Chapter I : Janji dan Ikatan
Prolog
Hari itu, semuanya berubah begitu cepat, lebih cepat daripada satu kedipan mata. Bukankah semua hal selalu berubah begitu saja, beberapa bahkan tak bisa diprediksi. Takdir telah jauh menuntunku pada sesuatu yang baru, walaupun terkadang yang baru itu sangat menakutkan untuk diketahui lebih awal.
“Ëoru….”
Itukah namaku? benar. Nama yang tak memiliki arti di daratan ini. Nama aneh yang diberikan oleh Bapa saat dia menemukan bayi di depan pintu gerejanya, ia juga yang telah menjadi ayah angkat di gereja tua itu. Aku telah menjalani kehidupan sehari-hari sebagai yatim-piatu, dan seorang anak kecil yang telah memikirkan banyak hal daripada sewajarnya. Menjadi kakak dari adik-adikku juga, merupakan penangguhan terhadap idealisme bagi seorang anak kecil, karena, harus melindungi mereka dari apa pun, bahkan jika itu berarti melindungi mereka dari dunia ini. Aku, hanya ingin melindungi mereka... jika saja aku bisa....
Kini, apakah kau mendengarnya? Suara itu… suara yang sama, menghantuimu–aku di tiap-tiap malam. Disaat keheningan tiba, itu bukanlah hal yang menarik untuk diikuti ataupun didengar. Melainkan, hanyalah seuntai ingatan dibalik bayang. Dan Dia, berdiri di tengah-tengah sorot cahaya dari atas. Siluet serba hitam yang terasa hangat, berkedut, sepintas saja ia memanggilku. Merekah suara retakan, membuat gema datang dari berbagai arah, memekikkan jiwa yang gemetaran ketakutan.
Aku mengingatnya, suara dedaunan yang lembut; betebaran terhempas angin. Di bawah pohon Oak tua, kala pikiran dan perasaan banyak tertinggal di sana. Pernah pemandangan dari ketinggian seakan mendekap tubuh, bergelimangnya rumah-rumah dan hamparan sawah, juga hijau hutan serta pepohonan yang jauh di ujung mata. Jeziel, itu adalah nama negeri dan tempatku pulang, ada di sana. Di dalam pemukiman tak bernama, sebuah gereja tua serta rumah-rumah yang ditinggali oleh kehidupan yang indah dan tak berdosa. Kalau tak salah ingat, itu adalah pinggiran wilayah selatan Jeziel. Hari-hari yang mengawali segalanya.
Impian, keinginan, dan harapan, merupakan hal yang wajar dimiliki tiap-tiap anak, juga halnya aku. Namun, takdir menampakkan hal yang cukup berbeda; kebahagiaan, rasa takut, kengerian, dan juga sebuah janji, di kehidupan yang terus berputar layaknya pergantian siang dan malam. Tertelan ke dalam lingkaran takdir yang tak berujung bukanlah baik ataupun buruk, melainkan, cara takdir dalam memberikan jalan kehidupan kepada tiap makhluk.
Maka…
“Jika ingatan merupakan takdir bagi masa sekarang, maka, apakah takdir juga akan berubah jika seluruh hal itu dihapus."
Kau, cukup merasakannya saja.
Aku, merasakan semuanya.
...----------------...
Bab I : Untukmu
Semilir lirih sesuatu mengetuk pintu, di tengah senyapnya malam.
Tok, tok, tok!
Dari dalam kamar, aku mendengar sesuatu yang menggesek-gesek di luar batas kelam. Baru rasanya tubuh ini akan tenggelam di dalam lautan malam. Namun, samar, bagai keganjilan sebuah mimpi yang berkarat. Tubuhku yang lunglai beranjak pelan dari ranjang kayu tua, kiranya masih cukup layak pakai. Ubin kamar yang terbuat dari susunan batu kokoh terasa dingin dan rata, layaknya bersentuhan dengan malam. Kemudian dengan hati-hati kurapatkan telinga ke pintu kamar yang lembap. Kepala ini senyap, demi mendengar lebih jelas dari mana asalnya suara itu. Secuil kubuka pintu kamar yang alot, ujung mataku mengintip pada celah ke arah luar, dan hanya kegelapan dari ruang depan memenuhi pandangan yang samar dan seakan berbayang. Tak lagi terlihat jelas corak bebatuan bulat dinding gereja, hanya bisa kuingat-ingat letak meja dan bufet panjang di ujung, dekat lorong kamar, peranti makan bersama.
