Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tawa Sesaat, dan Runtuhnya Dunia di Sudut Kafe
Udara di dalam ruang kelas Ekonomi Makro siang itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Suara mesin pendingin ruangan yang mendengung pelan berpadu dengan suara monoton Pak Heri, dosen paruh baya yang sedang menjelaskan grafik inflasi di depan papan tulis. Namun, bagi Rahmi, rasa dingin itu tidak berasal dari AC kelas, melainkan merambat perlahan dari dalam rongga dadanya sendiri.
Ia duduk mematung di bangku baris ketiga. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya kosong. Buku catatannya yang biasanya penuh dengan tulisan tangan rapi—yang sering disalin oleh Alan saat musim ujian tiba—kini dibiarkan bersih tanpa satu goresan tinta pun. Pulpennya hanya diputar-putar tanpa minat di sela-jari-jemarinya yang terasa kaku.
Ini bukan Rahmi yang biasanya.
Biasanya, pada jam-jam rawan kantuk seperti ini, Rahmi akan menjadi penyelamat bagi Alan, Ardi, dan Randi yang duduk di deretan bangku tepat di belakangnya. Ia biasanya akan menoleh ke belakang, melemparkan permen kopi untuk mengusir kantuk mereka, atau berbisik mengomentari cara bicara Pak Heri yang membuat mereka berempat menahan tawa. Biasanya, Rahmi akan memastikan Alan mengerti materi yang diajarkan, diam-diam menggeser catatannya agar pemuda itu bisa memotretnya.
Namun hari ini, Rahmi terdiam seribu bahasa. Sejak kejadian di taman kampus pagi tadi, seolah ada saklar dalam dirinya yang dimatikan paksa.
"Mi," bisik Ardi dari bangku belakang, menendang pelan kaki kursi Rahmi. "Lu punya tipe-x gak? Gue salah nulis grafik nih."
Rahmi tidak menoleh. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membuka tempat pensilnya, merogoh sebuah correction tape, dan meletakkannya begitu saja di meja belakang tanpa menatap wajah Ardi.
Ardi mengernyitkan dahi. Ia menyikut lengan Randi yang sedang sibuk bermain ponsel di bawah laci meja. "Tumben si ibu negara irit ngomong. Kesambet penunggu pohon beringin beneran kayaknya dia," bisik Ardi.
Randi mengangkat bahu. "Lagi PMS kali. Jangan diganggu, ntar lu diamuk."
Di sebelah Ardi, Alan ikut menyadari keanehan itu. Sejak mereka masuk ke kelas, Rahmi tak menoleh sekalipun ke arahnya. Jangankan menoleh, menyapa pun tidak. Padahal biasanya, Rahmi selalu memastikan Alan duduk di tempat yang nyaman dan tidak langsung terkena hembusan AC karena tahu Alan sering masuk angin.
Alan mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat ke telinga Rahmi. "Mi, lu sakit? Muka lu pucet banget dari pagi tadi. Mau gue beliin teh anget di kantin gak mumpung Pak Heri lagi nyatet ke papan tulis?" tawar Alan, nada suaranya terdengar tulus dan khawatir.
Hati Rahmi bergetar mendengar suara berat itu begitu dekat dengan telinganya. Pertanyaan sederhana yang dulu akan membuatnya berbunga-bunga, kini justru terasa seperti sayatan tipis di atas luka yang menganga. Ia tahu kepedulian Alan itu nyata, tapi ia juga sadar sekarang, kepedulian itu tak lebih dari sebatas simpati seorang teman. Tidak akan pernah lebih.
"Gak usah," jawab Rahmi sangat singkat, nyaris seperti gumaman. Nada suaranya datar, sedatar grafik yang sedang digambar Pak Heri di depan.
"Beneran? Lu dari tadi diam aja lho, Mi. Kalau lu emang gak enak badan, mending lu pulang aja. Ntar absen lu gue yang urus, gampang bisa titip tanda tangan," desak Alan lagi, belum menyerah.
Rahmi memejamkan matanya sejenak, menelan ludah untuk menyingkirkan gumpalan tak kasatmata yang menyumbat tenggorokannya. "Gue gak apa-apa, Lan. Cuma ngantuk aja. Jangan berisik, dengerin aja Pak Heri," balasnya tanpa menoleh sedikit pun.
