Ormond Ajax

Ormond Ajax

Author:dezxnut

BAB 1 Dunia lain

Di dalam kedalaman hutan yang lebat, terdapat suatu gudang yang terletak di tengah jantung hutan tersebut. Disekitar gudang itu gelap gulita, tidak ada pencahayaan yang berada di luar maupun dalam gudang itu, anehnya gudang itu terlihat baru dibangun tetapi tidak ada pencahayaan maupun seorang yang menjaga gudang.

Kegelapan malam menyelimuti sekitar dengan pekat, hanya ada suara jangkrik yang bernyanyi diiringi dengan kunang-kunang yang berada di sekitar gudang tersebut. Tetapi kesunyian itu akan sirna untuk beberapa saat lagi.

Tidak lama kemudian terdengar suara raungan kendaraan berat datang dari kedalaman hutan, lampu dari truk perlahan menyinari depan gudang itu dan berhenti disana, tetapi truk itu tidaklah sendirian melainkan ditemani oleh 5 truk tepat di belakangnya.

Jalan tanah begitu sempit, truk-truk itu dilumuri oleh tanah dan lumpur, tetapi juga bukan hanya kedua elemen itu yang tertempel di tubuh truk melainkan juga ada darah dan lubang bekas tembakan di setiap sisi masing-masing truk. Bagi orang awam penampilan ini mungkin akan membuat mereka merinding tetapi tidak yang sedang mengendarai truk-truk ini. Mereka adalah tentara perang yang sedang ditugaskan, jadi truk yang datang adalah truk militer.

Lalu dengan sekejap 10 tentara turun dari total 5 truk yang berada di belakang. Mereka lalu berbaris dengan rapi dan tegak di depan gudang tersebut. Mereka semua adalah tentara yang masih muda dan tidak terlalu berpengalaman, tetapi perang tidak memperdulikan hal itu dan tanpa pelatihan yang kuat mereka langsung dikirimkan ke medan perang yang brutal, tentara-tentara yang sedang berdiri di hadapan gudang itu telah kehilangan banyak dari rekan mereka. Tetapi karena perintah dari yang atas para anak muda itu terpaksa maju ke medan perang.

Tak lama kemudian, seseorang keluar dari truk yang paling depan. Orang itu keluar dari kursi pengemudi dan dia keluar sendirian, perlahan dia berjalan ke depan para tentara yang berbaris. Saat mereka melihat sosok itu tubuh mereka langsung menegak dan hormat. Orang itu berdiri di hadapan mereka menampilkan orang itu.

Ia adalah seorang pria ramping berotot, tingginya sekitar 184 sentimeter, rambutnya berwarna hitam pendek, matanya berwarna hitam dan tatapan orang itu serius. Pria itu hampir seumuran dengan mereka yaitu sekitar 20 tahun, pria itu juga mengenakan seragam loreng berwarna hitam dan rompi anti peluru yang juga berwarna hitam layaknya mereka juga. Tetapi dari tatap dan sikap tentara yang lain, pria yang berada di hadapan mereka bukanlah pria biasa.

Sesaat dia berdiri di hadapan yang lain dia memberi hormat sebelum berbicara dengan lantang “Sebelum saya memberikan tugas selanjutnya saya ingin berterima kasih terlebih dahulu kepada kalian semua yang telah berusaha sekeras-kerasnya untuk merebut amunisi musuh. Dengan ini mereka (Musuh) pasti akan kesulitan untuk menerima bantuan atau melancarkan serangan lanjutan” para tentara yang lain terdiam mendengarkan pidato dari pria itu.

“Walaupun kita mengambil amunisi dari pasukan yang terkecil pun hal itu akan sangat membantu rekan-rekan yang sedang bertempur di luar sana. Saya tahu moral kalian pasti sangat rendah setelah pertempuran barusan, banyak dari kalian yang tidak selamat” beberapa tentara yang berbaris meneteskan air mata, mereka yang akan menangis mungkin mengingat momen bahagia sebelum perang ini dimulai. Pria itu lalu melanjutkan perkataannya “Tetapi jangan lah kalian menangis di tempat ini, kita… ya! kita pasti akan memenangkan pertempuran ini dan perjuangan rekan-rekan kalian pasti akan terpuaskan!!” mendengar kata-kata darinya. Para tentara yang moodnya jatuh itu naik kembali dengan membara, mereka bersorak dengan lantang “Kami pasti akan membalaskan dendam mereka!!!” “Perjuangan mereka tidak akan sia-sia!!!!” “Kami pasti akan menang!!!” dengan sekejap hutan yang sepi itu telah menjadi ramai dengan sesaat.

