NovelToon NovelToon
Bukan Cinderella Sekolah: Deal Sinting Sang Pangeran Sekolah

Bukan Cinderella Sekolah: Deal Sinting Sang Pangeran Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Si Mujur / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:113
Nilai: 5
Nama Author: Dagelan

Kayyisa nggak pernah mimpi jadi Cinderella.
Dia cuma siswi biasa yang kerja sambilan, berjuang buat bayar SPP, dan hidup di sekolah penuh anak sultan.

Sampai Cakra Adinata Putra — pangeran sekolah paling populer — tiba-tiba datang dengan tawaran absurd:
“Jadi pacar pura-pura gue. Sebulan aja. Gue bayar.”

Awalnya cuma kesepakatan sinting. Tapi makin lama, batas antara pura-pura dan perasaan nyata mulai kabur.

Dan di balik senyum sempurna Darel, Reva pelan-pelan menemukan luka yang bahkan cinta pun sulit menyembuhkan.
Karena ini bukan dongeng tentang sepatu kaca.

Ini kisah tentang dua dunia yang bertabrakan… dan satu hati yang diam-diam jatuh di tempat yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dagelan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Makan Siang Rahasia di Meja Tengah

Kalau ada pelajaran yang aku dapet dari seminggu terakhir ini, itu adalah: pura-pura pacaran ternyata lebih ribet daripada pacaran beneran.

Beneran, deh.

Apalagi kalau pacarnya—eh, maksudku “partner kegilaan”—adalah Cakra Adinata.

Cowok yang setiap langkahnya bisa bikin seisi sekolah berhenti makan dan mulai bisik-bisik.

Hari ini, aku dan dia sepakat buat latihan di tempat paling “biasa” biar bisa nge-blend: kantin sekolah.

Tapi begitu aku masuk ke sana, aku langsung nyesel.

Kantin sore itu rame banget. Anak-anak nongkrong, geng cheerleader tertawa keras, dan meja tengah penuh tatapan.

Sementara aku, dengan nampan berisi nasi goreng dan es teh, jalan nyari tempat duduk kayak ninja takut ketahuan.

Tapi ya jelas—sialnya—Cakra udah duduk di meja paling tengah, paling kelihatan, dan paling strategis buat ditatap satu sekolah.

Dan dia melambai pelan ke arahku.

Lambaiannya aja udah kayak slow motion.

“Lo sengaja duduk di situ, ya?” tanyaku dengan suara pelan waktu duduk di seberangnya.

Dia nyengir. “Latihan yang bagus tuh harus di tengah keramaian, bukan di pojokan.”

“Latihan atau mau masuk headline gosip sekolah besok pagi?”

Dia ngakak kecil. “Lowkey, tapi real. Itu konsep kita, kan?”

Aku melotot kecil. “Lowkey tuh bukan artinya duduk di tengah kayak spotlight, Cak.”

Dia nyengir lagi. “Tenang aja, kita keliatan natural kok.”

Natural kepala bapak lo.

Aku bahkan belum buka sendok, udah ada dua meja di belakang yang bisik-bisik sambil nyengir ke arah kami.

Aku coba fokus makan, tapi dari tadi dia terus ngelakuin hal-hal kecil yang bikin jantungku kayak ditusuk garpu. Contohnya, dia sengaja ngambilin aku sambal, bilang pelan,

“Lo suka yang pedes, kan?”

Atau tiba-tiba nyenggol tanganku waktu ngasih tisu, terus dengan santai bilang,

“Ups, sorry.”

Dan semua itu… kelihatannya kecil. Tapi buat aku yang lagi pura-pura tenang, itu kayak ujian sabar nasional.

“Lo sadar gak, semua orang sekarang lagi pura-pura gak ngeliatin kita?” bisikku pelan.

Dia cuma nyengir. “Berarti kita berhasil.”

“Cak, ini bukan akting. Ini—”

“Shh,” potongnya. “Kalau lo terus ngomong kayak gitu, malah keliatan fake.”

Aduh, sumpah, aku pengen nimpuk dia pake sendok.

Tapi yang keluar malah desahan lelah.

Oke, fine. Aku ikut ritmenya.

Kita duduk di sana, pura-pura ngobrol santai. Tapi beneran — Cakra tuh jago banget.

Dia gak lebay, gak sok mesra, tapi ada cara dia ngomong yang bikin semuanya keliatan tulus.

Kayak dia udah biasa ngobrol sama aku.

Kayak kita emang beneran deket.

