Bab 3# Menantu Terkutuk
Delapan tahun silam~
"Udah pulang kamu, Ni?" sambut ibu mertuaku dengan melipat tangannya di dada. Selalu begitu, berdiri di ambang pintu saat pantatku baru menyentuh bilik bambu yang mengisi teras rumah kami.
"Sudah, Bu."
"Daganganmu habis?"
Basa-basi itu juga selalu aku dengar tiap kali baru merasai semilir angin yang membantuku menghempas gerah akibat setengah hari bergaul dengan terik matahari.
"Alhamdulillah."
"Berarti bisa dong bagi ibu duit?" Sudah kuduga, itulah dermaganya. Duit.
"Buat apa, Bu?"
Selalu kutanyakan memang. Sebab aku bukan menantu yang pelit dan tidak pernah memberinya sedikit hasil dari kerja kerasku. Sedikitnya selembar uang sepuluh ribuan selalu aku ulurkan padanya setiap sore. Namun, entah ke mana perginya uang itu. Aku pun enggan menanyakannya.
Suka-suka ibu mau menggunakannya untuk apa. Bagiku, apapun yang sudah kuberi bukan menjadi urusanku lagi.
"Ibu pengin beli lauk. Sayur yang kamu masak tadi pagi sudah habis. Sini, mana duitnya?" Tangannya menengadah, tepat di depan wajahku.
"Murni sudah belikan lauk, Bu. Sebentar." Tas anyam yang selalu aku bawa untuk menyimpan dagangan kurogoh isinya. Sebelum pulang, aku sempat membelikan lauk. Bersemangat aku mengambilnya.
"Alah ... Botok lagi, botok lagi! Nggak ada yang lain apa, Ni?! Setiap beli lauk, belinya botok! Bosen ibu," protesnya saat melihat yang keluar dari dalam tas bukannya ayam goreng atau makanan enak lainnya. Melainkan hanya beberapa bungkus botok. Sepertinya ibu mertuaku kecewa.
"Ada, Bu. Sambel goreng ati ampela kalau Ibu mau."
Aku berusaha menghiburnya dengan menawarkan lauk yang lain. Tapi jelas ibu tidak akan mau memakannya. Sebab wanita yang baru beberapa bulan menjadi mertuaku itu diketahui memiliki riwayat darah tinggi. Dan lauk ini memang sengaja aku beli khusus untuk suamiku.
"Mau bunuh saya, kamu?!" erangnya dengan mata melotot seakan ingin menelanku hidup-hidup.
"Ya enggak sih, Bu. Tapi kalau Ibu mau ya ... Silakan."
"Nyuruh saya bunuh diri gitu maksudnya? Seneng kamu ya, Ni, kalau saya mati? Apa nggak puas kamu sudah menghancurkan hidup saya dan anak saya? Sial-sial anak saya nikahin kamu! Dasar, mantu terkutuk! Nggak guna! Mantu sialan!"
Aku diam saja, hanya menebalkan telinga yang kerap kali berdenging tiap mendengar penghinaan dari ibu mertuaku.
Bisa apa? Melawannya? Aku masih takut dosa, sebab sejak ikrar pernikahan diucapkan. Beliau sudah aku anggap sebagai ibu pengganti dari ibuku yang telah tiada.
Sudah pasti aku harus menghormatinya. Setiap kata menyakitkan yang menyembur lewat mulutnya aku anggap sebagai sebuah nasihat. Ya, nasihat yang tanpa ia sadari bisa menggerogoti kesabaranku.
Di tengah umpatan yang terus memberondong telingaku, Ranzel--putriku yang usianya baru beberapa hari itu menangis. Gegas langkah kusongsong untuk melihatnya.
Sekiranya hal apa yang sudah membuatnya menangis. Kutinggalkan ibu tanpa sempat memberinya pilihan lain selain botok dan sambel goreng ati ampela di dalam keranjang. Walhasil ibu mencak-mencak memanggilku.
"Ibu belum selesai bicara, Ni!" Suara ibu masih terdengar saat aku menerobos pintu kamarku.
"Iya, Bu. Nanti sore pasti Murni kasih uangnya. Sekarang makan pakai lauk yang ada dulu saja, ya? Sayang kalau tidak dimakan, sudah dibeli dan belinya pakai uang, Bu!" pekikku dari ambang pintu.
"Assalamu'alaikum, Nak. Ibu pulang."
Kuraih tubuh mungil itu pelan-pelan seraya menyapanya. Saat menyentuh bokong, ternyata Ranzel pipis. Kain bedong yang melilitnya sudah habis basah. Sepertinya Ranzel sudah pipis beberapa kali, namun ibu tidak mengganti popoknya. Terbukti saat aku melirik bantal kecil milik Ranzel juga ikut basah.
Ya Allah ... kuatkan aku. Ternyata ibu tidak merawat Ranzel dengan baik saat aku pergi berjualan. Ranzel pasti kedinginan karena tempat tidurnya semuanya basah.
Sudah berapa lama dia dalam kondisi seperti ini?
Segera kusingkirkan semua kain yang basah itu bersama rasa bersalah bercampur sedih. Lalu menggantinya dengan kain baru yang kering. "Maafkan ibu, Nak. Kamu jadi tidak terurus seperti ini karena ibu harus pergi jualan," sesalku dalam hati.
Kuayun tubuh mungil bayi kemerahan itu setelah melilit tubuhnya dengan kain baru. Perlahan namun pasti, Ranzel mulai kembali tenang. Aku terus menimangnya, bibirku mulai bersenandung mengimbangi ritme ayunan tangan. Ranzel kembali tertidur.
