Rafael Hutama, sang putra sulung keluarga Hutama terjebak one night stand dengan Milea yang datang untuk mencari sang dosen pembimbing sesuai alamat yang tertera di data kampusnya. Tentu saja Rafa yang berada dibawah pengaruh obat tak bisa berpikir jernih hingga berakhir di tempat tidur bersama Milea. Sebagai pria keluarga terpandang tentu dia berniat menikahi Milea. Tapi anehnya Milea malah menolak. Bagaimana bisa dia menerima pertanggung jawaban Rafael jika yang dia cintai adalah Richard Hutama, sang adik yang juga merupakan dosennya di kampus??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sushanty areta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bolehkah
"Nyonya..." sebut Milea dengan suara lemah saat membuka matanya. Sofialah orang yang pertama kali muncul dalam penglihatannya. Wanita berparas ayu diusianya itu membelai pipinya penuh kasih sayang dengan pandangan teduh, sangat teduh dan tulus hingga Milea seperti dipaksa mengingat almarhumah ibunya.
"Apa yang kau rasakan?" lagi, suara lembut itu seolah menghipnotis Milea yang memandang wajah itu tanpa kedip. Seketika tubuhnya terangakat lalu refleks memeluk Sofia erat.
"Anda seperti mama bagi saya." ucap Milea dengan wajah sedihnya Entah kenapa dia jadi melankolis seperti sekarang. Sofia mengangguk lalu mengelus punggung Milea.
"Aku mengerti. Kau pasti merindukan mamamu bukan?" pertanyaan yang amat sederhana, tapi membuat Milea kembali menangis. Kehilangan ibu merupakan pukulan tersendiri bagi seorang anak perempuan. Pun saat menyadari kejadian sebelum dirinya pingsan malah membuatnya makin sedih. Mereka menjodohkan dirinya dengan Rafa hutama, bukannya Richard seperti yang ada dalam harapannya. Padahal Richard adalah cinta pertamanya.
"Kenapa anda tidak menjodohkan saya dengan pak Richard saja? kenapa harus dengannya? nyonya harus tau jika yang saya inginkan adalah pak Richard, bukan pria itu." Tangis Milea pecah. Sofia masih terus menenangkannya. Ekor matanya menangkap bayangan Fernando yang mendekat, tapi sang dokter segera memberi isyarat pada suaminya untuk tak bersuara hingga Nando memilih mundur lalu pergi dari sana. Sofia melepaskan pelukan Milea begitu gadis itu terlihat tenang. Tangannya bergerak menjangkau minuman hangat yang baru saja dibuatkan oleh bi Ana ART keluarga Ibrahim lalu menyuruh Milea minum.
"Sedari tadi kau terus menyebut pria itu..pria itu. Apa yang kau maksud adalah Rafael, putra sulung kami yang akan kami jodohkan denganmu?" Milea mengangguk, menatap segan pada Sofia. Lihatlah, dia dibuat terpana pada sosok Sofia yang amat anggun dalam balutan hijabnya. Cantik yang mempesona.
"Namanya Rafael Jibril putra Hutama, putra sulung kami, kakaknya Richard. Aku mengerti jika kau belum bisa menerima putraku. Sama sepertimu, aku juga mengalami hal seperti ini saat menikah dulu. Aku dan Fernando menikah secara terpaksa juga malah dalam situasi yang lebih parah dari yang kau alami sekarang ini. Dan ya....sering ribut juga diawal pernikahan. Tapi lihatlah nak, sekarang aku terus mensyukuri pernikahan yang awalnya tak kuinginkan ini. Pria yang sama sekali tak kucintai juga tak kuinginkan itu malah memberikan seluruh cintanya padaku." Tutur Sofia dengan pandangan menerawang sebagai bentuk kilas balik masa lalunya. Sebuah senyuman tersemat di bibir tipisnya. Terlihat sekali jika nyonya Hutama itu begitu bahagia dalam pernikahannya.
"Ingatlah jika kami tidak memaksamu Milea. Kau masih berhak menentukan jalan hidup yang kau pilih. Perjodohan ini memang kami buat untuk menyatukan kalian, tapi sekarang...sungguh, kami datang juga ingin bertanggung jawab pada masa depanmu yang sudah direnggut Rafael. Pikirkan lagi keputusanmu, kami akan menunggu." Sofia mengelus rambut sebahu Milea lalu bangkit dari duduknya.
"Jika kau menanyakan kenapa kami tak menjodohkanmu dengan Richard saja...maka kukatakan padamu jika Richard belum ingin menikah sebum Rafael menikah. Dia juga masih punya banyak impian sebelum menikah. Impian yang kami sendiri juga tak tau kapan dia mau berhenti menggapainya Milea." dan sang nyonya berlalu dari samping Milea yang masih duduk di tempatnya termangu. Sofia menyusul yang lain ke ruang tamu hingga Leon datang memapah adiknya untuk bergabung kembali.
"Milea...kami sudah sepakat jika besok siang kalian akan menikah." Ucap Ken ibrahim datar. Milly hanya diam, tak tau harus menjawab apa. Dia melirik Richard dan Rafa yang duduk bersebelahan di sofa sebarang meja. Kakak beradik itu duduk santai walau tak menghilangkan kesan sopannya. Dua wajah yang hampir sama, tetapi berbeda. Milea menarik nafas panjang.
"Apa aku punya pilihan, pa?" lirih Milea sambil menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Ken dan Leon yang seolah menusuknya.
"Tidak. Kau harus menurut Milly." tegas Ken dengan wajah seriusnya.
"Besok kalian...."
"Hubby..." Kata Sofia memotong ucapan Fernando yang akan memutuskan pernikahan itu secara sepihak. Nando memilih tak melanjutkan kata-katanya saat melihat istrinya terlihat amat serius menatapnya.
"Sama seperti perkataanku tadi Milea...tak ada paksaan bagimu dari keluarga kami. Pilihlah jalan hidup yang kau yakini." Jelas Sofia dengan nada amat pelan hingga Milea dibuat terhenyak karenanya. Semua orang yang disana terdiam menunggu jawaban Milea yang terus menautkan tangannya, gugup.
"Bo...bolehkah saya memanggil anda mama, nyonya." pinta Milea penuh harap sambil memberanikan diri menatap netra coklat tua di depannya.
"Tentu ..tentu saja sayang." lirih Sofia penuh kasih.
iki onok nofel kocak