Gadis Kutukan

Gadis Kutukan

Author:Art-Flans

Bab 1: Jangan Bicara

Sebuah buku tulis tampak terbuka di atas meja, bersama pulpen bertinta biru yang dibiarkan menindihnya. Benda dari kertas itu tidak disentuh dan tetap didiamkan tanpa dipandang sedikit pun. Gadis remaja selaku pemilik meniup udara secara perlahan, diiringi perasaannya yang menciptakan pemikiran.

𝘔𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪. 𝘓𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯, 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘐𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢, 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘢𝘣𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘭𝘢𝘪𝘯.

𝘈𝘥𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘶𝘥𝘳𝘢, 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥 𝘤𝘢𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢. 𝘐𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘭𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘴𝘢𝘩𝘪 𝘣𝘶𝘵𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘤𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘪𝘩, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶.

𝘋𝘪 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘶𝘳𝘶, 𝘢𝘯𝘪𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵𝘪. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪 𝘴𝘦𝘳𝘶𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘢𝘯—𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘵𝘢𝘱—𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘴𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘩𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳. 𝘐𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘳𝘢𝘩, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯, 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘪𝘶𝘮𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢-𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯.

𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘨𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘢𝘯𝘪𝘭𝘢. 𝘉𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥 𝘵𝘳𝘢𝘯𝘴𝘱𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯. 𝘏𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘧𝘰𝘵𝘰𝘴𝘪𝘯𝘵𝘦𝘴𝘪𝘴 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘵𝘢𝘱. 𝘐𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘣𝘶𝘵𝘰𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘨𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯.

𝘔𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘥𝘦𝘳𝘶 𝘰𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘵𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘶𝘯 𝘩𝘪𝘫𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢. 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪.

Gadis itu mulai mengembuskan napas setelah membiarkan batinnya berekspresi. Ia memekarkan penglihatannya yang terjerumus kegelapan, demi memandang pulpen biru di atas buku. Rasa tak nyaman membuatnya menyingkirkan alat tulis itu. Saat diri sudah termenung cukup lama, ia pun memilih mengakhiri batin puitisnya.

Setelah beranjak dari kursi, ia menghampiri tempat tidurnya yang terasa dingin, lalu berbaring dan segera memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, keajaiban terjadi pada buku tulisnya. Huruf demi huruf mulai muncul dengan tinta biru keunguan, kemudian saling merangkai kata menjadi kalimat, hingga berakhir membentuk lima paragraf.

Pada lembar buku itu, tertulis kata-kata yang sama seperti ungkapan batinnya. Identitas matahari, deru ombak di lautan, suara menenangkan dari sekelompok pohon, dan keberadaan udara. Semua hal itu tertulis tanpa sepengetahuannya.

Meski kegelapan lebih mendominasi, ventilasi udara menjadi tempat sang bulan menyalurkan kilauannya. Begitu juga dengan angin sejuk yang memberi ketenangan bagi si gadis. Sampai dirinya tertidur melupakan waktu yang biasa dijadikan patokan.

****

Cahaya hangat mulai membangunkan seorang gadis secara perlahan. Rasa kantuk yang masih menyelimuti membuat rasa malas gadis itu semakin tumbuh. Namun, ia segera mengambil posisi duduk, berkedip beberapa kali, kemudian mengibaskan tangan di depan matanya.

Selepas menghirup dan mengembuskan udara secara lembut, senyuman ia ukir di bibirnya yang tipis. Ia terdiam sejenak dengan raut senang, sebelum otaknya memberikan sebuah ingatan.

Netra merah muda gadis itu melihat ke arah timur, tepatnya pada sebuah meja belajar dari kayu. Ada sebuah buku tulis yang tertutup di sana, juga satu pulpen berwarna biru keunguan. Karena rasa penasaran, ia segera menyingkirkan selimutnya dan beranjak dari tempat tidur.

Rasa dingin memenuhi tubuh saat ia menduduki kursi belajarnya. Tanpa pemikiran buruk, tangannya lekas membuka buku tulis di hadapannya. Beberapa halaman terlihat kosong dan tak tertulis apa pun, membuatnya membolak-balik lembar buku itu dengan cepat. Hingga akhirnya ia menemukan halaman buku yang memiliki tulisan berwarna biru.

Penglihatannya memandang seksama kata-kata yang tertulis di sana, sementara otak mengolah dan mengartikannya. Namun, rasa terkejut langsung terkumpul karena mengenal kata-kata di buku itu.

"𝘒𝘪𝘦𝘵𝘢," gumam gadis itu dengan suara yang tidak terdengar oleh telinga.

Tulisan yang tertulis di buku itu seketika menghilang bagai debu. Meski rasa takut mulai menghantui pikirannya, perasaan lega dan tenang sudah ia terima. Ia lekas menutup buku tersebut dan menghela napas, lalu melihat suasana kamar yang sedikit gelap.

Gadis berkulit putih itu membuat senyuman, kemudian beranjak dari tempatnya duduk dan membuka tirai jendela. Matanya terpejam beberapa saat karena silau. Setelah beradaptasi, ia memberanikan diri untuk memandang cahaya mentari.

"𝘔𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯, 𝘺𝘢," lirihnya sebelum berbalik memandang kamarnya yang berantakan.

