Ini kelanjutan kisah aku istri Gus Zidan ya, semoga kalau. suka🥰🥰🥰
****
"Mas, saya mau menikah dengan Anda."
Gus Syakil tercengang, matanya membesar sempurna, ia ingin sekali beranjak dari tempatnya tapi kakinya untuk saat itu belum mampu ia gerakkan,
"Apa?" Ia duduk lebih tegap, mencoba memastikan ia tidak salah dengar.
Gadis itu menganggukan kepalanya pelan, kemudian menatap Gus Syakil dengan wajah serius. "Saya bilang, saya mau menikah dengan Anda."
Gus Syakil menelan ludah, merasa percakapan ini terlalu mendadak. "Tunggu... tunggu sebentar. mbak ini... siapa? Saya bahkan tidak tahu siapa Anda, dan... apa yang membuat Anda berpikir saya akan setuju?"
Gadis itu tersenyum tipis, meski sorot matanya tetap serius. "Nama saya Sifa. Saya bukan orang sembarangan, dan saya tahu apa yang saya inginkan. Anda adalah Syakil, bukan? Anak dari Bu Chusna? Saya tahu siapa Anda."
Gus Syakil mengusap wajahnya dengan tangan, mencoba memahami situasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Membuktikan
Panas terik siang itu tak menghalangi langkah Sifa. Dengan semangat yang bercampur rasa penasaran, ia melangkah menyusuri jalan utama kota Blitar. Tas selempang kecil berisi beberapa lembar fotokopi KTP, ijazah, dan CV sederhana menggantung di pundaknya. Sifa menatap deretan toko di sepanjang jalan, matanya mencari-cari papan bertuliskan *“Dibutuhkan Karyawan”*.
Setelah beberapa menit, ia melihat sebuah toko pakaian kecil dengan papan itu di depan pintu masuknya. Sifa menghela napas dan melangkah masuk.
Sifa tersenyum sopan, “Permisi, Pak. Saya lihat ada tulisan di depan kalau sedang mencari karyawan. Saya mau melamar, boleh?”
Pemilik Toko itu seorang pria paruh baya dengan kacamata, tersenyum ramah, “Oh iya, betul. Kami butuh penjaga toko. Kamu sudah pernah kerja di toko sebelumnya?”
Sifa menggeleng pelan, “Belum, Pak. Tapi saya cepat belajar, kok. Kalau boleh tahu, jam kerjanya dari jam berapa sampai jam berapa, ya?”
“Mulai dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, liburnya satu hari tiap minggu.”
Sifa mengangguk, “Oke, Pak. Kalau gajinya berapa, ya?”
Pemilik Toko tersenyum tipis, “Gajinya sesuai standar, Mbak, Rp1,8 juta per bulan.”
Sifa tertegun sejenak. Angka itu bahkan lebih kecil dari yang disebutkan oleh Gus Syakil sebelumnya. Ia berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya dan tetap tersenyum.
“Oh, Rp1,8 juta, ya, Pak? Itu sudah termasuk uang makan atau lembur, belum?”
Pemilik Toko tertawa kecil, “Belum, Mbak. Kalau lembur, hitungannya beda lagi, tapi jarang ada lembur di sini.”
Sifa mencoba menyelidik, “Kalau boleh tahu, Pak, ini sudah termasuk tinggi untuk di Blitar, ya?”
Pemilik Toko mengangguk, “Iya, Mbak. Standar di sini memang segitu. Kalau mau gaji lebih besar, biasanya kerja di pabrik, tapi itu juga nggak jauh beda.”
Setelah mengobrol beberapa saat, Sifa mengucapkan terima kasih dan meninggalkan toko itu. Ia terus melanjutkan pencariannya ke beberapa toko lain, dan jawaban yang ia dapatkan hampir serupa. Gaji rata-rata berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan.
Di salah satu toko kelontong, seorang pemilik toko bahkan menjelaskan dengan nada santai bahwa standar hidup di Blitar memang jauh lebih rendah dibanding kota besar, jadi gaji tersebut sudah dianggap cukup.
“Jadi, kalau dengan gaji segitu, orang-orang di sini cukup buat hidup sehari-hari, ya, Bu?” tanya Sifa penasaran.
Pemilik Toko itu_seorang wanita berusia sekitar 50-an, kemudian tersenyum, “Iya dicukup-cukupin, Mbak. Yah untungnya di sini harga kebutuhan nggak semahal di kota besar. Uang segitu kadang cukup buat makan, bayar listrik, dan nabung dikit-dikit.”
Sifa mengangguk pelan, sambil membatin, "Aku juga besar di sini, tapi tetap saja menurut aku sepuluh juta aja nggak cukup satu bulan."
Setelah hampir setengah hari berjalan-jalan, Sifa memutuskan untuk pulang. Mungkin mulai hari ini ia harus beradaptasi dengan keterbatasan di kota kecil ini. Di perjalanan pulang, ia merenung mencari cara agar ia bisa tetap jalan-jalan, makan enak dan juga ngurus suaminya.
