Demi mendapatkan biaya operasi sang ayah yang mengidap penyakit jantung, Nabila Kanaya terpaksa menikah dengan Sean Ibrahim, lelaki yang tak lain adalah suami dari sahabatnya.
Sandra Milea, seorang model terkenal yang
namanya sedang naik daun di dunia entertainment, terpaksa meminta sahabatnya untuk menikah dengan suami tercintanya demi mendapatkan seorang anak yang sudah lama didambakan oleh Sean dan juga mertuanya. Bukan karena Sandra tidak bisa mempunyai anak, tetapi, Sandra hanya belum siap kehilangan karirnya di dunia model jika dirinya tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang anak.
Lalu, bagaimana nasib pernikahan Kanaya dengan suami sahabatnya itu? Akankah Kanaya menderita karena menikah tanpa cinta dan menjadi istri rahasia dari suami sahabatnya? Ataukah Kanaya justru bahagia saat mengetahui kalau suami dari sahabatnya itu ternyata adalah seseorang yang dulu pernah singgah di hatinya?
Yuk, ikutin kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8 RENCANA YANG TERTUNDA
"Baiklah! Aku akan menunggu sampai ayah kamu pulang dari rumah sakit. Setelah itu, aku ingin kalian segera menikah." Sandra menatap Kanaya. Sebenarnya perempuan itu merasa tidak enak, tetapi, Sandra terpaksa melakukannya.
Sebentar lagi, ia harus berangkat ke luar negeri. Kontrak kerja yang ia tanda tangani selama setahun itu bisa ia pergunakan untuk menyusun rencananya.
Sandra akan membawa Kanaya ikut bersamanya, begitupun juga dengan suaminya. Sandra bahkan sudah memesan apartemen untuk ditinggali oleh Kanaya dan Sean.
"Apa aku benar-benar harus ikut ke Paris bersamamu? Tidak bisakah aku menolak dan memilih tempat lain untuk bersembunyi?" Kanaya mencoba menawar.
"Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan keluargaku, Sandra. Apalagi, ayahku baru saja dioperasi. Sampai sekarang, ayah bahkan masih di rumah sakit, belum sadarkan diri. Aku tidak mungkin membiarkan ibu dan adik-adikku ...." Kanaya menarik napas panjang. Kedua mata gadis cantik itu berkaca-kaca.
"Aku tahu, kamu sudah membantuku membayar biaya operasi ayahku dan aku sudah berjanji akan memenuhi syarat yang kamu inginkan, yaitu menikah dengan suamimu, tetapi, aku tidak bisa meninggalkan kewajibanku sebagai seorang anak. Mengertilah! Aku mohon ...."
Sandra menatap Kanaya dengan tatapan bersalah. Perempuan cantik itu kemudian mendekati Kanaya dan memeluknya.
"Maafkan aku."
Sandra memeluk sahabatnya yang kini sudah menangis.
"Maafkan aku, aku memang egois. Tapi aku benar-benar tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa lagi."
"Aku akan menolongmu, sesuai syarat yang kamu minta sebelum kamu mengirimkan uang itu. Aku hanya tidak setuju kalau aku harus ikut kalian ke luar negeri." Kanaya menatap Sandra dengan tatapan memohon.
"Kalian bisa persiapkan tempat yang jauh buat aku tinggali, tetapi bukan di luar negeri, apalagi sampai ikut ke Paris."
"Aku mohon ...."
"Tapi aku ingin kamu ikut denganku karena aku tidak mau kalau kedua orang tua Sean curiga kalau aku membohongi mereka. Aku sengaja ingin membawamu ke sana agar aku bisa merekayasa kehamilanku."
Kedua perempuan itu terus saja berbicara. Sementara itu, Sean hanya terdiam sambil sesekali menatap istri dan sahabatnya itu.
Sepertinya Sandra benar-benar mempercayai perempuan itu. Mereka berdua terlihat saling menyayangi dan mengerti satu sama lain. Ah, Sandra! Kenapa kamu memberikan keputusan yang sangat berat untukku?
"Sayang ... kalau dia memang tidak mau ikut kita ke Paris–"
Ucapan Sean terhenti saat ponsel di dalam saku kemejanya berdering. Pria tampan itu langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Ada apa, Pa?"
