Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.
Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.
Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.
Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.
Bertahan… atau melepaskan?
Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Misi Penyelamatan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“GUE SUDAH PUNYA PACAR! APA LO PUAS SEKARANG?!”
Jeda.
Aluna melewatkan kesempatan untuk mengambil ponsel dari jas almamater. Dengan mata terkejut, dia kembali menitikkan fokus pada mereka.
“Hentikan semua ini,” tutur Bintang. “Gue mohon.”
“Apa lo pikir gue akan mudah lo bohongin?!” balas sang lawan, tak mengindahkan permohonan.
Naik pitam sudah pemuda Atmadja. Dia mengerahkan tenaga, menepis cengkraman tersebut dan melayangkan satu bogeman mentah. Sontak saja, pemuda tadi terhuyung ke belakang dan mendarat pada pelukan dua manusia yang sedari tadi hanya berkacak pinggang menyaksikan perdebatan mereka.
“Sial!” umpat orang itu. Lantas, dia mengambil ancang-ancang menyerang Bintang kembali.
Brakkk!
Kegaduhan kecil menghentikan mereka sekaligus mengambil perhatian. Semua memandang satu titik di mana satu barang tergeletak.
Sebuah telepon genggam.
“SIAPA DI SANA?!” teriak manusia tadi tanpa takut.
Dan dari balik tembok … keluarlah Aluna.
“Apa yang lo lakuin di sana? Lo nguping kita, ya?!”
Beralih dari Bintang, dia memusatkan atensi pada Aluna.
Gadis pemilik nama keluarga Wicaksana itu segera mengambil ponsel yang tadi terjatuh. Menggenggamnya erat, dia memandang Bintang sesaat. Lalu, dirinya berusaha membuka suara, “B-berhenti dan jangan ganggu dia lagi atau aku akan menelepon polisi.”
“Hahaha ….” tawa manusia itu meledak. “Hei, Nona? Lebih baik lo nggak usah campuri urusan kami,” selagi berkacak pinggang, dirinya memperingatkan.
Rasa gugup Aluna membuncah manakala teman pelaku menyahuti, “Sepertinya, gadis itu kenal dengan bajingan ini. Lihatlah seragam mereka.”
Aluna tidak pernah berada di posisi seperti ini. Berharap mengalaminya pun tidak. Ia tidak ingin mengusik hidup orang lain, terutama hidupnya sendiri.
Namun, kini ceritanya berbeda. Bukan karena Bintang adalah sosok yang pernah ia kagumi, tetapi lebih ke jiwa kemanusiaan yang meronta ingin menolong.
“HEI! JANGAN BERANI MENDEKATINYA!” teriak Bintang dan berhasil menghentikan langkah orang itu yang akan menuju Aluna. Tatapan tajam akhirnya Bintang terima.
Memberi kode dengan tangan kanan, dua orang lainnya melanjutkan misi. Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah mengawal Aluna.
“HEI! KUBILANG JANG–AKH!”
Pukulan telak mendarat di perut berbalut seragam Bintang. Melihatnya, Aluna berlari mendekati Bintang yang sudah setengah babak belur tanpa mempedulikan kawalan tadi.
Seraya memegang pundak lebar manusia yang setengah membungkuk akibat menahan nyeri, Aluna memohon, “Tolong hentikan.”
“Kenapa, Nona? Apa dia pacar lo sampai lo berani mencampuri urusan kami?”
“I-iya, dia pacar gue.”
Itu Bintang. Setengah meringis dia menyela dan berhasil membuat Aluna mendelik tak percaya. Atma mereka bersua. Membiarkan mereka saling berbicara tanpa harus membuat kata yang diperdengarkan.
Seakan mendapat sebuah kepastian bahwa semua akan baik-baik saja, Aluna bergeming dan membiarkan semua berjalan seperti yang Bintang rencanakan.
“Lo jangan membual, deh. Gue tahu … lo cuma mau minta tolong, kan?”
“Tidak! Bintang memang pacarku,” sanggah Aluna,
“Apa buktinya kalau lo emang pacar si brengsek ini?”
Tatapan pria itu benar-benar mengintimidasi Aluna. Lidah Aluna pun kelu dibuatnya.
Meneguk saliva karena gugup, Aluna mengeratkan pegangan di bahu Bintang. Berharap, sang lelaki bisa membantunya mencari cara yang tepat agar ia tidak salah dalam mengambil tindakan.
“Lo nggak bisa jawab rupanya.”
Dia mendekat. Semakin tak berjarak, tanpa melepas tangan-tangannya dari bahu Bintang, Aluna mundur sedikit demi sedikit.
“Siapa pun lo, jangan melewati batas!” gertak Bintang setelah mengulurkan tangan di antara Aluna dan ‘dia’ .
“Kenapa? Lo takut gue akan sakitin dia?” tanyanya dengan nada mengejek. “Gue lihat-lihat, pacar lo manis juga.”
Srettt! Bugh!
