Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Temuan Kode Sandi
"Apa yang baru saja lo sembunyikan di balik kardus itu, Jace?"
Suara dingin Riana memecah keheningan yang mengikat ruang arsip. Nada bicaranya sangat pelan, tapi ketajamannya sanggup memotong detak jantung Jace yang sedang berpacu kencang. Perempuan berkacamata tebal itu sama sekali tidak menoleh dari layar tablet kerjanya, tapi entah bagaimana dia tahu Jace berhenti memilah dokumen.
Jace menelan ludah. Dia buru-buru melipat lembar kertas buram berstempel tengkorak merah jambu itu menjadi ukuran yang sangat kecil. Dengan gerakan secepat kilat yang sudah sangat terlatih di medan pertempuran, dia menyelipkan bukti pembunuhan rahasia tersebut ke dalam saku kiri celana seragamnya.
"Tidak ada yang disembunyikan, Bu HRD," jawab Jace lancar. Dia memutar tubuhnya menghadap Riana sambil mengangkat kedua tangan kosongnya tinggi-tinggi ke udara. "Cuma nemu brosur panti pijat tua yang sudah lecek banget. Tahu sendiri kan, orang lapangan kadang suka simpan barang aneh di tumpukan dokumen rahasia."
Riana meletakkan tablet kerjanya di atas kardus. Dia melompat turun dengan gerakan mendarat yang sangat ringan, berjalan mendekati Jace yang masih duduk lesehan di lantai kotor berdebu. Tatapan matanya tajam menelusuri wajah pria tampan berseragam biru muda itu dari atas sampai bawah.
"Bongkar isi saku celana lo sekarang juga," perintah Riana tanpa basa-basi sedikit pun.
Jace membelalakkan matanya, berpura-pura terkejut dengan sangat dramatis. "Wah, ini namanya pelecehan di tempat kerja, Bu. Masa Manajer HRD mau menggeledah saku celana petugas kebersihan? Nanti kalau ada staf divisi lain yang lihat, reputasi Ibu bisa hancur berantakan di grup gosip kantor."
"Gue bilang bongkar saku lo sekarang, Jace. Jangan sampai gue panggil petugas keamanan buat telanjangi lo paksa di lobi depan." Riana mengangkat sebuah gunting besi besar dari meja di sebelahnya, memutar gagang gunting itu di jarinya dengan sangat lihai.
Jace tertawa canggung. Perempuan di depannya ini benar-benar tidak bisa diajak negosiasi apalagi bercanda. Jace memasukkan tangan kanannya ke saku kanan, sengaja mengambil sebuah bungkus permen karet rasa daun mint yang sudah kosong melompong, lalu melemparnya ke lantai beton.
"Tuh, cuma sampah plastik," kilah Jace santai. Kertas rahasia Aegis Corp itu aman di saku kiri. "Sudah kubilang, tidak ada barang penting di sini. Cuma ada debu, sarang laba-laba, dan kelelahan tingkat dewa gara-gara lembur paksa."
Riana menatap bungkus permen karet di lantai itu selama beberapa detik, lalu kembali menatap mata Jace dengan tatapan mengintimidasi tingkat tinggi. Ruang arsip ini mendadak terasa semakin dingin dan mengancam.
"Keluar dari sini," usir Riana tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat final dan mutlak.
"Eh? Lembur paksa bagianku sudah selesai?" Jace pura-pura bingung sambil menunjuk gunungan kardus.
"Waktu lo habis. Angka jam di dinding sudah berkedip ribuan kali sejak lo buka kardus terakhir. Keluar dari ruang arsip ini, dan jangan pernah coba-coba kelayapan di lantai lima belas lagi kalau lo masih mau gajian penuh bulan ini."
Jace segera bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu tebal yang menempel di celananya. Dia memberi hormat dengan gaya sangat menyebalkan kepada Riana.
"Siap laksanakan, Bu Bos. Terima kasih atas pengalaman kerja paksa yang sangat berkesan ini. Semoga hari Ibu menyenangkan dan jauh dari gangguan bos mafia marah-marah."
Riana sama sekali tidak membalas ucapan itu. Dia hanya menunjuk pintu besi tebal yang sudah terbuka setengah. Jace berjalan keluar ruangan sambil bersiul pelan. Begitu sepatu bot Jace melewati ambang pintu, Riana langsung menekan tombol kunci di panel dinding. Pintu besi raksasa itu tertutup rapat kembali dengan suara bantingan yang berat.
Di luar sana, Jace berhenti bersiul seketika. Wajah bodoh andalannya langsung berubah menjadi sangat serius dan penuh perhitungan. Tangannya merogoh saku kiri, memastikan kertas berstempel merah jambu itu masih ada di sana.
"Operasi Pembersihan. Target Kara. Status Sukses," gumam Jace pelan nyaris tak terdengar.
Otaknya menyusun kepingan teka-teki dengan sangat cepat. Jadi ledakan mobil mematikan di jalan tol pesisir enam bulan lalu itu bukan kecelakaan murni atau serangan dari geng rival. Aegis Corp sengaja melenyapkan algojo terbaik mereka sendiri.