pria itu tersenyum sedikit, dia terlihat puas karena sudah menaikan moral para prajurit itu walaupun mungkin ia merasa api itu tidak akan terbakar untuk waktu yang lama. Dia lalu menepuk kedua tangannya dan para prajurit tadi langsung terdiam tetapi dengan hati yang membara semangat.

Hutan itu kembali sunyi, pria itu lalu kembali berbicara tetapi dengan nada yang lebih serius “Tugas kalian selanjutnya adalah membawa masuk amunisi yang kita curi” pria itu menunjuk ke enam truk di belakang nya “Dan membawanya ke dalam gudang, lalu kita akan meledakkan gudang itu beserta amunisinya. Di dalam gudang juga sudah ada amunisi dari grup lain dan kita adalah grup terakhir yang juga harus meledakkan gudang ini. Mengerti!!!” para prajurit menegakan tubuh mereka sebelum berjalan ke truk untuk memindahkan amunisi itu.

Amunisi yang mereka angkut sangat lah banyak, belum lagi dengan jumlah personel yang sangat sedikit akan membuat pemindahan menjadi lambat, tetapi pria itu punya cara agar pemindahan menjadi cepat. Pria itu berbicara dengan lantang “Kita semua akan mengangkut amunisi dari satu truk ke satu truk lain, dengan ini kita bisa menghemat energi” tanpa berkata-kata mereka langsung saling gotong royong. Mereka mengangkut amunisi-amunisi itu dengan secepat tenaga. Walaupun mereka lelah tetapi perintah adalah perintah, dan juga karena pidato pria itu tadi mereka masih membara dari dalam.

Perlahan tapi pasti mereka mengosongkan seluruh truk mereka, dengan truk pertama yaitu yang paling belakang dikosongkan dengan kurun waktu 50 menit, truk kedua 40 menit, truk ketiga 30 menit, truk keempat 30 menit, yang kelima 32 menit dan yang terakhir 20 menit. total amunisi yang di pindahkan dilakukan dengan kurun waktu tiga jam. Mereka semua telah melakukan hal yang terbaik, dengan tubuh yang kelelahan mereka benar-benar melakukan hal sangat baik.

Pria itu atau pemimpin mereka yang memberi pidato tadi juga kelelahan, tetapi melihat yang lain tidak sanggup berdiri dia terpaksa harus memeriksa ke dalam gudang itu. Dia tertawa kecil menatap rekan-rekanya yang tergeletak di depan gudang. Pria itu yang juga duduk di depan gudang perlahan berdiri dan berbicara dengan sedikit terengah-engah “Kalian tiduran di truk masing-masing sana, gudang ini akan saya ledakan” tentara lain mendesah dengan pelan seakan mereka tidak mau berpindah tempat, tetapi mereka juga tau kalau pria itu tidak akan menunggu mereka berpindah sebelum meledakkan gudang itu.

Sontak para prajurit itu mulai berdiri, salah satu dari prajurit itu lalu berbicara “Kita akan naik truk sendiri atau bersama pak” ucapnya ke pria itu, dia tertawa pelan sebelum membalasnya “Tolong lah jangan panggil saya dengan pak. Kita seumuran bukan? panggil saya Ajax saja. Dan untuk menjawab pertanyaanmu kita akan menggunakan truk paling belakang karena kendaraan itu yang masih sehat” tentara itu lalu membalasnya dengan sedikit gugup “B-baiklah pa- maksudku Ajax” dia sempat tersandung dengan perkataan tapi dia langsung berpaling badan sebelum berkata “Kalian dengarkan? pak Ajax memerintahkan kita untuk pergi bersama dengan truk paling belakang. Kita akan menunggunya di belakang, sementara itu juga kalian yang masih bisa berjalan tolong sembunyikan truk yang lain itu, kuncinya pasti masih tertempel di dalam sana” tentara muda itu berpaling ke arah Ajax dengan mengacungkan jempol beserta senyuman yang bangga.

