NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Ambisi diatas kasur Tipis

Malam di Kota Bandung semakin menua. Jarum jam di dinding Cafe Nuansa yang terbuat dari kayu jati antik menunjukkan pukul sepuluh malam. Hawa dingin yang terbawa angin dari arah Lembang mulai menyelinap masuk setiap kali pintu kaca kafe terbuka, memberikan sensasi gigil yang kontras dengan aroma hangat biji kopi yang baru saja digiling.

Di sudut meja langganan, Randi dan Ardi tampak sudah mencapai batas ketahanan mereka. Randi sudah menguap sebanyak lima kali dalam sepuluh menit terakhir, sementara mata Ardi sudah memerah karena terlalu lama menatap layar laptop untuk menonton maraton anime.

Dua jam sebelum shift kerja Alan berakhir, Ardi mulai membereskan kabel charger dan laptopnya dengan gerakan yang lamban.

"Lan!" teriak Ardi sedikit keras agar suaranya terdengar sampai ke balik meja bar tempat Alan sedang mengelap mesin espresso.

Alan menoleh, mengangkat alisnya. "Kenapa, Di?"

"Gue duluan ya, Lan. Sumpah, gue ngantuk banget! Mata gue udah gak bisa diajak kompromi, bayangan Naruto di layar laptop gue udah berubah jadi bayangan kasur kosan," ucap Ardi sambil menyampirkan tas punggungnya.

Randi ikut berdiri, meregangkan otot-ototnya hingga terdengar bunyi gemeretak dari tulang punggungnya. Ia mengusap perutnya yang membuncit karena terlalu banyak menghabiskan camilan gratisan sisa piring Rahmi tadi. "Iya nih, Lan. Gue juga cabut duluan. Kebanyakan ngemil bikin aliran darah gue lari ke perut semua, otak gue jadi ikutan lowbat. Rasanya pengen langsung hibernasi."

Alan menghentikan aktivitasnya sebentar, ia melirik jam tangan. "Tumben lu berdua pulang jam segini? Biasanya sampai Bang Hendri nodong pakai sapu baru kalian bubar."

"Ya gimana, pawangnya udah pulang duluan," seloroh Randi asal yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Ardi.

Alan hanya terkekeh pelan, meski ada sedikit rasa aneh di hatinya karena memang biasanya mereka berempat baru akan bubar setelah ia selesai kerja. "Ya sudah, hati-hati di jalan. Jangan sampai tidur di atas motor, bahaya."

"Siap, Bos! Semangat ya cari cuannya!" seru Randi sambil melambaikan tangan.

Keduanya pun melangkah keluar, meninggalkan Alan yang kembali tenggelam dalam kesunyian bar yang mulai mendingin.

Sementara di lantai dua, di sebuah balkon kecil yang berfungsi sebagai kantor sekaligus ruang santai pribadi, Bang Hendri duduk menyandarkan punggungnya pada kursi rotan. Di depannya, secangkir kopi hitam yang sudah mendingin dibiarkan begitu saja. Dari ketinggian ini, ia bisa melihat suasana kafe di bawah melalui celah pagar pembatas, termasuk melihat Alan yang kembali bekerja dengan sangat ulet.

Bang Hendri menghela napas panjang, kepalanya mendongak menatap langit-langit balkon. Pikirannya melayang pada kejadian sore tadi. Ia teringat bagaimana wajah Rahmi mendadak layu saat Alan menanyakan tentang Bunga. Ia juga teringat betapa buru-burunya gadis itu pulang.

'Kayaknya si Rahmi beneran ada hati sama si Alan,' batin Bang Hendri dalam diam. Ia sudah lama mencurigai dinamika antara kedua karyawannya itu—meskipun secara teknis Rahmi bukanlah karyawannya, melainkan "pelanggan tetap yang merangkap jadi asisten sukarela".

'Tapi ya... gue gak bisa ikut campur kalau soal hati. Urusan perasaan itu lebih rumit daripada benerin mesin kopi yang meledak. Sekali salah langkah, persahabatan mereka yang jadi taruhannya,' lanjutnya dalam batin.

