Pernikahan yang awalnya didasari rasa saling cinta, harus berakhir karena sang istri yang tak kunjung hamil selama 3 tahun pernikahan.
Benarkah sang istri yang mandul?
Setelah itu mantan suami masih datang mengganggu saat mantan istri membuka hati pada pria lain. Siapakah yang akan dia pilih?
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Hampir Saja
******
"Aaaa! Allohu Akbar!"
pekik Yulia membuat orang yang mendengar, menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada sebuah mobil yang berhenti tepat didepan tubuh Yulia. Yulia yang berusaha menghindari mobil, mundur lagi dan jatuh terduduk di trotoar. Ia berusaha bangkit sambil meringis karena pantatnya terasa sakit.
"Tante Yulia!" sebuah teriakan dan membuat Yulia menoleh ke mobil yang berhenti. Ternyata mobil bos Romi yang tadi mau menabraknya. Seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat berusaha membantu Yulia berdiri.
"Hati hati dong mbak kalau mau nyebrang!" kata wanita muda itu meneruskan perjalanannya kembali. Yulia hanya mengangguk dan mengucap terima kasih. Orang orang yang tadi melihat kearahnya kini sudah kembali ke aktivitas masing masing.
Kini, ada tiga orang yang yang berdiri di hadapannya dengan raut khawatir. Terutama wanita setengah baya dan seorang anak kecil. Sedang sang pria pengemudi mobil malah terlihat kesal.
"Gimana sih kamu, nyebrang kok gak lihat kanan kiri dulu. Memang punya nyawa berapa sih kau ini?" ucapnya ketus. Wanita yang disampingnya menepuk kasar lengannya.
"Kamu ini gimana sih Rom, bukannya minta maaf, malah marah marah. Gimanapun keadaannya kalau polisi lihat, kita juga yang disalahkan." omel ibu itu.
"Maaf pak, saya benar benar tidak lihat tadi mobil bapak makanya saya nyebrang begitu saja." ucap Yulia sambil meringis. Sepertinya kakinya terkilir.
"Merepotkan saja!" gumam Romi lirih namun masih bisa didengar Yulia.
"Rom, kalau sikap kamu sama wanita kayak gitu, bagaimana bisa kamu dapat jodoh lagi? Yang ada perempuan pada gak kerasan deket deket kamuI" omel ibu itu lagi.
Perhatian mereka tersita tatkala Shila bertanya pada Yulia. "Tante, kaki Tante sakit ya? Ayah aku bisa mengurut loh Tante?"
"Iya Romi, urut tuh kaki gadis itu. Siapa tahu kakinya keseleo." kata ibu itu menirukan Shila. " Kamu bisa duduk di kursi situ, Nak Yulia?" Ibu menunjuk sebuah kursi plastik milik tukang nasi goreng. Romi menatap tajam anaknya, Yulia yamg sempat meliriknya tadi serba salah melihat Romi sepertinya kesal pada anak dan ibunya. Sang ibu berjalan kearah pedagang nasi goreng dan meminta izin untuk meminjam kursinya sebentar. Terlihat pedagang mengangguk, lalu ibu membawa kursi itu pada Yulia.
"Kamu bisa duduk disini, Nak Yulia. Biar Romi mengurut kaki kamu." perintahnya kemudian. Yulia merasa tak enak hati pada ibu itu, namun lebih tak enak pula melihat tatapan tajam mata elang Bos Romi.
"Eh tidak usah Bu, saya, saya baik baik saja kok." Yulia mencoba berjalan, namun ia harus menahan sakit dan menahan untuk tidak teriak.
"Nah kan. Kaki kamu sakit kan? Menurut aja sama ibu!" ternyata kakinya benar terkilir, rasanya sakit sekali.
"Makanya jangan bandel suruh duduk aja susah amat." Romi menyela dengan ketus. Akhirnya Yulia menurut. Ia duduk, Romi mendekati Yulia dan berjongkok didepannya.
Ia lalu melepas sepatu Yulia, memulai memijit kaki tertutup kaos kaki itu perlahan. Yulia menggigit bibirnya agar sakitnya berkurang. Romi sedikit menyingkap rok bawah Yulia yang menutupi mata kaki agak keatas.
"Maaf! Aku naikin rok kamu! "ucapnya tanpa memandang Yulia. Romi menelan ludah melihat kaki putih mulus Yulia. Itu baru kali loh!
Setelah beberapa saat memijit, dan "Aaaa!" pekik Yulia tiba tiba karena Romi menarik kaki yang keseleo. Yulis menangis menahan sakit.
"Sudah, coba berdiri!" ucap Romi melihat kaki Yulia. Yulia menurut, ia lalu mencoba berdiri pelan pelan. Berpegangan pada kursi plastik yang baru ia duduki. Dan Ia heran karena tidak merasa sakit lagi.
Yulia tersenyum senang.
"Terima kasih, pak Romi." ucap Yulia berterima kasih. Bos Romi hanya diam saja.
"Gimana? apa masih ada yang sakit?"
Tanya Bos jutek pada Yulia, dan Yulia menggeleng cepat
Yulia menggeleng dan tersenyum.
"Sudah tak sakit lagi." kata Yulia.
"Ah, kakiku udah sembuh. Terima kasih, sekali lagi terima kasih." ucap Yulia yang tak sadar reflek memegang dan mengguncang tangan Romi didepannya.