Sesampai di rumah, tanpa salam ia segera menuju ke dapur, tenggorokannya sudah sangat kering karena ia harus jalan kaki di tengah terik matahari.
Setelah menuang air ke dalam gelas, ia pun segera duduk di meja makan, dengan beberapa kali tegukan saja gelas itu sudah kosong, meskipun sudah kosong ia tidak segara beranjak dari tempatnya.
Sifa duduk dengan wajah murung, menatap kosong ke arah gelas kosong di depannya. Matanya terlihat lelah, tanda bahwa hari ini penuh dengan aktivitas yang menguras pikirannya. Gus Syakil yang baru saja selesai sholat menghampirinya dengan kursi rodanya. Ia memperhatikan istrinya yang terlihat seperti habis perjalanan jauh.
Gus Syakil menarik napas pelan, lalu berhenti tepat di samping meja. Ia menyadari betul bahwa sesuatu telah mengganggu pikiran Sifa, dan ia sudah menduga penyebabnya, ia masih ingat bagaimana Sifa berpamitan tadi lagi, Sifa akan mencari pekerjaan yang mau membayarnya 10 juta.
Gus Syakil tersenyum tipis, "Lho, kok wajahnya kusut gitu? Air minumnya nggak enak, ya? Atau udaranya terlalu panas hingga butuh air lebih banyak?"
Sifa menghela napas panjang, "Apaan sih. Bukan gitu, mas... mas tahu nggak apa yang terjadi tadi? Aku benar-benar nggak nyangka."
"Apanya?" Gus Syakil pura-pura Tidka tahu sambil menahan bibirnya agar tidak tertawa.
"Masak, Gaji di sini kecil banget, ya? Aku udah tanya di beberapa tempat, rata-rata cuma Rp1,8 juta sampai Rp2 juta. Itu jauh banget dari uang jajanku waktu di sama papa."
Gus Syakil tertawa kecil, "Hehe... Kamu baru sadar sekarang? Aku kan udah bilang, di Blitar standar hidupnya beda. Nggak perlu gaji besar, yang penting cukup buat kebutuhan sehari-hari."
Sifa mengangkat kepala, menatap Syakil, "Tapi aku tuh nggak kebayang, Mas. Gimana caranya orang bisa hidup dengan gaji segitu? Kalau aku nggak kerja, gimana kita mau makan?"
Gus Syakil tersenyum, mengeluarkan sebuah amplop dari saku bajunya, "Makanya, sebelum kamu keburu stres mikirin itu, aku udah siapkan ini buat kamu."
Sifa terkejut, mengerutkan kening, "Apa itu, Mas?"
Gus Syakil menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat, "Nih, anggap saja nafkah pertama dari aku. Memang nggak sebanyak uang jajan kamu waktu di rumah papa kamu, tapi kalau nggak boros, insyaAllah cukup buat kebutuhan kita sebulan."
Sifa mengambil amplop itu dengan ekspresi bingung. Ia membuka isinya dan melihat beberapa lembar uang pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu. Jumlahnya tidak besar, tapi cukup untuk membuat hatinya tersentuh.
Sifa memandang Gus Syakil dengan tatapan tak percaya, "Mas... ini dari mana? Mas minta ibunya mas ya?"
Gus Syakil tersenyum tenang, "Ya enggak lah, aku masih punya tabungan. Tidak banyak. Aku nggak mau kamu merasa kekurangan. Tugas suami kan memang nafkahi istrinya."
Sifa mulai menghitung isi amplop yang diberikan oleh Gus Syakil, "Tapi, mas... ini tuh kecil banget dibandingkan pengeluaran aku biasanya. Bagaimana kalau aku nggak bisa ngatur uang segini."
Gus Syakil tertawa pelan, "Justru itu. Ini saatnya kamu belajar hidup sederhana. Nggak perlu makan di restoran mahal, nggak perlu beli barang branded. Yang penting cukup dan barokah."
Sifa menghela napas, kemudian mengerucutkan bibirnya, "Iya, aku ngerti. Aku bakal coba, kok. Tapi kamu yakin nggak apa-apa kasih semua ini ke aku? Kan kamu juga butuh."
Gus Syakil mengangguk mantap, "Kebutuhan aku nggak banyak, Sifa. Lagi pula, kalau kita hidup sederhana dan saling mendukung, uang segini juga cukup. Yang penting kamu nggak boros, ya?"
Sifa mengangguk perlahan, menyimpan amplop itu di dalam tasnya. Meskipun masih berat menerima kenyataan, ia mulai memahami bahwa kehidupan bersama Gus Syakil akan berbeda dari kehidupannya yang dulu. Ada rasa haru dan rasa malu yang bercampur jadi satu di hatinya.
Sifa pun berjanji dalam hati untuk ada sesuatu yang lebih berharga—rasa saling mendukung dan kehangatan keluarga kecil mereka.
Bersambung
Happy reading
malu 2 tapi mau🤭
saranku ya sif jujur saja kalau kamu yg nabrak syakil biar gak terlalu kecewa syakil nya