AMERTA (Harga Dari Kata Selamanya)

AMERTA (Harga Dari Kata Selamanya)

Author:saspen

Pria Misterius

Perpisahan dalam kisah cinta adalah episode paling menyakitkan. Ketika semua tak lagi sama, dua orang yang pernah begitu dekat, akhirnya memutuskan untuk tak lagi bersama.

Dahulu, kisah yang diciptakan dengan kebahagiaan, harus berhenti dengan tangisan. Tak ada perpisahan yang berakhir baik-baik saja, semua menyisakan momen yang menyesakkan dada.

Kini, hanya rindu yang mengudara tak terobati bersama rasa sakit tiada akhir. Tak ada lagi jalan pulang, tatkala hati enggan mengulang. Tak ada lagi senyuman, tatkala keduanya sudah berbeda jalan.

Ikhlas adalah satu kata yang dipaksakan ada. Sebab, semuanya berawal dari terpaksa menjadi terbiasa.

Ia menutup buku pada lembaran akhir yang dibacanya. Setelah itu, ia usap air mata yang mengalir melalui pipi, merasakan sesak seolah dirinya juga mengalami.

Kisah yang ia baca di buku novel ini begitu menyesakkan hati. Cinta yang diawali dengan kebahagiaan harus berakhir dengan perpisahan, sungguh tragis. 

Ia bahkan tak tahu bahwa novel ini akan berakhir dengan episode menyedihkan. Padahal dari judul dan blurb, nampak menawarkan kisah dengan akhir bahagia.

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini memang tak bisa ditebak, begitu juga dengan buku yang baru selesai ia baca.

Satu pertanyaan yang terlintas di pikirannya begitu menyimpan buku dan menatap langit-langit ruangan adalah: apakah kisah cintanya juga akan berakhir menyedihkan?

Sebuah pertanyaan yang hanya melayang di udara, sebab ia sendiri tak bisa menerka. Jangankan memiliki kekasih, dekat dengan lelaki pun dia enggan.

Jika hanya sebatas teman, ia dengan senang hati menerima. Namun, entah kenapa, untuk lebih dari itu ia belum siap menjalani.

Di tengah lamunan tak berarti itu, sebuah dering ponsel mengalihkan atensinya. Alarm pukul 11 siang mengingatkannya pada jadwal seminar arkeolog yang akan ia hadiri hari ini.

Dengan gerak cepat ia langsung loncat dari ranjang menuju kamar mandi. Ia harus menghadiri seminar ini dengan tepat waktu. Sebab, acara tersebut telah ia nantikan sejak satu minggu lalu.

Setelah 15 menit membersihkan diri di kamar mandi, gadis berambut coklat sebahu itu merapikan diri di depan cermin.

Pakaiannya sederhana seperti biasa, ia memakai kemeja coklat dengan dalaman kaus putih polos dan celana levis berwarna hitam. Ia tidak terlalu memperhatikan gaya berpakaian seperti gadis pada umumnya. 

Baginya, busana apa pun akan dipakai selama ia nyaman. Meski demikian, wajahnya yang tampak menarik dan cantik membuat dirinya cocok di segala jenis pakaian.

Jadi, ia tak perlu mengkhawatirkan pendapat orang lain mengenai gaya berpakaiannya. Sebab, di balik kekurangannya yang tak terlalu mengikuti trend, ada kelebihan yang ia miliki, wajahnya.

Setelah merapikan diri, ia segera mengemasi beberapa buku arkeolog ke dalam tas selempangnya, tak lupa dengan lembaran skripsi yang belum rampung.

Di seminar itu bukan hanya untuk mewujudkan kesenangannya saja karena begitu mencintai dunia arkeologi dan sejarah budaya, tetapi juga sebagai referensi penelitian skripsinya.

Kecintaannya terhadap dunia arkeologi dan sejarah tidak semerta-merta muncul, semua itu karena mendiang ayahnya yang juga seorang peneliti artefak budaya.

Saat ayahnya masih hidup, Dara selalu diajari tentang sejarah oleh ayahnya. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama untuk mempelajari banyak hal di ruang kerja. 

Akhirnya, setelah ayahnya pergi, Dara berniat melanjutkan profesi itu dan mewujudkan mimpi ayahnya untuk membangun komunitas sejarah Nusantara dan museum artefak budaya yang belum sempat tercapai.

Setelah semuanya siap, gadis itu mengambil kunci mobil dan mengunci apartemennya dari luar. Apartemen yang sudah ia tinggali seorang diri selama dua tahun itu jaraknya lumayan jauh dari kampus.

