Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kebahagiaan di Atas Hati yang Hancur
Sepeninggal Rahmi yang bergegas setengah berlari menuju toilet di bagian belakang kafe, suasana di meja pojok itu sejenak diliputi keheningan. Bunyi mesin espresso dari arah meja bar yang sedang dipanaskan oleh Bang Hendri mendengung pelan, berpadu dengan alunan musik jazz instrumental yang selalu menjadi ciri khas Cafe Nuansa di sore hari.
Alan masih menatap ke arah lorong dengan kening berkerut. Ada sebersit rasa tak nyaman yang mengganjal di dadanya melihat tingkah Rahmi yang tiba-tiba aneh. Namun, kehadiran sosok cantik di sebelahnya dengan cepat menarik kembali seluruh atensi dan rasionalitasnya. Wangi parfum floral musk Bunga seolah memiliki mantra yang mampu menghapus segala pikiran lain dari kepala Alan.
Alan kembali menoleh ke arah Bunga, menatap gadis itu dengan senyum tertahan. Jantungnya masih berdebar kencang menanti kelanjutan dari tawaran Bunga yang menggantung tadi.
"Emang ada acara apa ya, Nga, di hari Minggu besok?" tanya Alan, mencoba terdengar sesantai mungkin, meski jemarinya di bawah meja bertaut erat satu sama lain. "Tumben banget ngajak jalan."
Bunga tidak langsung menjawab. Gadis berbalut dress krem itu terdiam sejenak. Mata indahnya menatap kosong ke arah gelas teh lemon milik Rahmi yang masih menyisakan riak kecil akibat tetesan air mata tadi. Otak Bunga yang cerdas sedang bekerja cepat. Ia memikirkan gelagat aneh Rahmi, mata gadis tomboi itu yang memerah, dan caranya menatap Alan tadi. Bunga sangat yakin, Rahmi menyimpan perasaan yang begitu besar kepada pemuda di sebelahnya ini. Dan Bunga juga tahu, kehadirannya saat ini sedang menyakiti hati gadis itu.
Namun, Bunga menghela napas pelan. Ia sudah lama mencari Alan, dan ia tidak ingin kehilangan kesempatan ini lagi. Dalam medan pertempuran asmara, simpati tidak akan memenangkan hati siapa pun.
Bunga kembali menatap Alan, menyingkirkan bayangan Rahmi dari pikirannya, lalu memberikan senyumnya yang paling menawan.
"Gini, Lan..." Bunga memulai dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mengalun seperti melodi yang memanjakan telinga. "Aku mau ngajak kamu... eh, maksudnya, aku mau minta bantuan kamu buat nemenin aku ke sebuah cafe baru yang baru buka di daerah Dago Atas."
"Kafe baru?" beo Alan, alisnya terangkat sebelah.
Bunga mengangguk antusias, rambut panjangnya ikut bergoyang pelan. "Iya. Nuansanya adem banget, Lan. Letaknya agak masuk ke dalam, banyak pepohonan, terus vibes-nya nenangin banget. Jauh dari jalan raya, jadi gak bising sama suara kendaraan. Cocok banget buat ngilangin penat sehabis semingguan kuliah."
Bunga tidak asal bicara. Ia sengaja memilih tempat itu. Sejak mereka kembali satu kampus, Bunga diam-diam mencari tahu tentang kebiasaan Alan melalui teman-teman SMA mereka dulu. Ia tahu persis bahwa Alan, dengan segala beban hidup dan kepenatannya, sangat tidak menyukai keramaian mal atau hiruk pikuk kota. Alan sangat sering berkunjung ke tempat yang tenang, sunyi, dan jauh dari keramaian untuk sekadar membaca buku atau menyusun laporan keuangannya. Menawarkan tempat yang sepi dan tenang adalah strategi Bunga untuk memancing Alan agar tidak bisa menolak.