Alan terdiam. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa ada dinding kaca tebal yang tiba-tiba dibangun Rahmi di antara mereka. Namun, sebelum Alan sempat mendesak lebih jauh, ponsel di dalam saku celananya bergetar pelan.
Alan menarik tubuhnya kembali ke kursinya. Ia sembunyi-sembunyi membuka ponselnya di balik punggung Ardi. Rahmi, yang meskipun membuang muka ke depan, masih memiliki sudut pandang tepi yang bisa menangkap pantulan layar ponsel Alan di jendela kaca yang berada tepat di samping mejanya.
Dari pantulan kaca buram itu, Rahmi bisa melihat layar ponsel Alan menyala. Ia tidak bisa membaca pesannya, namun ia bisa melihat dengan jelas bagaimana senyum kecil, hangat, dan penuh antusias perlahan mekar di bibir pemuda yang terkenal dingin itu. Senyum yang sama persis seperti saat Bunga menyapanya pagi tadi.
Dada Rahmi kembali terasa sesak. Ia mencengkeram ujung kemeja flanelnya kuat-kuat di bawah meja. 'Dia sedang membalas pesan Bunga,' batin Rahmi menjerit perih. 'Tentu saja. Apa lagi yang bisa membuat es di wajahnya mencair secepat itu selain gadis dari masa lalunya itu?'
Sisa waktu kuliah terasa seperti neraka yang berjalan dalam gerak lambat bagi Rahmi. Setiap detik yang berdetak adalah siksaan, setiap kali ia menyadari Alan sesekali tersenyum menatap layar ponselnya di bawah meja, adalah tikaman baru di hatinya.
Teng! Teng! Teng!
Suara bel kampus yang nyaring akhirnya mengakhiri penderitaan Rahmi di dalam kelas. Mahasiswa berhamburan keluar bagai kawanan lebah yang sarangnya dibakar. Udara siang Kota Bandung di luar gedung terasa sangat terik, kontras dengan suhu kelas tadi. Matahari berada tepat di atas kepala, membakar aspal lahan parkir kampus hingga memancarkan uap panas yang terlihat meliuk-liuk di udara.
Rahmi berjalan gontai menuju area parkir mobil. Di kejauhan, di area parkir motor yang berada di dekat gerbang keluar, ia melihat keributan kecil. Langkah Rahmi otomatis terhenti. Matanya yang sejak tadi redup kini terpaku pada sosok jangkung yang sedang berjongkok di samping sebuah motor sport berwarna hitam.
Itu Alan. Ia sedang mengotak-atik sesuatu di bagian mesin motornya dengan tangan yang sudah berlumuran sedikit oli. Keringat sebesar biji jagung mengucur dari dahi pemuda itu, membasahi kerah kaos hitamnya. Di sampingnya, Ardi dan Randi berdiri sambil memegang helm masing-masing, wajah mereka terlihat kepanasan dan kesal.
"Udah, Lan, sela aja terus starter kakinya! Kalau distarter tangan gak mau, ya dipaksa sela terus sampai betis lu berotot!" oceh Randi yang sedang mengipas-ngipas wajahnya dengan buku binder.
"Udah gue sela dari tadi, Ndi! Ini businya kayaknya yang mati, atau akinya tekor. Tumben-tumbenan ini motor ngambek begini," gerutu Alan sambil mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangannya yang bersih. Ia kembali berdiri, mencoba menginjak kick starter dengan sisa-sisa tenaganya, namun motor sport itu tetap membisu, hanya mengeluarkan suara 'nguk.. nguk..' yang menyedihkan.
Ardi mendesah panjang. "Terus gimana nih? Kelas udah kelar, kita kan harus siap-siap ke kafe buat shift sore. Lu gak mungkin ninggalin motor lu di kampus sampai malam kan?"
"Ya mau gimana lagi? Terpaksa gue titip ke satpam, ntar besok pagi gue bawa bengkel," jawab Alan pasrah, wajahnya memancarkan rasa lelah yang luar biasa. "Masalahnya sekarang, gue ke kafenya gimana? Udah jam segini, angkot jam segini pasti penuh dan macet parah di Dipatiukur."
"Ya elah, gampang," sahut Randi dengan ide cemerlangnya yang bodoh. "Naik motor si Ardi aja kita bertiga. Gue yang nyetir di depan, si Ardi di tengah, nah lu yang badannya gede ngangkang di belakang. Beres kan? Namanya juga solidarity."
