Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 gema logam hitam dan api pucat
Pagi di Puncak Qingyun kini memiliki ritme baru.
Matahari belum sepenuhnya terbit, tetapi suara hup-hup semangat dari Li Yun sudah terdengar di halaman latihan. Bocah itu mengayunkan pedang kayu—hadiah dari Su Lang—dengan keringat yang bercucuran deras, membelah udara dingin musim dingin. Di sisi lain, asap tipis mengepul dari cerobong dapur, membawa aroma bubur herbal yang dimasak oleh Lin Yue. Xiao Me, dengan sapu lidi yang hampir lebih tinggi dari tubuhnya, menyapu daun-daun pinus yang gugur di sekitar teras Aula Utama.
Su Lang mengamati semua ini dari jendela kamarnya di lantai dua Menara Pengumpul Qi. Ini adalah pemandangan yang damai, pemandangan yang ia perjuangkan dengan darah.
Namun, ketenangan Su Lang terganggu oleh getaran halus di dalam saku penyimpanannya.
Pecahan Kuali Penempa Surga.
Sejak ia membawanya naik ke gunung, benda itu seolah "bangun". Mungkin karena aura spiritual di sini lebih murni berkat formasi baru, atau mungkin karena benda itu merespons kehadiran sistem Su Lang.
Su Lang duduk bersila di tengah ruangan menara. Dia mengeluarkan pecahan logam hitam itu. Bentuknya kasar, tidak beraturan, seperti sebongkah batu meteor yang hangus. Namun, permukaannya terasa hangat, kontras dengan udara menara yang sejuk.
"Sistem, analisis ulang fragmen ini."
[Memproses...]
[Nama: Fragmen Kuali Penempa Surga (Bagian Dasar)]
[Status: Tidur (Energi Rendah)]
[Fungsi Aktif: Penarik Qi Pasif (Menyerap 5% Qi lingkungan untuk memperbaiki diri sendiri).]
[Fungsi Tersembunyi: Resonansi Api (Dapat memurnikan material jika dialiri Api Qi).]
"Menyerap 5% Qi lingkungan?" Su Lang mengernyit. Pantas saja dia merasa konsentrasi Qi di menara ini sedikit berfluktuasi. Benda ini seperti parasit kecil. Namun, jika benda ini benar-benar artefak legendaris, 5% adalah harga yang murah.
Su Lang meletakkan fragmen itu di lantai. Dia mengeluarkan Pedang Angin Dingin yang dia jarah dari gudang Sekte Besi Hitam.
Pedang itu adalah senjata Tingkat Roh Kelas Rendah. Bilahnya tajam, memancarkan hawa dingin, tapi ada retakan halus di dekat gagangnya—tanda bahwa pemilik sebelumnya (Sekte Besi Hitam) tidak merawatnya dengan baik atau gagal saat menempanya.
"Di dunia kultivasi, senjata adalah nyawa kedua," gumam Su Lang. "Aku tidak bisa mempercayakan nyawaku pada pedang yang cacat."
Dia ingat fungsi Resonansi Api dari fragmen kuali. Su Lang belum memiliki Api Jiwa (kemampuan alkemis tingkat tinggi), tapi dia memiliki Qi yang bisa digesekkan untuk menghasilkan panas.
Su Lang meletakkan bilah pedang di atas fragmen hitam itu. Dia menutup mata, memusatkan Qi-nya ke telapak tangan, lalu menekannya ke fragmen tersebut.
"Bangunlah."
Wuuung...
Suara dengungan rendah bergema di dalam menara. Fragmen itu tidak menyala terang, melainkan menyerap cahaya di sekitarnya, menjadi semakin hitam pekat. Tiba-tiba, gelombang panas yang aneh—panas yang tidak membakar kulit tapi membakar energi—menjalar dari fragmen ke bilah pedang.
Retakan halus di gagang Pedang Angin Dingin mulai bersinar merah.
Su Lang berkeringat. Qi-nya tersedot dengan cepat, jauh lebih cepat daripada saat bertarung.
"Ini gila... benda ini memakan Qi-ku seperti air!"
Tapi dia tidak berhenti. Dia melihat kotoran-kotoran logam (impurities) keluar dari pori-pori besi pedang itu dalam bentuk asap hitam berbau belerang. Fragmen kuali itu bertindak sebagai filter, memurnikan struktur logam pedang.
Satu jam berlalu. Wajah Su Lang pucat pasi.
[Ding!]
[Pemurnian Selesai.]