Fakta ini sangat menarik. Fakta ini menjadi lebih gila lagi saat Jace menyadari HRD berkacamata tebal di dalam sana memiliki refleks bertarung yang persis sama dengan mendiang Kara.
Jace melangkah pergi meninggalkan lantai lima belas, bersiap melaporkan temuan gila ini ke markas Diwantara Group.
***
Di dalam ruang HRD utama, Riana berjalan santai menuju meja kerjanya. Dia melempar tablet kerjanya ke atas meja, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi kulit yang empuk. Matanya terasa sedikit perih karena terus-terusan menatap layar berpendar di ruangan berdebu.
Dia menekan tombol daya pada komputer desktop raksasa merek Zenith di depannya. Layar monitor melengkung itu menyala terang, langsung memuat sistem dasbor utama jaringan internal Aegis Corp. Riana mengambil cangkir kertas kosong bekas kopinya dan meremasnya kuat-kuat hingga hancur. Dia butuh asupan kopi hitam baru untuk menghadapi rutinitas neraka hari ini.
Baru saja dia berniat berdiri menuju pantri, sebuah jendela notifikasi berwarna merah menyala tiba-tiba melompat kasar di tengah layar komputernya.
Lampu indikator di pinggir monitor berkedip-kedip memberi tanda bahaya. Nada peringatan berbunyi nyaring sebanyak tiga kali berturut-turut. Riana menghentikan gerakannya. Matanya langsung terpaku pada kotak pesan berkedip itu. Tidak ada satupun staf di gedung ini yang bisa mengirimkan pesan prioritas warna merah kecuali jajaran dewan direksi paling atas.
Jari Riana menekan mouse komputernya, membuka pesan rahasia tersebut dengan cepat.
Subjek: Inspeksi Internal Divisi Sumber Daya Manusia.
Jadwal: Pukul 13.00 Siang Ini.
Penanggung Jawab Inspeksi: CEO Aegis Corp.
Status Kehadiran: Wajib. Penolakan akan dianggap sebagai pembangkangan tingkat satu.
Suasana ruang kerja Riana mendadak terasa hampa udara. Suhu dingin dari mesin pendingin ruangan seolah membekukan aliran darah di pembuluh nadinya. Layar monitor itu memantulkan cahaya putih ke wajah Riana yang kini mengeras sekeras batu karang.
Nama CEO Aegis Corp di layar itu memukul telak kesadaran Riana. Pria itu akan datang ke ruangannya. Pria yang enam bulan lalu meneleponnya dengan suara sangat tenang, mengucapkan kalimat perpisahan tanpa ampun, lalu menekan tombol pemicu bahan peledak C4 di bawah jok mobilnya.
Ingatan tentang kobaran api yang menjilat kulit lehernya kembali berkelebat sangat cepat dan brutal di dalam kepala Riana. Bau daging terbakar, suara besi mobil melengking robek, dan rasa sakit luar biasa yang mengoyak tubuhnya di jalan tol pesisir itu terasa begitu nyata mencengkeram lehernya.
Dada Riana naik turun menahan gelombang emosi yang meledak-ledak. Tangan kanannya tanpa sadar meraba leher bagian belakang, menyentuh tepian bekas luka bakar parah yang sengaja dia sembunyikan rapat-rapat di balik kerah kemeja putihnya yang tinggi. Itu adalah luka pengkhianatan mutlak. Luka yang mengingatkan betapa bodohnya dia menyerahkan seluruh kesetiaan hidupnya pada organisasi kotor ini.
"Lo berani datang ke kandang gue," desis Riana pelan.
Suaranya tidak lagi terdengar datar seperti orang kantoran biasa, melainkan bergetar penuh ancaman mematikan. Tangan kanannya bergerak mengambil sebuah pulpen besi tebal dari atas meja kerja. Dia menggenggam pulpen logam itu dengan sangat erat, menyalurkan seluruh amarah dan dendam kesumat yang mendidih panas di aliran darahnya.
Genggaman itu semakin kuat. Buku-buku jari Riana memutih pasi. Otot-otot di lengan bawahnya menegang sempurna.
Krak!
Pulpen besi padat berharga mahal itu patah menjadi dua bagian tepat di tengahnya. Tinta hitam menyemprot keluar, mengotori telapak tangannya dan membasahi sebagian meja kerja putih tersebut.
Riana membiarkan pecahan pulpen tajam itu jatuh bergemerincing ke lantai. Dia sama sekali tidak memedulikan cairan tinta pekat yang menetes dari tangannya. Perempuan itu mendongak pelan, menatap tajam pantulan wajahnya sendiri di layar monitor komputer yang gelap di bagian sudutnya.
Kacamata tebal itu masih bertengger rapi di hidungnya, tapi mata di baliknya bukan lagi mata culun seorang Manajer HRD yang gila birokrasi. Mata itu telah berubah total.
Sorotnya sangat gelap, buas, dan haus darah. Itu adalah tatapan murni seorang algojo pencabut nyawa yang bersiap merobek leher mangsa terbesarnya siang ini.
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