NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertolongan Pertama pada Perasaan

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 “GUE UDAH PUNYA PACAR! APA LO PUAS SEKARANG?!”

 Menatap wajah basah dalam pantulan cermin, ingatan Aluna mengulang kejadian tadi. Jawaban Bintang masihlah dengan jelas Aluna ingat. Bahkan, rahang Bintang yang mengeras setelah mengatakannya begitu kuat dalam memori gadis dari keluarga Wicaksana tersebut.

 Tersadar terlalu lama merenung, Aluna kembali membasuh wajah dan menyeka buliran air di sana dengan handuk kecil. Masih dengan seragam yang melekat di badan, Aluna berjalan tergesa menuju dapur.

 Mengambil baskom berukuran sedang lalu mengisinya dengan air serta sedikit cairan antiseptik, urusan Aluna belum selesai di situ. Satu wadah lagi ia siapkan untuk menampung beberapa ice cube dan air. Sebuah kotak obat tidak lupa dia siapkan. Akhirnya, ia kembali melintasi ruang tengah dengan nampan berisi tiga benda tersebut.

 Suara sandal rumah yang bersentuhan dengan lantai menemani setiap langkahnya sampai pekarangan rumah. Tepat di bangku panjang yang memang tersedia, dia berhenti.

 “Maaf membuatmu menunggu,” kata Aluna selagi menempatkan barang yang ia bawa di sebelah lelaki yang berhasil dia bawa pulang.

 Bintang langsung mengulas senyum setelah mendapati persona Aluna telah hadir di sampingnya. Melupakan sudut bibirnya yang terluka dan berubah keunguan.

 “Nggak lama, kok,” kata Bintang seraya membenarkan duduk. Tanpa jeda, fokus penglihatannya mengikuti setiap pergerakan Aluna yang masih sibuk dengan urusannya.

 Suara air dari perasan handuk hadir kemudian.

 “Ini untuk mengompres …,” jelas Aluna selagi tangannya memberi contoh di mana handuk dari rendaman air es itu harus digunakan. Tepat di rahang bawah bagian kiri. Tanpa kata Bintang menerima dan melakukan hal serupa.

 Kehadiran Bintang di kediaman Wicaksana bukanlah keinginan Aluna. Aluna sudah menyuruh Bintang untuk pergi ke rumah sakit. Walau Bintang sendiri merasakan perih di wajah dan ngilu di sekujur tubuh, tapi dengan keukeuh dia menolak. Bagi Bintang, itu merepotkan.

 Dan berlandaskan rasa tidak tega, Aluna pun menawarkan pertolongan. Sebab lain ia berani menawarinya karena rumah Aluna dekat dengan tempat kejadian perkara. Meski bukan anggota PMR(Palang Merah Remaja) di sekolah, untuk pengobatan dasar dia sudah belajar dari Alea.

 “Ehm … Bintang … Maaf, aku akan membantumu membersihkan lukanya dulu.”

 Nyatanya, Aluna masih belum terbiasa berinteraksi tanpa rasa canggung dengan Bintang.

 Bintang mengangguk dan membenarkan posisi; lebih menghadap Aluna guna memberi kemudahan pada gadis itu untuk melakukan pertolongan.

 Dimulai dari sudut bibir bagian kiri, penuh kehatian-hatian Aluna melakukan penanganan. Pikirannya fokus, berbeda dengan si pasien yang mencoba untuk melirik paras cantik yang tidak pernah lihat sedekat ini.

 Luka pertama sudah selesai. Kini, Aluna mempersiapkan diri untuk mengobati pelipis kanan Bintang. Darah di sana sudah mengering, sehingga Aluna mulai membersihkan dengan kapas yang sudah dicelupkan pada campuran air dan antiseptik.

 Ditengah-tengah aktivitas, Aluna berhenti tiba-tiba. Tanpa mengubah titik pandang dari luka, dengan bernada lembut dan sedikit tersendat, bibirnya berkata, “B-Bintang, t-tolong tutup matamu.”

 Bintang mengabulkannya tanpa syarat.

 “Aluna itu orang yang berhati malaikat. Dia akan melakukan yang terbaik untuk orang di sekitarnya.” Dalam gelapnya pandangan, Bintang terkenang kata seseorang yang dia dengar beberapa pekan yang lalu.

 “OK! Sudah selesai.”

 Mungkin karena terlalu sibuk dalam minda, bagi Bintang cukup cepat untuk Aluna menempelkan plester luka terakhir di tulang hidungnya. Berbanding terbalik dengan Aluna yang meyakini bahwa waktu berjalan lambat dan membuatnya sedikit sesak di dada karena menahan napas ketika wajahnya harus berdekatan dengan wajah penuh pesona Bintang.

 “Terima kasih,” ujar Bintang.

 “Terima kasih kembali,” balas Aluna tanpa lengah membereskan perlengkapan ke tempat semula. “Aku akan menyimpan ini dulu,” katanya kemudian.

 Aluna masih ingat tentang harapannya yang meletup tiga hari lalu. Meski melupakan tidak semudah membalikkan tangan, Aluna tahu ia tidak boleh berharap dengan cara yang sama lagi.

 “T-tunggu!” Bintang berhasil menghentikan pergerakan Aluna. Membuat sosoknya kembali duduk dengan wajah tanda tanya.

