Secret Trip And You

Secret Trip And You

Author:Eva Noviana

Eps 1 #Rencana Mendaki Gunung

“Liburan masa begini saja?” keluh Cindy pelan, tubuhnya terhempas lemah ke kasur.

Rena yang duduk di lantai hanya terkekeh.

“Ya, mau bagaimana lagi, Cin? Memang sudah jadi kebiasaan kita, kan?”

Cindy menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang terasa membosankan.

“Iya juga, sih...”

Hening sejenak.

Namun tiba-tiba, Rena bangkit dengan mata berbinar.

“Eh, tapi bagaimana kalau kita membuat liburan kali ini sedikit lebih ekstrem?”

Cindy langsung menoleh, keningnya berkerut.

“Ekstrem bagaimana maksud lo? Jangan aneh-aneh deh. Cukup lo saja yang aneh, ide lo jangan.”

Rena tertawa, lalu melempar guling ke arah Cindy.

“Sialan lo, Cin!”

Suasana kamar pun berubah riuh.

“Tapi gue serius,” lanjut Rena, kini nadanya lebih tenang.

“Kita hiking saja bagaimana?”

Kata itu menggantung di udara.

Cindy terdiam.

“Apa kita nggak terlalu nekat?” pikirnya dalam hati.

“Rena... kita itu belum pernah hiking sebelumnya,” ucapnya akhirnya, setengah ragu.

“Iya, gue tahu,” jawab Rena cepat.

“Justru itu. Kita butuh sesuatu yang baru. Gue juga bisa cari partner pendaki.”

Cindy menyilangkan tangan.

“Ke mana? Dengan siapa? Dan bagaimana caranya?”

“Internet banyak, Cin. Jangan O2N banget deh.”

“Jangan nyolot!”

Guling kembali melayang, disusul tawa kecil yang pecah di antara mereka.

“Eh, ini pada ribut apa sih?”

Suara Tia tiba-tiba muncul dari ambang pintu.

“Tahu nih, Cindy ngajak berantem terus,” ujar Rena cepat.

“Lah, kok jadi gue?” balas Cindy kesal.

Tia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Sudah, sudah. Nyokap gue sudah masakin bakso kesukaan kalian.”

Kalimat itu seketika meredakan suasana.

🍽️ Meja Makan

Di meja makan, suasana terasa hangat.

“Ngomong-ngomong, tadi kalian bahas apa?” tanya Tia sambil menyendok bakso ke mangkuknya.

“Ini, si Rena ngajak kita hiking biar liburannya ekstrem,” jawab Cindy singkat.

Tia justru tampak tertarik.

“Menarik juga...”

“Kan? Ide gue cemerlang,” sahut Rena bangga.

Cindy mendengkus pelan.

“Tidak usah sok paling jenius.”

“Tia, Cindy, Rena... makannya dihabiskan dulu, ya. Jangan ribut di meja makan,” tegur Ibu Tia lembut.

“Iya, Ma!”

Suara kecil Sarah ikut menyela.

“Aku lagi fokus makan, Kak! Kakak berisik banget sih. Aku lagi konsentrasi buat menghabiskan masakan Mama,” sela Sarah, adik Tia yang berumur enam tahun.

Cindy tersenyum gemas.

“Maaf ya, cantik... Kakakmu duluan yang rese bela Kak Rena,” ujarnya sambil mengacak rambut Sarah.

“Ih... Kakak, rambut aku habis di salon kemarin,” protes Sarah dengan wajah cemberut kecil.

“Hei... sudah makan dulu, anak-anak,” sela Ibu Tia lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas namun tetap hangat.

Tawa ringan pun pecah.

Untuk sesaat, semuanya terasa sederhana.

Hangat. Tenang. Aman.

Namun tanpa mereka sadari—

sebuah keputusan kecil yang diambil hari itu

akan membawa mereka pada sesuatu yang jauh lebih besar.

🛏️ Di Kamar

Setelah makan, mereka bertiga bergegas menuju kamar untuk membahas ide yang sejak tadi menggantung di kepala mereka.

“Oke, sekarang ide lo apa, Ren?” tanya Tia sambil duduk di tepi kasur.

Rena menarik napas dalam.

“Gue mau kita hiking. Satu minggu saja. Biar pikiran kita fresh lagi.”

“Ke mana?”

“Gimana kalau kita hiking ke Gunung Prau atau ke Gunung Semeru, kayak di film 5 cm itu, loh,” jawab Rena dengan mata berbinar.

“Nggak!”

Cindy langsung menyela.

“Kita nggak punya pengalaman. Kita nggak tahu medan. Gue nggak mau ambil risiko,” lanjutnya, kali ini lebih pelan.

