NovelToon NovelToon
PANGERAN MY BAD BOYFRIEND

PANGERAN MY BAD BOYFRIEND

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintamanis / Playboy / Basket / Bad Boy / Enemy to Lovers
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: cipaaiinee

Baru menginjak kelas 12, ada saja hal yang membuat Syanza harus menghadapi Pangeran, si ketua Savero.

Ketua apanya coba, tengil gitu.


"Lo pikir, lo kodok bisa berubah jadi pangeran beneran, hah??" Ketus Syanza.
"Emang gue pangeran," balas Pangeran angkuh.
"Nama doang, kelakuan kayak setan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cipaaiinee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Gadis yang berbaring di atas brankar itu membuka matanya. Di rasa tubuhnya lebih baik, Syanza merotasikan matanya melihat sekeliling.

Sofa, tempat di mana lelakj yang setia menemaninya tengah tertidur pulas. Dengkuran halusnya terdengar nyaring, tapi tidak membuat orang terganggu jika mendengarnya.

Syanza mengambil turun dan mengambil selimutnya. Ia berjalan ke arah Pangeran. Lelaki itu terlihat lelah, ditambah pasti tidak nyaman tidur di sofa yang tidak setinggi badannya.

Tepat berada di samping Pangeran. Syanza melebarkan selimut itu dari ujung kaki sampai dada Pangeran. Berjongkok untuk menatap lebih dekat paras rupawan itu. Wajah jika dilihat orang pertama kali pasti mengiranya Pangeran itu orang hang seram, galak, dan juga cuek ke sekitar. Sayangnya itu hanya cover, tanya saja pada anggotanya yang berjumlah 32 orang itu, sosok Pangeran adalah lelaki yang memprioritaskan orang lain dibanding dirinya.

Mau dibanggakan bagaimana pun tetap saja Syanza menepisnya. Hari hari selalu dapat kelakuan jahil Pangeran, tapi lebih baik daripada membuatnya nangis. Cuma kesel saja, tapi Syanza suka. Suka jika lelaki itu memang benar serius padanya. Namun, semuanya kembali lagi pada Pangeran yang mempunyai jiwa playboy ditambah sifat mode manisnya yang membuat para kaum hawa mudah kepincut.

Jika disuruh memilih antara sifat Pangeran dan Arjuna, Syanza tidak bisa menyangkal. Dia menginginkan Pangeran tapi perlakuannya yang diinginkannya seperti Arjuna. Tidak, Syanza tidak menyukai Arjuna, ia hanya kagum pada pengetahuan dan cara Arjuna memperlakukan wanita.

"Andai lo gak suka mainin cewek, mungkin gue berani membuka hati gue buat lo," ucap Syanza. Lututnya menjadi tumpuan kedua tangan dan dagunya yang berada di atas tangannya itu.

"Gue yakin, gak lama lo juga bakal putusin gue. Apalagi hubungan kita cuma karena bayaran dari gue yang gak mau jadi babu lo, mudahlah bagi lo, tapi enggak buat gue. Semoga kedepannya gue gak luluh sama perlakuan manis lo ke gue, perhatian lo yang seperti tulus tapi gue masih belum percaya," tutur Syanza. Dirinya seperti peri pengantar tidur, bisa dilihat Pangeran yang malah semakin pulas macam anak yang didongengi sang ibunya.

Syanza beringsut ke kamar mandi saat di rasa ingin buang air kecil.

Kelopak matanya yang berat terbuka, mata onyx tajamnya menyorot langit-langit yang terlihat oleh cahaya lampu hangat.

Pangeran melirik pintu kamar mandi yang tertutup. Bibirnya tersenyum simpul, kekehan kecil terdengar keluar dari pita suaranya.

"Gue gak akan lepasin lo, Syanza Axella."

Nada berat khas bangun tidur dari Pangeran bergema. Sayang sekali sang empu tidak mendengarnya.

Tubuhnya terasa hangat, dan Pangeran melihat kain tebal menutupi raganya. Ah, rasanya Pangeran mau ketawa keras. Siapa di sini yang sakit, tapi malah dirinya yang diselimuti.

Jam menggantung di dinding telah menunjukkan pukul 04.30 dini hari. Pantas saja Syanza bangun, ternyata sudah pagi. Yah, meskipun sang raja Timur belum menampakkan matanya sempurna.

Pangeran bangun dan membawa kembaki selimut milik pasien ke tempatnya. Dirinya memilih keluar karena perutnya meronta ingin di isi. Siapa yang jualan jam segini? Masa bodoh, Erzhan yakin pasti ada warung atau tempat makan yang buka.

"Dia bakal nyariin gak, ya?" Pangeran menimang dulu pikirannya. "Oke, gue tungguin. Kasihan anak orang gue tinggal sendiri," pungkasnya.

"Lama banget dah cewek kalau di kamar mandi," jengah Pangeran. Dirinya menggerakkan kakinya ke arah pintu kamar mandi.

Tok

Tok

"Sya?"

Tidak ada sahutan.

Tok

Tok

Tok

"Syanza!" Sorai Pangeran panik.

Ceklek

"Ihh kenapa sih ganggu aja," risih Syanza keluar dengan mulut penuh oleh sikat gigi.

"Oh," cengo Pangeran.

Lelaki itu menyadari sesuatu. "Astaga, Sya. Lo masih bengkak juga pipinya ngapain gosok gigi," geram Pangeran.

"Gue-Awsh, bentar." Syanza kembali ke dalam dan mencuci sikat gigi itu, tak lupa ia kumur-kumur untuk membuang busa di dalam mulutnya.

"Kan. Udah tahu sakit malah disengajain," omel Pangeran berkacak pinggang, mode emak.

"Mulut gue pahit, Altar," jelas Syanza. Semua orang juga kalau mulutnya pahit pasti tidak nyaman, ditambah bau mulut yang busuk. Membuat dirinya tak nyaman, apalagi orang lain.

Pangeran merotasikan matanya dan mendengus. "Gue mau keluar, mau beli makan. Lo mau apa?"

Kening Syanza berkerut. "Lo mau beli di mana dodol. Jam segini orang masih siap-siap, belum buka," sewot Syanza meskipun suaranya tertahan menahan sakit.

"Ada, gue tahu tempatnya," balas Pangeran. "Tahulah orang gue biasa balik jam segini dan lihat ada warung makan sedia dari subuh," lanjut gumamnya.

"Mau bubur aja," putus Syanza.

"Oke." Baru akan berbalik, Syanza menambah ucapannya.

"Jangan pakai ayamnya," usul gadis itu.

"Kenapa? Gak enak dong," heran Pangeran.

Syanza menunjuk pipinya yang membiru itu. Pangeran pun menggaruk tekuknya yang tidak gatal.

"Alright, my princes."

Syanza menyentuh dadanya. "Gak baik buat jantung gue."

1
Puji Lestari
bagus... ceritanya menarik
Puji Lestari
lanjut.... ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!