Gesek—ketukan itu sewaktu-waktu kembali muncul, memecah keheningan malam yang dingin. Angin berhembus, menaburkan debu dari pinggiran celah ventilasi. Pikiran ini terus membuntut pada lemah ketuk pintu. Seakan memanggil namaku, dan perlahan memberi seuntai jalur yang merayap melewati langit-langit. Sejenak, kuduga itu hanyalah ranting yang menabrak pintu akibat angin. Dan sekali lagi ragu datang menindik akalku yang pendek, terlalu aneh jika ada seseorang datang dan mengetuk pintu di tengah-tengah malam. Kemudian suara itu bergema dari pojok dinding gereja, seolah berdetak dan berbisik-bisik. Gelap malam melebar, yang kemudian membawa hening dan memakan sudut-sudut ruangan. Bapa dan Suster, mereka sudah tidur, ini sudah larut malam. Lentera-lentera di sudut-sudut ruangan telah dipadamkan lebih awal.
Entah apa yang membuatku begitu yakin, dan seakan ada yang memaksaku untuk melangkahkan kaki, berjalan menyusuri ruang depan melalui kelam debu-debu malam. Gairah penasaran menelanku dalam-dalam hingga mencapai tingkat tak masuk akal. Dingin lantai Gereja yang menyelekit kulit, kaki ini layaknya berjalan di atas hamparan padat pucat salju. Hanya dibantu oleh redup bulan yang masuk melalui celah ventilasi. Lantai mengalirkan gelisah, pada saraf-saraf telapak kaki yang sejatinya sudah gemetaran karena menyentuh dingin. Udara lembap terus menghadirkan benih sesak dalam nafasku di tiap-tiap langkah, seakan udara dalam ruang kian detiknya kian menipis, dan itu hanya demi pembenaran sebuah dugaan. Malam ini kelewat dingin, bahkan lebih dingin daripada malam-malam biasanya, tak pula mengejutkan sebenarnya, sebab musim dingin akan datang tak lama lagi. Mungkin saja aku yang terlalu berburu-buru karena penasaran, sehingga tak menyalakan lentera lebih dahulu.
Kini aku berhadapan dengan pintu ganda kayu yang banyak tambalannya, perbedaan lapuk di tiap lapisan kayunya, akan terlihat jelas ketika cahaya meneranginya. Ketukan masih terdengar, tepat di balik pintu ini, lebih jelas. Sudah pasti ada seseorang di baliknya. Namun, sepintas keraguan kembali lewat di benakku, menggoyahkan rasa percaya yang telah kubangun dan membuat akal tidak benar-benar yakin jika seorang manusia yang ada di luar. Bisa saja sesosok troll yang kemudian berdiri dan menculikku tiba-tiba, seperti yang Suster ceritakan tempo hari. Dikit demi sedikit, aku menyeret kaki lebih dekat ke arah pintu, rasa penasaran lebih menguasai diriku daripada gelisah itu sendiri. Lagi pula, troll hanyalah cerita dongeng murahan pembentuk ketakutan anak kecil agar mereka tidak melangkahi aturan. Rasanya aku terlalu bodoh jika terlalu percaya dengan dongeng, tapi jika saja memang manusia di balik pintu ini apakah masih ada kemungkinan tidak terjadi kengerian.
Kutarik nafasku dalam-dalam, kulepaskan pengganjal kayu dari gagang pintu dengan sangat hati-hati. Pintu terbuka pelan. Merekahlah kengerian, suara kaki menggesek, kemudian udara terasa seperti disempitkan dan hawa dingin luar langsung menyelimuti tubuhku. Mataku menjadi kaku, pikiranku entah hilang ke mana, aku berdiri mematri. Seorang anak perempuan yang sedikit lebih pendek dariku, ia berdiri di depan pintu dengan mantel linen coklat pucat bertudung dengan banyak bercak samar bekas darah di berbagai sisi kainnya. Senyap kegelapan luar dan kengerian itu sendiri seakan menjadi satu, terpampang jelas di depan mata. Kakinya begitu kotor dan dekil penuh lumpur namun, aku seakan langsung memakluminya.