Mendengar deskripsi tempat itu, mata Alan sedikit berbinar. Jujur saja, deskripsi itu sangat sesuai dengan seleranya. Namun, rasa rendah dirinya—penyakit kronis yang selalu menghinggapinya sejak ia sadar bahwa ia berasal dari keluarga miskin—kembali muncul ke permukaan. Ia menatap pakaiannya sendiri; seragam kafe dengan celemek cokelat yang mulai pudar warnanya. Lalu ia menatap Bunga; primadona kampus yang memakai barang-barang branded dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Senyum Alan memudar, digantikan oleh keraguan yang tercetak jelas di wajahnya.
"Emang temen-temen kamu pada ke mana, Nga?" tanya Alan dengan nada yang sedikit merendah. "Kenapa gak sama temen-temen segeng kamu aja main ke sana? Kenapa malah ngajak aku?"
Alan menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara yang nyaris seperti bisikan. "Aku ini cuma pelayan kafe, Nga. Ke kampus aja bawa motor butut yang sering mogok. Emangnya kamu gak malu kalau nanti di sana ketemu temen-temen kamu atau orang yang ngenalin kamu, terus kamu ketahuan lagi jalan sama cowok kayak aku?"
Deg. Hati Bunga mencelos mendengar kalimat itu. Ia bisa melihat betapa tebalnya tembok inferioritas yang dibangun Alan untuk melindungi dirinya sendiri. Bunga tahu, jika ia salah menjawab, tembok itu tidak akan pernah bisa ia runtuhkan.
Bunga memajukan tubuhnya sedikit, menatap tepat ke dalam manik mata kecokelatan Alan, mencoba meyakinkan pemuda itu.
"Temen-temenku lagi pada sibuk urusan masing-masing, Lan," jawab Bunga lancar tanpa berkedip. "Ada yang pulang kampung, ada yang sibuk ngerjain tugas organisasi. Makanya aku ngajak kamu. Kebetulan kan kita baru ketemu lagi, hitung-hitung reuni kecil-kecilan. Masa sama temen lama gak mau?"
Tentu saja itu adalah kebohongan besar. Ponsel Bunga sejak tadi dipenuhi pesan dari teman-temannya yang mengajak pergi ke salon atau hangout di mal pada hari Minggu nanti. Tapi Bunga sengaja berbohong. Ia sangat mengenal karakter Alan. Seseorang seperti Alan, yang sangat kaku dan menutup diri, pasti akan langsung menolak mentah-mentah jika ia tahu bahwa di sekitarnya akan ada orang lain yang tidak ia kenal atau jika acara itu dibuat terkesan seperti sebuah "kencan" yang formal. Alan butuh alasan yang logis agar harga dirinya tidak terluka.
Alan kembali terdiam. Otaknya berputar menimbang-nimbang. Ia melihat tidak ada kebohongan dari tatapan Bunga. Lagipula, ini adalah Bunga. Gadis yang senyumnya selalu menjadi pelipur lara baginya di masa-masa sulit saat SMA. Mengapa ia harus menolak tawaran dari seseorang yang selalu ia harapkan kehadirannya?
Setelah terdiam cukup lama, senyum kecil akhirnya kembali terbit di bibir Alan. Rasa gengsinya perlahan mencair oleh kelembutan Bunga.
"Ya udah," jawab Alan, membuat kedua sudut bibir Bunga tertarik ke atas secara otomatis. "Boleh deh. Kayaknya seru juga ngopi di tempat sepi. Nanti kabar-kabaran aja di WhatsApp ya masalah jam berapa berangkatinya."
Rasa lega yang luar biasa menjalar di dada Bunga. Misinya berhasil. 'Syukurlah,' batin Bunga sambil tersenyum manis ke arah Alan. Namun jauh di sudut hatinya, ada sedikit rasa bersalah yang menggores.