Mendengar ide gila itu, Alan langsung menoyor kepala Randi. "Solidaritas dari mana?! Gila lu, dari kampus ke kafe itu lewatin pos polisi Dago. Kalau kita bonceng tiga pakai motor matic si Ardi yang knalpotnya aja udah cempreng gitu, sama aja kita nyerahin diri buat ditilang! Duit dari mana gue buat bayar denda, hah? Udah motor mogok, ntar kena tilang pula."
Randi menggaruk kepalanya. "Iya juga ya. Ya udah, lu pesen ojek online gih sana."
"Hp gue baterainya sisa dua persen, daritadi pagi belum di-charge," gumam Alan, yang sebenarnya alasan utamanya baterainya habis adalah karena ia terlalu asyik bertukar pesan dengan Bunga sepanjang kuliah tadi.
Dari kejauhan, Rahmi mendengar semua percakapan itu. Harga dirinya berteriak menyuruhnya untuk mengabaikan mereka, masuk ke dalam mobilnya, menyalakan AC, dan pergi meninggalkan rasa sakit ini di kampus. Biarkan saja Alan mengurus masalahnya sendiri. Biarkan saja Alan minta tolong pada Bunga.
Namun, ketika melihat Alan menghela napas berat, melihat bahu kokoh itu sedikit merosot karena beban yang terus-menerus menimpanya, pertahanan Rahmi kembali runtuh. Cintanya pada pemuda itu terlalu besar, jauh lebih besar dari egonya sendiri. Otaknya boleh menyuruh pergi, tapi kakinya melangkah mendekat tanpa bisa dicegah.
"Kenapa? Mogok?"
Suara lembut namun sedikit ketus itu mengejutkan ketiga pria yang sedang pusing tersebut. Alan menoleh dan mendapati Rahmi berdiri beberapa langkah di belakangnya. Kemeja flanel kebesarannya berkibar pelan tertiup angin panas siang itu.
Alan mengangguk lemah, rasa frustrasi terlihat jelas di matanya. "Iya nih, ngadat. Gak tahu kenapa, padahal kemarin-kemarin lancar jaya. Kayaknya ngambek minta diservis."
Rahmi menatap motor besar itu sejenak, lalu menatap wajah lelah Alan. Ia bisa melihat ada noda oli hitam di pipi kanan pemuda itu. Tangan Rahmi gatal ingin mengusapnya dengan tisu, tapi ia menahan diri sekuat tenaga. Ia harus menjaga jarak, demi kewarasannya sendiri.
"Ya udah, ikut ke mobil gue aja," ucap Rahmi datar, mencoba menutupi debaran jantungnya. "Gak mungkin kan lu naik motor si Ardi bertiga sama si Randi. Bisa-bisa ntar di jalan kena tilang. Belum lagi bau matahari lu bertiga nyampur jadi satu, kasihan pengguna jalan yang lain."
Randi langsung tersenyum lebar. "Nah! Ini dia malaikat penolong kita! Ayo, Mi, kita nebeng ya!"
"Enak aja!" potong Rahmi cepat, menatap tajam ke arah Randi. "Mobil gue bukan angkot. Lu sama Ardi kan bawa motor. Kalian berdua naik motor aja, biar aman dari polisi. Nah, lu, Lan..." Rahmi mengalihkan pandangannya pada Alan. "Lu nebeng gue aja."
Alan tampak ragu sejenak. "Gak ngerepotin nih, Mi? Gue kan bau oli sama keringat gini, ntar jok mobil lu kotor."
"Udah, gak usah banyak alasan. Jok mobil gue kulit, tinggal diusap juga hilang," balas Rahmi setengah memaksa. "Gue gak mau ntar di kafe lu telat masuk shift dan kena marah Bang Hendri gara-gara nungguin ojek online."
Alan akhirnya mengangguk. "Iya juga ya. Ya udah, gue nebeng lu, Mi. Makasih ya. Ntar motor gue titipin ke pos satpam depan aja."
"Tapi..." Rahmi menggantung kalimatnya. Ia merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan sebuah kunci mobil yang terpasang gantungan boneka beruang kecil. "Lu yang nyetir."
Rahmi menyodorkan kunci mobil itu tepat ke hadapan Alan.