Ia membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit untuk sampai. Artinya, ia akan berada di kampus hari ini sekitar pukul 12 siang. Itu juga jika tidak terjebak macet di jalanan.

Mobil berwarna putih itu terparkir manis di basemen gedung utama kampus. Setelah sedikit merapikan diri di cermin, ia keluar dari mobilnya dan langsung mendapati sahabat sejak kuliah tengah berdiri di pintu lift basemen.

Gadis berambut panjang dengan gaya berpakain mencolok itu telah menunggunya sejak puluhan menit yang lalu.

"Dara!" teriaknya sembari berlari kecil menghampiri.

Gadis yang bernama Dara melambaikan tangan, membalas sapaan sahabatnya, Tania.

"Kamu telat 10 menit, bangku aula pasti udah dipenuhi banyak orangl. Padahal kan semalem aku ngingetin ke kamu supaya datang lebih awal. Ah, jadi sedih, soalnya cuman bisa lihat dosen ganteng itu dari jauh." Gerutu Tania, padahal satu menit yang lalu ekspresinya ceria ketika menyapa Dara.

Dara tersenyum, ia tak merasa asing lagi menanggapi sikap genit sahabatnya ini. Apalagi kepada dosen muda yang terkenal di kampusnya, dosen itu kebetulan yang mengadakan seminar ini. 

Jadi, Tania adalah salah satu dari ratusan mahasiswi yang semangat menghadiri seminar untuk bertemu dengannya, alih-alih tertarik pada seminar tersebut.

Tak peduli jika sebagian dari mereka adalah mahasiswi lintas jurusan, karena yang terpenting bisa bertemu dengan dosen muda idaman.

Dara merangkul sahabatnya itu dengan senyuman manisnya. "Udah gausah sedih, kita pasti dapet bangku di depan kok. Masa kamu lupa soal kelebihan aku?"

Dara memberikan isyarat yang mampu dibaca oleh Tania. Hingga sedetik kemudian Tania bersorak dan segera merapikan rambutnya di layar ponsel.

"Sahabat aku emang selalu bisa diandelin." Sahut Tania.

"Ini yang paling bisa kamu andelin, Tan," tunjuknya pada wajahnya sendiri, "jangan ragukan kekuatan seorang Dara!"

Keduanya melewati lobi gedung utama menuju aula yang berada di antara gedung utama dan gedung fakultas hukum.

Ketika memasuki area halaman aula, Dara merasakan getaran di tasnya, kemungkinan ada seseorang yang berusaha menghubunginya.

Dara merogoh tasnya, jari-jarinya menyentuh permukaan dingin ponsel di dalamnya. Saat ia menariknya keluar, dari arah berlawanan seorang pria berjalan, langkahnya tenang, tanpa terburu-buru. 

Tepat ketika mereka bersampingan, seolah ada angin tak terlihat yang menghantam wajahnya—keras, mendadak, namun tak bersuara.

Tubuh Dara menegang seketika, jantungnya berdegup kencang, seperti baru saja diseret masuk ke dalam dimensi lain yang asing. Waktu terasa melambat, semuanya kabur, kecuali sensasi aneh yang menguasai dirinya.

Dalam kekalutan, Dara menoleh, matanya mencari-cari sumber dari kegelisahan yang baru saja menyelimutinya. Pandangannya menangkap punggung seorang pria tinggi yang perlahan menjauh, tanpa menoleh sedikit pun.

Langkahnya mantap, seolah kejadian yang baru saja berlangsung tak pernah ada. Tidak baginya. Namun bagi Dara, sesuatu telah berubah.

Di tengah kebingungan dan kekalutan itu, tubuh Dara diguncang oleh Tania. Ternyata sahabatnya itu sudah sejak tadi berusaha menyadarkan Dara dengan memanggil namanya berulang. Dara memejamkan mata, berusaha berpikir logis bahwa kejadian tadi hanya perasaannya saja.

Dara sebenarnya memiliki kemampuan yang tak biasa—kemampuan untuk merasakan hal-hal yang berada di luar jangkauan indra manusia biasa. Itu sebabnya, saat pria itu melewatinya, ia merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. 

Kekuatan tak terlihat, seperti tiupan angin dingin yang tak nyata, menghantamnya tepat di wajah.

Orang lain mungkin tidak akan merasakan apa-apa, tapi bagi Dara, sensasi itu begitu nyata, begitu kuat, hingga tubuhnya refleks menegang.

"Dara, kamu gapapa?"

Dara menatap Tania dengan perasaan yang tak bisa ia deskripsikan sejak kejadian tadi. Namun, ia berusaha menyembunyikannya dengan tersenyum kepada Tania.