'Mungkin ini satu-satunya cara supaya kamu mau jalan sama aku, Lan,' bisik Bunga dalam batinnya, menatap wajah lelah namun tampan di hadapannya itu. 'Maafin aku ya, Lan, udah bohongin kamu soal temen-temenku. Aku cuma pengen punya waktu berdua aja sama kamu, tanpa ada orang lain yang ganggu. Termasuk teman-temanmu... dan Rahmi.'
Merasa urusannya dengan Alan sudah selesai dengan hasil yang sangat memuaskan, Bunga pun mengalihkan pandangannya. Ia menatap ke arah Ardi dan Randi yang sejak tadi masih bersusah payah pura-pura sibuk dengan layar gawai masing-masing, padahal telinga mereka terpasang lebar-lebar mendengarkan percakapan tersebut.
Bunga menepuk tangannya sekali, membuyarkan konsentrasi palsu kedua pemuda itu.
"Kalian berdua!" panggil Bunga dengan nada ceria. "Kalian mau pesen makan gak? Biar aku yang traktir deh hari ini, sebagai tanda perkenalan kita."
Mendengar kata sakti "traktir", seolah ada sihir yang merasuk ke dalam jiwa Ardi dan Randi. Ardi, yang sedetik lalu wajahnya tegang menatap anime ksatrianya, seketika menengok ke arah Bunga dengan kecepatan yang nyaris membuat lehernya terkilir. Matanya berbinar terang layaknya melihat malaikat turun dari langit membawa emas batangan.
"Wah! Seriusan nih, Nga?!" seru Ardi dengan suara lantang yang menggelegar, membuang laptopnya begitu saja ke tengah meja. Rasa malunya sudah lama ia gadaikan. "Mau dong! Gue mau pesen chicken katsu curry yang porsi jumbo ya! Plus minumnya red velvet latte ukuran paling gede, yang extra shot espresso! Biar melek sampai subuh ngerjain tugas!"
Randi tak mau kalah. Ia langsung mematikan aplikasi game-nya, mengabaikan fakta bahwa karakternya sedang dikeroyok oleh tim lawan. Baginya, makanan gratis jauh lebih berharga daripada peringkat game.
"Samain aja sama si Ardi, Nga!" timpal Randi dengan cengiran lebar memamerkan giginya. "Tapi gue minumnya matcha frappe ya, yang whipped cream-nya dibanyakin sampai tumpeh-tumpeh! Wah, emang lu bidadari tanpa sayap deh, Nga!"
Melihat kelakuan dua sahabatnya yang tidak tahu malu dan sama sekali tidak memiliki harga diri jika dihadapkan pada makanan gratis, Alan refleks mengangkat sebelah tangannya dan memijat pangkal hidungnya dengan kuat. Wajahnya memerah menahan malu. Kelakuan Ardi dan Randi memang tidak pernah berubah. Mau ada menteri, presiden, atau bidadari sekalipun yang mentraktir, porsi kuli mereka tidak akan pernah berkurang.
"Lu pada urat malunya udah putus ya?" desis Alan tajam kepada kedua sahabatnya, meski suaranya tertahan.
Namun Bunga justru tertawa lepas. Tawa yang terdengar tulus, tanpa ada nada meremehkan sedikit pun. Ia merasa terhibur dengan kepolosan dan kekonyolan teman-teman Alan. Baginya, berada di lingkaran Alan berarti ia harus bisa menerima semua orang yang ada di dalamnya.
"Gak apa-apa, Lan. Nyantai aja," ucap Bunga menenangkan Alan sambil masih terkekeh. "Ya udah, aku pesenin dulu ya buat kalian berdua."
Bunga kemudian menoleh kembali ke arah Alan, menatap pemuda itu dengan tatapan yang kembali melembut, seolah dunia kembali hanya milik mereka berdua. Senyum manisnya terukir sempurna.
"Kalau kamu mau apa, Lan?" tanya Bunga lembut.