Gadis tersebut segera merapikan kamarnya, dari tempat tidur dan buku-buku yang berserakan. Tak butuh waktu lama untuknya membereskan kekacauan ini. Namun, suara melodi yang cukup singkat berhasil menghentikannya membersihkan kamar.

Netra pink bak berliannya memandang ke arah cermin panjang di sampingnya. Ia terdiam sesaat melihat pantulan dirinya sendiri. Ia mulai menyentuh pantulannya di cermin, tepat pada rambut pendek berwarna pinknya. 𝘐𝘯𝘪 … 𝘢𝘬𝘶?

Melodi singkat kembali membisik pendengaran, membuatnya segera menoleh ke asal suara. Ia melangkah menuju nakas dan mengambil handphone dari sana. Selepas menyalakannya, ia melihat dan membaca dalam diam: 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 05.50, 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 2 𝘑𝘢𝘯𝘶𝘢𝘳𝘪.

Ia masih menunjukkan ekspresi tenang, hingga sebuah pesan pengingat membuat matanya terbelalak. Tertulis: 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵. 𝘛𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘉𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢. 𝘔𝘦𝘯𝘶𝘭𝘪𝘴𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪. 𝘛𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢, 𝘐𝘭𝘧𝘳𝘢 𝘈𝘭𝘧𝘺𝘯𝘢 𝘈𝘷𝘺𝘭𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘋𝘦𝘴𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳.

**

Kehangatan yang diantar dengan cahaya penerang telah sampai. Sapuan angin dengan bunyi halus tak kalah semangat menyalurkan kesejukan. Namun, hal itu sedikit mengguncang dedaunan pohon yang ditanam di pinggir jalan. Meski tidak berpengaruh bagi rumah-rumah kecil dan bangunan lain.

𝘒𝘰𝘵𝘢 𝘚𝘩𝘪𝘬𝘶𝘳𝘰 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪.

Gadis remaja bermata merah muda membatin tentang kota tempatnya tinggal, sembari meletakkan sapu di pojok ruangan berdinding putih. Ia berjalan beberapa langkah pada lantai keramik putih, kemudian duduk di bangku yang diduduki tas merah muda.

Udara yang senantiasa membelai rambut pinknya kini membisik pendengaran. Pandangannya sampai melirik ke sekeliling. Tidak ada siapa pun di ruangan kelas kecuali dirinya.

𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘰𝘴𝘢𝘯.

Sepasang mata gadis itu mulai memandang awan putih penghias langit, kemudian beralih pada siswa-siswi yang berjalan memasuki sekolah.

𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭. Ekspresi gadis berkulit putih itu terlihat datar, sudah terlanjur mati bosan memandang keluar jendela kelasnya yang berada di lantai dua.

"Sendirian lagi, ya, Ilfra?" Pertanyaan dengan suara rendah nan lembut tiba-tiba terdengar, menghentikan lamunan Ilfra Alfyna Avylin—gadis yang dilanda bosan abadi.

Rasa kaget segera Ilfra asingkan, kemudian tangan kanannya langsung meraih pulpen yang didiamkan di atas meja. Ia pun menulis kalimat pada halaman buku yang kosong, lalu ditunjukkannya pada sang pelontar pertanyaan. Tertulis di kertas buku itu: 𝘠𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘮𝘶, 𝘓𝘪𝘯𝘢.

"Begitu, ya," ucap Shifera Ilina Symphony—gadis yang mengawali pembicaraan—sembari duduk di sebelah Ilfra.

Gadis itu mulai mengenakan headset bluetooth sambil memandang handphone, tanpa memedulikan Ilfra yang memerhatikannya dengan senyuman.

𝘉𝘰𝘭𝘦𝘩𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯𝘮𝘶? 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢. Tulis Ilfra di buku yang menjadi alat komunikasinya.

"Ah, baiklah." Lina langsung tanggap dan memberikan satu headset bluetoothnya.

Suara musik menenangkan memasuki pendengaran Ilfra setelah mengenakannya. Ia menikmati alunan nada yang damai itu, sampai suara nyanyian menjadi pusat perhatiannya.

𝘌𝘩? 𝘓𝘪𝘯𝘢 … 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘺𝘪? Seketika, netra pink Ilfra tampak memantulkan cahaya. Perasaan senang dalam dirinya menggerakkan jari untuk memutar pulpen.

𝘔𝘶𝘴𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘯𝘺𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘶𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘺𝘪.

"Sudah, ya." Ilfra terbelalak dan langsung menatap mata Lina saat musik tak lagi terdengar. "𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢."

Ilfra tertegun setelah mendengar kata bergaung itu, tak percaya dan hanya bisa terdiam bersama ketakutan. Penglihatannya pun menjadi lebih gelap dan sedikit bergelombang, hampir mirip layar televisi yang terkena gangguan.

𝘌𝘩? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 … 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶, 𝘓𝘪𝘯𝘢? 𝘈–𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 '𝘬𝘢𝘯? 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯? 𝘏𝘦𝘪, 𝘓𝘪𝘯𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘬𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘶𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯. 𝘏𝘦𝘪, 𝘓𝘪𝘯𝘢, 𝘬𝘶𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯!

"Ilfra, sadarlah!"