Ya Udahlah
Kami sudah berjanji untuk saling mengirim pesan nanti malam ini.
Last seen nya menunjukkan dia aktif 18.40 tadi.
Aku bertanya2.
Apakah pesanku sudah dia baca?
Aku tak tau.
Sebab...
Tiap kali kami rutin berbalasan pesan, aku pasti menghapus pesan itu begitu selesai.
Aku tau aku memang tak peka.
Aku tau aku memang tak berperasaan.
Aku tau aku memang tak punya hati nurani.
Tapi kenapa pria ini begitu sensitif dan baperan?
Naomi: Chat aku besok malem aja. Aku butuh banyak istirahat malem ini. Soalnya minggu pagi nyampe sore harus ikut ujian kenaikan sabuk.
Pierre: Ya deh. Maaf ganggu
Sejak saat itu...
Tiap kali aku menyapanya dengan riang, dia terlihat sedih dan mulai menarik diri.
Sebenarnya apa yang salah sih?
Aku kan emang bener2 butuh istirahat, kenapa pria ini malah kesinggung dan merasa dirinya adalah pengganggu hidupku?
Emangnya aku bilang begitu?
Oh ayolah!
Aku ini bukan wanita yang suka ngasih kode!
Jika aku tak suka, maka aku langsung bilang!
Nyatanya aku masih belom bilang apa2 loh!
Kok bisa sih ada cowo sensi dan baperan kayak dia?
Aku kan jadi bingung mau nenangin dia kayak gimana!
Sialan!
Kenapa juga yang tadinya baik2 aja malah suasananya dibikin runyam gini sih?
Jika tau begini, seharusnya aku menanggapi pesan darinya seperti biasanya!
Tapi masalahnya adalah...
Saat itu aku benar2 capek!
Badanku sakit2 semua karna terlalu over latihan fisik!
Kepalaku juga pusing karna jadwal begitu padat dan tuntutan ini itu nggak ada habisnya!
Apalagi yang kubutuhkan jika bukan banyak2 istirahat?
Hari ke-1
Naomi: Pagi. Kamu dah bangun belom nihh?
Hari ke-3
Naomi: Jangan lupa makan siang ya? Aku mengkhawatirkanmu.
Hari ke-4
Naomi: Semoga tidur nyenyak dan mimpi indah.
Sekarang?
Tak ada satupun balasan darinya.
Aku pun tak tau semua pesanku dibaca apa nggak.
Yang kutahu, aku telah menghapus semua pesan di hp ku dengan harapan aku bisa melupakannya seperti hari dimana aku belum bertemu dengannya.
Andai dulu aku mendengarkan mama untuk segera menjauhinya.
Andai dulu aku patuh pada papa saat ia bertanya padaku apa aku benar2 mencintainya atau tidak.
Sekarang?
Semuanya sudah tak berarti apa2.
Mau kembali ke masa lalu pun dan sekeras apapun aku mencoba, hasilnya tetap sama.
Dia bukanlah untukku dan aku bukan wanita yang tepat untuk bersanding sejajar dengannya.
Untuk Pierre...
Dari sekian banyak janji yang aku buat untukmu, hanya ada satu janji yang benar2 aku usahakan bagaimana caranya aku bisa menepati janji itu.
Ya.
Janji itu adalah membangun hubungan serius denganmu.
Jika kamu bertanya apakah maksudnya hingga ke jenjang pernikahan dan kehidupan rumah tangga?
Maka kamu benar.
Dari sekian banyaknya ujian yang Tuhan berikan, aku tersadar.
Kamu tidak membutuhkan kata2 manisku, melainkan tindakan yang nyata.
Kamu tidak membutuhkan janji omong kosong, melainkan kepastian akan hubungan kita.
Aku tau betul di dalam perjalananku mewujudkan janji itu...
Kamu bisa aja benci diriku, muak, dan bosan.
Tapi tak apa.
Itu hak kamu untuk membenciku, muak, dan bosan padaku.
Hanya satu hal yang harus kamu tau.
Aku tak akan pernah meninggalkanmu apapun rintangannya, kecuali kamu duluan yang memilih meninggalkanku!
Ya.
Lebih baik aku ditipu, disakiti, dan dimanfaatkan olehmu.
Mungkin inilah cara Tuhan untuk membuatku jadi wanita yang lebih bijak, kuat, dan tangguh.
Dari wanita yang pantas dilupakan...
Aku tertunduk lesu.
