The Last Of Satria

The Last Of Satria

Author:Ahmad Kurnia Sandy

CHAPTER 1 – Prolog

Tanggal 1 Januari 2023 di Tesalonika, seorang wanita berambut putih berdiri sembari melihat dunia luar melalui jendela. Dari jendela, ia dapat melihat burung merpati yang berterbangan secara leluasa. Pandangannya juga tak luput dari aktivitas masyarakat sekitar.

Tok, tok….

Tok, tok….

Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan. Dari luar, terdengar suara wanita yang meminta izin untuk masuk. Wanita yang berada di dalam ruangan mempersilahkannya masuk. Seorang wanita berambut coklat masuk ke dalam ruangan.

“Nona Rebecca, mohon maaf mengganggu waktunya.”

“Tidak masalah, Nona Atalante. Ngomong-ngomong, ada keperluan apa?”

“Aku ingin memberitahukan bahwa semua persiapan untuk ke kota Palu sudah selesai.”

Wanita bernama Rebecca tersenyum mendengar kabar tersebut. “Baiklah, kalau begitu. Mari, kita menuju ke sana untuk memenangkan perang ini.

“Baik, siap laksanakan!”

Dari kota Isparta, seorang pria dengan rambut violet nya duduk santai diatas gedung yang tinggi. Ia tidak sendiri, melainkan ditemani seorang pria dengan badannya yang tangguh.

“Tuan Ertugrul, bagaimana situasi saat ini?”

“Sudah kubilang padamu Jahiz, panggil saja namaku.”

“Baiklah, jika itu keinginanmu. Jadi Ertugrul, bagaimana situasi saat ini?”

“Melihat cuaca cerah hari ini, sepertinya aman.”

“Menurutmu, berapa persen kita akan meraih kemenangan?”

“Tidak diragukan lagi, seratus persen kita akan meraih kemenangan.”

“Begitu yah.” Jahiz berdiri kemudian berjalan. “Ayo, kita pergi Ertugrul.”

Ertugrul mengangguk dan mengikuti langkah Jahiz.

Dari prefektur Osaka, tepatnya di dalam ruangan dosen. Dua pria yang menginjak kepala tiga sedang santai sambil menikmati teh hangat. Pria dengan rambut jingga menikmati teh nya dengan penuh hikmat.

“Nakahara-dono, kapan kita akan berangkat untuk pertukaran dosen di sana?”

“Besok kita akan berangkat, Nobunaga-sama.”

“Hmmm, begitu yah.”

Nakahara melihat jam tangan sejenak, kemudian ia berdiri dan keluar dari ruangan dosen. Bersamaan dengan itu, Nobunaga menghilang tanpa menyisakan jejak sedikitpun.

Sementara itu di kota Orleans, wanita berambut biru panjang tengah melukis pemandangan yang indah di taman Parc Floral de La Source. Ia melukisnya dengan focus dan teliti. Tak lama kemudian, seorang wanita datang menghampirinya dengan membawa minuman yang dingin dan segar.

“Ini minumannya, Michelle.”

“Terima kasih Jeanne.”

“Iya, sama-sama.”

Jeanne memperhatikan lukisan yang dibuat oleh Michelle. Ia terpukau akan keindahan dari lukisan tersebut.

“Lukisan ini … indah sekali.”

“Kamu ternyata pandai juga memuji yah.”

“Tapi, ini beneran indah Michelle.”

“Ini masih belum apa-apa kok. Lagipula, lukisan ini bagiku masih memiliki kekurangan.”

“Ngomong-ngomong Michelle.”

“Iya, ada apa Jeanne?”

“Menurutmu, apakah kita bisa memenangkan perang ini?”

“Tentu saja, kita akan menang. Aku percaya dengan kemampuanmu … sang pahlawan Perancis.”

“Terima kasih sudah mempercayaiku menjadi partner mu.”

“Sama-sama.”

Michelle berdiri lalu pergi bersama Jeanne dengan meninggalkan lukisan yang telah diselesaikan.

...***...

