Bab 1 Legenda Desa Cakra dan Ramalan
Pada suatu hari di Desa Cakra yang memiliki tempat yang asri dan pemandangan yang indah karena terletak jauh dari Ibu Kota Pungan. banyak pepohonan yang belum ditebang juga sawah yang ditanami banyak macam tumbuhan dikarenakan tempat yang subur.
Di Desa Cakra, mata pencaharian masyarakat desa adalah pertanian dikarenakan tempat yang subur. Pedagang sering datang ke Desa Cakra karena bahan-bahan makanan yang bagus dan masyarakat yang ramah pada pedagang yang membuat perdagangan dengan masyarakat lebih menguntungkan.
Walaupun Desa Cakra terletak jauh dari Ibu Kota Pungan yang membuat akses perdagangan susah dikarenakan waktuh menempuh perjalanan adalah 1 minggu juga jalan yang belum memadai. Tetapi, para pedagang tidah menyerah ke Desa Cakra dikarenakan bahan-bahan makanan yang bagus dan disukai oleh para Bangsawan Jawa. Jadi, bahan-bahan makanannya sangatlah mahal sekali.
Demikian, para pedagang berbondong -bondong ke Desa Cakra agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar walaupun perjalanan yang jauh dan melelahkan. Maka dari itu Desa Cakra selalu didatangi pedangang kecil maupun pedagang besar.
Pedagang besar seringkali ingin memonopoli bahan-bahan makanan yang ada di Desa Cakra yang membut ia lebih untung ketimbang beli bahan-bahan makanan secara baik. tapi, rencana itu tidak berhasil karena masyarakat Desa Cakra lebih suka berdagang dengan adil tanpa adanya monopoli juga masyarakat memiliki kepala desa yang adil dan bijaksana yang membuat para pedagang susah
Selain tempat yang asri dan tanahnya yang subur. Desa Cakra terletak di perbatasan Kerajaan Pungan dengan Hutan Mati. Hutan Mati adalah tempat yang dihidupi oleh banyaknya mahkluk yang dari bawah tanah yaitu dunia bawah atau juga disebut neraka.
Hutan Mati memiliki pohon-pohon yang aneh dan serba hitam maka dari itu hutan itu dijuluki Hutan Mati. bukan itu saja alasan yang membuat hutan itu dijuluki Hutan Mati. Ada banyak alasan yang membuat Hutan itu dijuluki seperti itu.
Alasan lainnya adalah Para leluhur berkata bahwa Hutan Mati adalah tempat yang tidak boleh dimasuki oleh manusia yang tidak memiliki kekuatan yang diberkati oleh dewa. Kekuatan yang diberkati oleh dewa dinamakan 'Berkat'.
Apa itu Berkat? Berkat adalah kekuatan yang dimiliki beberapa manusia dan bisa melawan makhluk jahat. Beberapa manusia memiliki kekuatan yang berbeda beda sesuai dari apa yang diberikan oleh dewa.
Berkat diturunkan oleh Dewa melalui perantaranya yaitu malaikat kepada manusia yang memiliki takdir khusus di dalam bumi yang diciptakan oleh dewa. Tidak semua manusia memiliki takdir khusus karena manusia diciptakan dengan adil oleh dewa.
Dewa memilih beberapa manusia yang selalu menyembah mereka maupun tidak menyembah mereka dikarenakan agar 'Berkat' itu menjadi dibagikan secara adil untuk manusia yang memiliki kepercayaan kepada dewa maupun tidak.
Walaupun 'Berkat' hanya diturunkan kepada manusia yang memiliki takdir yang khusus . Ada kekuatan seperti 'Berkat' yang bisa diperoleh kerja keras ataupun menyembah dewa-dewa jahat.
Kekuatan lain seperti 'Berkat' adalah Kutukan
Saat Manusia memiliki 'Berkat' maka manusia boleh memasuki Hutan Mati oleh manusia untuk memusnahkan makhluk jahat. Karena di Hutan Mati, Makhluk jahat selalu berkembang biak dengan cepat yang membuat terjadinya perang yang mematikan yang berlangsung ribuan tahun yang membuat manusia hampir punah di 1000 tahun yang lalu.
Tetapi datangnya manusia yang memiliki 'Berkat' yang memiliki kekuatan yang sangat kuat yang bisa menyelamatkan manusia dari ambang kepunahan yaitu 'Sang Penyelamat'. 'Berkat' yang bernama Sang Penyelamat memiliki kekuatan api penyembuhan dan api kerusakan yang membuat 'Berkat' itu sangat kuat.
