"Cahaya di Tengah Hujan"
Rini, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya demi wanita lain, berjuang sendirian menghidupi dua anaknya yang masih kecil. Dengan cinta yang besar dan tekad yang kuat, ia menghadapi kerasnya hidup di tengah pengkhianatan dan kesulitan ekonomi.
Di balik luka dan air mata, Rini menemukan kekuatan yang tak pernah ia duga. Apakah ia mampu bangkit dan memberi kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?
Sebuah kisah tentang cinta seorang ibu, perjuangan, dan harapan di tengah badai kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1337Creation's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka dihari Ayah
Bab 7: Luka di Hari Ayah
Hari itu, sekolah Aditya mengadakan perayaan Hari Ayah. Setiap murid diminta membawa ayah mereka untuk mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari lomba hingga sesi berbagi cerita. Suasana sekolah penuh dengan tawa dan kebahagiaan, tetapi tidak untuk Aditya.
Aditya duduk di bangkunya dengan kepala menunduk. Ia tahu, hari ini akan menjadi hari yang sulit. Ketika murid lain datang menggandeng tangan ayah mereka dengan wajah ceria, ia hanya bisa menatap mereka dari jauh, merasa semakin terasing.
“Aditya, ayahmu mana?” tanya seorang teman sekelasnya dengan nada usil.
Aditya mencoba mengabaikannya. Ia sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu. Namun, Aris, salah satu murid berandalan di kelasnya, mendekat dengan senyum mengejek.
“Eh, Aditya nggak punya ayah, ya? Makanya dia nggak bawa siapa-siapa ke sini,” kata Aris dengan nada mengejek, membuat beberapa murid lain tertawa kecil.
Aditya mengangkat kepalanya, menatap Aris dengan mata penuh amarah. “Aku punya ayah. Dia cuma nggak ada di sini.”
Aris tertawa keras. “Punya ayah? Kalau punya, kenapa dia nggak pernah kelihatan? Jangan-jangan ayahmu kabur karena nggak mau ngurus kamu!”
Tawa semakin keras memenuhi kelas. Aditya merasa dadanya sesak, tapi ia tidak ingin menangis. Ia tidak mau terlihat lemah di depan mereka.
“Dengar, ya!” kata Aditya sambil berdiri. Suaranya tegas, meskipun matanya mulai memerah. “Mungkin ayahku pergi, tapi aku nggak peduli. Yang penting aku masih punya ibu, dan dia adalah orang yang paling hebat di dunia. Jadi, berhenti mengejek aku!”
Kelas mendadak hening, tapi Aris tidak berhenti di situ. Ia mendekati Aditya dengan langkah penuh kesombongan, lalu berkata, “Kamu marah, ya? Mau nangis?”
Sebelum Aditya sempat merespons, Aris tiba-tiba menendang kakinya dengan keras. Aditya terjatuh ke tanah berlumpur di luar kelas. Bajunya yang sudah lusuh menjadi kotor, sementara gelak tawa anak-anak lain kembali terdengar.
Aditya merasakan sakit di tubuhnya, tetapi lebih dari itu, hatinya yang terluka. Ia berdiri perlahan, membersihkan bajunya sebisa mungkin, lalu berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
---
Ketika Aditya sampai di rumah, Rini langsung menyadari ada yang tidak beres. Bajunya kotor, dan wajahnya menunjukkan ekspresi murung.
“Aditya, kamu kenapa? Ada apa di sekolah?” tanya Rini sambil mendekati anak sulungnya.
Aditya menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Aku dibully lagi, Bu. Mereka mengejek aku karena ayah nggak ada. Mereka bilang ayah kabur. Terus ada anak yang namanya Aris, dia malah tendang aku sampai jatuh ke lumpur.”
Rini merasakan hatinya hancur mendengar cerita itu. Ia memeluk Aditya dengan erat, mencoba memberikan rasa aman kepada anaknya.
“Aditya, dengar ya. Ibu tahu ini berat, tapi kamu harus sabar,” kata Rini dengan suara lembut.
“Tapi, Bu… Kalau aku diam saja, mereka akan terus mengejek aku,” balas Aditya dengan mata berkaca-kaca.
Rini membelai kepala anaknya, mencoba menenangkan. “Ibu tahu kamu ingin membalas, tapi melawan mereka bukan solusi. Jangan laporkan ke guru dulu. Terkadang, sabar adalah kekuatan terbesar yang kita punya. Kamu anak yang kuat, Aditya. Ibu tahu kamu bisa melewati ini.”
Aditya hanya diam. Ia ingin percaya pada kata-kata ibunya, tetapi luka di hatinya terlalu dalam untuk hilang begitu saja.
“Kalau mereka mengejekmu lagi, ingat saja apa yang Ibu katakan. Kamu punya Ibu yang akan selalu ada untukmu. Kita nggak butuh mereka yang hanya tahu menghina,” tambah Rini dengan senyum penuh kasih.
Aditya mengangguk pelan, meskipun dalam hatinya ia masih merasa ragu. Namun, pelukan hangat ibunya memberinya sedikit kekuatan untuk menghadapi hari esok.
Malam itu, ketika Aditya tidur, Rini duduk sendirian di ruang tamu. Air matanya mengalir tanpa suara. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi anaknya dari dunia yang begitu kejam. Namun, ia tahu satu hal pasti—ia akan terus berjuang, apapun yang terjadi.
---