Alan menatap kunci itu sejenak. Tanpa pikir panjang, ia mengulurkan tangannya yang kotor untuk mengambil kunci itu. "Tenang, kalau soal nyetir mah gue jagonya. Dulu gue sering bawa angkot paman gue di terminal," canda Alan.
Saat jemari kasar Alan menyentuh kunci tersebut, tak sengaja ujung jari mereka bersentuhan. Seperti ada aliran listrik berkekuatan ribuan volt yang menyengat kulit Rahmi. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia buru-buru menarik tangannya, berharap Alan tidak menyadari getaran di jemarinya.
Senyum tipis yang sejak pagi tadi hilang, tanpa sadar kembali terukir di bibir Rahmi saat melihat Alan menekan tombol unlock pada kunci tersebut. Mobil yang terparkir tak jauh dari mereka berbunyi 'beep beep'.
Ardi yang melihat adegan itu langsung bersiul menggoda. "Ciyeee... malah jadi sopir pribadi elu dong, Mi, si Alan? Udah macam nyonya besar sama driver-nya aja nih. Tinggal dipasangin topi pet aja lu, Lan."
Alan hanya tertawa pelan menanggapi godaan itu sambil berjalan mendahului Rahmi menuju mobil. "Gak apa-apa, sekali-sekali gue ngerasain bawa mobil mewah ber-AC. Daripada gue nangkring di atas jok panas bertiga sama lu berdua."
Rahmi berjalan di belakang Alan. Senyum di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan senyum miris yang menyakitkan. Ia menatap punggung tegap Alan yang sedang membukakan pintu kemudi.
'Sopir pribadi,' gumam Rahmi dalam hati. Langkahnya terasa berat. Ia menatap lurus ke arah punggung Alan. 'Lebih baik jadi sopir pribadi, Lan. Lebih baik gue yang ngasih kunci mobil ini ke lu, supaya gue bisa ngerasain lu mengarahkan jalan gue. Daripada gue terus-terusan jadi tawanan hati lu, yang sampai sekarang gue gak tau kapan kuncinya bakal lu serahin ke gue. Atau mungkin... kuncinya memang bukan buat gue, melainkan udah lu kasih ke Bunga sejak dulu.'
Perjalanan dari kampus menuju Cafe Nuansa memakan waktu sekitar dua puluh menit. Di dalam kabin mobil yang sejuk karena embusan AC, suasana terasa sangat canggung bagi Rahmi. Musik dari radio yang memutarkan lagu pop galau seolah mengejek perasaannya.
Alan fokus mengemudi, matanya menatap tajam ke jalanan Dago yang mulai padat. Sesekali ia menggunakan satu tangan untuk memutar kemudi, memperlihatkan urat-urat di lengannya yang menonjol. Rahmi duduk di kursi penumpang di sebelahnya, berpura-pura sibuk menatap keluar jendela. Padahal, dari sudut matanya, ia terus mencuri pandang ke arah pemuda itu. Memperhatikan bagaimana rambut hitam Alan yang sedikit basah oleh keringat menempel di dahinya. Memperhatikan hidung mancungnya dari samping.
Dua puluh menit itu adalah surga sekaligus neraka bagi Rahmi. Surga karena ia bisa berada begitu dekat dengan Alan tanpa ada Bunga di antara mereka, berdua saja di ruang sempit ini. Neraka, karena ia tahu, setelah mesin mobil ini dimatikan, Alan akan kembali menjadi milik dunia, dan mungkin... milik Bunga.
Setibanya di pelataran parkir Cafe Nuansa, matahari sudah mulai condong ke barat. Mobil Rahmi terparkir rapi di bawah pohon rindang di sudut halaman kafe.
Di lantai dua, Bang Hendri yang sedang menyeduh kopi sorenya untuk dirinya sendiri, berdiri di pinggir balkon. Matanya yang tajam di balik kacamata bingkai tebalnya menangkap pemandangan di bawah sana. Ia melihat pintu kemudi mobil itu terbuka, dan yang keluar bukanlah Rahmi sang pemilik mobil, melainkan Alan. Tak lama kemudian, Rahmi keluar dari pintu penumpang sebelah kiri.
Bang Hendri menghentikan gerakan mengaduk kopinya. Keningnya berkerut penuh tanda tanya.