Alan yang masih merasa malu atas kelakuan teman-temannya hanya menggaruk belakang lehernya. "Gue... eh, aku terserah kamu aja deh, Nga. Yang ringan-ringan aja, aku juga bentar lagi kan harus standby di bar, takut gak keburu makannya."
"Otteh!" seru Bunga dengan nada imut, memiringkan kepalanya sedikit, membuat jantung Alan kembali berdisco ria di dalam sangkar rusuknya.
Bunga pun berdiri dari kursinya. Ia merapikan dress-nya sedikit, lalu berjalan dengan langkah anggun khasnya menuju area kasir di mana Bang Hendri sedang berjaga. Aroma parfumnya tertinggal di udara, seolah menjadi penanda kekuasaannya di meja tersebut.
Begitu punggung Bunga agak menjauh, Alan langsung mencondongkan tubuhnya melintasi meja, menatap tajam Ardi dan Randi bergantian seolah ingin menelan mereka hidup-hidup.
"Kebiasaan lu pada malu-maluin gue aja!" rutuk Alan setengah berbisik, matanya mendelik garang. "Ini tuh Bunga, primadona kampus! Lu berdua pesen makanan porsi kuli gitu, dikira dia bank berjalan apa?! Baru juga kenal udah malak aja lu berdua!"
Ardi dan Randi sama sekali tidak merasa terintimidasi. Ardi justru memajukan wajahnya, membalas tatapan Alan dengan santai.
"Yeehh, si bapak ini gimana sih!" balas Ardi membela diri. "Kalau rezeki mah jangan ditolak, Lan. Mubazir tahu! Lu gak denger apa kata ustadz di masjid kampung gue? Menolak rezeki itu sama aja kufur nikmat!"
"Iya, Lan, bener kata si Ardi," timpal Randi, mengangguk sok bijak seperti seorang filsuf. "Ntar dosa lu kalau nolak pemberian orang. Terus ya, Lan, dari sisi psikologis, kalau kita nolak traktiran dia, ntar disangka kita gengsian atau kita gak suka sama dia. Nah, kalau kita terima dengan suka cita, si Bunganya kan ikutan seneng karena merasa diterima di circle kita. Logika lu dipakai dong, ah!"
Alan ternganga mendengar logika sesat kedua sahabatnya itu. Ia kehabisan kata-kata untuk mendebat mereka. Apalagi argumen Randi terdengar sedikit masuk akal, meskipun ia tahu itu hanyalah pembenaran atas rasa lapar mereka.
"Bodo amat! Terserah lu pada lah! Ntar kalau lu berdua diare gara-gara kebanyakan makan gratisan, jangan minta obat sama gue," sungut Alan, menyerah pada kekeraskepalaan teman-temannya, lalu menyandarkan kembali punggungnya ke kursi.
Ardi dan Randi saling melempar pandang, lalu dengan kompak mengangkat tangan mereka dan melakukan tos yang cukup keras di udara.
"Hidup traktiran!" seru mereka berdua tertawa tertahan penuh kemenangan.
Alan hanya menggelengkan kepalanya pasrah. Namun, saat ia memalingkan wajah dari kedua temannya, pandangan matanya tanpa sengaja tertuju pada jam dinding besar bergaya vintage yang tergantung di atas area bar.
Pukul tiga lewat sepuluh menit.
Alis tebal Alan bertaut. Ia kembali menatap lorong belakang yang gelap. Instingnya mulai bekerja.
'Udah tujuh menit,' batin Alan menghitung waktu. 'Rahmi ngapain di toilet lama banget? Cuma kelilipan atau kecipratan air masa cucinya sampai selama ini?'
Rasa khawatir yang tadinya sempat menguap karena pesona Bunga, kini perlahan kembali merambat naik. Alan sangat mengenal Rahmi. Gadis itu bukan tipe perempuan yang suka berlama-lama di depan kaca untuk memoles makeup atau sekadar bercermin. Tujuh menit di dalam toilet adalah waktu yang sangat tidak normal bagi seorang Rahmi.
