Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?
Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.
Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.
Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.
"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB07 - TERENYUH
Dave menghentikan mesin mobilnya di depan rumah yang tidak mewah. Rumah yang menjadi tempat Davina dan sang Ayah berlindung dari panas terik, hujan dan badai. Di rumah yang tampak sederhana tak seperti bayangan Dave.
Kedua mata Dave di buat membulat. Dahinya seakan mengerut bingung juga kaget. Bagaimana bisa mereka tinggal di rumah yang kecil hanya di batasi setengah batu. Sungguh sangatlah miskin pikirnya. Daerah kontrakan Davina termasuk ke permukiman kumuh. Sangat di luar dugaan Dave, dia bukannya ibah. Merasa jijik, sekedar untuk menjejakkan kakinya saja dia merasa enggan.
Davina yang sudah melepas seatbeltnya beranjak turun tanpa sepata-kata, pun dia ucapkan pada lelaki yang masih memandangi rumah yang di kontrakan sang Ayah. Masa bodoh dengan tanggapan Dave. Davina hanya tidak ingin membuatnya menunggu.
'Benar-benar tidak dapat terbayangkan olehku, jika aku yang tinggal di sana.'
Mata Dave, berpindah menatap tubuh gadis malang yang sudah sah menjadi istrinya. Davina berjalan mengarah ke pintu rumahnya. Setelahnya menghilang dari balik pintu.
Dave tidak berpikir untuk turun. Dia memilih menyalakan musik dari audio mobilnya, ketimbang harus repot-repot untuk turun dari mobil dan menunggu Davina.
Selang lima belas menit kemudian, Dave menggerutu kesal.
"Kenapa dia lama sekali?" gumamnya dengan melihat jam tangan rolex nya.
Sambil memainkan jarinya di atas setir mobil berlogo Jaguar di tengahnya mengikuti lantunan musik dari audio mobil yang mengiringi, sesekali dia menatap pada pintu berbahan kayu jati dengan seksama. Kali aja dia berpikir, Davina keluar.
Semakin lama menunggu, rasanya Dave tidak tahan untuk bersabar mendapati Davina keluar dari rumahnya. Kini dia putuskan, membawa tubuh kekarnya bak atlet binaraga itu, turun dari mobilnya. Dengan berkharismanya, Dave seoalah-olah tidak bermasalah membawa dirinya untuk bisa melihat secara langsung, apa yang membuat Davina sangat lama.
Saat tangannya menggenggam handle pintu berbahan besi, tampak Davina sedang berhamburan di atas lantai dengan sebuah bingkai photo di dalam pelukannya.
Tubuhnya gemetar, air matanya terus-terusan membanjiri air matanya hingga bermuara di tepi pinggiran kedua pipinya.
Dave sungguh kaget, setelah mendapatkan Davina yang sedang menangis haru. Selain itu, Dave menangkap pemandangan menyedihkan dari isi rumah Davina. Tidak ada yang bisa di banggakan dari rumah kecil yang di pijaknya. Rumah itu hanya berisikan kamar yang menyatu dengan ruangan Tv. Masih lebih baik lagi, rumah-rumah anak kos.
Kusen yang di lapisi kayu, bahkan atap yang terbuat dan seng yang sudah tidak lagi kokoh, membuat Dave terenyuh. Gadis seperti apa si Davina sebenarnya? Kenapa dia mampu untuk tinggal susah dengan mengurusi sang Ayah, sementara masa mudanya masih panjang.
Davina tersadar, saat dirinya yang sedang sesunggukan menangis sedih, ada pasang mata yang mengintainya dari arah depannya.
Buru-buru, Davina menghapus kedua matanya dari sisa air mata yang membanjiri matanya.
"Maaf," ucapnya pelan dan buru-buru mengambil pakaiannya dan mengemasnya ke dalam kopernya.
Dave spontan membawa kakinya masuk dan mendekati Davina. Ia berjogkok di hadapan Davina yang membawa masuk pakaian seadanya di dalam kopernya.
Davina terhenti, saat Dave berjongkok di depannya. wajahnya membalas tatapan Dave, meskipun Davina masih amat kesal dengan pria di depannya.
Seulas senyum dari Dave, ibu jarinya mengusap lembut kedua matanya yang di genangi air mata.
Davina refleks kembali menangis. Air mata itu terus berkucur dengan leluasa, membuat Dave menjadi bingung. Dave bermaksud untuk memberikannya kekuatan.