Ajax terkesan dengan keberaniannya dan tersenyum balik, dia lalu berjalan dengan perlahan kearah gudang. Di saat bersamaan lima prajurit yang masih memiliki tenaga memindahkan kelima truk kedalam hutan. Mereka juga sudah menyiapkan terpal berwarna hijau dan dengan terpal itu mereka menyelimuti kelima truk itu. “Sekarang tinggal serahkan ke takdir” utar salah satu prajurit.

kelima prajurit itu berjalan ke truk yang terparkir di jalan tanah, kelimanya lalu melihat rekan-rekan lain yang tiduran di bak truk. Kelimanya lalu memanjat dan memasuki bak kargo itu dan mulai beristirahat. “Jadi kita harus menunggunya?” ucap salah satu dari mereka dengan nada jengkel. Lalu salah satu prajurit yang sedang tiduran membalasnya “Jangan begitu kawan, kita semua itu adalah bawahan dari dia” orang itu membalas seakan dirinya melindungi seorang yang dihormati.

Prajurit yang jengkel itu mendengus sebelum berbicara “Saya tahu barusan dia telah menaikan moral kita. Tetapi saya masih bingung kenapa banyak dari kalian sangat menghormatinya? kalian menganggapnya sebagai orang tua padahal dia masih seumuran dengan kita?!” hampir semua prajurit di dalam bak itu tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan dari orang itu. Prajurit jengkel itu kebingungan bukan main, dia tidak mengerti sama sekali. Lalu ada seorang prajurit yang duduk disampingnya membalas “Kau benar-benar tidak tahu?” prajurit yang kebingungan itu menoleh ke sampingnya “Apanya yang tidak tahu?!” prajurit di sampingnya membersihkan tenggorokan “Dia. Ketua bukan lah pemuda biasa, kau tahu pertempuran yang terjadi 2 tahun lalu di kota selatan dari United star?” prajurit kebingungan itu mengangguk dengan pelan “Dan kau juga pasti tahu kalau ada rumor ada seorang tentara muda yang mengalahkan 10 ribu pasukan Auntum Republik sendirian?” dia lalu tertawa kecil “Itu bukan lah rumor belaka, melainkan fakta yang disembunyikan oleh petinggi. Dan kau pasti sudah bisa menebak siapa yang mengalahkan pasukan itu? Iya ketua kita. Ormond Ajax yang mengalahkan mereka semua sendirian” keheningan kembali menyelimuti hutan yang pekat.

Sementara itu di dalam gudang, Ajax bisa mendengar suara truk yang sedang disembunyikan. Ajax sempat senyum sesaat sebelum kembali mengecek gudang itu. Tidak sebenarnya dia kembali ke gudang bukan untuk mengecek tetapi untuk memastikan sesuatu. Tadinya dia berpikir kalau akan meledakan kelima mobil itu untuk menghilangkan jejak, tetapi apa daya gudang itu penuh dengan tumpukan amunisi musuh, jadi tidak ada sisa ruang lagi untuk kelima truk itu.

Tetapi Ajax merasa aneh, dia melihat dari luar. Gudang itu terlihat sangat besar. Tetapi kalau di perhatikan dari dalam gudang itu terasa sangat kecil, ada yang aneh?. Itu kalimat yang dipikirkan oleh nya. Ajax menelusuri gudang itu dengan cepat dan teliti. Dia berjalan ke kiri dan kanan gudang tetapi tidak menemukan apapun.

Tapi “Ah…” dia menepuk jidatnya “Tentu saja bagian belakang” masih didalam, dia melewati tumpukan amunisi lewat samping kiri. Dari sudut matanya dia melihat sebuah pintu besi dengan jendela yang sedikit kabur. “Ketemu” gumamnya dengan serius, Walaupun ia telah menemukan misterinya Ajax tetap merasa tidak senang. Malahan dia makin tegang, dan dia bersiap menerima jawaban yang paling terburuk.

Ajax berdiri disamping pintu itu, dia menyiapkan diri untuk menatap apa yang ada dibalik pintu itu, apa yang ada di dalam ruangan itu. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, dengan perlahan tentara itu mengintip apa yang ada di dalam.

