•> Membosankan
Embun pagi di kota Suzhuo membawa kenyamanan bagi perempuan yang baru saja selesai berkutat dengan laptopnya. Han Zie, wanita muda yang baru saja menginjak pertengahan kepala dua dengan dua buah mata panda itu kemudian mengambil handphone nya dan menggerakkan jemari nya.
Han Zie baru saja menyelesaikan pekerjaan nya dan kini sedang menggulirkan layar handphone nya, jemari nya seakan belum puas bergerak. Jari wanita itu akhirnya berhenti dan menekan sesuatu.
Tampak di layar handphone bahwa Han Zie sedang bimbang. Akhirnya wanita itu membuka sebuah laman website berisi komik, matanya terfokus pada satu komik yang menarik perhatiannya.
"The Duchess from Northern Sububrs" Gumamnya.
Jemari nya bergerak seraya wanita itu membaca,
"ahh membosankan, female lead nya keren tapi alur cerita nya gampang terbaca!" Han Zie mengomentari isi komik tersebut tepat setelah ia baru saja selesai membaca chapter pertama.
"oh sudah tamat rupanya. Ku coba baca chapter terakhir, sepertinya sesuai dugaan, haha." Lanjut Han Zie dan tangannya membuka chapter terakhir.
Mata Han Zie terfokus pada alur cerita, seakan bayangan yang ada di imajinasi nya menjadi nyata. Buliran keringat dingin membasahi pipi putih bersih nya, sesekali ia meneguk air liurnya.
Han Zie melepaskan kacamatanya usai membaca chapter terakhir dari komik tersebut lalu bersandar di kursinya. Ia kemudian menyadari dirinya belum berada di panel terakhir dan kemudian ia lanjutkan membaca komik tersebut.
Sampai sudah Han Zie di panel terakhir komik, Han zie tersenyum kecut seakan menertawakan diri nya sendiri. Semua dugaannya salah dan manik mata hazel milik Han Zie kembali melirik ke arah layar handphone nya pada panel terakhir komik. Sebuah nama muncul, 'Zunk' dan Han Zie berpikir bahwa itu kemungkinan adalah nama penulis komik itu.
Kemudian beberapa kosakata baru kembali diperlihatkan di panel terakhir komik tersebut. Han Zie membacanya seksama tanpa memikirkan apapun.
"Tza vier yètc ze òrnièn"
Sesaat setelah itu Han Zie tertusuk di kepala oleh sebuah pedang cahaya yang keluar dari layar handphone. Tak ada reaksi, tubuh Han Zie perlahan terjatuh dan perlahan melebur menjadi butiran bunga plum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wanita muda itu membuka kan matanya dan mendapati dirinya di suatu ruangan asing dengan dominan merah maroon menyelimuti seisi ruangan. Dilihatnya dua orang berpenampilan baju pelayan pada era victorian terlihat, mata Han Zie sedikit membelalak, menyadari dirinya masuk ke ranah asing.
Han Zie sedang duduk di sebuah singgasana dan masih belum bersuara, mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya. Kepalanya pening dan kini ia memegangi jidat nya.
"Nona Ouzie? Ada yang salah?" Tanya salah satu pelayan.
"Ouzie?" Han zie membatin dan menatap pada dua orang yang sedang menunduk kepadanya.
Han Zie tetap diam, menganalisis segala hal yang bisa ia analisa.
"Aku lelah, antarkan aku ke kamar." Han Zie akhirnya membuka suara dan berdiri dari duduknya.
Kedua pelayan tersebut menganggukan kepalanya dan berjalan mendahului Han Zie guna mengantarkan sang Nona kembali ke kamarnya. Ditengah-tengah perjalanan mereka menuju kamar, Han Zie kembali bersuara dengan nada datar sebagai bentuk keamanan diri.
"Jelaskan tentang diriku, apa yang kalian tahu dan bagaimana aku dimata kalian."
Kedua pelayan itu sedikit terkejut dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Han Zie, salah satu pelayan menjawab pertanyaan Han Zie.
"Anda adalah duchess Ouzie Van Der Viletto, sang Penguasa Timur. Anda terkenal kejam dan dingin dan beberapa rumor dari luar bahwa anda sebenarnya adalah sang tiran." Pelayan perempuan itu menjelaskan dengan suara getar karena takut akan apa yang akan terjadi terhadapnya.
"Itu bukanlah rumor belaka, anda adalah sang tiran." Pelayan lelaki akhirnya membuka suaranya tanpa menunjukkan ketakutan sedikit pun.
Han Zie menyeringai tajam, komentar dari pelayan lelaki itu membuatnya puas. Han Zie kemudian berpikiran bahwa jika ini hanyalah mimpi belaka maka ia akan sedikit kecewa, namun setelah banyak pemikiran yang terlintas dikepalanya, ia menyadari bahwa ia telah berpindah dunia. Sesuatu hal yang dianggap khayalan belaka benar-benar terjadi pada Han Zie. Ini bukanlah mimpi, Han Zie menyeringai karena hal itu.
"Sebentar, siapa aku tadi?" Han Zie menyadari sesuatu hal yang salah disini.
"Duchess Ouzie Van Der Viletto." Pelayan lelaki kembali menjawab.
Han Zie kemudian menghela nafas panjang dan kecewa, ia baru saja menyadari bahwa dirinya bertransmigrasi ke komik yang ia baca.
"Kau bercanda." gumam Han Zie dan membuka pintu kamarnya.
Han Zie kemudian merebahkan diri di tempat tidur yang berukuran besar. Dirinya berdecak sebal dan mengguling-gulingkan diri di tempat tidurnya. Tidak terima dengan kenyataan yang baru saja ia alami.
"Oke, pertama-tama aku adalah si sialan Ouzie. Villain utama dalam komik 'The Duchess from Northern Sububrs'. Si sialan ini merupakan sang tiran yang sangat kejam terhadap orang-orangnya dan berakhir mati di tangan sang Emperor." Han Zie bergumam dan menepukkan tangannya lalu menepuk jidat nya sendiri.
"Lalu, ahh sialan! Aku hanya membaca chapter awal dan akhir, apa yang terjadi di tengah-tengah hal itu? Aku tak akan merelakan kehidupan ku yang ini menjadi sia-sia. Aku sudah terbunuh oleh komik ini sebelumnya dan aku tak akan terbunuh lagi untuk kedua kalinya! Sekarang aku hanya memiliki dua buah petunjuk, awal dan akhir. Di awal cerita terdapat pelayan bertopeng, dia adalah Mien. Aku sudah bertemu dengan Mien, lalu setelah ini akan ada perjamuan. Ouzie terkenal dengan sifatnya yang dingin tanpa hati, mau tidak mau aku harus berlagak seperti itu, jika tidak sepertinya aku yang akan mati."
Han Zie menyeringai dan menghembuskan kembali nafas panjangnya. Dirinya masih memikirkan apa yang terjadi pada waktu dimana dirinya ditusuk oleh suatu pedang dari cahaya, dan apa tujuan dia dipindahkan. Berharap suatu saat nanti ia menemukan jawabannya.