Pemilik 'Berkat' itu adalah Aseelah. Aseelah adalah manusia yang memiliki dua api yaitu api hitam dan putih. sesuai warnanya, Api Kerusakan adalah api yang berwarna hitam yang sangat pekat, konon apinya diambil dari dunia bawah atau neraka. Saat itu Aseelah menjalani pelatihan yang sangat berat bersama gurunya.
Api Penyembuhan adalah api yang berwarna putih yang sangat terang yang membuat manusia berpikir bahwa ia adalah Penyelamat Manusia, Titisan Dewa, Anak Dewa, Manusia menjadi dewa dan lain-lain. Api putih itu bisa menyembuhkan manusia dari luka kecil maupun luka berat, bagian tubuh yang terpotong, juga api itu konon bisa menghidupkan manusia yang sudah meninggal.
Karena kekuatan yang sangat tidak masuk akal. Aseelah sering disembah selayaknya Dewa oleh beberapa manusia yang menganut agama Aseelah. Agama Aseelah diciptakan oleh manusia-manusia yang diselamatkan oleh Aseelah. Penyembah Aseelah menamai agamanya adalah Aseekah. Agama Aseekah selalu ada dimana mana tetapi penganut agama Aseekah sangat sedikit dikarenakan masih banyak agama penganut dewa sebenarnya.
Manusia yang menyembah Aseelah entah mengapa bisa mendapatkan Berkat walaupun Aseelah bukan dewa sebenarnya. Hal inilah yang membuat manusia berpikir bisa menjadi dewa dikarenakan Aseelah seorang manusia yang mempunyai berkat yang kuat yang membuat ia bisa naik ke status yang bernama dewa.
Inilah alasan Penyembah Aseelah yang bernama Keshahu melakukan perbuatan hal buruk di dunia. Seperti melakukan pembunuhan, penculikan, ritual-ritual yang membutuhkan pengorbanan manusia dengan jumlah yang banyak untuk membuktikan bahwa mereka bisa mengikuti jejak Aseelah menjadi dewa.
Agama Aseekah dianggap agama yang sesat oleh pihak-pihak yang menyembah dewa yang benar-benar dewa atau dewa asli seperti agama yang menyembah dewa Mee (Api), Nay (Matahari), Dealnach (Petir) karena pengikut dewa asli berpikir tidak ada manusia yang menjadi dewa.
Hal itu membuat Agama Aseekah ingin dimusnahkan dan dibunuh oleh penyembah Dewa sebenarnya yang membuat Agama Aseekah semakin sedikit dan tidak pernah ditemukan lagi.
Setelah itu, Aseelah dicoret dari sejarah perang 1000 tahun yang lalu agar manusia tidak mengetahui dan mengikuti hal yang sama yang dilakukan oleh Keshahu.
"Itulah kisah Agama Aseekah dan Aseelah si Anak Dewa. Menarik bukan? Hanya karena perbuatan dari Agama Aseekah yang membuat Aseelah si Anak Dewa dihilangkan dari sejarah perang 1000 tahun yang lalu." Ucap sang ayah yang bernama
"Ayah telah memberitahu hal yang sama ketika kita di meja makan. Saya sudah mendengar itu sampai ribuan kali. Terus apa masalahnya tentang Agama dan anak dewa dengan kehidupan kita? Kita ini miskin, makanan yang kita punya nasi berkualitas buruk dan tempe saja. Dan juga sejarah yang dikatakan Ayah hanya kebohongan semata. Sejarah yang sebenarnya adalah manusia yang terkuat itu Mahanaga Sang Penyelamat Manusia dengan kekuatan petir dari dewa Dealnach menghacurkan Makhluk jahat." Ucap Aradhana yang kesal.
"Kakak tidak boleh mengatakan seperti itu kepada Ayah. Mungkin apa yang dikatakan Ayah benar." Ucap Adik Aradhana yang bernama Airani
"Airani selalu membenarkan Ayah. Karena Ayah selalu menyebarkan kebohongan itu yang membuat Ayah susah mendapatkan pekerjaan dikarenakan mendapatkan hukuman penghinaan dan pembohongan publik. Sudahlah yah, Terima aja sejarah yang sebenarnya dan jangan membuat masalah lagi. Karena perbuatan Ayah kita juga yang kena imbasnya. " Ucap Aradhana yang marah.
"Aradhana anakku, kakek engkau selalu mengatakan bahwa selalulah berpegang teguh dengan apa yang kita yakini benar. Walaupun ada yang menjadi musuh dari kebenaran yang kau pegang. " Ucap sang Ayah.