Yang ia lihat adalah jawaban terburuk, matanya melebar, seluruh tubuhnya berkeringat dan bergetar. yang didalam bukanlah benda melainkan manusia, banyak manusia. Ajax ingat mereka betul di kepalanya, mereka adalah tahanan perang. Mereka bukanlah tentara melainkan warga yang tak bersalah, ia bisa memastikan kalau didalam ada sekitar 100 warga yang kebanyakan adalah anak-anak dan lansia. Para warga itu terlihat biasa saja mungkin mereka mengira kalau akan dibebaskan keesokan harinya. Tetapi takdir berkata lain.

Ajax dengan cepat menyingkirkan wajahnya dari jendela itu agar dia tidak terlihat. Dia lalu mengerti apa yang sedang terjadi. Gudang ini di bangun diantara 3 perbatasan negara raksasa. Letaknya sangat strategis, tempat ini bukan alat penyimpanan tetapi alat pemfitnahan. Negara yang pria itu naungi yaitu United Star, ingin menaikan tensi ketiga negara itu agar peperangan terjadi. United Star ingin melakukan hal tersebut karena ingin menjual lebih banyak senjata ke ketiga negara itu.

Tubuhnya yang bersandar di dinding perlahan jatuh ke tanah “Tentu saja… negara ku juga tidak ada di benua ini… Sialan. Sialan sekali. Aku harus apa” Ajax menatap ke langit. Tatapan pria itu pasrah dan kebingungan “A-aku tidak mau membunuh… aku tidak mau berperang” dia bergumam dengan perlahan “Tetapi kalau tidak melakukan perintah… Bibi pasti akan dalam bahaya…” Ajax perlahan berdiri dan keluar dari gudang itu.

Sesaat telah di luar dia melihat kelima truk itu disembunyikan dengan baik, dia juga menatap truk yang berada di jalan tanah. Dari sakunya dia mengeluarkan tombol kecil dari, tombol itu adalah tombol untuk meledakan gudang yang berada di belakangnya itu. Dia lalu berpaling badan menghadap gudang, mundur beberapa langkah. Lalu menekan tombol itu. Pria itu tidak memiliki ekspresi sama sekali sesaat menekan tombol itu, yang ada bukanlah kebahagian, bukan juga kesedihan. Tetapi penyesalan.

*CLICK*

Sesaat tombol itu ditekan seluruh gudang meledak dengan hebat. Hutan bergemuruh dengan hebat, api ledakan menjulang setinggi pencakar langit. Sementara itu di jalan tanah ada truk militer yang melaju sekencang-kencangnya berusaha keluar dari daerah itu. Ajax menatap kedepan tanpa ekspresi sama sekali. Tetapi dia menggenggam setir itu seakan ingin mencopot dan mematahkannya.

Dia menatap kedepan yaitu jalan tanah yang berlumpur dan dikelilingi oleh hutan belantara disamping kiri dan kanan, pria itu menutup matanya dengan perlahan dan kembali membukanya. Sesaat matanya kembali terbuka pemandangan hutan belantara itu menghilang dan yang berada di depan adalah tembok semen.

Ajax mengusap wajahnya dengan tangan kiri kebawah “Itu lagi?” ucapnya dengan pelan dan sedikit pasrah. Yang tadi adalah satu dari ribuan ingatan dari tentara itu, Ajax memejamkan matanya kembali berusaha untuk memikirkan hal lain.

Pria itu duduk di kasur kecil didalam ruangan 2×2. Dia sedang menghadap ke kiri kasur, menatap tembok yang berada di bawah jendela. Hari saat itu sedang hujan ringan, rintikan air terpantul ke jendela dengan keras. Kamar itu tidak memiliki lampu, cahaya yang ada berasal dari luar, lantai kamar itu terbuat dari kayu tua, lantai itu juga mengeluarkan suara berderit yang mengganggu. Di Dalam kamar itu hanya ada kasur kecil yang sedikit bergeser ke kiri. Di dinding bagian kanan kasur ada pintu berwarna cream yang keropos.