[Pedang Angin Dingin -> Pedang Angin Murni (Tingkat Roh Kelas Menengah).]
[Atribut Tambahan: Ketajaman +20%, Kecepatan Aliran Qi +10%.]
Su Lang menarik tangannya dan jatuh telentang, napasnya memburu. Dia berhasil. Dia menaikkan tingkat senjata hanya dengan pecahan rongsokan ini.
Namun, dia tidak menyadari satu hal.
Saat proses pemurnian tadi, gelombang energi yang dilepaskan fragmen itu menembus dinding menara, menembus kabut formasi sekte, dan menyebar ke hutan belantara di belakang gunung. Bagi manusia, gelombang itu tidak terasa. Tapi bagi makhluk spiritual yang peka... itu adalah undangan makan malam.
Siang harinya, suasana sekte sedikit tegang.
Su Lang turun dari menara dengan wajah lelah namun puas. Pedang di pinggangnya kini terlihat lebih ramping dan berkilau kebiruan.
"Guru, Anda baik-baik saja?" Lin Yue menyambutnya dengan semangkuk teh ginseng hangat. Dia sangat peka terhadap perubahan kondisi fisik Su Lang.
"Hanya sedikit lelah karena eksperimen," jawab Su Lang, menerima teh itu. Jari mereka bersentuhan sejenak. Kulit Lin Yue terasa dingin—efek dari Tubuh Yin Murni-nya.
"Obatmu... apakah sudah kau minum?" tanya Su Lang.
Lin Yue menunduk hormat. "Sudah, Guru. Resep yang Guru berikan sangat ajaib. Rasa sakit di tulang saya setiap malam sudah berkurang drastis. Saya... saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih."
"Bagus. Fokuslah pada penyembuhan. Nanti, kau juga harus mulai berlatih kultivasi. Tubuh Yin Murni sangat kuat jika dikendalikan."
Tiba-tiba, Li Yun berlari dari arah gerbang depan.
"Guru! Guru!"
"Ada apa? Apakah ada musuh?" Su Lang meletakkan cangkirnya, tangannya refleks memegang gagang pedang.
"Bukan manusia, Guru! Tapi... burung-burung di hutan... mereka semua terbang pergi! Dan suasananya jadi sunyi sekali. Aneh sekali!"
Insting Su Lang menajam. Hutan yang tiba-tiba sunyi adalah tanda klasik kehadiran predator puncak.
"Semuanya, mundur ke Aula Utama!" perintah Su Lang tegas.
Baru saja dia menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan hitam melesat dari atas atap dapur.
Sreeet!
Atap jerami dapur terkoyak dalam sekejap.
Seekor makhluk mendarat dengan anggun di tengah halaman. Itu bukan harimau atau serigala. Itu adalah seekor kucing besar seukuran macan tutul, dengan bulu sehitam malam dan sepasang mata hijau yang menyala. Yang paling mencolok adalah ekornya yang bercabang dua, bergerak-gerak hipnotis.
[Peringatan: Mendeteksi Hewan Roh Tingkat 2 Puncak!]
[Spesies: Musang Bayangan Bulan (Moon Shadow Civet).]
[Karakteristik: Kecepatan ekstrem, manipulasi bayangan, agresif.]
"Tingkat 2 Puncak..." Su Lang mendesis. Itu setara dengan kultivator Qi Condensation Tingkat 5 atau 6. Jauh lebih kuat dari Beruang Salju yang dia bunuh sebelumnya.
Musang itu menggeram rendah, matanya terpaku pada saku penyimpanan di pinggang Su Lang—tempat pecahan kuali berada. Hewan itu tertarik pada sisa aura murni yang menempel di sana.
"Masuk ke aula! Kunci pintunya!" teriak Su Lang pada Lin Yue dan murid-muridnya.
Lin Yue ragu sejenak, ingin membantu, tapi dia tahu dia hanya akan menjadi beban. Dia menyeret Xiao Me dan Li Yun masuk, lalu membanting pintu aula hingga tertutup.
Kini, hanya ada Su Lang dan Musang Bayangan di halaman bersalju itu.
"Kau menginginkan ini?" Su Lang menepuk sakunya. "Datang dan ambil."
Musang itu tidak butuh provokasi. Dia menghilang.
Ya, benar-benar menghilang bagi mata orang biasa. Tapi bagi Su Lang yang memiliki persepsi sistem, dia melihat garis pergerakan energi yang sangat cepat.
Kiri!
Su Lang melompat ke kanan menggunakan Langkah Bayangan Awan.
Wuuush!
