Prolog
Hujan rintik-rintik di luaran sana, sama sekali tidak berpengaruh terhadap Kiky yang bercucuran keringat dingin. Matanya masih terpejam erat sementara keningnya mengernyit diikuti embusan napas cepat. Kakinya yang sesekali menendang kuat, menggetarkan ranjang miliknya yang merupakan ranjang tingkat, mengganggu orang yang tidur di ranjang atas.
Rehan yang kebagian tidur di ranjang atas, kesulitan untuk memejamkan matanya karena tempat tidurnya terus-terusan goyang. Dia mengkhawatirkan ranjang kayu itu rubuh jika goyangan itu tidak kunjung berhenti. Meskipun hal itu semestinya mustahil terjadi karena kayunya berjenis jati tua yang terkenal kokoh.
Gemuruh guntur yang sesekali bersahutan pun menambah parah insomnianya malam ini.
Dia lalu menengok ke bawah. Dilihatnya Kiky yang masih gelisah dalam tidur.
"Oi, Ki! Bangun!" serunya, yang tidak mendapat respons.
Bukannya bangun, Kiky malah mengigau tidak jelas. Dia berteriak-teriak sembari mencekik lehernya dengan kedua tangannya sendiri.
Rehan yang melihat itu, segera lompat dari ranjangnya dan mendarat dengan sempurna, meskipun kakinya sedikit terkilir karenanya. Namun, rasa sakit itu tidak dia hiraukan. Situasi di depan mata lebih darurat dibanding keadaan kakinya.
"Hei, Ki! Sadarlah!" ucapnya sembari menarik kedua tangan Kiky. Hingga dia jatuh terjengkang, kedua tangan Kiki tetap meremas lehernya sendiri. "Sial! Andai si Eka ada di sini!" gerutunya kemudian.
Eka yang dia maksud adalah saudara tertua mereka. Selama ini, Eka-lah yang biasanya tidur satu kamar dengan Kiky. Kiky sendiri tidak bisa dibiarkan tidur sendiri. Meskipun tidak sering, saat igaunya kambuh, pemuda lima belas tahun itu bisa berakhir dengan aksi menyakiti diri sendiri, seperti saat ini.
Saat ini, keberadaan Eka tidak diketahui. Sudah tiga bulan ini, pemuda itu tidak memberi kabar. Dia memang cukup sering bepergian jauh karena pekerjaannya sebagai pekerja lepas. Akan tetapi, dia tidak pernah pergi selama ini, dan tanpa memberi tahu keadaannya. Seolah-olah, dia menghilang ditelan bumi.
Rehan menggelengkan kepalanya. Pengandaian jika Eka ada di tempatnya berdiri segera dienyahkan. Semakin lama dia melamun, nyawa adiknya juga semakin terancam.
Sekali lagi, dia coba melepaskan tangan Kiki. Sekali lagi, dia harus mundur dengan tangan kosong.
Paham bahwa melepas cekikan itu adalah tindakan sia-sia, Rehan lalu menampar pipi Kiky keras-keras. Sayangnya, sampai pipi Kiky memerah, pemuda lima belas tahun itu tidak kunjung bangun.
Rehan kebingungan di alam nyata, sementara Kiky kalap dalam mimpi.
"Kemari …! Kemarilah, Bocah Ganteng!" ucap sesosok makhluk menyeramkan, diikuti tawa melengking.
Di suatu antah-berantah, Kiky sedang dikejar-kejar sesosok makhluk wanita menyeramkan. Wanita itu memiliki cakar dan taring panjang berwarna hitam. Matanya merah menyala dengan lidah menjuntai panjang sampai perut. Rambut awut-awutannya beterbangan saat terbang mengejar Kiky. Tawanya yang menyeramkan memantul di kegelapan malam, membuat bulu kuduk Kiki terus berdiri.
Kiky yang terus berlari menjauhi makhluk itu, tidak sadar jika dia telah terlalu masuk ke dalam hutan. Di sekitarnya begitu remang. Cahaya bulan purnama tidak bisa menembus lebatnya hutan rimba.
