Tumbal Pasung Perjanjian Gaib

Tumbal Pasung Perjanjian Gaib

Author:DityaR

Malam Penculikan

"TOLOOOOONGGG!" jerit seorang perempuan.

Ia tidak tahu apakah itu mimpi atau kenyataan. Yang jelas, kedua tangannya sedang ditarik oleh seseorang dengan sangat kuat. Ia belum bisa memastikan siapa pelakunya.

Penglihatannya gelap, karena kepalanya terbungkus karung goni. Hanya betis hingga pinggangnya yang terasa panas akibat bergesekan dengan tanah.

“AARRRRGGGGGGGHHHH TOLOOOONGGG! AARRRGGGHHHH!” Ia terus mencoba berteriak, tetapi suara itu kemudian hanya berhenti di tenggorokan.

“MENENG JANC0000K!” bentak seseorang di telinganya.

“Ha-ha-ha. Dino ikih ... kita dapat barang bagus, Bolo!” timpal suara lain.

“Si Mbah pasti kesenengen, iki!” sahut seseorang yang lainnya.

“Tapi, Bos. Kenapa enggak kita perawanin aja jalang satu ini? Habis itu baru kita buang ke dukun itu. Eman loh, Bos. Ayu banget seeh!”

Perempuan itu tidak paham apa yang mereka bicarakan dan tidak peduli. Ia hanya ingin bisa melihat, berteriak, lalu berlari secepat mungkin.

Yang ia rasakan hanyalah sakit di seluruh tubuhnya. Dan terakhir yang ia rasakan ... puluhan pasang tangan besar dan kasar, menggagahi seluruh tubuhnya tanpa tersisa.

...BRUAKKK...

...NGIIIIIIING...

Terang.

Bayangan putih.

Suara air mengalir.

Ia tidak ingat apa pun tentang malam itu. Karena saat terbangun, ia sudah berada di sebuah kurungan besi berukuran sempit.

Di sudutnya terdapat segelas air dan sehelai handuk kotor menggantung di pegangan pintu.

Di atas meja, puntung rokok masih mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban pun tampak tergantung di dinding. Ada puluhan keris berjajar rapi di dalam lemari kaca.

“Tutupin dulu tubuhmu, Nak!” teriak seorang kakek dari arah lain sambil melemparkan sehelai jarik.

Barulah ia menyadari bahwa sejak tadi ia tidak mengenakan apa pun.

Ke mana perginya pakaiannya?

Hijabnya?

Ponselnya?

Apakah mereka benar-benar telah menyetubuhinya malam itu?

“Ooohh? Ahhhh. Aaaaargghh? Auuuhhhh?”

Ia terkejut.

Suaranya tidak keluar dengan benar.

“Haaaa! Aaaarhhhh! Hieeeeaaaaa!”

Ia tidak bisa bicara.

“Suaramu bakal balik setiap tanggal sebelas Jawa, Nak!” jawab sang kakek, seolah tahu apa yang ia rasakan.

Ia segera menutupi tubuhnya dengan kain batik cokelat tua itu.

“Arrrggghhh!”

“Jangan berisik!” teriak sang kakek sambil menggoyangkan kandang besi.

Kain yang baru saja dililitkan di dadanya pun terjatuh saat ia berpegangan pada sisi kandang.

“Makanya diam,” lanjutnya.

Nurhalina tidak bisa melawan. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya.

Ia ingin pulang.

...TOK TOKK TOOK...

“Mbah Samin ... Mbah ... ini saya bawakan menyan sama dupanya. Sekalian dengan mahar yang kemarin kurang.”

“Tunggu sebentar!”

Sang kakek pun menutupi kandang besi dengan kain merah, menyembunyikannya.

Ia tidak tahu siapa yang datang. Apakah salah satu orang yang menyiksanya semalam?

Ruangan itu cukup luas.

Karpet beludru hijau menutupi lantai. Dindingnya dipenuhi tengkorak kepala kerbau. Bau kenanga menyeruak ke seluruh ruangan tersebut. Kakek tua itu mengenakan kalung taring besar dan blangkon batik warna gelap.

“Masuk!”

...KREEEETT...

Pintu terbuka.

“Assalamualaikum,” ucap seorang pria.

“Waalaikumsalam. Jadi bagaimana? Sudah ada perkembangan?” tanya sang kakek.

“Alhamdulillah, sudah, Mbah. Saya kembali terpilih sebagai kepala desa *******rejo. Semua ini berkat bantuan Mbah.”

“Mbah ikut senang mendengarnya. Tapi ingat perjanjian yang sudah kamu buat. Atau .…”

“Tenang saja, Mbah. Saya tidak akan ingkar janji. He-he-he.”

“Bagus. Jadi, kapan diangkut?”

Kandang besi yang ditempati perempuan itu sedikit bergetar.

“Biar anak saya saja yang mengambilnya nanti, Mbah. Kalau begitu, saya pamit dulu. Terima kasih.”

“Hmm.”

...KLEKKK...

Kain merah penutup kandang dibuka, tetapi bukan oleh sang kakek.

“Mbah, kenapa tumbal kali ini besar sekali toh?” tanya seorang pemuda bertubuh tinggi, bersarung, dan berkopiah hitam. “Kan biasanya cuma ayam jago cemani.”

“Karena keinginan si empunya juga besar. Jadi, korbannya harus sepadan, Panca!” jawab sang kakek.

“Cepat mandikan dia dengan air kembang sebelas rupa, lalu rias,” tambahnya.

“Iya, Mbah.”

Meski sedikit lega bisa keluar dari kurungan, perempuan itu tetap merasa tidak nyaman.

Panca langsung menggandengnya melewati jalan belakang rumah. Mereka melintasi bebatuan terjal. Tangan Panca menjinjing tas bambu berisi bunga.

Mereka berada di atas bukit. Satu-satunya rumah di sana tampaknya hanya milik sang kakek. Selebihnya hanyalah hutan jati dan aliran sungai jernih di kejauhan.

Mereka tiba di sebuah pemandian berlumut, lebih tepatnya mata air dengan tepian beton yang sudah retak-retak dan usang.

Sebuah patung penari wanita, berdiri di ujung-ujung kolam.

“Maaf, Kak. Kakak harus mandi,” ucap Panca dengan sopan.

“Ahhh … Ahhhhiiiihh?”

Perempuan itu masih tidak bisa bicara. Ia berusaha keras menolaknya. Ia tidak mau mandi di tempat terbuka seperti itu.

“Maaf, Kak. Aku hanya menjalankan perintah Mbah,” pintanya.

“Eeehhh … Aah … Ahhh!” pekiknya, tetapi ucapannya hanya membuat si Panca kebingungan.

Pemuda itu meletakkan keranjang bambu di tepian, lalu mengambil gayung.

“Kakak tenang saja. Ini gak lama, kok. Airnya bersih. Maaf, ya, Kak,” ucapnya sambil mencoba meraih jarik penutup tubuh perempuan itu.

Ia menolak dalam hati.

"ARRGGHHHH!"