Ia langsung mengibaskan tangan itu saat melihat tatapan tak suka dari bos juteknya.
"Maaf!" kata Yulia yang disambut tawa cekikikan Shila. Kemudian Shila mendekat pada Yulia.
"Alhamdulillah! Kaki Tante sudah sembuh." memegang tangan Yulia dan mendongak.
"Oiya, Nak Yulia. Kata Shila kamu ngajarin ngaji dia ya? Terima kasih ya." Yulia hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
"Sama sama, Bu. Saya akan ajarin Shila ngaji selagi saya bisa." ucap Yulia merendah.
"Kalau begitu saya permisi pulang. Ibu saya pasti sudah menunggu."
"Assalamu'alaikum."
"waalaikum salam." jawab Romi dan ibunya. Namun tangan Shila masih menahan tangan Yulia untuk tidak pergi.
"Nenek, Ayah! Aku sudah laper banget pengen makan ayam goreng!" rengek Shila karena ia lapar.
"Kita ajak Tante Yulia makan ya, Ayah?" sekilas Yulia menatap bos Romi yang juga melihat padanya.
"Shila. Tante tadi udah makan kok. masih kenyang. Jadi Shila makan sama Nenek sama Ayah Shila ya? Tante mau pulang dulu!" bujuk Yulia agar Shila mau melepaskan tangannya yang menggenggam ujung baju Yulia. Namun Shila menggeleng.
" Shila, ayo kita pergi dari sini, katanya lapar! Tadi Shila udah denger kan kalau Tante itu sudah makan?" ucap Romi lembut pada anaknya. Ia berusaha menarik Shila, namun Shila tak mau melepas Yulia.
"Shila benar, kita ajak Yulia makan dulu Rom! Mau kan, Nak Yulia?" ujar ibu itu yang ternyata ibunya Romi.
"Tapi, Bu!" "Saya sudah makan!" jawab Yulia pada ibunya Romi.
" Iya Ayah, kita ajak Tante Yulia makan bareng. Shila pengen makan ayam goreng bareng Tante." Shila masih kekeuh pengen mengajak Yulia, walau Yulia sudah menolaknya. Romi diam mematung.
"Ya udah, Ayo!" kata Romi mendahului berjalan kearah mobilnya yang terparkir dipinggir jalan.
"Bu, maaf. Sebaiknya saya pulang. Ibu saya pasti sangat cemas, kalau saya tidak pulang tepat waktu. Kasihan beliau, Bu!" ucap Yulia pada ibu Romi memberi alasan, berharap mengizinkannya pulang. Ia merasa tak enak hati dengan keluarga itu. Namun ibu itu menggelengkan kepala, lalu menarik tangan Yulia. Dan Shila tentu saja ngintil di sebelah Yulia dengan menggenggam ujung bajunya.
"Sebentar saja Yulia, kalau perlu nanti ibu yang mengantarmu pulang. Biar ibu yang bicara dengan ibumu." alasannya ditolak mentah mentah.
"Ibu kamu punya pegang hape nggak Yul? Biar ibu telpon ibumu!" Yulia menghela nafas.
"Biar saya sendiri yang menghubungi beliau, Bu!" ucap Yulia merogoh tas yang tersampir dipundaknya.
"Ayo cepat, Bu! Kita bisa kemalaman. Shila juga harus segera tidur!" Kata Romi yang sudah duduk manis dibelakang kemudi. Memperingatkan ibunya yang sebenarnya ia menyindir Yulia. Yulia tak jadi menelpon ibu dan bergegas melangkah menuju mobil Romi.
"Kamu di depan ya, Yulia. Biar ibu sama Shila di belakang, ibu mau merebahkan diri. Capek!" alasan ibu itu. Yulia menjadi bingung. Ibu Romi terlebih dulu masuk dengan Shila dan segera menutup pintunya.
"Biar saya di belakang sama ibu, ya?" tawar Yulia. Ia sungkan, lebih tepatnya tak mau duduk berdua didepan dengan Bos Juteknya.
"Aku bukan sopir, cepat masuk atau aku tinggal?" ucap Romi menatap tajam Yulia. Ingin rasanya Yulia angkat kaki dari tempat itu, namun ia sungkan dengan ibunya dan juga kasihan dengan Shila. Bisa bisa ia besok dipecat kalau membantah.
Ia pun masuk dengan enggan. Ibu Romi menggeleng geleng kan kepala melihat tingkah anaknya.
Di dalam perjalanan antara Romi dan Yulia tak ada yang bersuara. Hanya Shila yang berceloteh riang bersama sang nenek, menceritakan tentang saat Shila disekolah.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka telah sampai di restoran cepat saji yang cukup ramai . Mereka berjalan menuju kursi yang masih kosong. Mereka duduk berhadapan. Romi bersebelahan dengan Shila dan Yulia bersebelahan dengan ibunya.
Yulia, Shila dan ibu Romi asyik memakan ayam goreng Kentucky lengkap dengan nasi, sedangkan Romi memesan Golden Mayo Cheese Steak Burger.
Hhh, malam malam makan berat, pikir Yulia. Tapi tak apalah, sekali sekali. Ini semua karena permintaan si cantik Ratu Shila yang ingin makan ayam goreng. Sedang tanpa menawari Romi memesankan ayam goreng beserta nasinya.
\=\=\=\=\=\=
To be continued
kok beda lagi?