Kumiringkan kepalaku demi menatap ke arah wajahnya, mencoba melihat lebih jelas matanya namun gagal karena tertutup oleh poni yang terurai sepanjang telinga. Walau cuma bisa melihat bibirnya yang kering dan pecah-pecah. Ke arah mana matanya memandang, mimik sayu dan pandangan kosong seakan menyimpan berbagai misteri.
"Masuklah," perintahku. Dia hanya terdiam. Tanpa menunggu lebih lama, aku menarik tangannya masuk ke dalam Gereja. Pintu langsung kututup rapat-rapat, sebelum angin dingin menjadi penyebab adik-adikku yang sedang tidur itu bersin-bersin pagi nanti. Sejatinya tak ada lagi kegelisahan dan keraguan tadi, hanya saja kebingungan melanda pikiranku saat melihatnya. Kini perasaan janggal seakan menyelimutiku, memenuhiku dengan rasa iba yang tak bisa diukur lagi. Berdetak, tapi bukan ketakutan kurasa, hal lain. Gelap sedikit memudar, langit sepertinya sedang membiarkan bulan menunjukkan dirinya.
"Namaku Ëoru, siapa namamu?" tanyaku pelan.
Tanganku perlahan menggapai mantelnya, kubuka tudung yang menutupi kepalanya. Dia kemudian langsung menyorot pandangannya ke arahku dengan tiba-tiba. Matanya menatap kosong, bagai sebuah lorong kelam dan terjebak di dalamnya dengan horor yang menjerit-jerit dalam kehampaan. Seketika membuat dada ini terasa semakin sesak, seolah dingin angin malam memenuhi paru-paru dan berbagai perasaan tak kukenal seakan melayang kemudian terserap mentah-mentah ke dalam diriku.
Aku memperhatikan warna matanya yang hitam pekat dan sedikit berkilau memantulkan cahaya remang. Wajahnya kotor dan berdebu bak gelandangan, dia masih menatapku lama. Bibirnya kemudian bergerak.
"Na-Nao, Nao Melaine," dia menjawabku dengan gagap beberapa selang waktu kemudian. Tangannya juga terasa sangat dingin tadi, dan sempat kuamati kulit telapak tangannya yang memerah.
Kami berdua saling menatap satu sama lain, berdiri dan tak melakukan apa-apa. Detik berjalan dengan tenang, kelewat senyap. Dia adalah orang asing dan aku tiba-tiba menariknya masuk ke dalam gereja bobrok ini. Hanya saja, entah kenapa aku hanya ingin membantunya....
"Nao... tidurlah di kamarku. Sebelum itu, cuci kaki dulu," ujarku, masih memperhatikan tatapan matanya yang datar.
Aku akhirnya menggapai telapak tangannya, mengantarnya ke belakang untuk mencuci kakinya yang kotor karena dia tak mengatakan apa pun lagi selain namanya. Entah mengapa aku merasa gelap datang, dan pandanganku seakan mengabur dalam kelam. Dengan menggandeng tangannya melalui lorong ruangan, aku memelankan jalanku yang awalnya tergesa-gesa karena gelap, hampir sama sekali tak tampak apa pun. Dengan hanya berbekal ingatan keseharian tiap pagi, kami sampai di ruang belakang tanpa menabrak apa pun untungnya. Tanganku meraba-raba udara, ujung jariku menjadi pendeteksi yang ampuh untuk mengetahui benda di depanku. Di ruang belakang ini terdapat penyimpanan air, sebuah gentong dari tanah liat yang cukup besar, yang biasa suster gunakan untuk persediaan dalam memasak ataupun mencuci, namun dalam keadaan ini anak perempuan ini adalah prioritas. Dan juga, air untuk besok masih bisa didapat dari sumur samping gereja, semoga saja sumur tua itu tidak membeku lebih awal.
Siapa pun akan berpikir-pikir dan menduga-duga sendiri ketika melihatnya seperti ini. Aku juga tak bisa meninggalkannya di ruang depan yang dingin, sedingin es. Sedang malam semakin melebarkan tirai hitamnya, sudah berapa lama dia di luar sana, sejatinya aku terus mencoba membayangkan apa yang sebenarnya telah ia alami hingga terlihat seperti ini. Semakin kupikir semakin bergejolak perasaan janggal tadi.