Alan mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, merasa gelisah. Ia membayangkan mata Rahmi yang sangat merah tadi.
'Apa jangan-jangan matanya iritasi parah? Atau malah cairan es batunya kotor terus bikin infeksi? Duh, tuh anak kan batu banget, kalau sakit suka ditahan sendiri,' batinnya berkecamuk. Rasa protektifnya sebagai seorang sahabat laki-laki mendominasi pikirannya.
'Apa gue susul aja ketok pintunya ya?' tanyanya pada diri sendiri.
Tidak butuh waktu lama bagi Alan untuk mengambil keputusan. Rasa khawatirnya mengalahkan akal sehat yang mengatakan bahwa menyusul seorang wanita ke toilet bukanlah hal yang pantas. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Ardi dan Randi yang sedang asyik membahas game, Alan berdiri dari kursinya dan berjalan dengan langkah panjang dan lebar menuju area belakang kafe.
Lorong menuju toilet terasa sedikit lebih dingin dan lembap. Suara bising dari kafe depan perlahan meredam, digantikan oleh kesunyian yang ganjil.
Alan berhenti tepat di depan pintu kayu bertuliskan "Wanita". Ia berdiri di sana sejenak, mengangkat tangan kanannya yang mengepal, bersiap untuk mengetuk pintu kayu jati tersebut.
"Mi? Rahmi? Lu gak apa-apa kan di dalem?" gumam Alan pelan, berlatih di dalam hati tentang apa yang akan ia katakan.
Namun, baru saja buku-buku jarinya hampir menyentuh permukaan pintu, suara kenop logam yang diputar dari dalam terdengar memecah kesunyian.
Cklek.
Pintu kayu itu ditarik terbuka dari dalam.
Rahmi melangkah keluar dengan kepala tertunduk, namun langkahnya langsung terhenti seketika saat ia menabrak dada bidang seseorang. Rahmi mendongak, matanya yang masih sembap melebar kaget. Ia tersentak mundur satu langkah, sangat terkejut melihat sosok tinggi Alan yang berdiri mematung tepat di hadapannya, bagaikan satpam yang sedang berjaga di depan toilet.
Napas Rahmi tertahan. Jantungnya yang tadi baru saja ia coba tenangkan dengan tangisan berdarah-darah di dalam, kini kembali berpacu menggila. Ia belum siap. Ia belum siap berhadapan dengan Alan secepat ini. Hatinya masih berceceran di lantai toilet.
Refleks pertahanan diri Rahmi yang paling utama—yaitu kemarahan dan sikap ketus—otomatis mengambil alih. Ia mengerutkan keningnya dalam-dalam, menutupi kepanikannya dengan topeng garang.
"Ngapain lu di sini?!" bentak Rahmi dengan suara yang serak dan parau, namun cukup tajam untuk mengiris keheningan lorong. "Lu mau ngapain diri di depan pintu toilet cewek, hah? Ngintip gue?!"
Tuduhan tak beralasan itu meluncur begitu saja dari bibir Rahmi. Itu adalah mekanisme pertahanan hatinya agar Alan tidak menyadari sisa-sisa air mata yang mati-matian ia hapus dengan air keran dan ia tutupi dengan bedak tipis seadanya.
Alan terkesiap mendapat bentakan tiba-tiba itu. Ia yang tadinya khawatir, mendadak merasa kesal karena niat baiknya dituduh yang tidak-tidak. Ia menurunkan tangannya yang menggantung di udara, lalu membalas tatapan tajam Rahmi.
"Ketus amat lu jadi cewek!" balas Alan tak kalah sengit, nada suaranya meninggi. "Siapa juga yang mau ngintip lu, kayak gak ada kerjaan lain aja! Bodi rata kayak triplek gitu aja bangga!"