"Terserah Ayah. Saya sudah makannya dan ingin cuci piring. " Ucap Aradhana sambil membawa piring dan menuju ke tempat cuci piring.
Aradhana yang muak mendengar perkataan Ayah langsung menghabiskan makanan, mengambil piringnya dan menuju tempat cuci piring.
Setelah menuju tempat cuci piring. Aradhana mencuci piringnya dan memikirkan perkataan dia.
'Seharusnya saya tidak melontarkan ucapan hal yang menyakiti Ayah. Padahal Ayah pergi kerja dari pagi sampai malam untuk menafkahi keluarga. Tetapi walupun begitu saya tetap kesal. Mengapa seorang Ayah membahayakan keluarganya hanya sekedar alasan memaksakan pemikirannya pada orang lain. '
'Berpegang teguh dengan kebenaran? Itu hanya sekedar lelucon yang tidak lucu. Ketika kau miskin dan masih berpegang teguh dengan pemikiran ketika kau masih kaya maka kau akan selalu miskin. '
Setelah menggerutu tentang sifat Ayah, Aradhana sudah menyelesaikan cuci piring. Aradhana menuju tempat tidurnya.
Ruang Tempat tidurnya kecil dan sempit, penuh dengan buku-buku tentang Berkat. Aradhana mempunyai hobi membaca buku dan cita-citanya ingin menjadi jurnalis.
Selain buku di tempat tidurnya, ia memiliki patung dewa yang dia tidak percaya. Patung tersebut adalah Aseelah si Anak Dewa/ Dewa Buatan. Sebenarnya Aradhana ingin sekali membuang patung tersebut dikarenakan itu yang membuat ia dan keluarganya miskin tetapi perbuatannya dilarang keras oleh Ayahnya.
Keluarga Aradhana adalah anggota Keshahu terakhir ketika pembantaian dan pemusnahan Agama Aseekah. Kakeknya dulu mencoba kabur dari pembantaian tersebut. Setelah beberapa tahun kemudian kakeknya melakukan penyamaran agar tidak ketahuan bahwa dirinya adalah anggota Keshahu. Bukti penyamaran itu ialah kita masih hidup sampai saat ini.
Penyamaran itu berlanjut sampai Ayah Aradhana menyebarkan penghinaan dan kebohongan publik. Akhirnya kita menjadi buronan dan sampai-sampai melakukan hidup nomaden.
Tempat tinggal yang kita tempati ialah rumah kosong yang tidak ada pemiliknya serta jauh dari masyarakat.
"Waktunya membaca buku." Ucap Aradhana sambil menuju meja belajarnya.
---
"Waktunya telah tiba. " Ucap sang ayah menatap pemandangan dari jendela.
Ayah Aradhana melihat 2 bayangan yang mengintai rumah mereka dan masing-masing memiliki pedang di ikat pinggangnya.
Apakah mereka pembunuh? Tidak ada yang tahu tapi insting Ayah Aradhana tidak pernah salah. Dalam kehidupan penyamaran insting sangat penting untuk bertahan hidup. Kakek Aradhana mengajarkan dengan keras kepada Ayah Aradhana untuk memiliki insting seperti anjing.
"Aradhana, Airani kesini cepat!" Ucap Ayah Aradhana yang langsung memanggil kedua anaknya
Dengan tergesa-gesa, kedua anaknya langsung menghampiri ayahnya.
"Ada apa Ayah? " Ucap Aradhana dengan nada gelisah. Aradhana tidak pernah mendengar Ayahnya dengan nada bicara seperti ini kecuali ada yang mengincar keluarga.
"Kalian cepat kemasi barang-barang untuk kabur dan pergi dari rumah ini. Pembunuh sedang mengincar kita dan mereka membawa seorang yang mempunyai bakat. Ayah akan menahannya dulu untuk memberikan waktu untuk kalian pergi. " Ucap Ayah Aradhana sambil mengambil pedang dan peralatan untuk bertarung.
"Itu tidak mungkin ayah, kita tidak mungkin meninggalkan ayah sendirian melawan pembunuh. Pasti ada cara lain selain meninggalkan ayah. " Ucap Aradhana dengan nada yang sedih
Ayah Aradhana dengan menekuk lututnya memegang pundak Aradhana agar tidak bersedih.
"Tidak ada cara lain nak, kita sudah terkepung. Satu-satunya caranya adalah menahan meraka untuk memberikan kesempatan kabur untuk kalian. " Ucap Ayah Aradhana dengan nada yang sedih.
"Tapi yah... " Menolak permintaan Ayahnya, Sang Ayah langsung memotong perkataan Aradhana.