Dingin, kulitku serasa bersentuhan dengan musim dingin ketika air-air menyentuh tangan, tapi dia hanya terdiam dan membiarkan aku membasuh kakinya. Suasana hening kurasakan setiap detiknya, percikan air menggema di antara malam dan dinding gereja. Saat aku menyentuh ujung kakinya yang ternyata penuh dengan luka gores, tak jarang aku menemukan kulit-kulit kecil yang hampir terkelupas. Dia pasti merasakan perih namun, dia hanya diam dan berdiri seakan tak merasakan apa pun, tanpa sepatah kata ataupun suara yang menunjukkan dia adalah manusia. Apakah tidak terasa sakit?
Kucelupkan kembali tanganku hingga sepertinya sudah mati rasa juga, aku mengelap sedikit demi sedikit debu dan kusam di wajahnya. Bibirnya terangkat sedikit dan seolah terkaget, dia membuang nafasnya. Kuharap dia akan mengatakan sesuatu dan aku mungkin akan berusaha sebisanya agar tidak terpingkal ketika mendengar dia mengatakan sesuatu. Lengkaplah sudah kengerian, dalam gelap dan suara berbisik yang kelam itu jika terjadi.
Kemudian aku mengantarnya ke kamarku. Aku gaet tangannya sambil tanganku yang lain meraba ke depan. Kali ini tak mujur, ujung jari kelingking kakiku terhentak pinggiran tembok. Sialan, sejatinya aku menutup mulutku dengan tangan dan menahan sakit dengan sangat kuat. Jika saja suara ini lepas mungkin Bapa dan Suster akan terjaga. Kali ini cahaya perlahan datang, remang sinar rembulan yang sedikit memudarkan gelap seakan membukakan kami jalan. Tampak samar pintu kamarku masih terbuka. "Nao, tidurlah di sini," tunjukku ke kasur di dalam kamar. Dia meraba-raba kasur di atas dipan, kemudian melepas mantel kotornya. Langsung dia membaringkan tubuhnya, miring, dan tertidur dalam beberapa detik kemudian di tempat tidurku seperti orang pingsan. Aku menyelimutinya. Dan mantel usangnya kuamankan di laci dekat jendela. Jika saja ada yang bisa kulakukan lebih, aku akan melakukan apa pun, mungkin jika saja aku memiliki sihir seperti para keturunan tinggi. Mungkin aku bisa saja membantu siapa saja, seperti anak ini. Apa yang kuharapkan lebih dari sebuah angan.
Aku biarkan dia menguasai kasur, masih ada kain seprei cadangan yang segera kuhamparkan ke lantai sebagai alas tidur. Walau lantai Ini kelewat dingin, masih terus bersemayam di pikiranku tentang bagaimana anak perempuan ini semalaman di luar hanya menggunakan mantel tipis. Sudah berapa lama dia di luar sana, dan dari mana asalnya.
Mengingat tatapannya tadi, membuat dada ini semakin terasa terhimpit oleh sesuatu tak kasat mata. Sama seperti tadi siang, namun kali ini bayang-bayang dari rembulan terus menghantui pikiranku, seakan sedang menyadarkan tentang sesuatu.
Aku seakan tahu tentang ini semua....
Esoknya.
"Ëoru! Kenapa belum bangun?”
Suara lantang dan langkah seseorang mendekat dari arah luar pintu ke kamarku. Membuyarkan ruang gelap pada mataku yang masih terpejam.
”Udah waktunya sarapan, adik-adikmu juga kamu yang harusnya bangunin mereka...."
Seseorang itu membuka pintu kamar dan masuk. "Ëoru! Masih saja belum bangun. Ehh...." Orang itu termenung, matanya menilik ke arah kasur.
"Hwaaahhm... selamat pagi Suster," jawabku sambil menguap.
Baru aku membuka mata, Suster Ferrie datang lalu tiba-tiba ia bergegas pergi lagi. Badanku menerima serangan dari lantai, pinggang dan leher dihantam oleh linu yang menjalar ke seluruh sendi gerak. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki bertubi-tubi datang. Bapa Siemon dan Suster Ferrie dengan terburu-buru seakan terkejut saat melihatnya—seorang anak kecil yang tak dikenal berada di kasurku.
"Ëoru... siapa anak ini?" tanya Bapa melirik heran ke arahku.