Alan menggunakan candaan kasar andalannya, tidak menyadari bahwa setiap kata kasarnya saat ini menyakiti Rahmi lebih dari biasanya. Ia kemudian menghela napas panjang, menatap wajah pucat sahabatnya itu. Mata Rahmi memang terlihat lebih merah dari sebelumnya, hidungnya juga ikut memerah.
"Gue ke sini tuh cuma khawatir aja," lanjut Alan, suaranya melembut, memancarkan kejujuran yang tulus dari seorang teman. "Lu di dalem lama banget, tujuh menit lebih. Gue takut lu pingsan di dalem gara-gara nahan perih kecipratan minuman ke mata lu yang juling itu. Gue mangkanya ngecek ke mari, takut lu kenapa-napa."
Alan menatap mata Rahmi dalam-dalam, berusaha mencari tahu apakah gadis itu benar-benar baik-baik saja. Tatapan khawatir itu begitu nyata, begitu hangat, dan begitu... tulus.
Rahmi terdiam mematung. Tatapan mata Alan yang dipenuhi kekhawatiran itu mengunci pergerakannya. Untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Dinding pertahanan yang baru saja Rahmi bangun dengan susah payah, nyaris runtuh kembali melihat seberapa peduli pemuda ini padanya.
Rahmi memalingkan wajahnya, tak sanggup membalas tatapan hangat itu lebih lama. Matanya kembali memanas.
"Garing amat lu!" sahut Rahmi ketus, memaksakan diri untuk membalas candaan itu agar semuanya terlihat normal. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, memasang sikap defensif. "Gue cuma cuci muka doang. Mata gue perih banget, makanya gue bersihin pake air yang banyak. Lebay banget lu pake nyusul segala."
Rahmi melangkah maju, memaksa Alan untuk menyingkir dari jalannya. Ia berjalan melewati Alan tanpa menoleh lagi, langkahnya dihentakkan dengan keras ke lantai kayu.
Namun, di balik sikap arogan dan ketusnya itu, hati Rahmi kembali menangis, lebih keras dari sebelumnya. Setiap langkah yang ia ambil menjauhi Alan, seolah ia sedang berjalan di atas pecahan kaca.
'Tapi sayangnya, Lan...' batin Rahmi menjerit tertahan, suaranya menggema di lorong yang kosong, menyertai langkah kakinya. 'Kekhawatiran lu ke gue... bukan karena sesuatu tentang hati. Itu bukan kekhawatiran seorang laki-laki terhadap wanita yang ia cintai. Itu cuma kekhawatiran seorang kakak kepada adiknya, atau sekadar empati seorang kawan kepada temannya yang ceroboh.'
Rahmi menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan isakannya.
'Andai aja, Lan...' lanjutnya dalam batin dengan keputusasaan yang absolut, 'Andai gue wanita yang lu cintai. Andai tatapan khawatir itu lu berikan buat gue sebagai seorang laki-laki, dan bukan untuk Bunga. Tapi gue tahu batas gue. Sedekat apa pun gue sama lu, gue gak akan pernah bisa menang dari seseorang yang udah lama tinggal di hati lu.'
Alan menatap punggung kecil Rahmi yang semakin menjauh. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi. Ia merasa ada yang salah, namun otaknya yang tidak peka pada perasaan wanita gagal menerjemahkan bahasa tubuh Rahmi. Ia akhirnya hanya menghela napas pasrah dan berjalan menyusul Rahmi kembali ke meja depan.
Setibanya mereka kembali di meja pojok, Rahmi tidak langsung duduk. Ia berdiri di samping kursinya, meraih tas ransel hitam miliknya yang tergeletak di atas meja, dan menyampirkannya ke bahu kirinya dengan gerakan cepat dan terburu-buru.
Ardi dan Randi yang sedang menunggu makanan mereka menghentikan aktivitas mereka dan menatap Rahmi dengan bingung. Di saat yang sama, Alan baru saja duduk kembali di kursinya, matanya masih menatap Rahmi dengan penuh selidik. Bunga, yang baru saja selesai melakukan pembayaran di kasir, masih berada di meja pemesanan sambil menunggu minumannya dibuat.