Ajax seakan tenggelam ke dalam pikirannya tetapi tiba-tiba ada yang memanggilnya dengan kencang “Ajax!! ayo sini ke bawah! Makananmu sudah siap!” yang memanggilnya memiliki suara seorang wanita, nada dari wanita itu terdengar tidak sabar dan menyenangkan. Pria itu membuka matanya dan membalas dengan nada yang lebih pelan “Iya bibi, aku akan turun sekarang” nadanya sedikit dipaksakan, dia lalu berdiri dengan perlahan dan perlahan berjalan menuju pintu.

Setiap pijakan kakinya membuat suara yang nyaring di lantai kayu itu membuatnya menjadi sedikit jengkel “Huft” dia menghela nafasnya dengan kuat. Ajax lalu membuka pintu keropos itu, sesaat membukanya pandangan pria itu langsung tertuju pada pintu lain yang berada di seberang pintunya. Di balik pintu itu adalah kamar dari bibinya, kedua ruangan itu terhubung dengan lorong kecil. Lorong itu terbuat dari kayu tua yang di cat putih, cat itu sudah pudar karena jarang dirawat. Lantai di lorong itu dilapisi oleh karpet merah yang bermotif, karpet itu memiliki banyak corak dan debu.

Dia lalu berjalan ke kanan lorong itu, setelah beberapa langkah terdapat tangga yang menuju ke bawah di sebelah kiri dinding lorong. Dia lalu berjalan menuruni tangga itu. Dia hanya perlu berjalan 5 langkah saja untuk menuju ke bawah, di bawah dia langsung menatap ke sebelah kirinya dan dia melihat Bibinya yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.

Bibinya sudah berumur, rambutnya sudah setengah putih dia berjalan dengan bungkuk. Ia mengenakan daster berwarna merah tua dengan motif bunga. Sesaat bibinya mendengar suara berderit dia langsung tau kalau keponakannya sudah tiba. “Ah kau sudah di bawah” ucap bibinya dengan bersemangat, Ajax membalas dengan nada yang hampir monoton “Iya saya sudah dibawah” pria itu lalu duduk, disusul dengan bibinya.

Mereka duduk saling bersebrangan dengan satu sama lain. Meja itu terbuat dari kayu yang kokoh berbeda dengan rumah itu yang sudah berumur. Tanpa mengatakan apapun pria itu langsung memakan sup sayur, walaupun itu terlihat biasa saja tetapi makanan itu sudah cukup baginya.

Ajax dengan perlahan memakan sup itu, setiap suapan yang ia ambil memiliki gerakan yang lemas. Bibi yang melihatnya langsung memasang raut sedih, tetapi dia seakan tahu dan sudah biasa dengan sikap dari anak itu. Perlahan raut sedih itu berubah menjadi raut yang penuh dengan harapan.

Wanita itu lalu berbicara dengan suara yang serak “Nak” Ajax berhenti makan dan menatap wanita itu dengan kebingungan “Kamu setelah berhenti menjadi tentara selalu saja murung, saya tidak tahu apa yang terjadi di lapangan tetapi…” Bibinya menghela nafasnya dengan berat “Yang terjadi di lapangan pasti sangat berat untuk mu, kamu pasti sudah mengalami banyak kehilangan rekan, dan harus memilih pilihan yang mustahil” Ajax menunduk dan bibinya melanjutkan perkataanya “Jadi Bibi mau kamu untuk berlibur, dan menyenangkan diri sendiri sesekali” Ajax menaikan kepalanya dia lalu berbicara dengan pelan dan bingung “A-apa yang kau katakan” Bibinya tersenyum dan mengeluarkan satu tiket pesawat dari saku dasternya.

Dia lalu meletakkan tiket itu di atas meja dan mendorong tiket itu ke arah Ajax yang terkejut. Bibinya lalu melanjutkan perkataanya dengan nada yang lebih bahagia “Ini adalah tiket menuju ke Rico Gunie, kau selalu saja bergumam tempat itu. Jadi ini adalah tiket menuju ke negara itu besok hari!” Ajax tidak percaya apa yang dia dengar, dia lalu mengambil tiket itu dan menggenggamnya “Terimakasih Bi” setelah berbicara dia melanjutkan makannya. Bibinya bahagia karena melihat pria itu mau untuk berlibur, Ajax sebenarnya tidak terlalu mau untuk berpergian tetapi melihat Bibinya yang bahagia dia memaksakan diri. Pria itu berlibur bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk menyenangkan satu-satunya keluarga yang ada.