Cakar musang itu menebas tempat Su Lang berdiri seperseribu detik yang lalu. Tiga goresan dalam tercipta di lantai batu, memercikkan api.
"Cepat sekali," batin Su Lang. Kecepatannya jauh melampaui Ma Zhen. Jika Ma Zhen adalah batu besar yang menghantam, musang ini adalah pisau cukur yang tak terlihat.
Su Lang mencabut Pedang Angin Murni-nya.
"Ayo kita lihat ketajamanmu."
Pertarungan dimulai. Su Lang tidak bisa menyerang, dia sepenuhnya defensif. Musang itu melompat dari pilar ke atap, dari atap ke tanah, menyerang dari sudut-sudut buta.
Trang! Trang! Trang!
Suara logam beradu dengan cakar yang diperkuat Qi bergema di seluruh lembah. Setiap benturan membuat lengan Su Lang mati rasa. Musang itu terlalu kuat dan terlalu cepat.
Satu sabetan cakar berhasil lolos dari pertahanan Su Lang, merobek lengan jubah kirinya dan meninggalkan tiga garis luka berdarah di kulitnya.
"Akh!" Su Lang meringis, mundur beberapa langkah.
Darah menetes. Bau darah itu membuat mata musang semakin bersinar buas. Dia menjilat bibirnya, siap untuk serangan terakhir yang mematikan.
Su Lang memutar otak. Dia tidak bisa menang dalam adu kecepatan. Dia harus membatasi pergerakan hewan ini.
Matanya melirik ke arah Menara Pengumpul Qi. Bangunan itu memiliki formasi penyerap energi yang kuat.
Su Lang berlari menuju menara.
Musang itu mengejar, berpikir mangsanya mencoba kabur.
Saat Su Lang sampai di depan pintu menara, dia berbalik mendadak. Musang itu sudah melompat di udara, cakarnya terarah ke tenggorokan Su Lang.
"Sistem! Overdrive Formasi Menara! Balikkan aliran Qi!"
[Peringatan: Membalikkan aliran akan menciptakan tekanan gravitasi berat di radius 5 meter. Biaya: 10 Poin Dedikasi.]
"Lakukan!"
BOOM!
Udara di depan menara tiba-tiba menjadi sangat berat. Tekanan Qi yang biasanya menyebar keluar, kini menyedot ke dalam dengan kekuatan gravitasi yang mengerikan.
Musang yang sedang melayang di udara itu tiba-tiba seperti ditarik oleh tangan raksasa tak terlihat. Tubuhnya terbanting keras ke tanah.
Brukk!
Hewan itu mengeong kesakitan, mencoba berdiri, tapi tekanannya setara dengan memikul batu seberat satu ton. Tulang-tulangnya berderit.
Su Lang, sebagai pemilik formasi, tidak terpengaruh oleh tekanan itu.
"Sekarang kau tidak bisa lari," kata Su Lang dingin.
Dia melangkah maju. Pedang Angin Murni di tangannya bersinar biru terang. Dia mengalirkan seluruh sisa Qi-nya ke dalam pedang itu. Atribut Kecepatan Aliran Qi +10% dari pedang barunya membuat pengumpulan tenaga menjadi instan.
"Tebasan Pemutus Bayangan!"
Su Lang mengayunkan pedangnya vertikal.
Bilah pedang itu membelah udara, membelah tekanan gravitasi, dan akhirnya... membelah leher musang yang tak berdaya itu.
Kepala musang itu menggelinding. Tubuhnya mengejang sebentar sebelum akhirnya diam.
[Membunuh Musang Bayangan Bulan (Tingkat 2 Puncak).]
[Hadiah: Inti Monster (Neidan) Atribut Bayangan, Kulit Musang Utuh, 15 Poin Dedikasi.]
Su Lang membatalkan overdrive formasi. Tekanan udara kembali normal. Dia jatuh berlutut, menggunakan pedangnya sebagai tongkat penyangga. Napasnya berat. Luka di lengan kirinya perih bukan main. Racun ringan dari cakar musang mulai menyebar, membuat pandangannya sedikit kabur.
Pintu Aula Utama terbuka. Lin Yue berlari keluar paling depan, wajahnya pucat pasi melihat darah di lengan Su Lang.
"Guru!"
Lin Yue menangkap tubuh Su Lang yang hampir ambruk. Aroma tubuh Lin Yue yang seperti bunga lili dingin menyapa hidung Su Lang, memberikan sedikit kenyamanan di tengah rasa sakit.