"Dia... Nao, Nao Melaine," jawabku tergesa-gesa sambil menduga-duga apa yang akan terjadi setelah ini.
Ekspresi terkejut dan wajah panik Bapa Siemon yang sudah lama tak kulihat. Pucat mereka adalah wajah mereka di hari saat Fred... pada musim dingin itu. Sangat kuingat bagaimana ekspresi semua orang saat itu.
"Tadi malam, aku dengar ada yang mengetuk pintu, jadi... yahh, kubuka. Lagian di luar juga sangat dingin. Pas tahu ada seorang anak, kusuruh dia masuk," ungkapku mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
Suster Ferrie bertanya, "Nao, di mana orang tuamu?" Nao semakin berjengit ke belakang, yang tadinya tatapan matanya penuh waspada berubah berkaca-kaca, dan kulihat tangannya gemetaran.
"Nao, kamu boleh tinggal di sini, mulai sekarang kami adalah keluargamu," lanjut Suster Ferrie dengan lembut. Lama aku dalam pikiranku hingga tak kusadari ia terlihat ketakutan dengan jari-jarinya merekat erat pada selimut kemudian menyeret tubuhnya ke belakang, menjauh dari arah Bapa dan Suster hingga ke ujung kasur.
"Ëoru, ajaklah Dia sarapan," perintah Bapa sambil membalikkan badannya keluar kamar. "O-oke," balasku. Lalu, mereka berdua keluar dari kamarku. Entah apa dengan sikap aneh mereka, tapi aku lega Nao bisa tinggal di sini. Saat aku coba mendekat ke arahnya, Nao, dia langsung meloncat dan memelukku dengan sangat erat.
"Ayo sarapan, sup buatan suster Ferrie itu enak. Terlebih, pagi ini dingin, kan?" ajakku sambil kuperhatikan rambutnya yang berantakan terurai menutupi matanya. Dan terlihat bibirnya bergetar ketakutan. Kini dia adalah bagian dari keluarga, adikku.
Aku berjalan menuntunnya keluar kamar karena kakinya yang gemetaran dan seakan kedua kakinya lemas, kaku untuk bergerak. Tak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua, Bapa dan Suster. Berbisik-bisik seperti hal yang sangat serius, bencana kebakaran, perampok, gosip-gosip yang sering orang-orang gunakan ketika memulai percakapan, tak kusangka Bapa dan Suster akan menanggapi itu. Kuabaikan saja mereka berdua. Jika itu adalah benar, maka aku dan Dia adalah sesama yatim-piatu, karena kabar angin itu kerap mengatakan tiada yang selamat dari bencana itu. Apabila dia kehilangan, aku tak bisa merasakan seperti halnya Dia merasa, karena, sejak kecil aku tidak memiliki orang tua dan aku tidak tahu siapa orang tua kandungku.
Tujuh kursi berkumpul dalam satu meja, memenuhi sisi-sisi meja makan yang tidak luas maupun sempit. Matahari merayapi dinding, menyorot buku dalam diam di atas meja di ujung ruangan. Semua telah berkumpul di meja makan setelah menunggu adik-adikku yang terlambat bangun. Umbi kukus yang hangat, sup dari tanaman varmbit yang dimasak dengan biasa namun jika dimasak dengan daun afbry akan membuat sari-sarinya keluar dan menciptakan hangat dalam kaldu sup. Kentang rebus dari hasil menanam sendiri di kebun belakang, dicampur ke dalam sup yang mana membuat gurih. Jika saja orang-orang berzirah itu tidak datang kemarin maka akan terhampar di depanku lobak dan sup bubur.
Tangan-tangan dirapatkan dalam hening dan khusyuk, doa yang dipimpin oleh Bapa akan segera dimulai. "Oh Tuhan... terima kasih atas nikmat dan belas kasih-Mu, serta telah Engkau limpahkan anugerah yang luar biasa pada pagi ini...."
Mengapa tidak berterima kasih saja kepada para petani, dan juga doa itu selalu saja panjang, celetukku dalam hati di sela-sela berdoa. Jujur saja, nada saat ia berdoa terdengar tak nyaman di telinga. Perut ini bahkan harus menunggu lebih lama untuk diisi.
“Pada Lord of Light kami bersyukur atas jalan yang kau berikan setiap waktunya....”
