One
Sinar mentari yang menyilaukan mata dan suara kicauan burung yang saling bersahutan menjadi suasana di pagi hari ini. Namun, masih ada seorang gadis yang bergelung dalam selimutnya. Dia adalah Aresha Ravan Arabella.
“Reshaaaa.... Ayo!! Bangun nak, sudah siang ini. Kamu mau bangun jam berapa??” ucap Ruth, mama Resha membangunkan dengan menggoyang-goyangkan tubuh Resha.
“Iya iya ma, resha bangun nih.” Resha menjawab sambil menguap dan mengucek matanya lalu tak berapa lama dia kembali tertidur.
“Dasar!! Malah tidur lagi..” batin sang mama.
Akhirnya, sang mama mengambil air dari kamar mandi yang diletakkan di dalam gayung lalu mulai mengguyur anak perempuannya itu.
“Haduh mamaaa!!! Kan aku jadi basah semua ini. Huaaaahhh” teriak Resha karena tidak terima diguyur oleh mamanya.
“Makanya kalau orang tua bangunin itu ya langsung bangun terus mandi bukannya malah tidur lagi. Ini hari pertama kamu masuk sekolah tapi malah males-malesan kayak gini. Sudah sana mandi terus siap-siap habis itu turun ke bawah buat sarapan.”
“Mulai deh si mama ceramah.” batin Resha dengan menutup kedua telinganya karena mendengar omelan sang mama.
“Kalau orang tua ngomong itu didengerin bukan telinga ditutup gitu!! Sudah sana cepetan mandi biar gak telat!!”
“Iya iya mamaku tersayang dan tercinta. Muaachh” sambil mencium pipi mama dan langsung lari ke kamar mandi.
“Memang gak pernah berubah dari dulu. Masih aja bangun siang dan susah buat dibangunin.” ucap sang mama dalam hati sambil mengelus dadanya karena melihat kelakuan anak perempuan satu-satunya.
Sekitar 20 menit Resha baru selesai melakukan ritual mandinya, setelah itu Resha langsung siap-siap agar tidak terlambat dan tidak terkena omelan mamanya lagi. Sampai di meja makan, Resha mencari kedua adiknya. Kedua adik Resha bernama Novan Saputra dan Farhan Adnan.
“Adik-adik kok gak ada ma? Belum pada bangun ya?” Resha menarik kursi untuk dia duduki.
“Iya, adik masih tidur semua mungkin bangunnya siang karena semalam tidurnya kemalaman.” kata mama sambil memberikan sandwich yang selalu menjadi menu sarapan Resha.
“Pantesan kok belum bangun ternyata eh ternyata tidurnya kemalaman.”
“Sudah jangan banyak ngomong, sarapannya cepat dimakan setelah itu berangkat biar gak terlambat.” kata mama sambil berjalan ke arah dapur.
“Iya iya ma.”
Resha makan dengan tenang tanpa harus ada gangguan kedua adiknya karena biasanya Resha selalu diganggu kedua adiknya ketika sarapan. Saat makan, Resha melihat jam dan betapa terkejutnya dia ketika jarum jam menunjukkan pukul 06.30 WIB.
“Aduh, ini aku telat gak ya? Mana sudah jam segini lagi, lagian sih pake acara baca novel sampe tengah malam kan jadinya bangun kesiangan.” Ucapnya dalam hati sambil mengunyah sarapan yang sudah disiapkan oleh mama tercinta.
Setelah selesai sarapan, Resha langsung berpamitan pada sang mama sebelum berangkat ke sekolah.
“Ma, aku berangkat sekolah dulu. Doain aja semoga hari ini aku bisa dapat teman baru.” Resha sambil mencium tangan mama.
“Iya mama doain kamu cepat dapat teman biar gak kesepian. Ingat jangan usil dulu!” kata mama sambil mencium kening Resha.
“Iya iya ma, aku gak bakal usil deh.” Resha berkata sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
“Assalamualaikum ma.”
“Wa’alaikumussalam.” Mama menjawab salam Resha sambil menutup pintu rumah.
🍃🍃🍃
Di Sekolah
Resha POV on
Setelah sampai di sekolah yaitu SMA Kebangsaan, aku pun berkeliling ke seluruh penjuru sekolah sambil mencari teman baru agar aku tidak kesepian lagi.