Hari itu berlangsung dengan cepat, sinar matahari perlahan naik ke kota yang pucat. Di dalam rumah tadi adalah tempat yang kosong. Kedua keluarga itu sedang menuju ke bandara menggunakan taxi. Jalan raya macet seperti biasa, jalan di kota itu juga dipenuhi dengan lubang. Berserta pembaruan jalan yang tak kunjung selesai, kota itu benar-benar depresi bahkan pejalan kaki saja pun tidak memiliki senyuman sama sekali.

Bandara yang mereka tuju berada di kota sebelah karena kota awal tadi tidak memiliki sumber transportasi sama sekali, perjalan yang mereka tempuh berlangsung selama 2 jam lamanya. Sesaat mereka sampai di bandara itu hari sudah hampir siang. Berbeda dengan kota tempat tinggal mereka, kota itu terlihat lebih hidup dan berwarna. Banyak orang yang terlihat bahagia, jalan yang mulus dan pepohonan yang ditanam membuat udara disana menjadi sejuk.

Ajax dan bibinya turun, Sebelum berangkat pria itu menoleh ke bibinya dan berkata “A-apakah kau harus untuk mengantarkan ku?. Bibi tahu kan saya bisa sendiri” Bibinya menoleh kearah Ajax dan tersenyum “Kau konyol sekali Hahahahaha” dia tertawa kecil.

Pria itu menghela nafasnya dengan pelan. Dia lalu mulai berjalan memasuki bandara sendirian dengan tas ransel di punggungnya. Ia berjalan dan sudah di gangga pintu masuk bandara itu, Ajax menoleh kebelakang dan melihat bibinya yang melambaikan tangannya dengan senyuman yang puas. Ajax tidak melambaikan tangannya ia hanya tersenyum sedikit dan mulai berjalan ke pesawat destinasinya.

Pria itu berjalan memasuki pesawat yang ramai dan berisik, dia berjalan tanpa memperdulikan sekitarnya. Saat dia menemukan bangkunya dia melihat belum ada seorang yang duduk di sebelahnya. Ajax juga mendapatkan bangku sebelah jendela, dia tersenyum “Terimakasih Bibi” gumam pria itu dengan pelan.

Dia lalu meletakkan tas ranselnya di bagian kompartemen atas, pria itu langsung duduk di bangkunya tanpa menghiraukan siapa-pun, dia hanya menatap keluar jendela dan tidak sekelilingnya. Liburan yah? apakah… saya berhak untuk ini, di dalam benak pria itu dia tidak mau berlibur. Dia adalah tentara yang telah melakukan banyak kesalahan dan penyesalan. Dia telah banyak melakukan banyak dosa, mungkin beberapa orang sudah memaafkan tetapi dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Dia setuju karena Bibinya, dia pergi liburan karena Bibinya, dia melakukan semua itu untuk membahagiakan Bibinya bukan dirinya sendiri.

Pesawat itu dengan perlahan lepas landas, sesaat pesawat itu berada di udara Ajax secara tak sadar berdoa “... Saya mau semua ini untuk berakhir… Kalau dunia lain benar-benar ada, saya mau memulai dari 0” doa muncul sendiri. Dia tidak terlalu memikirkan nya tetapi. Dia tidak akan pernah menyangka doa ini akan tercapai dan doa ini adalah kutukan yang akan menghantuinya seumur hidup.

Pesawat itu terbang diatas lautan biru yang luas, semua orang di dalam pesawat seperti biasa saja, ada yang tidur, ada yang mengobrol dan ada yang menenangkan anaknya. Tetapi ketenangan itu akan berubah.

Tiba-tiba muncul awan yang gelap dan pekat yang langsung menyelimuti pesawat itu. Petir menyambar di sekitar pesawat dengan keras. Seluruh penumpang langsung panik mereka berteriak dan ketakutan. Ajax juga merasa aneh, firasatnya tidak enak lalu ada cahaya.