"Aku gapapa. Ayok, kita harus cepet-cepet ke aula." 

Ia kembali merangkul Tania dan berjalan lebih cepat dari biasanya. Di perjalanan itu, Dara sempat menoleh ke belakang untuk sekali lagi melihat sosok lelaki yang tak ia kenali.

Apa kekuatan sihir yang ia rasakan tadi disebabkan oleh orang itu?

...🌹🌹🌹🌹🌹...

Suasana di dalam aula begitu ricuh. Dugaannya benar tentang seminar ini akan dipenuhi banyak peserta.

Buktinya, terpampang nyata ratusan mahasiswa memenuhi bangku aula yang seperti tangga itu. 

Bahkan ada banyak mahasiswa lintas jurusan yang hadir di seminar ini. Untuk apa? Tidak lain dan tidak bukan adalah memandangi ketampanan dosen muda yang tak akan mereka alami dua kali. Sebab, seminar ini jarang diadakan di kampus.

Dara menarik Tania untuk menaiki beberapa anak tangga menuju bangku yang diduduki oleh jajaran pria yang ia kenali.

Dara dengan lugunya meminta kepada salah satu lelaki kenalannya itu untuk pindah tempat. Ajaibnya, mereka menurut saja dan memberikan dua kursi untuk ditempati Dara dan Tania. 

Sebenarnya, bukan karena mereka luluh begitu saja, tapi kecantikan Dara membuat sikap gentleman mereka bertindak demikian.

Apalagi salah satu dari mereka pernah mendekati Dara, tentu menjadi hal yang menguntungkan bagi Dara hari ini bisa duduk lebih dekat dengan panggung aula. Bagaimanapun ia harus membahagiakan sahabatnya ini.

"Huft, aku deg-degan banget. Gimana, aku udah kelihatan cantik?" Tania mengedipkan matanya beberapa kali, meminta jawaban atas pertanyaan itu kepada Dara.

Dara mengerutkan kening, terkadang ia merasa geli dengan sikap Tania. Dengan berani Dara menyentil kening gadis itu sampai mengaduh.

"Udah cantik maksimal! Tapi kamu harus tetep fokus ke seminar. Jangan lupa kalau kita itu mahasiswa tingkat akhir! Gak lucu kan kalau kamu gak lulus dengan alasan terlalu fokus nontonin orang ganteng?"

Tania mencebik, sebenarnya ia tak begitu peduli dengan skripsinya. Apalagi penelitiannya tidak berfokus pada artefak budaya seperti Dara.

Ia menghadiri seminar ini karena alasan yang sudah dipaparkan di atas, yakni bertemu dengan dosen muda tampan sejagat raya itu, katanya hiperbola.

Tatkala seseorang memasuki aula, atensi semua mahasiswa beralih padanya. Keheningan langsung menyelimuti ketika sepatu yang dikenakannya menggema di setiap sudut ruangan.

Dara yang fokus menyiapkan alat tulis, merasakan sesuatu yang aneh hingga membuat kepalanya terangkat dan menatap ke satu objek, pria itu. 

Dara seketika terpaku begitu melihat orang yang ia yakini dosen itu berdiri di balik mimbar. Ia tersenyum dan menyapa hangat seluruh peserta yang hadir di seminar ini.

Dengan ketampanannya itu, senyumnya nampak sangat sempurna. Dara tak mengira bahwa dosen itu benar-benar tampan seperti rumor yang menyebar.

Namun, sedetik kemudian Dara teringat sesuatu. Dosen muda itu mengenakan busana percis seperti lelaki yang berpapasan dengannya di halaman aula tadi: kemeja putih rapi dimasukkan ke dalam celana formalnya yang berwarna coklat muda. Bahkan punggungnya sangat mirip dengan lelaki misterius tadi. 

Lelaki yang seperti membawa kekuatan magis, membuat Dara sempat membeku di tempat. Dara menautkan keningnya, mulai berpikir keras, apakah memang dia orang itu? Ataukah hanya kebetulan mirip saja?

Reyhan Adji Permadi, begitu nama lengkapnya tatkala ia memperkenalkan diri. Wajah tampan seperti seorang malaikat itu sempat membuyarkan fokus Dara.

Hidung mancung yang sempurna, tatapan mata yang tajam, bibir kecil yang menggemaskan, kulit putih salju yang mengagumkan, dan rambut berwarna hitam pekat indahnya yang menutupi sebagian keningnya. 

