SURAT DARI PASIEN RUMAH SAKIT JIWA

SURAT DARI PASIEN RUMAH SAKIT JIWA

Author:Impian25

SURAT DARI PASIEN RSJ 1

"Sus, aku hitung ya, 1,3,4,5,6,7,8,9,10. Sudah benar belum aku ngitungnya Sus?"

Aku tersenyum. "Nggak ada angka 2 nya, Rom!" Aku menukas dengan cepat.

Romi nyengir sambil menggaruk kepalanya.

"Sama kayak Suster dong. Bagiku suster itu tidak ada duanya!" serunya penuh percaya diri.

Aku hanya bisa tersenyum. 'Kasihan sekali wajah ganteng tapi berakhir di sini.'

Aku menghela nafas panjang dan tersenyum. Lama-lama di rumah sakit ini, bisa ketularan geser semeter. Huft.

"Sus, mau kemana?" tanya pasien itu lagi saat aku mulai berdiri dan meninggalkan Romi untuk kembali ke ruang perawat.

"Aku mau balik ke ruang perawat, Rom. Sekarang sudah waktunya pulang."

Wajah Romi mendadak mendung. "Jangan tinggalkan saya, Sus!"

"Kenapa? Kan besok dapat bertemu lagi denganku. Lagipula ada perawat lain yang akan menjagamu dan teman-teman kamu yang lainnya di sini kan?"

Romi terdiam sehingga aku hanya tersenyum dan menggeleng kan kepalaku lalu melanjutkan langkah.

Namun sayang sekali, belum sempat aku melangkah lebih jauh, Romi memegang lengan bajuku.

"Ada apa Rom?" tanyaku kembali menoleh ke arah pasienku yang berparas setengah bule itu.

"Jangan pergi. Tanpamu aku butiran debu!" sahut Romi tertawa.

Dan aku hanya bisa tertawa. 'Astaga, apa katanya tadi? Tanpamu aku butiran debu? Darimana dia belajar judul lagu itu?' batinku heran.

***

"Suster Yuli, kita berjodoh loh!"

Lagi-lagi aku menghentikan langkahku yang hendak kembali ke ruang perawat setelah aku membagikan sarapan pagi pada keesokan harinya.

Aku membalikkan badan dan menghadap ke arah Romi yang cengengesan sambil memainkan ujung bajunya.

Aku berusaha tersenyum. "Kok kamu bisa tahu kita berjodoh?" tanyaku berusaha ramah untuk kesekian kali.

"Karena aku Romeo dan kamu Juliet!" jawabnya sambil tertawa.

Astaga!

Aku bergumam sambil menahan tawa. "Kamu keluar dari sini dulu, bekerja yang giat, beribadah yang rajin, baru mungkin kita bisa berjodoh, Rom."

Mata Romi berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja mendapat permen.

"Benarkah Sus?"

Aku mengangguk. 'Semoga saja PHP in pasien sakit jiwa dosanya tidak terlalu besar.'

"Asiikk, kalau gitu aku mau keluar dari sini dan bekerja biar bisa menikah dengan suster Yuli."

Romi berseru sambil melompat dan mengepalkan tangannya. Seperti seseorang yang bereuforia karena jagoan sepakbolanya menang tanding.

Aku tersenyum dan mulai membalikkan badan lalu melangkah menjauhinya.

***

"Suster, mau ikut main?" tanya Romi ramah saat aku selesai memandikan pasien yang baru datang.

Aku melihat ke arah Romi yang sedang duduk di hadapan seorang gadis cilik dengan tatapan mata kosong. Beberapa tumpuk daun ada di hadapan mereka.

"Boleh. Mau main apa?" tanyaku sambil berjongkok diantara mereka.

"Ini Sus, main duit-duitan. Aku punya uang banyak!" seru Romi sambil menggerakkan kedua tangannya membentuk lingkaran di udara.

"Wah iya, banyak ya uangnya."

Aku tersenyum pada Romi dan mengelus rambut gadis kecil di hadapanku.

"Ya sudah Sus, ini aku beri uangnya."

Romi mengulurkan beberapa daun padaku. Aku menerimanya dan tersenyum.

"Maka ...sih."

Ucapanku terhenti saat melihat kertas putih menyembul dari daun yang kupegang.

"Sus, tolong baca saat sendirian dan jangan sampai tahu orang lain."

Romi berkata lirih sambil menggenggam daun dan surat yang ada di telapak tanganku.

Serta merta aku mendongakkan kepala seraya menatap matanya. Romi pun menatapku dengan serius lalu dia berbisik di telingaku.

"Saya mohon baca surat ini, karena hanya Suster yang mampu menolong saya."

Aku terdiam. Seolah terhipnotis sesaat. Tidak menyangka akan ada seorang pasien di sini yang berbuat seperti orang waras

Apa dia benar-benar gil*?

Aku mengangguk lalu berdiri dan melangkah meninggalkan Romi dan gadis itu.

Sesekali aku menoleh ke belakang. Tampak Romi sibuk bercanda dengan gadis itu tanpa menoleh padaku. Seolah dia tidak pernah memberikan aku surat apapun.

Aneh!

***

Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi khusus perawat. Dan sesampainya di sana, kubuka perlahan surat dari pasien tersebut. Dan seketika aku terkejut karena isinya adalah ...

Bersambung ...