Cahaya terang muncul entah dari mana, dan langsung melapisi pesawat itu. Lalu pesawat itu menghilang secepat cahaya itu muncul, Awan gelap tadi juga menghilang, tidak ada jejak sama sekali seakan pesawat itu pergi ke dunia lain.

.

Ajax membuka matanya dengan cepat dan panik “Dimana ini!?” pandangannya masih kabur tetapi walaupun pandanganya normal dia tetap tidak akan melihat apapun karena ruangan itu gelap gulita, pria itu panik dan dan berusaha untuk bergerak. Dia lalu sadar kalau kedua tangannya dililit dibelenggu oleh rantai yang tertempel di dinding kanan dan kiri. Dia berusaha untuk menarik rantai itu tetapi tidak berguna. Dia juga sadar kalau kedua lututnya menyentuh lantai. Ajax berusaha untuk berdiri tetapi kakinya juga ditahan di lantai.

Dia juga merasa panas, dan juga tubuhnya yang terasa lebih berat. Dia langsung menyimpulkan kalau dirinya sedang mengenakan baju tentaranya. Padahal tadi dia sedang mengenakan baju biasa. Seragam loreng berwarna hitam dengan rompi anti peluru. Tetapi dia tidak merasakan kalau ada senjata atau amunisi yang tertempel di dirinya.

Dia lalu mencoba untuk menenangkan dirinya, dia perlahan memejamkan kedua matanya dan menarik dan menghela nafas dengan perlahan. Dia lalu mencoba untuk mengingat apa yang terjadi di pesawat itu “Ada cahaya muncul lalu… Aku pingsan dan berada di dalam ruangan gelap ini… Apa yang terjadi?” dia perlahan membuka matanya. Lalu tiba-tiba dia mendengar suara dari samping kanan, suara itu halus dan terdengar seperti sesuatu yang terbuka.

Ruangan masih gelap, pria itu tidak bisa melihat apapun. Tetapi dia bisa mendengar dua suara yang samar seperti berbicara di sisi kanannya. Lalu suara itu berhenti, lampu ruangan itu langsung menyala dengan terang. Ajax mengantisipasi musuh lamanya, rival jendral atau petinggi negara yang dendam dengan nya.

Tetapi yang dia lihat saat ini bukan ketiga hal itu, melainkan ruangan yang futuristik. Dinding berwarna abu tua dengan garis berwarna orange cerah yang terlukis di sisi dinding. Di hadapannya, pria itu melihat pintu yang begitu asing baginya. Pintu itu layaknya pintu dari cerita sci-fi. Ajax langsung menoleh ke sisi kirinya dan dia melihat kaca gelap “Jadi kaca itu yang muncul?” gumamnya dengan pelan.

Pintu di hadapannya tiba-tiba terbuka, Ajax langsung menoleh ke arah pintu itu. Tadinya dia mengira kalau tempat ini adalah markas militer, tetapi setelah melihat interior ruangan ini dia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi. Tetapi dia tetap tidak menyangka apa yang dia lihat. Di Hadapannya bukan lah manusia tetapi adalah makhluk setinggi 306 sentimeter, tubuh makhluk itu besar layaknya primata. Makhluk itu mengenakan pakaian armor yang terbuat dari besi kokoh yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali di bagian kepalanya. Kulit mahluk itu berwarna biru tua, dengan bulu lebat yang menutupi atas dan samping kepalanya. Dia berdiri dengan dua kaki layaknya seorang manusia, raut wajahnya mengerikan dia bahkan mempunyai dua gigi layaknya babi hutan yang keluar dari mulutnya.

Makhluk itu tersenyum sadis matanya bersinar kuning terang. Dia berjalan kearah tentara itu yang ketakutan setengah mati, seluruh tubuhnya bergetar tanpa henti. Wajah pria itu penuh dengan keringat dingin. Setiap langkah yang mahkluk itu ambil membuat lantai berdentum kencang.

Setelah tiga langkah saja makhluk itu sudah berada tepat di hadapannya, dia lalu berjongkok dan memegang kepala tentara itu dengan keras “Khh!” Melihat manusia itu yang kesakitan membuatnya makhluk itu bahagia, senyumannya melebar dan dia berbicara dengan nada yang dalam “Kau sudah bangun manusia. Bagus lah” Suara yang dikeluarkan sangat lah dalam dan kuat sampai-sampai membuat tubuh tentara itu berguncang. Makhluk itu juga berbicara dengan bahasa manusia membuat Ajax sampai terkejut.