"Aku... baik-baik saja," racau Su Lang. "Ambil inti monsternya... jangan sampai energinya hilang."
"Lupakan monsternya!" seru Lin Yue, nada suaranya panik namun tegas—sisi lain dirinya yang jarang terlihat. "Anda terluka parah!"
Lin Yue memapah Su Lang masuk ke kamarnya di pondok belakang aula (karena kamar menara terlalu tinggi untuk didaki dalam kondisi ini). Li Yun dan Xiao Me mengikuti dengan wajah cemas membawa air hangat dan kain bersih.
Di dalam kamar yang hangat, Lin Yue menyuruh anak-anak keluar.
"Li Yun, jaga pintu. Xiao Me, ambilkan herbal penahan nyeri di dapur."
Setelah mereka keluar, Lin Yue dengan hati-hati membuka sisa lengan jubah Su Lang yang robek. Tiga luka cakar itu dalam, daging di sekitarnya berwarna ungu karena racun Yin dari musang.
"Ini racun Yin," gumam Lin Yue. Dia menatap Su Lang. "Guru, herbal biasa akan lambat bereaksi. Tapi... tubuh saya adalah Tubuh Yin Murni. Saya bisa menarik racun Yin ini keluar."
Su Lang membuka matanya yang berat. "Itu berbahaya bagimu, Lin Yue. Kau baru saja sembuh."
"Tidak apa-apa," Lin Yue menggeleng tegas. Ada tekad baja di matanya. "Anda memberi saya kehidupan. Sedikit racun tidak akan membunuh saya."
Lin Yue meletakkan kedua telapak tangannya di atas luka Su Lang. Dia menutup mata, berkonsentrasi. Suasana di kamar itu menjadi hening dan intim. Su Lang bisa merasakan tangan Lin Yue yang dingin dan lembut menyedot rasa panas dan sakit dari lukanya.
Benang-benang energi hitam perlahan keluar dari luka Su Lang, berpindah ke tangan Lin Yue, lalu diserap dan dinetralkan oleh tubuh unik wanita itu. Bagi orang lain, racun ini mematikan. Bagi Lin Yue, ini seperti makanan tambahan, meski menyakitkan saat prosesnya.
Wajah Lin Yue memerah, keringat dingin menetes di pelipisnya. Bibirnya sedikit terbuka, mendesah pelan menahan sensasi aneh dari penyatuan energi mereka.
Su Lang menatap wajah wanita itu dari jarak dekat. Bulu matanya yang lentik, garis rahangnya yang halus. Dia menyadari bahwa wanita yang ia selamatkan ini bukan sekadar pelayan. Dia adalah mitra kultivasi yang potensial.
Setelah sepuluh menit, luka Su Lang berubah warna menjadi merah segar—tanda racunnya hilang. Lin Yue menarik napas panjang dan jatuh lemas ke dada Su Lang.
Su Lang refleks menangkapnya dengan tangan kanannya yang sehat.
"Lin Yue..."
"Saya baik-baik saja, Guru," bisik Lin Yue, tidak buru-buru bangun dari pelukan itu. Dia merasa aman di sana. "Hanya... sedikit pusing."
Su Lang membiarkannya bersandar sejenak. "Kau menyelamatkanku. Terima kasih."
Lin Yue tersenyum lemah. "Itu tugas saya."
Malam itu, Su Lang tidak bisa tidur. Dia duduk di tepi tempat tidur, memikirkan kejadian hari ini.
Kemenangan atas musang itu memberinya pelajaran penting: Puncak Qingyun tidak aman hanya karena manusia sudah pergi. Hutan ini penuh monster. Dan Pecahan Kuali itu... benda itu adalah pedang bermata dua.
"Benda itu menarik monster," simpul Su Lang. "Tapi itu juga yang membantuku menempa pedang yang bisa membunuh monster itu."
Su Lang mengambil keputusan. Dia tidak akan menyembunyikan pecahan itu selamanya. Dia akan menggunakannya. Tapi dia harus membangun ruang isolasi khusus agar auranya tidak bocor lagi.
Besok, dia akan menggunakan kulit Musang Bayangan dan Inti Monster itu untuk membuat jubah pelindung bagi Lin Yue dan Li Yun.
Di luar, salju mulai turun lagi, menutup jejak pertarungan, menutup darah musang, dan menyelimuti sekte dalam keheningan putih.
Tapi di dalam hati Su Lang, api ambisi semakin besar menyala. Dia bukan lagi korban yang bertahan hidup. Dia adalah pemburu yang sedang mengasah taringnya.