Saat pandangan matanya menangkap fotonya dengan sang Ayah di dalam pelukannya, mampu membuat Dave mengubah cara pikirnya. Dia butuh kekuatan dan hiburan. Tapi Dave bingung untuk menjadi sandaran orang asing dalam dirinya.
"Jangan menangis lagi," Dave berucap lembut seketika. Dengan menggunakan kedua ibu jarinya, berlomba cepat mengusap kedua matanya, dengan air mata yang terus membasahi mata Davina.
"Aku sangat sedih."
Dave menarik tubuh Davina membawanya masuk ke dalam dekapannya.
"Jika kau terus menangis, Ayah mertua lebih sangat sedih Davina. Jadi, biarkan hari ini kau tenang sejenak. Berikan istirahat pada dirimu sendiri. Pada matamu, tubuhmu, pikiranmu. Aku tidak pintar menghibur, jadi jangan sakit hati dengan perkataanku. Aku mohon, jangan menangis." Dave menepuk pundak Davina dengan sangat lembut.
Davina terus-terusan menangis. Meskipun dia tidak mengenal si Dave dengan baik, dari awal pertemuan mereka hingga tadinya. Sekarang berbeda, tetapi Davina tetap bersyukur, pria asing yang memeluk tubuhnya mau memberikannya semangat. Sungguh di luar dugaannya, bila mana Davina membutuhkan sosok pria yang dapat di peluknya.
"Ayo jangan menangis lagi," Dave mendorong pelan tubuh Davina dan mengusap lembut air mata yang masih menggenang.
Tubuh Davina masih sesunggukan akibat tangisnya yang pecah.
"Apakah kau mau ice cream?" bujuk Dave saat kedua matanya saling berpandangan dengan Davina.
Davina menatap Dave dengan malu, dia menggeleng cepat dan buru-buru mengusap air matanya.
"Jika kau tidak mau, apa yang kau mau agar kau bisa terhibur?"
"Tidak ada. Tunggulah di mobil, aku tidak akan merepotkan mu." balas Davina, wajah Davina kembali menatap pada pakaian yang akan di masukkannya ke dalam koper.
"Tidak. Biarkan aku di sini menamanimu. Aku hanya tidak mau, menjadi suami yang tidak punya hati. Ini hari pertama kita menjadi suami dan istri. Jadi, biarkan hari pertama yang di awali dengan duka cita kita tutup dengan senyuman. Jangan sebuah tangisan, membuatku ingin tertawa." perkataan Dave seoalah menyindir.
"Kenapa membuatmu tertawa?! Kau tau? Kau itu sangat menyebalkan untukku Dave! Kita tidak akrab atau pun dekat. Jadi jangan pura-pura baik terhadapku." Davina melanjutkan aktfitas memindahkan pakaiannya.
Dave tersenyum kecut, "kau ini! Tidak mengenalku, tapi kau sebal denganku? Kok aku merasa aneh?"
"Terserah kau saja Dave. Ini sudah selesai." gumam Davina sambil mengangkat koper yang usai di kancingnya.
"Kemarikan padaku," kata Dave dengan datar seraya beranjak berdiri.
Kening Davina mengerut, bagaimana mungkin Dave berubah jadi baik seperti itu. Sikapnya, pandangannya, tidak semengerihkan di awal-awal berjumpa.
Davina mengedikkan bahunya, melihat ketegapan tubuh sang suami yang berjalan keluar dari rumah kontrakkanya.
"Kenapa dia berubah hanya hitungan menit? Apa dia sedih melihat rumahku? Agh, entahla." gumam Davina dari belakang tubuh Dave. Dengan cepat dan di sisa tangis dan sedihnya, Davina berjalan menuju ke mobil dan ikut dengan Dave berlalu.
Suara mesin mobil memecah suasana malam kota Jakarta, cahaya lampu berkendara menyala saling bersentuhan.
Dave hanya berdiam dalam keheningan yang di ciptakan oleh Davina. Lagian Dave juga aneh, dia masih saja tidak sadar, kalau Davina itu merasa canggung karena aksi nekatnya memberikan penghiburan untuk Davina.
Bersambung.
***
**Novel saya di MangaToon/NovelToon.
* Kekasihku Seorang CEO.
*Terpaksa Menikah.
*Catatan Cinta Dalam Diary.
*My Chosen Wife**.
Jika ingin tau di tempat lainnya, kalian bisa klik link di IG @putritritrii_
Jangan lupa Tekan favorit, bintang lima, komentar membangun, like sama VOTE.
Kalau ada typo besok pagi saya edit. Maaci..
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