"Gue duluan ya," ucap Rahmi datar, suaranya dibuat senormal mungkin, tanpa memandang wajah siapa pun di meja itu. "Gue mau pulang aja. Gue ngerasa gak enak badan."
Ardi mengerutkan keningnya, menatap Rahmi dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Perasaan lu sering banget dah gak enak badan belakangan ini, Mi. Kemarin sore balik duluan bilangnya pusing, tadi pagi di kampus kabur bilangnya dimajuin PA, sekarang baru nyampe kafe udah mau cabut lagi. Lu penyakitan apa gimana sih?"
"Iya, nih," timpal Randi sambil menggaruk dagunya sok menganalisis. "Atau jangan-jangan lu lagi PMS kali ya, Mi? Perasaan mood lu gampang banget berubah dari pagi. Tadi ketawa-ketawa, sekarang tiba-tiba mendung."
Mendapat tebakan yang setengah benar itu, Rahmi segera memanfaatkannya sebagai tameng pelindungnya. Ini adalah alasan paling sempurna untuk melarikan diri dari neraka ini tanpa menimbulkan kecurigaan lebih lanjut.
"Lah, bawel lu pada!" sembur Rahmi garang, menatap tajam Ardi dan Randi bergantian seolah ingin menguliti mereka. Matanya melotot, memberikan akting terbaiknya sebagai cewek galak. "Iya, gue lagi PMS! Kenapa emangnya?! Nyeri banget nih perut gue rasanya kayak diaduk-aduk! Makanya gue mau pulang sekarang, supaya kalian gak gue cakar tuh mulut lemesnya kalau gue lagi bad mood di sini!"
Ardi dan Randi langsung mengangkat kedua tangan mereka tinggi-tinggi ke udara, tanda menyerah dan tak mau mencari masalah dengan perempuan yang sedang datang bulan.
"Iya, iya, ampun Kanjeng Ratu. Pulang gih sana, istirahat yang bener, minum kiranti biar besok kagak ngamuk lagi," ucap Ardi pasrah.
Rahmi memutar bola matanya malas, lalu pandangannya—dengan sangat terpaksa—beralih menatap Alan yang duduk di depannya. Dada Rahmi kembali nyeri saat menatap wajah itu, namun ia harus memastikan satu hal sebelum pergi. Ia tidak mungkin membiarkan pemuda ceroboh ini terlantar, meski pemuda itu sedang menyakiti hatinya.
"Gue duluan ya," ucap Rahmi kepada Alan, nadanya lebih lembut dari sebelumnya, meski masih terdengar kaku. "Eh, Lan. Motor lu kan di kampus. Lu nanti pulang jam dua belas malam punya ongkos buat naik ojek online gak? Angkot jam segitu udah jarang yang lewat rute sini."
Alan tertegun sejenak. Di saat kondisinya sedang "sakit perut" dan "marah-marah", gadis ini masih saja memikirkan bagaimana cara ia pulang nanti malam. Rasa hangat menjalar di dada Alan. Ia tersenyum, sebuah senyum yang sangat tulus.
"Ada, tenang aja," jawab Alan menenangkan, menepuk saku celananya seolah menunjukkan bahwa ia punya uang di sana. "Uang bonus dari Bang Hendri semalam masih sisa lumayan di dompet, cukup buat bayar ojek dari mari ke kosan. Yang penting kan gue gak telat masuk kerja gara-gara mogok tadi, makanya tadi gue nekat ikut nebeng di mobil lu walau harus jadi supir lu."
Alan tertawa pelan di akhir kalimatnya, mencoba mencairkan suasana yang kaku. Ia berharap Rahmi akan membalas candaannya seperti biasa, memukul lengannya atau melempar tisu ke arahnya.
