Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Sogokan yang Gagal
"Toreh saja kalau lo berani."
Riana tidak mundur satu milimeter pun dari wajah beringas Boni. Perempuan berkacamata tebal itu justru mengangkat tangan kanannya perlahan, mendekatkan jari telunjuknya ke mata pisau lipat yang masih tertancap dan bergetar di atas meja kayunya.
Boni mengerutkan kening. Insting membunuhnya mendadak memberikan sinyal bahaya yang sangat aneh. Dia tidak melihat setetes pun keringat ketakutan di wajah HRD culun ini.
Dengan gerakan yang sangat santai dan sama sekali tidak terduga, Riana justru meraih dompet kulit tebal yang menyembul keluar dari saku depan jaket taktis milik Boni. Dia menarik dompet itu dengan satu tarikan mulus sebelum komandan pasukan elit itu sempat bereaksi.
"Heh! Balikin dompet gue, jalang!" bentak Boni, refleks merogoh saku kosongnya.
Riana mengabaikan makian itu. Dia membuka dompet kulit tersebut, menarik keluar lima lembar uang pecahan seratus ribuan berwarna merah yang terlihat sangat baru, lalu melempar dompet kosong itu kembali tepat ke dada Boni.
"Ini buat biaya perbaikan lapisan kayu meja kerja gue yang baru saja lo rusak pakai pisau murahan lo itu," ucap Riana sambil melipat uang tunai tersebut dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya. "Kalau biayanya kurang, gue potong langsung dari gaji bulanan lo."
Boni melongo tidak percaya. Selama hidupnya di dunia bawah tanah yang keras dan kejam, belum pernah ada orang yang berani mencopet dompetnya secara terang-terangan di depan wajahnya sendiri, apalagi menjadikannya denda ganti rugi meja. Anak buah Boni yang berdiri di belakangnya juga ikut ternganga, bingung antara mau marah atau takjub melihat nyali baja sang Manajer HRD.
"Lo benar-benar bosan hidup," geram Boni, tangannya mencengkeram gagang pisau lipatnya untuk dicabut kembali.
Sebelum Boni sempat menarik pisaunya, Riana menekan tombol merah pada interkom sentral yang terhubung ke seluruh sistem pengeras suara di penjuru gedung Aegis Corp.
"Perhatian kepada seluruh staf keamanan dan operasional gedung," suara Riana yang jernih, tegas, dan sangat formal seketika menggema di setiap lantai, dari lobi utama hingga ke garasi bawah tanah. "Gue, Riana, Manajer HRD, mengumumkan bahwa seluruh izin operasional kendaraan untuk Divisi Tempur yang dipimpin oleh Saudara Boni resmi dibatalkan dan dilarang keras untuk hari ini."
Boni membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Saudara Boni terbukti melakukan pelanggaran prosedur administrasi peminjaman aset, merusak properti kantor menggunakan senjata tajam, dan mencoba menyuap staf HRD menggunakan uang tunai. Seluruh kunci mobil van hitam dibekukan. Jika ada staf parkir yang berani menyerahkan kunci tanpa izin tertulis dari gue, staf tersebut akan dipecat secara tidak terhormat detik ini juga."
Klik. Riana mematikan interkom.
Keheningan mutlak langsung menyergap ruangan HRD. Sepuluh anak buah Boni saling pandang dengan raut wajah putus asa. Operasi penyerbuan pelabuhan mereka gagal total sebelum dimulai, dan hancurnya bukan karena digerebek polisi, melainkan karena pengumuman lewat pelantang suara kantor.
Di lantai delapan, tepatnya di area pantri khusus staf kebersihan, Jace sedang mengaduk kopi instan di dalam cangkir kertasnya. Pengumuman Riana yang menggema dari pelantang suara di langit-langit pantri itu membuatnya menghentikan adukannya.
Jace menyandarkan punggungnya ke meja dapur dan tertawa tertahan hingga bahunya bergetar. Dia merogoh saku celananya, menatap layar ponselnya yang menampilkan peta pelabuhan kargo milik Diwantara Group. Titik-titik merah pertahanan keluarganya sudah menyala bersiaga sejak dua jam lalu, menunggu serangan brutal dari pasukan Aegis Corp.
"Batal," gumam Jace pelan, senyum puas mengembang di wajah tampannya. "Tidak ada baku tembak malam ini. Pelabuhan keluargaku selamat murni karena formulir H min tiga dan ancaman denda potong gaji."