"Tidak ada tapi-tapi, Aradhana jagalah adikmu seperti menjaga diri sendiri. Aradhana dan adikmu harus hidup demi Keshahu kita. "
Aradhana menggangguk setuju dengan permintaan Sang Ayah.
"Ayo nak, kita mengucapkan perpisahan. " Ucap Sang Ayah dengan meretangkan tangannya untuk kedua anaknya.
Aradhana dan Airanin langsung memeluk ayahnya dan menangis tersedu-sedu.
"Semoga Dewa Aseelah memberkati dan memberikan perlindungan dalam perjalanan kalian. " Ucap Sang Ayah sambil menutup mata dan memegang kedua kepala anaknya.
"Semoga Dewa Aseelah memberkati Ayah dalam melawan mereka. " Ucap kedua anaknya.
Setelah itu, tiba-tiba suara hancurnya pintu dan kedua bayangan masuk ke dalam rumah
"Pergi sekarang! Dan jangan menatap ke belakang. "
Aradhana dan adiknya lari menuju ke pintu belakang. Dan ayahnya ditinggalkan sendirian melawan kedua bayangan.
Kedua bayangan melihat itu. Langsung mengangguk dan membagi 2 tugas, salah satu bayangan itu melawan Ayah Aradhana dan bayangan lainnya mengejar Aradhana dan adiknya.
Melihat rencana kedua bayangan tersebut. Ayah Aradhana tidak membiarkan rencana kedua bayangan berhasil. Dia mengeluarkan mantra membuat bayangan.
"Dewa Aseelah berikan saya kekuatan untuk melawan kedua musuh dan melindungi keluargaku. Jurus Bayangan Api. "
Disamping Ayah Aradhana, Tiba-tiba ada diagram sihir yang berwarna api membentuk bayangan yang mirip dengan Ayah Aradhana.
Bayangan api itu memiliki pedang yang sama dengan Ayah Aradhana. Bayangan api itu melakukan formasi pedang dan mulai menyerang bayangan yang ingin mengejar Aradhana dan adiknya.
-Sringgg
Kedua pedang saling bertabrakan dan menimbulkan percikan. Pertempuran yang sengit diantara keduanya yang membuat Aradhana dan adiknya memiliki waktu kabur yang cukup.
Disisi lain, Ayah Aradhana dan bayangan yang lain belum memulai pertarungan.
"Saya akhirnya bertemu lagi denganmu, Arenka." Ucap bayangan dengan mata yang sinis
"Lama tidak bertemu, Mahaputra. " Ucap Arenka yang tersenyum.
"Saya ingin berbincang denganmu tetapi hari ini adalah akhir hayatmu. Serta anak-anakmu. "
"Apa yang dikatakan Mahaputra benar dan juga salah. Ramalan kakek Aradhana tidak pernah salah. "
"Tidak pernah salah? Kau berbohong dengan dirimu sendiri Arenka. Kalau ramalan itu tidak salah kau dan anak mu akan aman selamanya. "
"Memang inilah ramalannya bahwa kematian saya akan membuat Agama Aseekah akan kembali ditangan kedua anakku. "
"Kau hanya mimpi disiang bolong Arenka. Bahkan takdir bisa dirubah apalagi ramalan yang bodoh itu. "
"Heeh, sebelum saya membunuhmu saya mempunyai pertanyaan, Arenka."
Arenka melihatnya dengan tatapan serius. "Apakah menyebarkan kebohongan publik dan penghinaan yang membuat kedok keluargamu terbongkar itu sudah ditentukan ramalan kakekmu? " Ucap Mahaputra
"Tidak ada hal seperti itu diramalan. hanya saja saya melakukan itu agar bisa membuat Agama Aseekah yang sudah dilupakan oleh masyarakat diingat kembali. Dan mempercepat ramalan. " Ucap Arenka
"Berarti hal yang kau lakukan itu adalah kebodohan yang membuat keluarga mu terancam? "
"Bisa dikatakan seperti itu. "
"Kau benar-benar bodoh Arenka. Hahahaha. Karena hanya ingin mempercepat ramalan membuat keluarga mu terancam?. Kau memang tolol. "
"Bisa dikatakan seperti itu. "
"Hehehe, kau pikir saya adalah tolol. Kau harus memikirkan dirimu sendiri yang tolol karena dalam pertarungan kita kau selalu kalah dariku. Mahaputra. "
Ketika mendengar itu, Mahaputra benar-benar marah besar. Dan segera membenruk formasi pedang.
"Memang benar saya selalu kalah. Akan kutunjukkan bahwa hari ini saya akan menang dan membunuhmu Arenka. " Ucap Mahaputra dengan menyeringai.