“Waww, sekolahnya luas banget sudah gitu bagus banget lagi bangunannya. Aku emang gak salah deh sudah milih buat sekolah disini.” ucapku dalam hati sambil terus berkeliling.
Lama sekali aku berkeliling sampai akhirnya aku melihat seorang cewek yang sepertinya sangat aku kenal. Akhirnya, aku mendekatinya karena rasa penasaran yang sangat tinggi. Betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa cewek itu.
“Maaf, kamu benar Naya?” tanyaku dengan ragu.
“Iya, aku Naya. Kamu siapa ya?” jawab cewek itu sambil melihatku dan mencoba mengingat-ngingat.
“Ini aku Resha, temanmu waktu SD. Kamu ingat kan, nay?” tanyaku dengan antusias dan gembira.
Dia pun berpikir cukup lama sampai akhirnya, “Oh iya, aku ingat. Kamu Resha yang dulu selalu dijuluki maskulin ya?”
Aku memutar bola mataku malas dan berkata “Iya, itu aku. Tapi, jangan panggil aku maskulin lagi. Aku ini 100% cewek tapi masih aja dijuluki maskulin. Heran deh.”
“Hehehe, iya maaf sha. Habisnya dari dulu sampai sekarang, teman aku yang paling unik ya hanya kamu doang sha.”
“Iya deh iya.” jawabku dengan raut wajah masam.
Cewek itu tadi bernama Kanaya Syifa Pratama. Dia temanku waktu SD tapi karena ayahnya dipindah tugaskan ke Papua sehingga aku dan Naya tidak bertemu lagi. Akhirnya, aku dan Naya bertemu lagi bahkan bersekolah di sekolah yang sama.
“Nay, kenalin dengan teman-temanmu itu dong?” pintaku dengan memasang puppy eyes.
“Oke, aku kenalin. Dia yang berambut pendek itu namanya Dira dan yang berambut panjang itu namanya Kyla.” sambil menunjukkan kedua temannya.
“Hai, Dira dan hai, Kyla. Kenalin aku Aresha Ravan Arabella, biasa dipanggil Resha.” mengulurkan tangan ke Dira dan Kyla.
“Hai, Resha. Aku Elvina Nadira Saskia, kamu bisa panggil aku Dira.” sembari berjabat tangan denganku.
“Hai, Resha. Aku Angelina Kyla Justina, biasa dipanggil Kyla.” sembari berjabat tangan denganku.
“Nah, sekarang sudah saling kenal kan? Bagaimana kalau kita semua berteman sebelum mendapat teman baru.” tanya Naya sambil merangkulku, Dira, dan Kyla.
“Baik, itu ide bagus nay. Gimana? Kalian mau gak?” tanyaku dengan wajah yang sangat antusias karena mendapat teman baru.
“Boleh juga.” Kata Dira dan Kyla bersamaan sambil tersenyum bahagia.
“Ok girls, saatnya kita lihat papan pengumuman dulu biar kita semua dapat tahu kelas kita masing-masing.” ajakku ke mereka bertiga.
“Ayukk.” Jawab mereka bersamaan dengan saling bergandengan tangan.
Kami berempat pun jalan bergandengan tangan sambil bercanda dan tertawa bersama. Di depan papan pengumuman, kami tersenyum bahagia karena berada di kelas yang sama yaitu kelas X IPA 2. Tanpa butuh waktu yang lama, kami langsung menuju kelas dan memilih tempat duduk yang kami inginkan, yaitu di baris kedua dan ketiga.
Kring... Kring... Kring...
Suara bel sekolah berbunyi menandakan bahwa upacara telah siap dimulai. Aku, Naya, Kyla, dan Dira langsung lari ke lapangan di barisan paling depan karena ingin melihat petugas upacara yang sedang bertugas.
Tapi, di saat upacara hampir dimulai tiba-tiba ada seorang siswa laki-laki yang datang terlambat dan dengan santainya dia berjalan melewati para guru dan peserta upacara yang tengah berada di lapangan.
“Siapa sih tuh cowok kok seenaknya aja? Emangnya dia yang punya sekolah apa? Dasar cowok gila!!” batinku sambil menahan kesal karena sikap cowok itu.
Jangan lupa vote dan comment!