"Sean, sepertinya kamu harus membatalkan perjalanan bisnis kamu ke Paris."
"Kenapa, Pa?" Sean sangat terkejut mendengar ucapan sang Papa.
"Bisnis kita yang di Surabaya sedang mengalami masalah. Papa ingin kamu yang mengurusnya ke sana. Semua urusan bisnis kamu yang di luar negeri biar Papa yang urus!"
"Tapi, Pa–"
"Jangan membantah! Papa dan mama sudah bersiap untuk berangkat besok pagi. Papa berangkat lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Mama kamu mengajak liburan sambil bekerja."
"Papa–"
"Setelah urusan kamu di Surabaya selesai, kamu bisa kembali ke Jakarta. Papa dan mamamu memutuskan untuk menetap di luar negeri setelah urusan pekerjaan selesai."
"Pa, kenapa Papa mengambil keputusan tanpa membicarakannya lebih dahulu denganku?" Sean terlihat kesal.
"Semua demi ibumu. Perempuan yang melahirkanmu itu ingin kamu segera punya anak, agar kami punya pewaris yang nantinya akan menggantikan kami."
"Papa ...."
"Dengar, Sean! Suruh istrimu melakukan program hamil dan berhenti dari pekerjaannya, kalau tidak, ibumu benar-benar akan mencarikan kamu perempuan lain untuk menjadi istrimu demi mendapatkan keturunan!"
"Papa!"
"Sudahlah! Papa dan mama berangkat dulu. Jaga dirimu, dan pikirkan ucapan papa baik-baik, Sean!"
"Keluarga Ibrahim bukanlah keluarga lemah, di mana sang laki-laki tunduk pada perempuannya hanya karena alasan cinta. Selama ini kamu sudah mengalah dan memenuhi semua keinginan Sandra. Sekarang, giliran dia yang harus menuruti semua keinginan kamu!"
Belum sempat menjawab, Ibrahim sudah menutup panggilan teleponnya. Sean menghela napas panjang. Pria itu memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pening tiba-tiba setelah mendengar kata-kata dari mulut sang papa.
Sean melirik ke arah dua perempuan cantik di hadapannya yang kini sedang menatapnya dengan penasaran.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Sandra yang khawatir melihat wajah Sean yang langsung berubah setelah menerima telepon, mendekati suami tercintanya itu.
"Papa membatalkan perjalanan bisnisku ke Paris. Selama setahun ini, papa dan mama yang akan mengurus bisnisku di sana. Mereka akan menetap di sana."
"Apa?" Kedua mata Sandra membola saat mendengar penuturan Sean.
"Kalau kedua orang tuamu tinggal di sana, lalu, bagiamana dengan rencana kita?" Sandra terlihat panik.
"Aku sudah menandatangani surat kontrak untuk pekerjaanku di sana. Kalau kedua orang tuamu ada di sana, mereka pasti akan memantau semua gerak-gerikku, dan mereka akan tahu kalau sebenarnya aku tidak hamil."
Sandra terlihat panik sekaligus kesal.
"Jalan satu-satunya, kamu harus membatalkan pekerjaanmu di Paris!"
"Sayang ... bagaimana bisa aku membatalkan pekerjaanku di sana? Menjadi model yang bisa go internasional adalah impianku sejak dulu, bagaimana mungkin aku melepaskan semua impianku sekarang?"
"Kalau begitu, terserah dirimu saja. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan!" Sean menatap tajam ke arah istri cantiknya yang begitu keras kepala.
"Sayang ... apa kamu marah?" Sandra menatap Sean dengan kedua mata berkaca-kaca. Kedua tangannya menangkup wajah tampan suaminya.
"Aku tidak tahu lagi harus memberimu solusi apa. Papa menyuruhku pergi ke Surabaya untuk membereskan masalah di sana."
"Apa?" Sandra kembali terkejut mendengar ucapan Sean.
"Aku kan tadi sudah bilang, semua urusan pekerjaan di luar negeri, papa dan mama yang urus. Setelah pekerjaanku yang di Surabaya selesai, papa menyuruhku memegang kendali perusahaan papa yang di sini." Sean menatap wajah istrinya dengan raut wajah menyesal.