Tanggal 1 Maret 2023, masyarakat kota Palu seperti biasa melakukan aktivitas di pagi hari. Mulai dari kegiatan ekonomi, sosial, hingga pendidikan, semuanya dilakukan dengan penuh semangat oleh mereka.

Di sebuah perumahan yang sederhana, seorang pria berambut merah sedang tertidur. Di saat orang-orang melakukan aktivitas, ia masih pulas tertidur di ranjangnya. Kemudian, alarm jam berbunyi dengan keras. Ia dengan keadaan setengah sadar mencari-cari bunyi alarm tersebut. Tanpa sadar ia jatuh ke lantai dan terbangun sepenuhnya.

Ia merintih kesakitan lalu berdiri menuju kamar mandi. Setelah beberes diri, ia membuat sarapan lalu memakannya dengan tenang. Setelah makan, ia bersiap dan kemudian berangkat menuju kampus.

Ketika dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang pria yang merupakan temannya. Ia berteriak memanggil temannya, dan berlari menghampirinya.

“Selamat pagi, Kei.”

“Selamat pagi, Najib.”

“Seperti biasa, rambut merah mu itu sangat memukau.”

“Pagi-pagi begini, kenapa topiknya malah rambut?”

“Hahaha, maaf-maaf. Oh iya, apakah tugasmu sudah selesai?”

“Tentu saja, sudah selesai.”

“Tidak biasanya kau seperti ini.”

“Yah, setidaknya aku harus memperbaiki nilai ku di semester ini dan seterusnya.”

“Begitu yah. Baguslah kalau begitu.”

Mereka berdua terus berbincang satu sama lain. Tanpa terasa, mereka sudah tiba di kampus, tempat mereka menempuh pendidikan. Kampus tersebut bernama Universitas Kota Palu. Banyak mahasiswa yang unggul dan berprestasi. Selain mahasiswa dari dalam negeri, terdapat juga mahasiswa luar negeri yang menempuh pendidikan di kampus tersebut.

“Oh iya, Kei. Hari ini ada mata kuliah dari Pak Nakahara.”

“Hmmm, namanya terdengar asing di telingaku.”

“Beliau merupakan dosen yang mengikuti program pertukaran. Kalau tidak salah … asalnya dari Jepang.”

“Jepang? Yang benar?” Kei tiba-tiba terkejut mendengar pernyataan Najib.

“Tentu saja, itu benar. Selain itu, ada juga satu mahasiswa asing dari Perancis yang mengikuti program tersebut.”

“Wah, luar biasa. Kampus kita terkenal juga yah.”

Kemudian, Kei dan Najib masuk ke dalam gedung kampus. Saat masuk ke dalam gedung, Kei berpapasan dengan seorang wanita asing. Kei merasa terpukau dengan kecantikan dan pesonanya. Kei terdiam sambil memandangi wanita tersebut.

“Oi Kei, ngapain kau berdiam diri di situ? Ayo, kita masuk kelas,” kata Najib.

Kei tersadar dan berlari menyusul Najib yang jaraknya sudah mulai jauh.

Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kelas dan menunggu dosen yang mengajarkan mata kuliah hari ini. Tak lama, seorang dosen masuk ke dalam kelas. Ia adalah dosen asing dibicarakan oleh Najib. Semua wanita yang berada di dalam kelas merasa takjub melihat wajah tampan dari dosen tersebut.

“Selamat pagi semuanya.”

“Selamat pagi Pak.”

“Perkenalkan, namaku adalah Yosano Nakahara. Kalian bisa memanggilku Pak Nakahara.”

Di saat Nakahara lagi memperkenalkan diri, tiba-tiba Kei merasakan sesuatu yang aneh. Ada aura yang mencekam yang ia rasakan di dalam kelas. Sebelumnya, ia tidak merasakannya. Di dalam pikiran, ia bertanya-tanya kenapa bisa merasakan aura tersebut.

“Kamu yang di ujung sana. Ada apa denganmu?” tanya Nakahara.

“A-aku tidak apa-apa Pak,” jawab Kei.

“Tapi, wajahmu terlihat pucat.”

“Y-yah, mungkin karena efek dari begadang semalam.”