Tia menatapnya.

“Kita bisa cari yang berpengalaman.”

“Iya,” tambah Rena, “sekarang banyak kok yang suka hiking.”

“Tia...”

Suara Papa terdengar dari luar kamar.

Suara pintu berderit pelan saat dibuka. Langkah kaki terdengar mendekat.

“Papa dengar dari Mama... katanya kalian mau hiking, ya?”

Ketiga gadis itu langsung saling pandang. Rena yang pertama kali bereaksi—matanya berbinar seperti menemukan jalan keluar dari kebosanan.

“Iya, Om! Tapi kami masih bingung cari partner,” jawabnya cepat.

Suasana kamar sejenak hening.

“Cin... lo kenapa kok diam saja?” tanya Rena pelan.

Cindy menunduk.

“Ya... yang gue bilang tadi, gue nggak setuju sama rencana kalian berdua,” jawabnya lirih.

Tia tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana.

“Kita coba dulu, Cin. Barangkali nanti malah jadi candu... dan siapa tahu dapat jodoh,” ujarnya setengah bercanda.

Papa Tia tersenyum tipis, seolah mengenang sesuatu yang jauh di masa lalu.

“Papa punya kenalan. Dulu teman Mapala waktu kuliah. Orangnya berpengalaman.”

“Seriusan, Om?” Nada suara Rena tak bisa menyembunyikan antusiasmenya.

“Iya. Tapi...” Papa berhenti sejenak, menatap mereka satu per satu.

“Gunung itu bukan tempat main-main.”

Kalimat itu menggantung di udara. Cindy menunduk pelan. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak.

🌄 Keesokan Hari

Tia menghubungi Pak Darsomo, teman Mapala Papanya. Tak butuh waktu lama, Pak Darsomo pun menyetujui untuk menemani mereka bertiga dalam perjalanan hiking tersebut.

Sebuah langkah kecil telah diambil—

tanpa mereka sadari, langkah itu akan membawa mereka pada cerita yang tak akan mudah dilupakan.

Suara gebrakan pintu kamar memecah pagi.

“Bangun! Bangun! Kita jadi hiking!”

Tia berdiri di depan pintu dengan napas memburu, wajahnya penuh semangat.

“Teman Mapala Papa mau jadi partner kita. Lusa berangkat!”

Cindy mengerjap pelan, masih setengah sadar.

“Hah...? Lusa?”

Sementara itu, Rena langsung duduk tegak.

“Serius? Gunung apa?”

“Gunung Prau!” jawab Tia tanpa ragu.

“View-nya Sumbing sama Sindoro. Sunrise-nya terkenal banget!”

“Gila... akhirnya kita beneran pergi,” bisik Rena, lebih ke dirinya sendiri.

Cindy masih diam. Tangannya meremas selimut.

“Ada yang nggak beres...” gumamnya pelan.

“Apaan, sih?” Tia tertawa kecil.

“Ini liburan, bukan film horor.”

Cindy tidak menjawab.

🏕️ Persiapan

Toko perlengkapan outdoor itu ramai. Bau kain, logam, dan karet bercampur jadi satu.

“Kita butuh tenda,” ucap Cindy sambil memperhatikan deretan tas carrier.

“Jelas lah,” sahut Rena. “Masa mau tidur di tanah terbuka?”

Tia terkekeh.

“Atau... kita bagi dua saja. Satu buat kita, satu buat Pak Darsomo .”

Rena langsung melotot.

“Ih! Ngaco lo!”

Cindy ikut tertawa kecil. Untuk sesaat, semuanya terasa normal.

Tapi entah kenapa...

setiap kali ia menatap perlengkapan di tangannya—tenda, senter, kompas—ada perasaan asing yang tidak bisa dijelaskan.

Seolah-olah... perjalanan ini tidak sesederhana yang mereka bayangkan.

🚆 Keberangkatan

Stasiun Pasar Senen siang itu penuh sesak. Suara pengumuman bersahut-sahutan, bercampur dengan langkah kaki dan derit koper.

“Kereta menuju Purwokerto akan segera berangkat...”

Mereka berdiri di peron. Tas besar di punggung, mimpi besar di kepala.

“Ini dia awal cerita kita,” ucap Rena, menatap rel panjang di depannya.

Tia tersenyum lebar.

“Cerita yang bakal kita kenang seumur hidup.”

Cindy diam.

Matanya mengikuti rel yang memanjang... jauh... seolah membawa mereka ke tempat yang belum tentu ingin mereka datangi.

Angin berembus pelan.

Dan untuk pertama kalinya—

Cindy berharap... mereka tidak jadi berangkat.