Sepertinya, kali ini kedua orang tuanya benar-benar serius. Mereka sudah hilang kesabaran menghadapi Sandra yang sampai saat ini belum mau memberikan keturunan calon pewaris tahta keluarga Ibrahim.
"Aku akan tetap ke Paris dan kalian berdua juga harus tetap menikah."
"Sandra!" Sean dan Kanaya berucap bersamaan.
"Jangan gegabah! Kalau aku menikah dengannya sekarang, akan ada kemungkinan dia akan lebih dulu hamil dari waktu yang ditentukan. Tapi itu pun seandainya dia masih ... perawan!" Sean melirik Kanaya yang langsung melotot ke arahnya.
"Tentu saja dia masih perawan, Sayang ... Kanaya bahkan tidak pernah dekat dengan pria manapun," ucap Sandra menatap ke arah Sean. Sementara, Kanaya mengepalkan tangannya.
Apa-apaan dia? Apa dia pikir, aku ini perempuan murahan?
"Kalau memang apa yang dikatakan oleh kamu itu benar, aku tidak bisa menikah dengannya sekarang. Bukankah kau akan bekerja di sana selama setahun?" Sean menatap sang istri yang terlihat mengangguk pelan.
"Kalau dalam waktu kurang dari setahun ternyata dia sudah hamil bagaimana? Bukannya itu akan membuat orang tuaku bertambah curiga?"
"Kau benar. Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu." Sandra memeluk Sean. Air matanya sudah tumpah membasahi wajah cantiknya.
"Apa bedanya dengan kamu menyerahkan aku pada sahabatmu itu? Bukankah dia juga wanita lain?"
"Kanaya berbeda. Aku yakin, dia tidak akan pernah mengkhianatiku. Benar, kan, Kanaya?"
Sandra melepas pelukannya, menatap Kanaya yang langsung tergagap mendengar kalimat yang diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Benarkan, Naya?"
"Apanya yang benar?" Kanaya malah balik bertanya.
"Seandainya kamu menikah dengan Sean, kamu tidak akan mengambil Sean dariku, kan? Kamu hanya akan bersama Sean sampai waktu yang aku tentukan, setelah itu, kamu dan Sean tidak akan pernah bertemu lagi. Hubungan kalian selesai!"
"Kanaya–"
"Tentu saja. Aku akan menurutimu sesuai perjanjian kita. Kamu sudah menolongku dengan membantuku membiayai operasi ayah, tidak mungkin aku akan mengkhianatimu bukan?"
Ya! Mungkin benar, aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Tetapi hatiku ... aku tidak yakin kalau hatiku tidak akan mengkhianatiku setelah dia bertemu dengan pemiliknya yang selama ini menghilang selama bertahun-tahun.
BERSAMBUNG ....
Baca juga karya teman Author yang satu ini ya ....
Blurb
Bagaimana takdir membolak balikkan cinta, atau sebenarnya cintakah yang telah membolak-balikkan takdir?
Sebuah buku note berisi puisi mempertemukan Abra, (Abraham Natawijaya 24 tahun) seorang CEO muda pada seorang gadis bertopeng yang misterius di sebuah pesta topeng yang dihadirinya. Gadis itu mampu memikat hatinya karena mampu tampil beda dengan berjilbab hingga ia mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya.
Shasa (Shanum Andina Prawira 19 tahun) gadis yatim piatu yang diduga sebagai gadis bertopeng itu terpaksa menyangkal, karena permintaan sepupunya Rika, yang iri padanya. Ia dipaksa pacaran dengan pria yang sedang dekat dengan sepupunya itu(Bima) hingga memupus harapan Abra untuk mendekatinya.
Namun begitu, dunia kerja mendekatkan mereka walaupun kemudian keberadaan Kevin, kakak tiri Abra yang juga menyukai Shasa memperkeruh hubungan mereka.
Lalu dapatkan Abra mendapatkan cinta Shasa seutuhnya? Kawal terus perjuangan Abra untuk mendapatkan pujaan hati.