“Begitu yah. Bapak harap kamu jangan lakukan itu lagi.”

Kemudian, Nakahara melanjutkan perkenalannya sekaligus memulai perkuliahan. Kei mengembuskan napasnya karena merasa lega.

Waktu menunjukkan perkuliahan sudah selesai. Nakahara memberikan tugas kepada mahasiswanya sebelum keluar dari ruangan kelas. Setelah itu, ia keluar sambil sesekali melirik ke arah Kei tanpa sepengetahuannya.

Setelah pelajaran selesai, Kei memasukkan alat tulisnya kemudian bersiap untuk keluar kelas. Najib datang menghampiri Kei yang hendak pergi.

“Kei, kamu mau ke mana?”

“Rencana aku ingin ke perpustakaan. Kebetulan ada buku yang ingin ku pinjam.”

“Begitu yah. Kalau begitu, aku pergi dulu.”

“Ok, sampai jumpa.”

Najib pergi meninggalkan Kei sambil melambaikan tangan. Setelah beberapa menit Najib keluar, giliran Kei yang keluar dari ruangan kelas menuju ke perpustakaan.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Kei sampai di perpustakaan. Ia kemudian masuk ke dalam dan mencari buku. Dari satu lemari ke lemari lain, ia mencari buku yang ingin dipinjamnya. Setelah cukup lama mencari, akhirnya ia berhasil menemukannya.

Kemudian, Kei pergi ke meja penjaga perpus untuk meminta izin peminjaman. Setelah itu, ia keluar dari perpustakaan. Ia memutuskan untuk pulang sambil membaca buku yang dipinjam. Tanpa disadari, ia diawasi dari kejauhan oleh seorang pria.

Dalam perjalanan pulang, ia terlihat fokus dengan buku tersebut. Ia tak terlalu memperhatikan sekitarnya.

“Buku ini menarik juga. Buku ini bercerita tentang perang antar satria di tahun 1523. Yah, walaupun ini mitologi, tapi aku tertarik dengan ceritanya,” katanya dengan perasaan antusias.

Karena terlalu fokus, Kei tanpa sengaja menabrak sebuah pohon didepannya. Ia terjatuh dan merintih kesakitan. Saat mencoba meredakan sakitnya, ia melihat ada sebuah gelang berwarna merah yang tergeletak di tanah. Kemudian, ia memungutnya tanpa memikirkan resikonya.

.........

Melihat gelang berwarna merah yang tergeletak di tanah, membuat Kei memiliki inisiatif memungutnya. Ia memperhatikan gelang tersebut secara seksama. Kemudian, ia ingin mengembalikan gelang tersebut ke pemiliknya. Namun, ia tidak tahu pemilik dari gelang tersebut.

Ia tenggelam dalam pikirannya, mencari cara agar gelang tersebut pulang ke tangan pemiliknya. Kemudian, Kei memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah dan akan memikirkan caranya nanti.

Ketika dalam perjalanan pulang, Kei lagi-lagi berpapasan wanita asing yang berada di kampus. Kei melirik lagi wanita tersebut tanpa henti. Merasa dilirik, wanita itu membalikkan badan.

“Ada apa?” tanya wanita itu.

“A-ah, tidak ada apa-apa. Hanya saja, aku berpikir kamu adalah salah satu mahasiswa di Universitas Kota Palu,” jawab Kei.

“Yah, itu benar sekali. Perkenalkan, namaku adalah Michelle d’Vida. Kamu bisa memanggilku Michelle.”

“Salam kenal, Michelle. Namaku adalah Kei.”

“Kei, yah. Kalau begitu, salam kenal juga,” kata Michelle sambil tersenyum.

“Kalau begitu Michelle, aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

“Iya, sampai jumpa lagi.”

Mereka berdua berpisah setelah melakukan perkenalan yang singkat tersebut. Perasaan bahagia menyelimuti di dalam diri Kei. Ia tak menyangka jika bisa berkenalan dengan wanita asing.