Namun Rahmi hanya tersenyum sangat tipis. Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
Alan menghentikan tawanya. Mata tajamnya meneliti wajah gadis itu. Di balik senyum tipis itu, Alan melihat sebuah kehampaan yang tak biasa.
'Gue kenal lu bukan baru setahun atau dua tahun, Mi,' batin Alan, suaranya dalam kepalanya bergaung dengan nada khawatir yang jauh lebih pekat dari sebelumnya. Tatapannya seolah ingin menembus pertahanan Rahmi.
'Kita bareng-bareng dari ospek mahasiswa baru. Gue hafal tabiat lu. Lu kalau lagi PMS emang galak, tapi lu gak pernah sekalipun kabur ninggalin kita ngumpul begini. Apalagi sampai muka lu sepucat itu. Lu kenapa, Mi? Ada sesuatu yang lu tutup-tutupin dari gue? Atau... atau mungkin emang lu beneran sakit parah dan lagi masa PMS yang berat?' pikir Alan, berusaha mencari pembenaran atas rasionalitasnya yang tumpul.
Sayangnya, mulut Alan tak mampu menyuarakan isi kepalanya. Ia tidak berani mendesak Rahmi lebih jauh, takut jika ia salah langkah dan malah membuat sahabatnya itu semakin marah.
"Ya udah, syukur deh kalau lu punya ongkos. Gue duluan ya," pamit Rahmi sekali lagi, kali ini suaranya terdengar sangat lelah dan pasrah.
Ia tidak menunggu balasan. Rahmi membalikkan tubuhnya, melangkah menjauhi meja itu. Langkahnya berat, seakan ada bandul besi yang diikat di kedua kakinya. Setiap langkah membawanya semakin jauh dari orang yang paling ia cintai di dunia ini.
Alan menatap kepergian Rahmi. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk berdiri, menahan tangan gadis itu, dan memaksanya duduk kembali untuk bercerita. Namun ia hanya duduk diam, membiarkan bibirnya mengucapkan kalimat perpisahan yang terasa hambar.
"Hati-hati di jalan, Mi," ucap Alan agak pelan, suaranya tertelan oleh bunyi bising mesin kopi. "Kalau udah sampai rumah, langsung kabarin di grup."
Rahmi tidak menoleh, hanya mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat bahwa ia mendengar ucapan Alan.
Sementara itu, Bunga yang kebetulan baru saja berbalik dari arah meja kasir sambil membawa nampan berisi tiga gelas minuman, berdiri terdiam. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan sangat jelas siluet Rahmi yang berjalan keluar dari kafe.
Bunga tidak melihat seorang gadis tomboi yang garang dan penuh semangat seperti yang ia lihat pagi tadi di taman kampus. Bunga melihat seorang wanita yang sedang hancur lebur. Rahmi berjalan menuju pintu keluar dengan bahu yang menunduk lesu, punggung yang membungkuk seolah memikul beban yang sangat berat, dan langkah gontai tak bertenaga yang menyeret lantai.
Lonceng di atas pintu bergemerincing saat Rahmi mendorong pintu kaca itu dan menghilang di balik terik matahari sore Dago.
Bunga menghela napas panjang. Ia menatap nampan di tangannya, lalu menatap Alan yang masih melihat ke arah pintu dengan tatapan kosong.
Sebuah kemenangan kecil telah ia raih hari ini. Ia berhasil mengamankan waktu Alan untuk hari Minggu nanti. Namun, sebagai seorang wanita, ia tahu persis harga dari kemenangan tersebut. Kebahagiaan yang ia bangun dan ia rangkai dengan Alan di atas meja pojok itu, berdiri kokoh di atas reruntuhan hati gadis lain yang baru saja berjalan keluar membawa seluruh cintanya yang tak berbalas. Bunga memilih untuk mengabaikan perasaan bersalah itu, menegakkan bahunya, tersenyum manis, dan melangkah kembali ke meja Alan untuk merayakan kemenangannya.