Wajah mungil nan kemerahan itu, tersenyum walau samar. Sungguh karunia Tuhan yang luar biasa. Aku masih tidak percaya sampai detik ini. Malaikat kecil hadir di dalam hidupku. Dan kelak dia akan lantang memanggilku 'Ibu'.
"Ibu pamit mandi dulu, ya?" pamitku pada gadis kecilku itu.
Darah segar masih mengalir deras. Tapi Mas Yanto dan ibu tidak melarangku sedikitpun saat aku meraih kembali barang dagangan.
Mereka justru yang mendorongku untuk gegas mencari uang. Padahal tubuh ini baru beberapa hari berjuang melawan maut (Melahirkan). Tidak bisakah mereka memberiku sedikit waktu? Hanya sampai darah ini berhenti mengalir saja. Aku ingin tubuhku benar-benar mendapatkan haknya setelah sembilan bulan terpenjara dalam perjuangan yang tidak mudah untuk dilalui.
Mas Yanto. Pria itu ... Tidakkah iba melihat istrinya mengayun kaki dalam jarak yang tak dekat dalam kondisi masa pemulihan pasca melahirkan?
Apakah uang lebih penting ketimbang kesehatanku?
Tapi lagi-lagi aku hanya bisa diam dan menerima. Keadaan menamparku setiap saat. Nasib ekonomi yang tak mujur membelit rumah tangga kami.
Belum lagi rentetan musibah yang kian mendorong kami semakin dekat ke ujung jurang kemiskinan.
Hah! Rasanya aku ingin minggat saja dari rumah yang panasnya ngalahin neraka ini. Baru aku sadari, sekeras apapun aku berjuang, aku tidak akan tampak seperti berlian di mata ibu mertua dan suamiku.
Aku hanyalah yatim-piatu pembawa sial. Menantu yang dicap 'Terkutuk' oleh ibu mertuaku. Aku si pembawa bencana bagi keluarga ini.
Aku memang tidak bisa memberikan segepok uang tiap harinya kepada mereka. Tapi tidakkah seharusnya mereka sadar, jika bukan karena aku, mana mungkin mereka masih bisa menelan nasi beserta lauk selain garam?
Guyuran air membuat peluh seketika luntur. Gegas kuraih handuk yang menggantung di balik pintu. Tangis Ranzel kembali memanggilku. Bayiku sepertinya sudah lapar.
Setengah hari aku meninggalkannya dan hanya memberinya sebotol ASI yang aku perah sebelum meninggalkan rumah. Sungguh aku ibu yang keterlaluan, bukan?
"Ibu datang, Sayang!"
Kugelung asal rambut yang sedari pagi belum sempat disisir. Kembali meraih tubuh mungil yang sudah menggelinjang dengan wajah merahnya.
"Ututu ... Laper, ya? Maaf, ibu kelamaan mandinya, ya?"
Tangisnya terhenti saat benda kenyal kecoklatan masuk ke dalam mulutnya. Kurasai setiap desir sumber kehidupan bagi anakku yang disedot kuat oleh Ranzel.
"Mimi susu yang banyak, biar cepet gede. Sehat ya, Nak. Ibu sayang kamu."
Telapak tangan kasar yang penuh 'kapal' ini membelai rambut hitam legam yang cukup lebat menutupi kepala mungil Ranzel. Katanya jika sering membelai kepala bayi bisa merangsang motoriknya. Aku berharap Ranzel akan tumbuh menjadi anak yang cerdas, kelak.
Ada sesal yang terus menusuk dada ini. Semakin kentara aku rasakan dan tanpa disadari setetes bulir hangat meluncur ke pipi.
Segera aku hapus karena khawatir akan jatuh mengenai wajah bayiku. "Maaf karena ibu belum bisa kasih yang terbaik buat kamu. Tapi ibu janji, ibu akan mengusahakannya. Nak, ibu tidak akan membiarkan kamu hidup kesusahan. Sudahlah, biar ibu saja yang merasakan pahit dan getirnya hidup ini. Kamu, tumbuhlah menjadi gadis yang hebat."
Bukan aku menyesal menikah dengan Mas Yanto. Bukan aku tidak bersyukur setelah Allah mendatangkan keluarga ke dalam hidupku yang yatim-piatu ini.
Aku hanya ingin bernegosiasi dengan keadaan. Tak bisakah aku dibiarkan hidup selayaknya istri-istri dan menantu-menantu pada umumnya?
Banyak keluarga dalam kondisi yang lebih menyedihkan. Tapi mereka masih bisa saling menguatkan, merangkul, bahkan bersenda gurau di sela-sela ratapan hidup.
Kenapa keluarga ini tidak bisa?
Kenapa aku selalu disudutkan oleh masalah-masalah yang timbul? Kenapa selalu aku yang dituduh sebagai penyebabnya?
Ya Rabb ... Bisakah aku bertahan di tengah rundungan suami dan ibu mertuaku? Tunjukkan jalan yang memang seharusnya aku ambil. Jika aku harus pergi dari keluarga ini, segerakanlah. Namun bila Engkau menghendaki aku harus tetap bertahan, kuatkanlah aku.
Ya Rabb ... Salurkan semua kekuatan ajaib Wonder Woman, Batman, Superman, dan antek-anteknya kepadaku agar aku bisa melewati ujianMu. Aamiin.