Bersamaan dengan jalanan yang semakin padat oleh semak-semak, suara wanita itu tidak lagi terdengar. Kiky berbelok ke sebuah pohon besar dan bersembunyi di sana. Susah payah dia atur napasnya yang tersengal sembari fokus pada indera pendengarannya.
Selain suara napasnya yang cepat, hanya ada suara gemerisik dari gesekan dedaunan yang diembus angin sepoi-sepoi. Tawa makhluk mengerikan itu tidak lagi terdengar.
Disekanya keringat yang mengucur di kening setelah yakin jika makhluk itu tidak lagi mengejar. "Sial! Bisa-bisanya aku mimpi buruk! Perasaan aku udah doa sebelum tidur," keluhnya.
Dia sadar betul jika saat ini dia sedang bermimpi. Sayangnya, dia tidak bisa sepenuhnya mengendalikan mimpinya selayaknya sedang mengalami lucid dream.
Jika mengalami lucid dream, dia bisa membawa alur mimpi itu ke akhir yang menyenangkan. Sering kali, dia buat mimpi itu menjadi mimpi indah.
Mimpi yang tidak bisa dia kendalikan, tidak pernah membawa hal baik. Biasanya, mimpi seperti ini sangat jarang terjadi. Sekalinya kejadian, mimpinya bisa menjadi sebuah pertanda.
Situasi yang dia alami saat ini memaksanya untuk mendecak.
"Kalau benar mimpi ini adalah pertanda, pasti ada petunjuk di sekitar sini," pikirnya.
Setelah napasnya sudah stabil sepenuhnya, Kiky kembali berjalan menyusuri padatnya hutan.
Jalan setapak yang semula terlihat, semakin lama semakin tertutup oleh semak-semak. Kiky nekat menerobos semak-semak itu setelah memastikan adanya area terbuka di balik semak-semak itu.
Kiky menerobos semak-semak itu sekuat tenaga. Setelah berhasil melewati rintangan itu, matanya membelalak.
"Loh, area ini 'kan …!"
Sekelebat ingatan muncul begitu dia melihat jalan setapak dia depannya. Dia lalu bergegas mengikuti jalan yang lebarnya hanya bisa dilewati dua orang dewasa beriringan.
"Kalau nggak salah, di depan …."
Kiky bermaksud mengikuti jalan setapak itu. Akan tetapi, tawa melengking itu kembali terdengar lantang. Sekali tengok, dia melihat makhluk menyeramkan itu tengah duduk di sebuah ranting pohon. Baik mata maupun lidahnya seperti melihat mangsa yang sudah dipojokkan.
Kiky berlari sekuat tenaga ke arah sebaliknya. Sekali lagi, dia harus kabur dari kejaran makhluk mengerikan.
Tubuhnya tertarik ke belakang ketika melewati tikungan. Saking kuat tarikan itu, tubuhnya terbawa hingga masuk semak-semak.
"Sst!!!"
Orang yang menarik Kiky ke dalam semak bergegas meletakkan jari telunjuk ke bibir; meminta Kiky untuk tetap diam.
Kiky enggan melakukan permintaan pemuda berambut hitam itu. Dia menarik kerah pemuda itu kencang-kencang. "Ke mana aja kau?" serunya dengan suara sepelan mungkin, "kami mengkhawatirkanmu, tau!"
"Udahlah, diam! Aku lagi sembunyi, nih! Lagian, bisa-bisanya kau ada di sini!"
"Nggak usah ngalihin perhatian, Ka! Cepet kasih tau, kenapa kau nggak pulang-pulang?"
Eka memukul kepala Kiky keras-keras. Dia kesal melihat adiknya masih cerewet. "Jangan berisik! Sekarang denger! Aku baik-baik saja, oke! Sekarang, pulang! Walaupun nggak secara fisik kau ada di sini, jiwamu ini cuma bakal mengekspos keberadaanku. Pokoknya, aku lagi memata-matai sesuatu. Kalau aku gagal, makin lama kerjaanku kelar! Aku nggak pulang-pulang!"
Baik Rehan maupun Kiky sama-sama tahu jika Eka saat ini bekerja sebagai asisten seorang detektif. Meskipun terdengar aneh, tetapi sang detektif tidak hanya menerima pekerjaan normal, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan supranatural.