'Tumben banget,' batin Bang Hendri. 'Kenapa si Alan gak bawa motornya? Mogok apa gimana tuh motornya? Dan yang lebih aneh, tumben banget dia bawa mobil si Rahmi? Biasanya dia paling gengsi disuruh nebeng, apalagi disuruh nyetir mobil cewek.'
Hendri tersenyum penuh arti. Insting lelakinya mengatakan ada sesuatu yang terjadi, meski ia belum tahu pasti apakah itu hal baik atau buruk. Ia segera menghabiskan kopinya dalam sekali teguk dan melangkah turun ke lantai satu.
Baru saja Bang Hendri tiba di area bar lantai satu, pintu kaca kafe didorong dengan sangat kasar dari luar. Ardi dan Randi, dua makhluk tak diundang yang selalu menjadikan kafe ini seperti rumah kedua mereka, berlari masuk dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran. Mereka mengabaikan sapaan pelayan lain dan langsung melesat menuju meja beton favorit mereka di pojok ruangan, meja yang posisinya paling strategis karena dekat dengan colokan listrik dan memiliki sinyal router paling kuat.
"Bang! Nebeng WiFi lagi, Bang! Darurat! Mabar gue nyangkut di loading screen dari tadi!" teriak Randi sambil membanting tasnya ke kursi dan buru-buru menyalakan layar ponselnya.
Ardi menyusul di belakangnya, langsung menjatuhkan diri ke sofa empuk. "Asli, Bang! AC di luar panas banget, butuh suplemen udara dingin dan password WiFi yang baru! Katanya password hari ini diganti ya?"
Bang Hendri yang sedang mengelap meja bar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan dua mahasiswa itu. "Nih dua curut kalau masalah WiFi gratisan sama AC gratisan, geraknya cepet amat ngalahin cheetah kelaparan. Kalau disuruh bantuin nyapu depan, mendadak pada asma lu pada!" omel Hendri dengan nada bercanda.
Tak lama berselang, lonceng pintu kafe berbunyi lagi dengan lebih sopan. Alan masuk, menyibakkan rambutnya yang sedikit berantakan. Di belakangnya, Rahmi mengekor dengan wajah yang berusaha terlihat ceria, meski mata cokelatnya masih menyembunyikan mendung.
Bang Hendri langsung memfokuskan pandangannya pada Alan. "Motor lu kemana, Lan? Kok tumben lu datangnya bawa mobil si Rahmi? Jadi supir tembak lu sekarang?"
Alan berjalan menuju ruang ganti karyawan di belakang bar, sambil menjawab pertanyaan bosnya. "Gak nyala, Bang. Mogok parah di parkiran kampus tadi. Udah gue sela-sela sampai kaki gue kram, tetep aja gak mau hidup. Kayaknya minta ganti busi sama aki sekalian."
"Pantes," sahut Bang Hendri manggut-manggut. "Gak biasanya lu gak bawa motor kebanggaan lu itu. Terus lu ninggalin motor di kampus? Aman tuh?"
"Aman, Bang. Udah gue titipin ke pos satpam Pak Yono. Besok pagi baru gue panggil bengkel buat narik. Untung aja tadi ada si Rahmi bawa mobil, kalau gak, alamat gue jalan kaki dari Dago ke mari, bisa gempor kaki gue."
Rahmi yang baru saja duduk di sebelah Ardi mendengus pelan mendengar ucapan Alan. "Enak aja, untung ada gue. Coba aja bayar argo taksi dari Dago ke sini siang-siang macet, bangkrut lu."
"Iya, iya, makasih banyak Ibu Negara," ledek Alan dari balik pintu ruang ganti.
Sepuluh menit kemudian, Alan keluar dengan seragam kafenya: kemeja hitam berlengan pendek dengan celemek cokelat berlogo Cafe Nuansa. Jam kerja resminya baru akan dimulai setengah jam lagi, jadi ia memiliki waktu untuk bersantai sejenak. Ia berjalan mendekati meja pojok dan duduk di kursi kosong yang tepat berhadapan dengan Rahmi.
Suasana di meja itu perlahan mencair. Kipas angin di atas mereka berputar pelan, menyejukkan udara. Untuk sejenak, Rahmi berhasil melupakan kejadian menyakitkan di kampus tadi. Di hadapannya, ada Ardi, Randi, dan Alan. Dinamika mereka kembali seperti semula. Hangat, penuh canda, dan saling menghina. Ini adalah dunianya. Tempat di mana ia merasa dibutuhkan dan dianggap ada.