Bukankah doa pagi ini lebih panjang dari sebelumnya...
“Amen.” Semuanya mengikuti.
"Nao, mulai sekarang kami adalah keluargamu," kata Suster dari seberang meja. Terkadang aku dibuat bingung dengan suasana hati Suster, terkadang lemah lembut, dan terkadang ekspresinya mengerikan seperti babi hutan yang mengamuk. Mungkin hanya citra yang ingin dia bentuk ke anggota keluarga baru ini.
"Suster, Suster... apakah dia kakak baru?"
"Iya, Lèna. Mulai sekarang Nao adalah keluarga kita."
"Wahh, kakak!" Pekik Lena dengan heboh gembira.
"Ayok, kita makan," ajakku pada Nao.
"Kamu enggak suka makanan ini?" tanyaku, sedang dia hanya diam menatap makanan di depannya. Keheningannya memang tak terkalahkan, diam tanpa mengatakan apa-apa.
Aku menyuapi sup perlahan ke mulutnya, "Makanlah, Nao, ini benar enak," ujarku sambil menyodorkan sup ke depan mulutnya, “haa.... “ Dan akhirnya dia mulai membuka mulutnya.
Aku melirik ke arah tangannya yang berada di bawah meja, tangannya mengepal erat di atas bajunya hingga bisa kulihat kain-kain bajunya mengerut, "nah, makanlah dengan tanganmu." Dia langsung mengambil makanannya sendiri.
Dalam tiap suapan aku bertanya pada diri sendiri dan berpikir. Pertanyaan dalam kejanggalan, apa yang sebenarnya terjadi padanya. Bingung masih saja mengaburkan akal sehatku sepertinya. Juga masih belum kutemukan apa yang menjadikanku terdiam saat aku melihatnya pertama kali. Mantel tudung yang Nao kenakan tadi malam juga penuh dengan bercak darah, apa yang telah dialaminya. Melihatnya malam itu mengingatkanku pada kejadian siang kemarin. Perasaan aneh yang kurasakan sejak saat itu juga masih menempel hingga saat ini. Seolah dipaksa untuk mengingat kembali dengan kejadian musim dingin yang sudah lama berlalu.
...****************...
Terang perlahan datang, menghadirkan awal yang baru bersama dengan udara sejuk penghujung musim gugur. Aku dan Nao pergi menapaki rerumputan yang basah karena embun pagi, menelusuri jalanan di sekitar bukit belakang yang agak jauh jaraknya dari gereja demi bongkahan maupun ranting. Kuajaknya bersamaku mencari kayu bakar, dan dia hanya mengangguk saat aku mengajaknya. Dia mengikutiku di belakang sambil terus memegangi bajuku dengan satu cubitan jari. Kakinya masih gemetaran dan kaku dalam melangkah, terkadang punggung kakinya terseret-seret ke tanah. Namun dia bersikeras untuk mau berjalan sendiri, menggelengkan kepalanya saat aku mau menuntunnya berjalan. Jadi kupelankan jalanku.
Sudah sehari berlalu sejak malam itu. Ekspresinya tak berubah, dan dia hampir tak mengeluarkan suara. Hanya dia masih bergerak yang dapat memastikannya bahwa dia hidup. Angin mengalir sedikit lebih kencang hari ini, daun-daun berserakan di pinggiran pepohonan. Semak-semak basah yang di huni daun-daun yang telah berubah warna. Di bawah pepohonan yang hampir gundul termakan gugur menitipkan ingatan pudar. Sesaat, aku memikirkan kembali tentangnya, yang datang di tengah kelam dingin hanya menggunakan mantel penuh dengan bercak darah. Telah kuletakkan mantel usang itu di dalam lemariku, mencegah Bapa dan Suster berpikir yang tidak-tidak. Ada kemungkinan bahwa dia melakukan kejahatan, namun aku tak menyingkirkan kemungkinan bahwa dia merupakan korban kemalangan. Dan entah kenapa perasaan itu terus menerus datang sama seperti kejadian siang kemarin. Tak habis-habisnya aku penasaran.
Sesekali aku ingin menanyakan apa yang terjadi padanya, tapi, apakah dia akan menjawabnya. Dia terlihat sangat apatis layaknya patung dalam wujud anak kecil. Walau dari wajahnya itu tak menunjukkan apa pun, kuyakin dia merasakan sesuatu yang mendalam. Karena aku tahu wajahku di atas dingin saat itu, kupikir dia juga merasakannya.