Eka yang indera keenamnya terbuka, sering menjalankan misi bersifat supranatural itu. Meskipun Eka tidak pernah membahasnya bersama saudara-saudaranya yang lain, entah bagaimana, Rehan mengetahuinya, yang lalu dia beri tahukan kepada Kiky.
Bulu kuduk Kiky kembali meremang ketika teringat akan wanita mengerikan yang mengejarnya. "Jangan bilang kalau kasusmu kali ini ada hubungannya sama makhluk sejenis Kolong Wewe!"
Bola mata Eka melebar. Dia memelototi Kiky. "Kaulihat dia?"
"Aku lupa gimana awal-awal mimpi. Tapi, tau-tau aku lagi lari dikejar nenek mengerikan itu."
Eka menepuk jidatnya sendiri. "Sial! Udah pasti, dia menandaimu. Coba sini!" geramnya.
Tanpa meminta persetujuan, Eka menekan kepala Kiky hingga pemuda berambut cepak itu menunduk hampir menyentuh tanah. Eka melihat sebuah tanda melingkar di tengkuk adiknya. Saat itu juga, tangan kanannya memancarkan cahaya menyilaukan, yang langsung dia tekankan pada tanda itu.
"Tahan!" perintah Eka.
Rasa panas seketika menjalar di tengkuk. Suhu panas yang semakin meningkat, membuat Kiky refleks berontak, berusaha melepaskan diri dari genggaman kakaknya. Namun, tenaga kakaknya jauh lebih kuat dibanding dirinya. Posisi kakaknya yang berada di belakang, turut membuatnya kesusahan dalam melepaskan diri.
"Stop! Berhenti!" erang Kiky, yang tidak direspons Eka.
Tanpa sadar, warna rambut Kiky yang semula hitam kecokelatan, perlahan berubah putih.
Eka sengaja menunggu perubahan itu terjadi, agar dia bisa menarik makhluk yang menandai Kiky.
Angin berembus kencang. Pepohonan bergoyang dengan kerasnya. Suara tawa wanita yang bersahut-sahutan menandakan keberadaan makhluk itu semakin mendekat.
Sebenarnya, makhluk yang mengincar Kiky bukanlah target Eka. Hanya saja, dia tidak bisa membiarkan saudaranya dikejar-kejar makhluk itu hingga mengganggu aktivitas kehidupan nyata. Risiko keberadaannya diketahui oleh incarannya sudah bukan prioritas utamanya lagi.
Sampai akhirnya tanda itu menghilang dari tengkuk Kiky, Eka juga menekan aura kuat milik Kiky yang bisa menarik perhatian makhluk 'tak kasatmata. Barulah setelah itu, Eka melepas tangannya. "Dengar! Apa pun yang terjadi, jangan cari aku! Aku pasti pulang kalau urusanku sudah selesai! Sekarang, pulanglah!"
Warna putih rambut Kiky memudar dan kembali gelap. Sebelum dia memprotes pernyataan Eka, tubuhnya seakan tersedot vacuum cleaner yang sangat kuat. Sensasi tarikan kuat yang merupakan ulah dari Eka, sama sekali tidak bisa dia lawan.
Sebentar lagi, dia akan terjaga dari tidurnya. Perasaannya senang ketika menyadari hal itu. Akan tetapi, dia melihat pemandangan tidak menyenangkan. Sesaat sebelum dia kembali ke dunia nyata, dia melihat Eka dikerubungi makhluk-makhluk mengerikan dari berbagai jenis dan ukuran.
Bangun-bangun, napasnya tersengal. Suara lantang petir seakan menyambutnya kembali ke dunia nyata. Dia menghela napas panjang beberapa kali, sebelum menoleh ke arah samping.
Dia melihat Rehan sedang berdiri dengan membawa seember penuh air.
"Ngapain kau?"
Rehan yang sudah dalam posisi siap mengguyur, mendecak. "Ck! Sia-sia aku ambil air!"
"Ha? Kau nggak bermaksud nyiram aku sama air itu, 'kan?"