"Eh, ngomong-ngomong soal weekend besok," buka Alan sambil menopang dagunya dengan tangan. "Lu pada ada acara ke mana nih? Sabtu besok kan tanggal merah tuh, long weekend kita."
Ardi yang sedang sibuk mencari colokan listrik langsung menoleh semangat. Matanya berbinar-binar penuh harap. "Nah! Mending kita ke tempat wisata yang adem-adem, Lan! Gue sumpek di kosan mulu, butuh udara segar. Ke Lembang kek, atau ke Ciwidey sekalian."
Randi menimpali dari balik layar ponselnya, "Iya nih, bener kata si Ardi. Otak gue udah ngebul sama tugas Makro Ekonomi dari Pak Heri. Butuh healing nih, ngeliat ijo-ijo, nyium bau kebun teh, makan jagung bakar pinggir jalan."
Ardi menyenggol bahu Rahmi dengan sikutnya, memberikan kedipan mata yang sangat kentara maksudnya. "Iya, udah lama juga kita gak healing sambil ditraktir sama anak sultan yang duduk di samping gue ini. Ya kan, Mi? Mobil lu kan nganggur tuh weekend, bensinnya penuh terus lagi. Jalan-jalan ke Kawah Putih asik kali ya?"
Ardi melirik ke arah Rahmi dengan tatapan memelas yang dibuat-buat, persis seperti anak anjing yang meminta tulang. Randi ikut menoleh, menampilkan cengiran lebar penuh harap.
Rahmi tergelak. Tawa lepas yang sangat jarang ia keluarkan sejak kemarin akhirnya meluncur dengan sendirinya. Godaan receh dari sahabat-sahabatnya ini setidaknya berhasil menambal sedikit retakan di hatinya. Ia menatap Ardi dan Randi bergantian dengan tatapan mengejek.
"Enak aja lu berdua minta ditraktir! Bensin mobil gue juga beli pakai duit, bukan pakai daun! Udah nebeng, minta ditraktir makan, minta dibayarin tiket masuk wisata lagi! Dasar beban negara lu berdua!" rutuk Rahmi sambil melempar bungkus tisu kosong ke wajah Ardi.
Sontak, tawa meledak di meja pojok itu. Ardi mengaduh pura-pura sakit, Randi tertawa sampai tersedak ludahnya sendiri, dan Alan menatap Rahmi dengan tawa hangat yang membuat mata pemuda itu menyipit.
Melihat Alan tertawa karenanya, melihat mata cokelat terang pemuda itu terpaku padanya, Rahmi merasakan desiran hangat di dadanya. Untuk beberapa detik yang sangat berharga, Rahmi merasa waktu berhenti. Tawa ini, tatapan ini, momen ini... semuanya terasa begitu nyata dan miliknya.
'Mungkin,' batin Rahmi, setitik harapan kembali muncul di tengah keputusasaannya. 'Mungkin gue masih punya kesempatan. Selama dia masih bisa tertawa lepas sama gue, selama gue masih bisa jadi tempat dia pulang setelah capek bekerja, mungkin gue bisa pelan-pelan ngeganti posisi Bunga di hatinya. Gue cuma butuh waktu. Ya, gue cuma butuh waktu untuk ngebuat dia sadar kalau gue yang selalu ada buat dia.'
Rahmi membalas tatapan Alan dengan senyuman paling tulus yang ia miliki. Rasa sakit di kelas tadi seolah menguap terbawa tawa mereka. Siang itu, di sudut Cafe Nuansa, Rahmi merasa kembali hidup.
Namun, semesta rupanya sedang senang bermain tragedi dengan takdir Rahmi. Kebahagiaan semu yang baru saja ia bangun susah payah dengan tawa dan harapan itu, hancur seketika dalam hitungan detik.
Kringgg...
Lonceng kecil di atas pintu masuk kafe bergemerincing nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk. Pada jam-jam pergantian shift begini, kafe biasanya belum terlalu ramai. Suara langkah sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai kayu kafe terdengar berirama dan sangat elegan, menarik perhatian beberapa orang di ruangan itu, termasuk mereka yang berada di meja pojok.
Otomatis, tawa Alan mereda. Ia menoleh ke arah pintu masuk, bersiap menyapa pelanggan seperti biasa. Namun, sapaan "Selamat datang di Cafe Nuansa" itu mati di tenggorokannya.