Baru saja ia ingin menutup mata sejenak untuk beristirahat, getaran ponsel di saku celananya menyentak Bang Hendri dari lamunan. Ia merogoh ponselnya dan melihat sebuah pesan WhatsApp masuk.

Dari: Rahmi

Bang Hendri segera membuka pesan itu.

"Bang, maaf ganggu malam-malam. Cuma mau tanya, uang bonus buat Alan udah dikasih? Soalnya dia lagi butuh banget buat biaya keluarganya di kampung, jangan sampai Alan tau ya Bang kalau itu dari aku."

Bang Hendri tersenyum tipis, sebuah senyum kecut yang penuh rasa haru. Ia menatap layar ponsel itu cukup lama sebelum jempolnya mulai menari di atas layar untuk membalas.

"Udah gue kasih tadi, Mi. Tenang aja. Uang dari lu udah gue tambah buat bonusnya dengan alasan bonus dari gue sendiri. Tapi sorry ya Mi, gak gue kasih semua sekaligus malam ini. Soalnya jumlah yang lu kasih itu gede banget, kalau digabung sama gaji aslinya ditambah bonus dari gue juga, nominalnya hampir melebihi gaji manajer kafe. Gue takut dia malah nolak dan curiga. Lu tahu sendiri si Alan kayak gimana, gengsinya soal harga diri itu setinggi gunung Merapi."

Pesan itu segera dibaca oleh Rahmi. Tak butuh waktu lama, balasan pun masuk.

"Iya Bang, aku ngerti. Makasih banyak ya Bang atas bantuannya. Aku cuma gak tega dengar dia tadi teleponan sama ibunya waktu di kampus, kayaknya lagi kesulitan banget."

Bang Hendri kembali mengetik:

"Iya, nyantai aja. Rahasia aman, Mi. Alan gak bakal tahu kalau selama ini elu yang diem-diem nambahin bonusnya. Dia tahunya itu murni dari kocek gue sebagai bos yang dermawan. Lu tenang aja."

"Makasih banyak Bang," balas Rahmi singkat, diikuti emoji tangan terkatup.

Bang Hendri meletakkan ponselnya di atas meja kecil dengan sedikit kasar. Ia kembali menyandarkan kepalanya, namun kali ini ada rasa gemas yang memuncak di dadanya. Ia tidak habis pikir dengan pola pikir anak muda di depannya ini.

'Rahmi.. Rahmi..,' keluhnya dalam hati. 'Apa susahnya sih lu ngomong kalau lu suka sama si Alan? Lu itu cantik, tajir, baiknya gak ketulungan. Apa yang lu takutin? Udah gak jamannya nunggu cowok duluan yang ngomong. Sekarang jamannya gak peduli lu cowok atau cewek, kalau lu punya rasa ya ngomong aja! Kalau lu cuma main rahasia-rahasiaan gini, terus nambahin bonus lewat belakang tanpa dia tahu, yang ada lu cuma jadi pahlawan tanpa tanda jasa yang hatinya patah sendiri.'

Ia menatap sosok Alan di bawah yang sedang mengangkat karung biji kopi ke gudang.

'Kalau lu gak ngomong-ngomong juga, Mi... keburu si Alan diembat yang lain. Apalagi tadi dia udah mulai nanyain si Bunga. Lu main aman terus sih, padahal cinta itu butuh nekat sedikit,' pungkas Bang Hendri dalam batinnya sebelum akhirnya ia berdiri untuk menutup jendela balkon.

Waktu berlalu dengan cepat. Pukul dua belas malam, Cafe Nuansa resmi menutup pintunya untuk pelanggan. Suasana yang tadinya bising kini berganti menjadi senyap, hanya menyisakan suara mesin pendingin ruangan yang mulai dimatikan satu per satu.