"Salah sendiri dibangunin susahnya minta ampun. Ngimpi apaan, sih? Pake nyekik leher segala!"
Kiky refleks memegang leher. Sensasi perih menjalar dari leher depan ke leher belakang.
Tanpa diminta, Rehan mengambil ponselnya. Dia biarkan Kiky bercermin melalui kamera depan.
Rona merah cap tangan membekas di leher dengan jelas. Sebelumnya, dia merasakan sensasi panas menjalar di sekitar leher ketika Eka melakukan sesuatu terhadap tengkuknya. Dia tidak menyangka jika tubuh fisiknya akan bereaksi seekstrem ini.
"Barusan mimpi apaan, emang?"
"Sialan si Eka!"
"Eka? Kau mimpi ketemu Eka, terus dicekik gitu?"
"Nggak gitu juga. Pokoknya, tau-tau aku ngelakuin proyeksi astral, dikejar hantu, sampe akhirnya ketemu Eka. Tapi, sama Eka dipaksa pulang. Kayaknya kejadian nyekik leher barengan sama pembersihan yang Eka lakuin. Rasa sakitnya sama persis!"
"Terus, dia pesen sesuatu/nggak?"
"Cuman bilang, nggak usah nyari dia."
Rehan yang tidak mau pusing, meletakkan ember berisi air di tempatnya berdiri, mengambil ponselnya dari tangan Kiky, lalu naik ke ranjang atas.
"Lah, embernya nggak kau balikin dulu?" protes Kiky.
"Ntaran, lah! Siapa tau kau ngigau lagi. 'Kan nggak usah susah-susah bangunin! Tinggal gebyur aja airnya ke mukamu. Pasti bangun, 'kan?"
Kiky ingin kembali memprotes, tetapi tidak jadi setelah mendengar dengkuran dari ranjang atas.
Dilihatnya jam digital yang menempel dinding. Masih pukul 1.30 dini hari. Di luar, guyuran hujan semakin deras. Dia lalu memutuskan untuk tidur lagi.
Keesokan harinya, baik Kiky dan juga Rehan bangun kesiangan. Mereka bergegas membersihkan badan sekalipun hanya menyiram tubuh dengan air, lalu memakai seragam sekolah. Bagaimanapun, waktu yang mereka miliki terlalu mepet untuk sekadar persiapan.
Di ruang makan, mereka melihat seorang gadis remaja berpakaian biru-putih khas SMP yang baru selesai menghidangkan sarapan di atas meja.
Rehan dan Kiky saling pandang. Mereka sama-sama ingin melewatkan sarapan demi mengejar bus agar tidak terlambat sekolah. Namun, mereka juga tidak enak hati jika harus menyakiti hati adik termuda mereka yang sudah susah payah memasak sarapan.
Akan tetapi, keinginan untuk menyenangkan hati adik mereka juga tidak sepenuh hati.
Menu sarapannya sederhana, oseng kangkung dan juga tempe. Akan tetapi, baik oseng dan juga tempe goreng terlihat gosong. Tercium aroma menyengat yang tidak lazim ada di makanan.
Kiky memelototi Rehan. Dia memaksa kakaknya untuk mencicipi makanan adik mereka.
Sebelum ujung jari Rehan menyentuh tempe, Melati, adik mereka, berteriak, "Hop! Jangan dimakan! Makanannya mau kubuang kok itu, sudah basi!" Gadis itu bergegas membereskan makanan di atas meja makan sambil tersenyum cengengesan.
"Kalian cepat berangkat! Jangan sampai ketinggalan bus!"
Melati mendorong kedua kakaknya hingga keluar rumah. Tidak seperti kedua kakaknya, tempat Melati menimba ilmu cukup dekat dari rumah.
Baik Kiky maupun Rehan sama-sama tahu jika Melati menyimpan kesedihan karena masakan yang dia masak tidak kunjung berhasil. Mereka juga merindukan masa-masa ketika Eka masih ada di tengah keluarga mereka. Karena di rumah itu, hanya Eka yang pandai memasak.
Dalam perjalanan menuju halte bus, mereka berdua berjanji untuk membawa pulang kakak tertua mereka, bagaimana pun caranya.