin menjadi orang biasa. Duduk di kantin bersama teman sambil membahas hal bodoh. Pulang sekolah sambil tertawa receh. Mungkin merasakan apa artinya cinta atau penerimaan.
Tapi hidup... punya cara nya sendiri.
Saat dia sedang duduk di pinggir lapangan tepatnya di bawah pohon dan udara yang sangat sejuk dengan di temani sepotong roti dan air putih, saat dia sedang asik bermain ponselnya muncul berita yang menggemparkan satu dunia yang membuat ia terpaku diam, dan isi berita tersebut dipenuhi gambar serangga dengan angka atau kode-kode misterius di belakang nya dan seketika muncul sebuah tulisan.
"Hello. We are looking for highly intelligent individual..."
Dan halaman berikutnya menunjukan simbol-simbol aneh, sandi PGP, urutan angka Fibonacci, dan kutipan dari puisi William Blake yang dibalik dalam bentuk enkripsi... Lumi terkejut dan sempat teridam sejenak seolah dirinya membeku dan bel pun berbunyi namun Lumi tetap meratapi apa yang ada di layar ponselnya, seketika ia tersadar bahwa sudah waktunya masuk ke kelas, dan Lumi memikirkan hal itu sehingga membuat dirinya tertarik untuk memecahkan kode-kode yang diberikan oleh entitas tidak dikenal tersebut, saat ia pulang sekolah dan tiba di rumah ia pun membuka ponselnya lagi dan berusaha untuk mencari apa yang sebenarnya terjadi namun Lumi sadar ini bukanlah hal yang biasa tapi dia tetap mencoba nya dan berhasil melewati tahap per tahap.
Orang-orang gagal melewati tahap per tahap dan tanpa Lumi sadari dia telah menyelesaikan kode tersebut dengan akhiran kata yang bertuliskan.
"The pattern has been deciphered, the sequence assemble, and the pulse of human thought now beats in sync with your rhythm."
Dan tanpa ia sadari bahwa ia telah menjadi incaran "mereka" orang-orang yang tidak pernah muncul di layar, tapi menentukan arah dunia dari balik layar.
sejak saat itu,kamera CCTV bergerak sendiri mengikutinya.
Email-email misterius masuk lalu hilang.
Dan mobil hitam aneh yang terparkir di depan rumahnya setiap malam.
Sebulan kemudian, berita menyebar:
"Siswa SMA jenius, Luminael, dinyatakan tewas dalam kecelakaan tragis. Sepeda yang dikendarainya hancur tertabrak oleh mobil pom bensin yang seketika meledak. Jasadnya belum di temukan."
Tapi kenyataan berkata lain.. dia tidak mati.
Dia diculik oleh para elit global. Mereka membawanya ke fasilitas bawah tanah. Tempat di mana teknologi terasa terlalu maju, dan moralitas terasa terlalu usang. Di sana, Lumi dipaksa menyelesaikan kode kode dengan penuh tekanan yang mengarah pada PROJECT ECLIPSE frekuensi yang dapat mengendalikan pikiran kolektif seluruh umat manusia.
Luminael menolak.
Mereka terus menyiksanya. Memeras pikiranya hingga nyaris hancur. Tapi Lumi bukan hanya jenius dia sangat keras kepala. Tubuhnya diikat di sebuah kursi, pikirannya penuh tekanan, tapi jiwa nya tidak akan tunduk. Dan Lumi terus mencoba untuk membunuh dirinya sendiri namun mereka menghalangi Lumi, dan menjaga Lumi agar tetap hidup. Karena Lumi adalah satu satunya kunci yang dapat mempermudah mereka untuk menyelesaikan PROJECT ECLIPSE.
Hari berhari telah berlalu.
Dimalam ke-40, dalam gelap dan sunyi, ia menatap langit-langit ruangan dan secara tidak sengaja terlintas dibenaknya suatu hal yang gila, dan dia berbisik pelan.
"Kalau mereka ingin otakku... maka aku akan menonaktifkannya."
Dan dia berhasil melakukannya.
Dengan metode yang sangat aneh yang bahkan tidak akan bisa di cerna akal manusia
Dalam hening, Lumi mulai merancang sesuatu yang tak masuk akal bahkan bagi dokter, ilmuwan, atau siapapun yang waras.
Kematian yang dirancang oleh pikirannya sendiri.
Ia memfokuskan seluruh kapasitas kognitifnya pada satu misi:
Mengalihkan jalur sinyal saraf ke dalam medan stimulasi yang memerintahkan pembuluh darah arteri utama menusuk jantungnya.