Sesampainya di rumah, Kei langsung masuk ke dalam kamar. Ia menaruh tasnya dan duduk di kursi belajar. Kei mengambil gelang tersebut dan menaruhnya di atas meja belajar. Ia terus memandangi gelang tersebut tanpa henti. Ia bingung cara mengembalikkan gelang tersebut kepada pemiliknya.

Kemudian, Kei memandang sebuah batu kecil yang berada pada gelang tersebut. Ia merasa curiga dengan batu tersebut. Dengan perasaan ragu, ia menyentuh batu tersebut. Tiba-tiba, Kei mengeluarkan ekspresi takut dan mengeluarkan keringat di dahinya. Ia seperti melihat suatu kejadian yang mengerikan.

Dengan cepat Kei membuat gelang tersebut. Ia merasakan sebuah ancaman jika masih terus menyentuhnya. Tubuh Kei gemetar tak karuan. Kemudian, ia memutuskan untuk beristirahat dan akan melanjutkan pencarian pemiliknya pada esok hari.

...***...

Malam hari di taman kota, seorang wanita duduk dengan santai. Ia hanya melihat orang-orang yang menikmati suasana malam hari. Wanita itu ternyata adalah Michelle.

Kemudian, seorang pria menghampiri Michelle yang tengah sendiri. Tatapannya membuat Michelle merasa tidak nyaman.

“Hello, Nona. Apakah kau sedang sendirian?”

Michelle hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

“Kalau begitu, maukah kau pergi jalan-jalan bersamaku?”

Michelle kembali mengangguk untuk menjawabnya.

Kemudian, pria itu membawa Michelle ke tempat yang sepi dan jauh dari keramaian. Michelle melihat ke kanan dan ke kiri sambil mengikuti pria tersebut. Tiba-tiba, pria tersebut berhenti dam membalikkan badannya.

“Yah, sepertinya tidak ada yang akan mengganggu kita,” kata pria itu

Dengan gerakan cepat, pria itu menyerang Michelle. Melihat hal itu, Michelle melakukan gerakan untuk menahan serangan tersebut. Michelle berhasil menahan serangannya, kemudian ia menendang pria tersebut hingga terlempar cukup jauh.

“Fiuh, tendanganmu lumayan juga, Nona.”

“Kau pasti salah satu dari satria yang terpilih, kan?”

“Ping pom, benar sekali. Aku adalah satria tipe Fighter.”

“Begitu yah.”

Pria itu mengangkat tangan kirinya. “Kemarilah, Wiro.”

Tanah di sekitar mereka tiba-tiba bergetar. Muncul lah seorang pria dengan tubuh yang kekar dan kuat.

“Wiro, yah. Seorang pendekar hebat dan memiliki kesaktian yang luar biasa.”

Tidak mau kalah, Michelle mengangkat tangan kanannya. “Datanglah, Jeanne d’Arc.”

Muncul sebuah lingkaran dimensi di depan Michelle. Seorang wanita yang cantik dan berambut pirang keluar dari lingkaran dimensi tersebut.

“Wow, kau berhasil memanggil pahlawan Perancis. Tidak kusangka, perang ini akan menjadi seru.”

“Tidak perlu basa-basi, mari kita mulai saja.”

Michelle dan pria itu sama-sama mengepalkan tangannya. Sebuah kekuatan yang luar biasa mengalir dari mereka berdua.

“Fusion Up: FIGHTER!!”

Sebuah cahaya muncul menyelimuti pria itu beserta partner nya. Menjadi satu, itulah yang terjadi pada mereka berdua. Tubuh tersebut diselimuti baju besi berwarna hijau. Ia memegang sebuah kapak yang besar dan tajam.

Michelle pun melakukan hal yang sama. Ia mengepalkan tangannya dan konsentrasi mengeluarkan kekuatannya.

“Fusion Up: LANCER!!”

Muncul sebuah cahaya yang membuat Michelle dan Jeanne menjadi satu. Kemudian, di sekujur tubuhnya diselimuti baju besi berwarna biru. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah tombak.

“Ayo, kita mulai … Fighter.”

“Ya, inilah yang kutunggu … Lancer.”

Pertarungan hidup dan mati di antara mereka berdua … dimulai.