Makhluk itu melanjutkan perkataannya dengan nada yang seakan mengejek “Kau adalah seorang tentara yang telah membunuh banyak jiwa tak berdosa” makhluk itu mengencangkan genggamannya “Bagus, manusia layak mu. Peliharaan negara, pasti memiliki mental yang kuat” Dia menyipitkan matanya “Kau akan bertahan lama, bagus” Kepala pria itu diremas dengan sangat kencang, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Ajax seakan ingin berbicara tetapi “A-” makhluk itu menyentil kepalanya membuat tentara itu pingsan. “Binatang tidak berhak untuk berbicara dengan ku!” dia lalu tertawa terbahak-bahak dengan keras. Dia lalu berhenti tertawa dan raut wajahnya berubah menjadi serius “Bawa dia ke sana. Kita akan melakukan eksperimen ke manusia ini” sesaat dia mengatakan hal itu ada dua manusia kadal yang masuk kedalam ruangan. Mereka lalu melepaskan belenggu yang mengikat pria itu dan membawanya entah kemana.

*Plak*

*Plak*

Ajax terbangun karena wajahnya yang ditampar berkali-kali, sesaat dia terbangun tubuhnya sudah diikat di atas kasur dengan tali yang ketat. Dia diikat di ruangan operasi. Di sekeliling nya dia melihat 5 manusia kadal layaknya yang berada di buku fantasi, mereka mengenakan pakaian yang layaknya seorang dokter lengkap dengan sarung tangan dan masker yang menutupi moncong.

Seakan melihat mereka Ajax langsung meronta, tetapi para dokter itu seakan tidak menghiraukannya. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam wajah pria itu lalu suara dalam yang familiar terdengar “Kau diam lah. Ini tidak akan sakit” salah satu dokter itu menyuntikan cairan gelap kedalam leher pria itu.

Sesaat cairan itu masuk kedalam tubuhnya. Pria itu langsung berteriak dengan kencang. Tubuhnya seakan meleleh dari dalam dan luar, kulitnya terasa seperti dibakar. Dia meronta-ronta lebih kuat, tetapi ikatan itu tidak lepas bahkan tidak kendor sama sekali. Mereka yang melihatnya meronta-ronta dengan kuat merasa puas.

Mereka tidak terlihat bereaksi sama sekali, seakan sudah melakukan kegiatan ini ribuan kalinya. Tetapi ada yang berbeda dengan manusia itu, ia berteriak dengan sangat kencang selama berjam-jam. Energi pria itu seakan tidak ada habisnya. Setelah 5 jam penuh pria itu berhenti bersuara. Makhluk yang memegang kepalanya melepaskan cengkeramannya. Mereka melihat kalau kuping, hidung, mulut dan matanya mengeluarkan darah. Tetapi pria itu tidak mati melainkan ia masih hidup walaupun di ujung tanduk tetap saja dia masih hidup.

Hal ini membuat seluruh makhluk yang berada di dalam ruangan bersorak dengan kencang, salah satu dokter berkata ke makhluk bertubuh besar tadi “Bawalah dia ke penjara nya, besok kita akan melanjutkan penelitian lagi” makhluk bertubuh besar itu hanya mengangguk dengan senyuman yang terpampang di wajahnya. Dia kembali mencengkram kepala pria itu dan membawanya kembali keruangan tadi. Dia lalu mengikatnya kembali ke posisi awal.

Makhluk itu menatap Ajax dengan terkesan "Kau masih tak sadar?, padahal aku membawamu kesini dengan mengangkat kepalamu" tatapannya langsung berubah menjadi jijik dan dia meludahi tentara yang tak sadarkan diri.

Hari berubah menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan, bulan berubah menjadi tahun Ajax terus menjadi bahan eksperimen mereka, kebingungan, ketakutan, kesedihan, kemarahan, kebencian, emosi-emosi itu mulai menumpuk dan meledak di dalam dirinya, dia hanya tidak bisa melampiaskan nya saja.

tetapi pada suatu hari....