Dari arah pintu, melangkah masuk sesosok perempuan dengan anggunnya. Ia mengenakan dress selutut berwarna krem yang simple namun terlihat mahal, dipadukan dengan kardigan rajut tipis yang jatuh sempurna di bahunya. Rambut panjangnya yang lurus dan hitam berkilau tertimpa cahaya lampu kafe. Riasan wajahnya tipis namun sangat pas, menonjolkan kecantikan alaminya yang lembut.
Itu Bunga.
Udara di sekitar meja pojok mendadak terasa ditarik habis. Ardi dan Randi ternganga, tak percaya bahwa primadona kampus yang baru saja mereka bicarakan pagi tadi kini benar-benar datang ke markas mereka.
Namun, reaksi yang paling menyesakkan dada Rahmi adalah reaksi Alan.
Pemuda itu tak hentinya menatap Bunga. Tatapannya bukan sekadar tatapan terkejut, melainkan tatapan seseorang yang tersihir. Tubuh Alan yang tadinya bersandar santai di kursi, kini tegak seketika. Tawa yang tadi ia berikan untuk lelucon Rahmi lenyap tak berbekas, digantikan oleh senyum kecil yang dipenuhi kekaguman dan kerinduan yang mendalam. Matanya hanya tertuju pada Bunga, seakan seluruh dunia—termasuk Rahmi, Ardi, dan Randi—telah memudar menjadi latar belakang yang tidak penting.
Bunga berhenti melangkah di tengah ruangan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe yang bergaya vintage itu. Matanya menyapu deretan meja kayu, area bar, hingga akhirnya... pandangannya jatuh ke meja pojok.
Bunga tersenyum lebar. Senyum yang begitu cerah hingga menyilaukan mata. Ia mengangkat tangan kanannya yang lentik, lalu melambaikan tangannya dengan semangat ke arah Alan.
"Alan!" seru Bunga pelan, namun suaranya cukup terdengar melintasi ruangan.
Alan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia mengangkat tangannya, membalas lambaian Bunga dengan antusiasme yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya. Alan bahkan setengah berdiri dari kursinya, bersiap untuk menyambut gadis itu.
Di seberang meja, dunia Rahmi terasa hancur. Berkeping-keping. Berantakan tak bersisa.
Senyum tulus yang baru saja mekar di bibir Rahmi luntur seketika. Matanya memanas, dadanya sesak seperti ditimpa beton berton-ton. Ia tidak bisa bernapas. Ia menatap Alan yang kini sudah berdiri dan berjalan menghampiri Bunga di tengah kafe, meninggalkan meja mereka tanpa pamit.
Rahmi menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang kini pucat pasi di balik rambutnya yang jatuh ke depan. Tangannya mencengkeram erat lututnya di bawah meja. Kuku-kukunya menancap di kain jeans-nya hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menahan agar isak tangisnya tidak pecah di tempat umum.
Di balik keramaian kecil kafe, di tengah kebahagiaan Alan yang bertemu dengan hantu masa lalunya, batin Rahmi berteriak histeris dalam kesunyian.
'Kenapa...' ratap Rahmi dalam batinnya, air mata pertama akhirnya lolos dari pelupuk matanya, jatuh menetes ke atas pahanya.
'Kenapa harus ada dia? Kenapa dia harus datang ke duniaku, ke markasku, ke tempat di mana seharusnya cuma ada aku dan Alan? Kenapa di saat seperti ini, di saat aku merasa bahagia walau cuma sesaat, di saat aku baru saja mengumpulkan sepercik harapan, dia selalu muncul untuk menghancurkan segalanya? Kenapa Bunga selalu dengan mudah mengalihkan seluruh perhatian Alan dariku, hanya dengan sebuah lambaian tangan? Sebenarnya... seberapa besar ruang yang Bunga tempati di hati Alan, sampai tidak ada sedikit pun celah yang tersisa untukku?'
Pertanyaan-pertanyaan itu menggema di kepala Rahmi, tanpa ada jawaban yang bisa menyelamatkan hatinya yang kini sudah mati rasa. Di hadapannya, Alan sedang tertawa bersama Bunga, tidak menyadari bahwa di sudut meja yang ia tinggalkan, ada seseorang yang baru saja kehilangan dunianya.