Jace menyesap kopinya perlahan. Matanya menatap tajam ke arah interkom di langit-langit. HRD culun bernama Riana itu kembali membuktikan betapa berbahayanya dirinya.
Perempuan itu bisa merusak rencana operasi militer bernilai miliaran rupiah hanya dari balik meja kerjanya tanpa perlu menembakkan satu peluru pun. Jace sangat yakin sekarang, Riana adalah Kara. Tidak ada orang kantoran biasa yang punya nyali menantang Boni sang penjagal secara langsung.
Sementara itu, di lantai lima belas, Boni menatap Riana dengan napas memburu. Dadanya naik turun menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia ingin sekali memotong leher perempuan berkacamata ini sekarang juga. Tapi pengumuman barusan berarti seluruh gedung sudah tahu dia ada di ruangan ini. Kalau HRD ini mati dibunuh sekarang, CEO pasti akan langsung mencincang tubuh Boni sebagai tersangka utama perusak audit.
"Tarik pasukan mundur," perintah Boni dengan suara serak menahan geram. Dia menarik pisau lipatnya dari meja dan menyarungkannya kembali.
Anak buahnya terlihat ragu, tapi mereka menurut dan mulai berjalan keluar ruangan dengan langkah berat dan wajah tertunduk malu.
Boni menatap Riana untuk terakhir kalinya sebelum pergi. "Jangan pikir lo menang, Nona Kacamata. Lo cuma memperpanjang nyawa lo beberapa jam saja."
Riana hanya membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk. "Jangan lupa tutup pintunya saat lo keluar. AC di ruangan ini bocor keluar."
Boni berbalik badan tanpa membalas lagi. Dia membanting pintu kaca HRD dengan tenaga penuh hingga terdengar suara retakan kecil di engselnya. Riana kembali menarik keyboardnya dan mengetik seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Boni membawa pasukannya kembali ke markas bawah tanah mereka. Begitu pintu ruang kedap suara tertutup, Boni membanting helm tempurnya ke dinding hingga pecah berkeping-keping. Napasnya memburu seperti banteng gila.
"Komandan, kita lapor bos besar soal kelakuan HRD itu?" tanya salah satu anak buahnya dengan hati-hati.
"Lapor buat apa, idiot?! Bos besar yang kasih HRD sialan itu wewenang mutlak buat beresin audit!" bentak Boni murka. Dia berjalan mondar-mandir menendang apa saja yang ada di lantai. "Kalau kita gagal serbu pelabuhan malam ini, faksi kita bakal dianggap lemah sama dewan direksi. Kita bisa digeser dari posisi tempur utama!"
"Lalu kita harus bagaimana, Komandan? Uang pelicin sudah ditahan sama HRD, sekarang mobil operasional juga diblokir. Kita mati kutu," keluh anak buah yang lain.
Boni berhenti melangkah. Matanya menatap tajam ke arah deretan lemari besi penyimpanan senjata di sudut ruangan. Senyum miring yang sangat kejam, sadis, dan haus darah perlahan mengembang di wajah kasarnya yang penuh luka.
Dia membuka salah satu laci rahasia di bagian bawah lemari besi, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berwarna hitam legam. Boni membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, tersusun rapi lima buah pisau lempar berukuran kecil dengan bilah melengkung tajam. Bilah pisau itu berwarna agak kebiruan, menandakan bahwa logamnya sudah dilapisi racun mematikan berdosis tinggi.
"Kita tidak jadi menyerbu pelabuhan malam ini," ucap Boni pelan, suaranya terdengar seperti bisikan iblis. "Kita punya target baru yang jauh lebih mendesak untuk dibersihkan."
Boni membagikan pisau beracun itu kepada empat orang anak buah kepercayaannya yang paling lihai bergerak tanpa suara.
"Preman parkiran si Gideon terlalu bodoh pakai tongkat besi dan bikin ribut. Kita tidak akan mengulangi kesalahan amatiran itu," instruksi Boni dengan tatapan mata membunuh yang sangat pekat. "Malam ini, kita bergerak pakai pakaian hitam. Jangan bawa senjata api. Tidak boleh ada suara ledakan yang memancing polisi atau alarm keamanan."
Boni menggenggam pisau beracun itu erat-erat. "Kita iris leher HRD sialan itu tanpa suara. Pastikan dia mati kehabisan napas di ruangannya sendiri malam ini juga."
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