Reyhan lebih pantas menjadi aktor daripada dosen, sebab wajahnya akan sia-sia saja jika hanya tampil di depan banyak mahasiswa daripada kamera.

Kendati demikian, bukan itu yang membuat Dara terpaku menatap Reyhan yang tengah memaparkan temuannya, melainkan sesuatu yang misterius yang Dara rasakan. Di balik ketampanannya itu, terdapat sisi misterius yang berusaha Dara terka. 

Akan tetapi, beberapa saat kemudian Dara menarik napas dalam, ia berusaha untuk tidak mengalihkan atensi selain kepada materi yang akan disampaikan Reyhan di seminar ini.

Ia tak ingin kelebihan dan pikiran anehnya itu membuatnya tidak mencatat apa yang disampaikan Reyhan, dan hal itu tentu akan membuat skripsinya tidak sempurna seperti yang ia harapkan.

Seminar dipimpin oleh Reyhan, seorang dosen muda yang memiliki reputasi luar biasa di bidang arkeolog, terutama terkait dengan sejarah kerajaan Nusantara.

Reyhan mempresentasikan temuan baru tentang artefak kuno berbentuk jam pasir.

"Seperti yang kalian ketahui," ia memulai, suaranya penuh wibawa namun santai, "sejarah tidak hanya terdiri dari apa yang bisa kita lihat, tapi juga dari apa yang tersembunyi di balik lapisan waktu dan ruang. Hari ini, saya akan memperkenalkan kalian pada sesuatu yang sangat istimewa—artefak yang, menurut penelitian saya, bukan sekadar peninggalan kuno, tapi sesuatu yang mungkin menghubungkan kita dengan waktu itu sendiri."

Reyhan menampilkan gambar pada slide selanjutnya, sebuah jam pasir indah yang bentuknya tak biasa.

Dara tertegun, ini kali pertama ia melihat jam pasir seindah itu. Sepanjang hidupnya, Dara hanya melihat bentuk jam pasir biasa yang sering ia temukan di pasar loak.

Kini, di depan matanya, meski hanya sebuah gambar di layar, Dara melihat artefak semenakjubkan itu.

Jam pasir itu bukan sembarang penunjuk waktu. Bentuknya memancarkan aura yang tak biasa—seolah setiap sudutnya dirancang dengan maksud tersembunyi.

Dasar dan puncaknya melingkar sempurna, namun tidak dengan lekukan-lekukan tajam seperti jam pasir biasa. 

Ia tampak hidup, dengan kaca melengkung halus yang mengandung kilau samar keperakan.

Di dalamnya, butiran pasir berwarna hitam kelam jatuh perlahan, seolah-olah waktu itu sendiri mengalir lebih lambat dari yang seharusnya.

Namun, yang paling mencuri perhatian adalah ukiran yang menghiasi seluruh permukaannya.

Tidak seperti hiasan biasa, ukiran ini tampak seperti serangkaian tulisan kuno yang rumit—mantra-mantra yang terkunci dalam bahasa yang telah lama hilang. 

Ketika diperhatikan lebih dekat, ukiran tersebut seolah bergerak pelan, huruf-huruf kuno itu berpendar samar, seakan-akan mengisyaratkan pesan yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang memahami rahasia waktu.

Ada pola simetris yang aneh, seperti cakra berputar, yang menyelimuti jam pasir itu, memberi kesan bahwa benda ini bukan sekadar alat, melainkan kunci bagi mereka yang mampu menguasai kekuatan waktu.

Reyhan kemudian melangkah mendekat, mengambil pointer laser dan memproyeksikan gambar besar jam pasir itu ke layar di belakangnya.

Pada ukiran tulisan kuno itu, Reyhan sengaja memperbesar gambar agar seluruh mahasiswa bisa melihat keindahannya. 

"Ini adalah jam pasir cakra waktu. Kalian mungkin berpikir ini hanyalah artefak biasa dari masa lalu, tetapi lihat lebih dekat, di sinilah hal yang menarik dimulai. Ukiran ini bukan sekadar hiasan, melainkan tulisan kuno—sebuah naskah yang telah lama hilang dari sejarah manusia. Beberapa penelitian menyebutnya sebagai 'Bahasa Para Pelintas Waktu,' sebuah bahasa yang diduga memiliki kemampuan untuk mengubah atau memanipulasi arus waktu."

Dia berhenti sejenak, membiarkan pernyataannya mengendap di benak para mahasiswa.

"Temuan ini membuka pertanyaan baru tentang hubungan kita dengan waktu. Jika kalian perhatikan, setiap simbol ini memiliki pola yang mirip dengan cakra dalam tradisi mistis. Namun, ini lebih dari sekadar mitos—ini adalah representasi dari kekuatan energi yang berputar, mungkin seperti bagaimana waktu itu sendiri mengalir dan berulang."