“Nao, apakah kamu kedinginan?” Dia menggelengkan kepala.
Tapi bukan itu yang ingin kutanyakan, melainkan...
"Nao... apa yang terjadi padamu sebenarnya," gumamku lirih.
Tak sadar mulutku berbicara sendiri. Langkahnya berhenti, berdiri sambil menundukkan kepalanya. Sontak aku membalikkan badanku ke belakang, terlihatnya terdiam dengan wajah suram.
"Nao, maaf, aku...." Aku seketika terdiam, mengendurkan alis, bahkan aku tak tahu mengapa aku meminta maaf. Hal itu muncul tiba-tiba di kepala, menyuruhku mengatakannya. Lalu kenapa aku ragu mengucapkan sebuah kalimat lagi, dan kenapa aku berhenti ketika hening datang dan semilirnya perlahan pergi.
Lalu terdengar suara lirih ketika senyap datang. Dia, mulutnya bergerak, mengatakan sesuatu. "Sa... saat itu, makan malam, ma–mama menyiapkan makanan. Orang, orang itu datang, pisau, kapak. Ayah... ayahku, dia mendekat, dia menusuk ayahku, mama teriak lari. Orang, kapak, kepala mama. Rumah berantakan, bau besi–merah... tangan di atas merah."
Bicaranya berhenti, kemudian menatapi kedua telapak tangannya yang mulai gemetaran. Waktu terasa berhenti bergerak, senyap-hening seolah mengitari kami berdua. Aku terdiam, sejatinya jantung ini seakan telah menghentikan denyutnya. Sedari tadi malam dia diam dan sekarang menceritakan sebuah kejadian seperti itu. Sebuah tragedi yang membekas, tanpa air mata yang menetes hanya ketakutan yang bersemayam dalam mata dan lirih suaranya. Bukan, aku merasakan semuanya. Apakah dia menahannya untuk keluar?
Aku menatapnya lama, aku bisa melihat matanya yang bergetar, nafasnya memburu. Kemudian aku memeluknya tanpa alasan, dan air mataku tiba-tiba menetes. Tapi, apakah iba perlu alasan? Telah lama... namun siapa. Jantungku bertalu-talu pada hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Ini... perasaan ini.... bukanlah iba, melainkan rasa rindu.
Seolah semua perasaan terbuka bebas, mengalir, meluap dan menyebar. Layaknya bunga-bunga yang meneteskan embun di kelopaknya. Walau daun-daun telah berguguran, namun angin mengiringinya dan membawa ke langit-langit luas di atas.
"Kau tahu, Nao, kamu tidak sendirian lagi. Bapa Siemon dan Suster Ferrie, walau aku tahu mereka bukan orang tuaku yang asli tapi mereka yang membesarkan kami di Gereja." Aku menggenggam kedua lengannya erat sambil menatap kedua matanya sehingga wajahku begitu dekat dengannya. Ekspresinya berubah, dia terkejut dan matanya melebar mengkilap. "Nao, mulai saat ini aku akan bersamamu, kita bisa lari bersama, melampaui dunia bersama, aku janji." Tiba-tiba saja aku membuat janji padanya.
Aku ingin melindunginya....
Tak sadar, aku memeluknya lagi.
Semua ini terasa nyata. Seperti sudah pernah kukatakan sebelumnya. Mungkin aku hanya bingung. Nao, Dia cukup terkejut saat aku memeluknya cukup lama dan mengatakan semua itu, hingga ekspresi dan tatapan matanya itu berubah.
Apakah itu... bahagia? Aku tidak begitu mengerti.
"Ëoru?...."
"Maaf Nao, Tiba-tiba tadi—"
"Ëoru... terima kasih." Dia tersenyum.
Ungkapnya itu dan senyuman ini akan terus kuingat, dan janji itu adalah permulaan dari semuanya.
Janji dan ikatan ini...
...----------------...
...• A Ruined Corner •...
Karakter : Ëoru
Gender : Laki-laki (Male)
Usia : 10-11 tahun
Status : Yatim-piatu
Asal : Kerajaan Jeziel bagian selatan (Southern Kingdom of Jeziel)