Hatiku pilu menyadari tak ada tempat untukku di hatinya.
Aku terus bertanya2.
Apa aku masih pantas mencintai dan dicintai dirinya?
Apa aku masih pantas berdiri sejajar di sisinya?
Apa aku masih sanggup bertahan dan melalui ini semua tanpa dirinya?
Aku benar2 tak tau.
Aku hanya bisa berusaha menenangkan hatiku yang sudah tak karuan.
Aku tak peduli siapa saja yang mendukungku.
Aku tak peduli siapa yang mau menerimaku apa adanya.
Aku tak peduli siapa yang benar2 mencintaiku tanpa syarat.
Aku tak peduli siapa yang tak pernah menyerah memperjuangkanku.
Aku tak peduli siapa yang mengulurkan bantuan padaku saat titik terapuhku.
Aku adalah aku!
Aku harus berjuang demi diriku!
Aku harus berjuang demi hidupku!
Aku harus berjuang demi kewarasanku!
Aku harus berjuang demi kebahagiaanku!
Aku harus berjuang demi ketenangan jiwaku!
Aku tak peduli!
Meski aku harus dikecewakan Tuhan...
Meski aku harus dikhianati orang2 terdekatku...
Meski aku harus dikhianati orang2 kesayanganku...
Meski aku harus dikhianati keluarga, kerabat, rekan, dan sobat2ku...
Meski aku harus hidup tanpa kekasih di sisiku...
Meski aku harus melajang sampai tua renta dan memilih nggak nikah...
Aku tak peduli!
Aku tetap berdiri untuk diriku ini apapun kondisinya!
Aku tetap ada kapanpun diriku membutuhkanku!
Aku tetap mencintai diri ini sepahit apapun kenyataannya!
Aku tetap ada untuk merawat dan menata hati ini berulang kali!
Aku tetap selalu ada untuk jiwaku, kewarasanku, dan akal sehatku!
Aku adalah aku!
Sekalinya aku kerasukan setan, aku tak peduli!
Sekalipun aku menukar jiwaku dengan iblis, aku pasti melakukannya dengan senang hati!
Sekalipun aku adalah perwujudan dari iblis itu sendiri, maka aku pastikan aku lah sang iblis sejati!
Sekalipun aku berakhir masuk neraka, aku takkan mati sendirian!
Sekalipun aku disiksa hidup2 dan sampai matipun, aku pastiin akulah yang menjadi jenderal sekaligus panglima terkuat, paling berkuasa, dan disegani di neraka itu sendiri!
Aku yang dulu sudah mati.
Aku yang sekarang hidup lagi.
Aku bangkit di tubuh yang baru.
Semuanya belum berakhir.
Semua ini hanyalah permulaan.
Tunggu aku!
Aku pasti datang menjemput kalian!
Aku pasti membalaskan dendamku!
Aku pasti membuat kalian membayar segalanya!
Aku mencurahkan semua isi hatiku di depan cermin.
Terlihat jelas betapa hebatnya aku menggila!
Mataku lembab dan memerah.
Saking marahnya dengan diriku, aku bahkan tak sadar bahwa aku jadi semakin jarang berkedip dan air mata tetap saja mengalir seperti biasanya.
Jika aku bisa menenangkan diriku.
Aku ingin bilang...
Tak apa.
Lihatlah!
Aku masih baik2 aja kok!
Mungkin dengan bersamaku, kamu tak pernah bahagia.
Mungkin dengan bersamaku, kamu tak pernah puas.
Mungkin dengan bersamaku, hatimu tersakiti.
Mungkin dengan bersamaku, jiwamu terluka.
Kalau begitu lepaskanlah!
Lepaskan semua kenangan di antara kita!
Biarkan semuanya menguap tanpa sisa!
Mungkin inilah cara Tuhan menunjukkan bahwa aku tak layak untuk bersanding sejajar denganmu.
Tak apa.
Mungkin aku tak bisa bersanding sejajar denganmu...
Tapi aku tetap ada setidaknya untuk diriku, hatiku, jiwaku, kewarasanku, dan akal sehatku!
4 hari telah berlalu.
Semuanya sudah berganti.
Aku tak bisa terus2an menipu diri ini dengan alasan bahwa aku masih mencintainya.
Iya.
Aku masih mencintainya, tapi itu dulu.
Sejak hari ini, aku bertekad berubah setidaknya untukku, diri ini, dan keselamatanku di masa depan.
BERSAMBUNG