Bintang kembali membuat reaksi atas aksi tangan orang itu yang akan menggapai wajah Aluna. Ia berhasil melumpuhkannya sampai dia terjatuh.
Bintang terhuyung.
Tubuhnya tidak langsung jatuh, tetapi jelas hilang keseimbangan. Napasnya terdengar berat dan terputus-putus, seolah setiap tarikan udara menusuk bagian dalam dadanya.
“Bintang–” Aluna refleks menahan pundaknya.
“Gue … nggak apa-apa,” gumamnya pelan.
Namun tidak berselang lama, dua orang tadi berlari dan menarik paksa Bintang dari Aluna. Mereka mengunci lengan Bintang–mempersiapkan tubuhnya menjadi samsak pelampiasan.
‘Dia’ bangkit dan melakukan peregangan mulai dari leher hingga jari-jari. Dengan tawa rendah, dia berkata, “Lihat diri lo, Bintang Mahendra. Masih aja lo sok jadi jagoan.”
Aluna menahan napas. Ada ketakutan yang mengeras di dadanya. Bukan hanya karena orang-orang di hadapannya, tapi karena tubuh Bintang yang jelas-jelas sudah melewati batasnya.
Dan tepat saat tangan itu kembali terangkat–
“HEI?! KALIAN SEDANG APA?!”
Suara itu memecah udara malam seperti sirene. Semua gerakan terhenti. Dan terlihat dari arah dimana tadi Aluna muncul, lelaki paruh baya setengah berlari mendekati mereka.
“Sial!” umpat ‘dia’ .
Setelah memberi kode, mereka bertiga lari tunggang langgang.
“Bintang?” Aluna kembali meraih Bintang yang tersungkur akibat dihempaskan begitu saja. Telapak tangannya merasakan getaran kecil dari tubuh Bintang. Bukan karena dingin, melainkan karena tubuh itu sedang berjuang untuk kembali berdiri.
“DASAR PENGECUT!” teriak pria itu selagi berkacak pinggang di depan Bintang dan Aluna.
“Apa kalian–eh? Aluna? Ternyata ini kamu?”
Beralih dari mereka, persona itu terkejut mendapati sosok yang dia kenal ada di hadapan.
“Iya, Paman Yudi. Terima kasih sudah menolong. Perkenalkan ini teman Aluna, namanya Bintang.”
Memaksa diri untuk berdiri tanpa sanggahan, Bintang berucap, “Salam kenal, Paman. Terima kasih sudah datang menolong kami.”
“Salam kenal juga, Nak. Lukamu terlihat parah. Ayo, paman antar ke klinik terdekat.”
“Ini tidak sesakit kelihatannya, Paman. Nanti saya akan mengobatinya di rumah. Paman tidak perlu khawatir.”
“Kamu serius, Nak?”
“Iya, Paman. Terima kasih banyak untuk niat baik Paman.”
Paman Yudi mengangguk mengerti. Dari Bintang, dia beralih ke Aluna.
“Aluna baik-baik saja, Paman. Paman tidak perlu cemas.”
“Syukurlah.”
Suara derap kaki mengambil fokus mereka. Dan dari arah yang sama dengan dua manusia sebelumnya, tiga pria berseragam muncul.
“Selamat malam. Apa ada dari kalian yang bernama Aluna?” Satu diantaranya membuka sesi percakapan.
“Saya, Pak.”
Telepon genggam yang tadi terjatuh hanyalah drama yang Aluna buat demi mengulur waktu sampai pihak Kepolisian datang. Namun, Tuhan memiliki rencana lain.
Merasa bersalah atas waktu kedatangan yang tidak tepat, Paman Yudi mengucapkan ‘maaf’ beberapa kali. Dan tentunya, Aluna dan Bintang tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Pihak Kepolisian juga menyatakan permohonan maaf atas keterlambatan mereka ke lokasi yang sudah Aluna informasikan. Sehingga, mereka tidak bisa mengoptimalkan kerja dengan menangkap pelaku perundungan tersebut.
Akhirnya, semua selesai atas keputusan Bintang yang tidak ingin melanjutkan kasus ini. Dia berjanji akan membuat laporan jikalau hal serupa kembali terjadi di masa depan.
Dengan kata terima kasih yang saling bersahut, kerumunan itu pun membubarkan diri. Meninggalkan dua remaja itu dalam atmosfer kecanggungan.
“Kamu benar-benar nggak mau pergi ke klinik?” Dahi Aluna berkerut. Di wajahnya jelas tergambar kecemasan.
“Iya. Gue baik-baik saja,” Bintang tersenyum. “Terima kasih, ya, lo udah mau tolongin gue.”
Aluna mengangguk. “Iya. Nggak masalah.”
“Baiklah, Aluna. Ayo kita pulang!”
“Iya.”
“Akh!” pekik Bintang seraya memegangi perutnya sesaat sebelum melangkah.
“Bintang?” Refleks, Aluna kembali meraih pundak Bintang. “Kamu nggak baik-baik aja. Ayo pergi ke klinik, aku akan mengantarmu.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...