 “Gue sebentar lagi akan pulang. Ehm … apa bisa lo temani gue sebentar di sini?”

 Kelopak Aluna berkedip beberapa kali. Ragu. Namun, berakhir menyetujui.

 “Thanks.” Bintang mengatakannya lagi dengan kurva di wajah yang terlihat lebih mengembang dari sebelumnya.

 Nampan kembali ke tempat semula; di antara keduanya. Kemudian, mengikuti arah pandang Bintang ke depan sana, Aluna duduk diam. Dia terus berusaha mengingat bahwa ia hanya seorang kenalan yang memiliki niat untuk menolong. Dia tidak ingin membuat dirinya salah faham sendiri karena saat ini ia dan Bintang menikmati waktu dan hal yang sama.

 Suara klakson dari jalan raya utama terdengar beberapa kali. Terkadang saling bersahut dengan suara-suara manusia yang masih belum beristirahat meski hari sudah sampai pada pukul sepuluh malam.

 “Aluna … terima kasih, ya, karena lo tadi sudah tolongin gue. Gue nggak tahu bakal jadi kayak apa kalau lo tadi nggak ada,” kata Bintang memecah kebisuan seraya memandang lamat netra Aluna yang memanjang dengan sudut sedikit terangkat–tajam, namun dibalut ketenangan.

 Gadis yang sudah menoleh semenjak namanya dipanggil, kini sedang tersipu. Lantas ia menjawab, “Terima kasih kembali, Bintang. Sebenarnya …, tadi aku hanya kebetulan lewat. Jadi, tolong jangan dibuat gimana, ya.”

 Bintang tersenyum simpul. Lalu, selagi mengusap tengkuknya, Bintang berdengung sesaat sebelum dia berkata, “Maaf, ya, tadi gue udah lancang dengan bilang kalau lo pacar gue.”

 Perasaan Aluna kembali bercampur. Ada perasaan senang tetapi tidak tenang menggerayangi diri. Lantas, sembari meremas tangannya sendiri dia tertawa canggung.

 “Nggak apa-apa, kok, Bintang. Aku paham, kok.”

 Senyum penuh arti pun lahir di bibir Bintang. “Terima kasih,” ujarnya.

 Aluna jadi salah tingkah sendiri karena Bintang terus mengatakan terima kasih. Lidahnya kelu dan berakhir dengan sebuah anggukan singkat menjadi jawaban darinya untuk Bintang.

 Hening memeluk mereka kemudian.

 Dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang masih menampilkan gemerlap lampunya, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing sampai Bintang kembali memanggil nama gadis di sampingnya.

 “Kenapa lo buru-buru pergi waktu itu?”

 Aluna memiringkan kepala. Dia sedikit kehilangan arah pembicaraan.

 “Ketika gue kasih lo cokelat,” jelas Bintang membenarkan dugaan yang sempat terlintas di pikiran Aluna.

 “Oh … Karena aku sudah terlambat masuk kelas, jadi aku buru-buru pergi. Sorry, ya, kalau buat kamu salah paham.”

 “Yang benar? Jadi, bukan karena jawaban gue atas surat lo yang jadi alasan lo ninggalin gue?”

 Tercubit kenyataan yang sudah berlalu, Aluna hanya bisa berbohong dibalik senyuman manis khas miliknya. “Tidak. Bukan karena itu,” jawabnya.

 “Syukurlah …. Tapi …, sebenarnya ada hal lain yang ingin gue kasih tahu lo waktu itu.”

 Kening Aluna bertaut. “Apa?”

 “Yang gue maksud nggak bisa balas waktu itu adalah surat lo, bukan perasaan lo.”

 Kelopak mata Aluna melebar. Napasnya tertahan sepersekian detik.

“A-apa maksud kamu, Ka?”

 “Maksud gue …,” Bintang menghela napas singkat, seolah menyiapkan keberanian.

 “… gue harap lo mau jadi pacar gue.”

 Dunia Aluna seperti berhenti–bukan karena ia tidak bahagia, melainkan karena ia terlalu bahagia untuk berani mempercayainya.

 Bibirnya bergetar membentuk senyum kecil yang tidak pernah benar-benar jadi.

 “Bintang … jangan bercanda.”

 “Gue nggak bercanda, Luna.”

 Aluna menggeleng pelan. Tangannya mengepal, menggenggam satu sama lain.

 “Apa karena aku menolongmu tadi, Bintang?” suaranya lirih dalam tunduk.

 “Bukan, Aluna.”

 Hening menekan.

 “Aku … aku senang,” kata Aluna jujur, nyaris berbisik. Ia mengangkat wajah, memaksa tatapan bertemu. “Tapi aku nggak bisa jawab sekarang.”

 Aluna berdiri.

 “Kamu harus pulang sekarang, Bintang.”

 Bintang menahan napas. “Aluna–”

 “Tolong pulanglah,” potongnya lembut, namun tegas. “Kalau ini memang perasaanmu, jangan ucapkan saat kamu sedang berhutang nyawa padaku.”

 Aluna meraih nampannya lagi. Ia membalikkan badan sebelum perasaannya berkhianat. Karena jika ia menoleh satu kali lagi, dia takut bibirnya akan berkata “iya” .

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!