Bodoh Yang Disengaja

Bodoh Yang Disengaja

Author:Terambau

Rakha, si paling bodoh di kelas.

Kesalahan terbesarku adalah menganggap orang bodoh itu beban. Aku tak tahu mengapa ? Dulu di mataku, orang yang ulangannya sering nol, orang yang duduk di bangku paling belakang, orang yang selalu tidur di kelas, sangat tak ku suka. Terutama anak laki-laki di kelasku, Rakha septian.

Entah harus ku mulai darimana. Apakah dari caranya datang ke sekolah, yang nyaris selalu terlambat. Atau cara tidurnya yang menggangu seluruh penghuni kelas, dengkurannya yang nyaring saat guru menjelaskan. Atau bahkan buku-bukunya yang kesemuanya kosong. Tak ada satupun catatan.

Benar kiranya, orang malas adalah orang paling rajin sejatinya. Dia tak pernah berfikiran melakukan hal lain. Nyatanya, tidur di kelas tak pernah ia tinggalkan, meski sehari saja. Padahal guru pernah memperingatkan, tapi dia bebal. Pura-pura saja mendengarkan, mengangguk-anggukkan kepala dan setelah itu nasehat guru dikeluarkan dari kupingnya.

Pak Yono adalah salah satu guru yang pernah menegurnya. Kala itu dia tidur dengan dengkurannya yang hampir kedengaran seruang kelas, di bangku belakang kesukaannya.

Pak Yono awalnya tak sadar sampai dia selesai menjelaskan pelajarannya, matematika, pelajaran paling menakutkan, katanya. Padahal menurutku,

matematika itu seru. Mereka saja yang tak paham. Memang benar, manusia membenci sesuatu yang tak ia pahami. Karena dia tak punya kemampuan untuk hal itu. Aku sangat setuju pada seseorang yang mengatakan: jadilah seperti matematika, hanya dicintai oleh orang yang tepat.

"Hey bangun!" Ucapnya sambil memukul meja rakha.

Pak Yono memang bukan guru killer, Bahkan dia suka bercanda, tapi ingat ketika orang yang sering bercanda itu marah, maka lebih menakutkan dari yang sering marah.

Rakha terbangun dengan seisi kelas menertawainya. Kecuali aku. Ini bukan hal lucu menurutku. Karena tidur di kelas sama saja dengan membuang-buang waktu. Padahal waktu terus berjalan dan tak bisa diulang ke belakang.

...----------------...

"Dengan kakak indah?" Tanya pengemudi taxi yang ku pesan.

"iya pak," jawabku dengan sedikit anggukan.

Aku langsung masuk ke taxi itu. Duduk di kursi belakang.

"Alamatnya sudah saya kirim yaa pak," ujarku setelah taxi mulai berjalan.

"Iya kak," terdengar jawaban dari kursi depan.

"Kakak bekerja di PT Sanjana?" Tanyanya setelah memastikan alamat yang ku kirimkan.

"Enggak pak, saya cuma anak magang.

"Ohhh, gitu?"

"Iya pak,"

Hari ini seperti biasanya. Aku berangkat pagi-pagi, bukan karena takut dimarahi, tapi ini sudah jadi kebiasaanku. Aku adalah orang yang paling tak suka orang terlambat, sebab aku sering tepat waktu. Bagiku, waktu itu sangat berharga, tapi kita kadang tak sadar seberapa pentingnya. Coba tanyakan saja pada murid yang pernah tidak naik kelas, seberapa pentingnya waktu setahun. Atau tanyakan pada ibu yang melahirkan secara prematur tentang pentingnya waktu sebulan.

Atau bahkan editor majalah mingguan tentang pentingnya seminggu. tak usah sampai seminggu, sepasang kekasih juga kadang bertengkar, ketika yang lain datang terlambat 1 jam. Atau orang-orang di bandara yang begitu menyesal, sebab pesawat berangkat 1 menit sebelum dia datang. Semuanya menyuarakan bahwa waktu sebegitu berharga, terlebih orang yang berhasil menghindar 1 detik sebelum dia tertabrak.

Manusia yang tak menghargai waktu, yang tak mau berjalan saat tiba waktunya. Maka dia harus berlari keesokan harinya. Agar dia sepadan dengan hasil orang-orang di sekitarnya.

"Mbak, sudah sampai."

"oh iya pak, ini uangnya."

"ngga ada uang pas mbak?"

"Ngga ada pak, yaa uda ambil aja kembaliannya, itung-itung sedekah."

"Makasih mbak."

"Iyaa pak."

Ku lirik arloji di tanganku. Jam masih menunjukkan pukul enam. Ini terhitung pagi bagi orang kantoran. Karena mereka biasanya datang pukul setengah tujuh, setengah jam sebelum masuk.

Biasanya setelah turun taxi aku akan pergi ke kantin kantor. Memesan makanan untuk sekedar mengganjal perut. Setidaknya bertahan sampai istirahat makan siang. Tentang penjaganya, kalian tak perlu khawatir. Dia sudah disediakan tempat disana. Makanya setiap waktu dia stand bye disana. Selain untuk mempermudah dirinya juga untuk mempermudah para karyawan yang terkadang lembur disana.

Namanya pak Dadang, seorang pria berkepala tiga dengan istri dan satu anaknya.

beliau orang yang ramah. Tak heran para karyawan betah berlama-lama disana. Konon katanya, beliau lebih dulu masuk ke kantor ini dari pak direktur sekarang. Jadi jika mau dibilang Senior lebih Senior beliau. Tapi jabatannya saja yang membedakan. Pak dadang seorang penjaga kantin kantor dan pak direktur adalah pemimpin kantornya.

"Kak indah, seperti biasa datang pagi-pagi,"

pak Dadang menyapaku sambil meletakkan seporsi makanan yang sering ku pesan. Beliau memang cekatan. Hampir semua karyawan merasa nyaman di dekatnya. Kata karyawan-karyawan senior, beliau dulu pernah buka usaha di pinggir jalan, sampai akhirnya mantan direktur sebelumnya mengangkatnya

sebagai penjaga kantin di kantornya. Itupun karena pak direktur terkesan akan makanan buatannya.

aku hanya tersenyum. Menjawab sapaannya yang begitu hangat.

Sekarang aku sudah begitu sadar bahwa kita tak bisa menilai seseorang hanya dari otaknya saja. Atau dari prestasinya yang begitu memukau. Seseorang juga begitu berharga untuk orang di sekitarnya, meskipun tidak punya peran besar. Meskipun tak bisa membantu permasalahan kita, tapi dengan kehadirannya saja kita sudah merasa senang dan tenang. Menurutku, hal itu lebih berharga daripada orang yang membantu tapi sambil mengoceh saja.

Seperti para orang tua yang sudah memasuki usia renta. Memang mereka sudah tak bisa membantu permasalahan-permasalahan anaknya. Utang cicilan, belanja bulanan, atau perseteruan antara menantu dan anaknya, tapi setidaknya dengan kehadiran mereka, itu akan membuat mereka bisa mendapatkan seseorang untuk berterus terang. Mengadukan segala patah sebab urusan dunia, mengakui bahwa mereka tak sekuat penglihatan orang luar. Dan semua itu mulai ku sadari saat bertemu kembali dengan rakha, siswa yang ku nilai paling bodoh di kelas, yang dulu ku anggap begitu rendah.