Dan itu… agak berbahaya.

“Kay, lo sadar gak?”

“Apa?”

“Kita udah sedikit keliatan kayak pasangan beneran.”

Aku nyengir miring. “Lo ngomong kayak gitu bikin semua konsep lowkey kita ambruk, tau gak?”

Dia ketawa pelan, ngaduk es tehnya.

“Tapi ini bagian dari strategi juga. Kalau hubungan pura-pura keliatan terlalu sempurna, orang malah curiga. Jadi kadang kita harus kelihatan kayak dua orang yang… beneran nyaman aja.”

Aku menatapnya lama.

Dan, anehnya, nyaman itu beneran ada.

Maksudku, walau aku tau ini cuma latihan, tapi ada momen kecil yang terasa terlalu natural.

Cara dia nunduk sedikit waktu dengerin aku ngomong, atau gimana dia sesekali melempar senyum kecil waktu aku nyengir sendiri.

Aku beneran lupa kalau semua ini cuma pura-pura.

Sampai akhirnya… suara seseorang nyelip dari belakang.

“Cakra? Kamu di sini?”

Suara itu bikin Cakra refleks tegak. Aku langsung berhenti ngunyah. Dan pas aku noleh—aku ngeliat seorang perempuan paruh baya berdiri di dekat pintu kantin, pakai kemeja rapi dan kacamata hitam tipis.

Aku bahkan gak butuh dua detik buat sadar: itu Ibunya.

Jantungku langsung copot. Oke, mungkin gak literally copot, tapi rasanya kayak ada yang nyeplos dari dada ke perut.

Cakra buru-buru berdiri, senyumnya langsung berubah jadi versi paling sopan dan tenang.

“Mama? Kok di sini?”

“Kebetulan lewat habis rapat komite sekolah,” jawab ibunya. “Tadi Ibu lihat kamu dari jauh.”

Aku refleks ikut berdiri, senyum setipis mungkin.

“Selamat siang, Tante.”

Beliau menatapku sebentar, sopan tapi dingin. “Teman sekolahmu?”

Cakra cepat banget jawab, “Iya, Ma. Teman kelompok proyek literasi.”

Aku hampir tepuk tangan di tempat.

Proyek literasi. Ya Tuhan, bagus banget alasannya.

Lowkey, tapi selamat dari maut.

Ibunya cuma angguk pelan. “Baiklah. Ibu senang kamu mulai aktif di kegiatan sekolah.”

Cakra tersenyum, dan aku bisa liat sedikit ketegangan di rahangnya.

“Iya, Ma. Kayyisa bantu aku banyak.”

Oke, itu kalimat sederhana, tapi entah kenapa suaranya… lembut banget. Dan buat sepersekian detik, aku beneran lupa kalau dia cuma bohong.

Ibunya akhirnya pamit, dan setelah beliau keluar, aku langsung duduk lagi sambil tepuk dada.

“Cak, demi apapun, gue hampir mati barusan.”

Dia ngakak kecil, lalu ikut duduk. “Makanya gue bilang latihan di kantin tuh penting. Lo gak pernah tahu kapan ‘penonton’ bakal dateng.”

Aku menatapnya tajam. “Kalau yang dateng Papa lo juga gimana?”

Cakra senyum tipis, tapi matanya menatap kosong sebentar. “Kalau Papa gue yang dateng, kita gak bisa bohong segampang itu.”

Nada suaranya berubah. Ada sesuatu di balik kalimat itu—sedikit berat, sedikit pahit.

Tapi dia buru-buru ganti topik.

“Udah, makan lagi. Lo belum abis tuh.”

Aku cuma menghela napas pelan, menatapnya lama sebelum akhirnya tersenyum kecil.

“Cakra Adinata… lo tuh bikin jantung gue kerja lembur, tau gak?”

Dia ketawa kecil, menunduk. “Ya biar latihan kita makin real.”

Dan anehnya, di tengah hiruk pikuk kantin, semua pura-pura itu tiba-tiba terasa terlalu nyata.

Mungkin karena kami akan terbiasa memerankan peran ini.

✨ Bersambung...

1
Yohana
Gila seru abis!
∠?oq╄uetry┆
Gak sabar nih nunggu kelanjutannya, semangat thor!
Biasaaja_kata: Makasih banyak ya! 😍 Senang banget masih ada yang nungguin kelanjutannya. Lagi aku garap nih, semoga gak kalah seru dari sebelumnya 💪✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!