Tubuhnya mulai bereaksi. Perlahan. Detak jantungnya meningkat, lebih cepat... lebih cepat... hingga menyentuh batas yang tak wajar yang sangat mustahil bagi manusia.
Ruangan bergema dengan suara detakan yang tak wajar. Para penjaga mendekat, merasa ada hal yang sangat aneh. Terlambat. Semuanya sudah terlambat.
Dada Lumi tiba-tiba menegang. Lalu seperti pecahnya kaca dari dalam, jantungnya hancur.
Pendarahan hebat langsung menyebar dalam tubuhnya. Pada detik yang sama, Lumi memicu impuls otaknya untuk shutdown total dan mematikan semua fungsi kognitif secara terprogram, seolah-olah menekan tombol power off pada sistem biologisnya sendiri.
Tubunya jatuh, diam, Dan darah di sekujur tubuhnya, monitor vital berbunyi panjang. Garis lurus di layar menjadi satu-satunya suara yang tersisa.
Mereka sangat panik. Mereka mencoba untuk membangunkan Lumi lalu memanggil para ilmuwan dan dokter. Tapi sudah terlambat.
"Anak itu telah membunuh dirinya sendiri dari dalam" ucapan panik dari salah satu anggota mereka.
Tidak dengan senjata. Tidak dengan racun. Tapi dengan Logikanya yang terlalu jauh meninggalkan pemahaman manusia.
Tapi... apakah dia benar-benar mati?
Atau hanya terlalu cerdas untuk tinggal di dunia ini?
Lumi mati. setidaknya... itu yang mereka pikir.
Dan kemudian...
Gelap.
Hampa.
Bukan malam. Bukan ruang tanpa cahaya. Bukan kelopak mata yang tertutup.
Ini adalah kekosongan absolut(void). Tidak ada atas. Tidak ada bawah. Tidak ada suara, bau, rasa, bentuk dan waktu.
Hanya... kesadaran yang melayang di antara ketiadaan.
Lumi merasa dirinya ada, tapi tidak punya bentuk, tidak punya tubuh, ia tidak bisa merasakan apapun. Tapi pikirannya... masih ada. Terjaga. Terlalu jernih.
Ia mencoba berpikir. Tapi bahkan pikiran terasa seperti gema dalam ruang hampa.
Lalu... dalam kegelapan, suara lembut mem bisik:
"Kau telah meninggalkan dunia yang tidak bisa menampung logikamu... selamat datang di dunia baru, Luminael."
Lembut. Dalam . Halus. Tanpa arah. Tapi langsung menyentuh titik kesadarannya.
"Ini bukanlah akhir. Kau telah memilih untuk meninggalkan dunia yang tak lagi bisa menampung logikamu."
"Oleh karena itu... kami akan menugaskanmu."
"Satu dunia telah menolakmu. Maka sekarang. Satu dunia akan dibentuk... oleh keberadaanmu."
Luminael ingin bertanya, ingin menolak, ingin tahu apa arti semua ini. Tapi di dalam kehampaan yang absolut(void) ini, kehendak pun terasa seperti ilusi. Ia hanya bisa diam, mendengar, dan menerima.
"Ini bukan sebagai hukuman... bukan juga sebuah hadiah."
"Dunia baru akan menunggu. Tapi bukan sekedar untuk kau tinggali. Ia menunggu untuk... kau bentuk."
Dan saat kalimat itu selesai kesadarannya seperti ditarik paksa ke sebuah lubang tanpa ujung, ia jatuh, atau naik, atau mungkin berputar tanpa arah.
Lalu cahaya bersinar.
Ketika ia membuka mata..
Langit aneh yang berwarna ungu tua. Dua bulan menggantung dengan warna emas yang berkilauan dan warna biru yang terasa sangat dingin. Udara yang terasa aneh. Ia terbaring di atas rumput, dikelilingi kabut dan pohon-pohon tinggi yang tak dikenal.
"Apakah... aku masih hidup?" gumamnya. Tapi tidak yakin lagi apa arti kehidupan.
Kemudian dia duduk, tubuhnya lemah, tapi pikirannya sangat kacau.
Lalu matanya tertuju pada sesuatu di tangan kirinya.
Segel emas.
Melingkar seperti matahri dengan retakan kecil di pinggirannya.
Berdenyut... hidup.
"Apa ini...?" tanya Lumi dengan ekspresi bingung.
Kemudia ia mencoba untuk berdiri namun, kepala nya masih pusing, badannya lemah, kakinya terasa berat, dan tatapan nya yang rabun, dan kemudian...
Ia jatuh pingsan.
(Tetap support kita terus ya, jangan lupa like, komen, vote, dan follow ig kita yang ada di profile novelnya ya!)