Reyhan berdiri dengan percaya diri di depan kelas, wajahnya bersinar dengan semangat saat ia mulai menceritakan penemuan artefak jam pasir cakra waktu.

"Semuanya dimulai ketika saya dan tim melakukan riset di sekitar bekas kerajaan Sunda Galuh," katanya, matanya berbinar saat mengingat pengalaman itu. 

"Kami mengikuti jejak sejarah yang tidak banyak diketahui, mencari situs-situs yang terlupakan oleh waktu. Salah satu lokasi yang kami temukan adalah sebuah kuil kuno yang terletak jauh di dalam hutan, tersembunyi di balik pepohonan yang lebat. Lokasi tepatnya ada di Garut, Jawa Barat."

Dia melanjutkan, "Kuil itu sepertinya telah lama ditinggalkan, namun ada sesuatu yang istimewa tentangnya. Ukiran-ukiran di dinding kuil bercerita tentang hubungan antara manusia dan waktu, bahkan ada referensi tentang cakra waktu, yang katanya memiliki kemampuan untuk memanipulasi arus waktu dan ruang. Dalam mitologi kuno, cakra waktu dianggap sebagai kunci untuk memahami dimensi yang lebih dalam dari keberadaan kita."

Suasana di dalam kelas mulai terasa lebih hidup, dengan mahasiswa saling berbisik dan bertukar pandang, merasakan antusiasme yang menular dari Reyhan. Ia menjelaskan dengan lebih detail tentang cakra waktu, "Berdasarkan literatur yang saya teliti, cakra waktu berfungsi bukan hanya sebagai alat pengukur waktu, tetapi juga sebagai jembatan ke dimensi lain. Ada banyak spekulasi mengenai bagaimana artefak ini bisa digunakan, dan apa saja potensi yang dimilikinya."

"Sebelum melanjutkan, mungkin dari kalian ingin menanyakan tentang cakra waktu?" Ketika Reyhan membuka sesi tanya jawab, tangan-tangan mahasiswa langsung terangkat, namun satu suara lembut berhasil menarik perhatiannya—Dara.

"Kamu," tunjuknya pada Dara, semua mahasiswa melihatnya, "silakan, katakan apa yang ingin kamu tanyakan."

"Pak Reyhan," dia mulai, suaranya penuh rasa ingin tahu, "apa sebenarnya arti dari ukiran-ukiran kuno di jam pasir itu? Ada yang terlihat seperti simbol-simbol cakra, tapi juga ada yang tampak asing. Apakah ada makna khusus di baliknya?"

Reyhan merasakan detak jantungnya meningkat, tertarik oleh pertanyaan Dara yang tajam. "Itu pertanyaan yang bagus, Dara," jawabnya dengan antusias.

"Ukiran-ukiran itu memang rumit. Beberapa di antaranya adalah simbol-simbol cakra yang kita kenal, tetapi ada juga yang mencakup elemen-elemen dari tradisi lain. Ini bisa jadi menunjukkan bahwa artefak ini merupakan hasil pengaruh berbagai budaya. Mungkin ada pesan yang lebih dalam yang perlu kita gali lebih lanjut."

Dara melanjutkan, "Tapi, jika jam pasir ini memang bisa memanipulasi waktu, apakah ada kemungkinan bahwa penggunaannya bisa berbahaya? Maksud saya, bagaimana kita bisa yakin bahwa kita bisa mengendalikan kekuatan itu?"

Reyhan mengangguk, menghargai kedalaman pemikirannya. "Satu hal yang pasti, setiap kekuatan besar datang dengan tanggung jawab. Memang ada potensi risiko jika artefak ini jatuh ke tangan yang salah atau digunakan dengan sembarangan. Dalam penelitian lebih lanjut, kami harus mempertimbangkan etika penggunaannya dan dampaknya terhadap realitas."

Mahasiswa lain mulai bersemangat, mempertanyakan lebih lanjut tentang artefak dan implikasi dari kekuatan yang dimilikinya. Reyhan merasa sangat terinspirasi oleh keaktifan Dara dan mahasiswa lainnya. 

Diskusi menjadi semakin hangat, dan Reyhan merasakan sebuah koneksi yang dalam—sebuah harapan bahwa penemuan ini tidak hanya akan membuka tabir sejarah, tetapi juga mendorong generasi baru untuk menjelajahi batas-batas pengetahuan yang belum terjamah.