Alan baru saja selesai membersihkan seluruh area bar. Ia telah mengganti pakaian kerjanya dengan kaos oblong hitam polos dan celana jeans yang sudah agak pudar warnanya. Di tas punggungnya, amplop cokelat dari Bang Hendri tersimpan dengan sangat rapat, seolah-olah itu adalah nyawanya.

Alan melangkah menuju area parkir karyawan di samping gedung kafe. Di sana, beberapa teman kerjanya sedang duduk bersantai di atas motor masing-masing sambil merokok atau sekadar mengecek ponsel sebelum pulang.

"Duluan ya, Ga, Dit!" sapa Alan sambil memakai helm full-face hitamnya.

"Yoi, Lan! Hati-hati, jalanan licin habis hujan!" balas salah satu temannya.

Alan mengangguk, lalu menaiki motor sport miliknya. Ia menghidupkan mesin, suara deru knalpotnya memecah kesunyian malam di Dago. Ia tidak memacu motornya dengan cepat; ia menikmati angin malam yang menerpa jaketnya, mencoba mendinginkan kepalanya yang seharian penuh berputar dengan angka dan logika.

Sesampainya di sebuah gang sempit di daerah sekutar kampus, Alan memarkirkan motornya di depan sebuah bangunan kos-kosan dua lantai yang tampak sederhana. Ia menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.

Kamar kos Alan adalah definisi dari kesederhanaan yang fungsional. Hanya ada satu lemari plastik, sebuah meja belajar yang penuh dengan buku-buku akuntansi tebal, dan sebuah kasur tipis yang diletakkan langsung di atas lantai tanpa ranjang.

Alan melepas jaketnya, melempar tasnya ke atas meja, dan segera menuju kamar mandi di ujung lorong untuk membersihkan diri. Air dingin yang menyentuh kulitnya seolah membasuh seluruh kelelahan yang menumpuk sejak pagi tadi.

Selesai mandi, Alan yang hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis tersebut. Tubuhnya terasa sangat ringan begitu menyentuh alas tidur, namun pikirannya justru semakin berat. Ia meraih ponselnya yang diletakkan di samping bantal.

Hal pertama yang ia lakukan adalah membuka aplikasi mobile banking. Dengan gerakan cepat, ia mentransfer hampir seluruh isi amplop yang ia terima tadi—setelah sebelumnya ia setorkan lewat mesin ATM setoran tunai saat jalan pulang tadi—ke rekening ibunya.

Setelah transaksi berhasil, Alan membuka WhatsApp dan mengirim pesan kepada ibunya.

"Bu, uangnya udah Alan kirim ya. Tolong segera diambil besok pagi. Jangan lupa Ibu beli obat asam lambung yang biasa, sama obat asam urat buat Bapak juga dibeli yang paten ya Bu biar kakinya gak sakit lagi buat jalan ke sawah. Sisanya buat bayar SPP Gina sampai lunas ya Bu, jangan sampai nunggak lagi. Kalau nanti ada keperluan mendadak atau uangnya kurang, Ibu kabari Alan lagi ya. Alan masih ada simpanan di sini."

Alan menghela napas panjang setelah menekan tombol kirim. Ia tahu ibunya mungkin sudah tidur sekarang, tapi ia merasa harus mengirimkannya agar esok pagi ibunya bangun dengan perasaan tenang.

Ia meletakkan ponselnya di atas dada, menatap langit-langit kamar yang catnya sedikit berjamur karena lembap. Sunyinya malam itu membuat pikirannya mulai berkelana jauh ke depan.

'Gue gak bisa terus-terusan begini,' batin Alan. Matanya menatap lurus ke atas, seolah mencoba menembus atap kosan menuju masa depannya.

'Gue bersyukur punya bos kayak Bang Hendri, gue bersyukur ada bonus tambahan yang entah kenapa bulan ini gede banget. Tapi gue gak bisa selamanya jadi karyawan yang cuma nunggu belas kasihan atau kebaikan hati orang lain. Gue gak bisa cuma ngandelin kerja sampingan yang gajinya cuma cukup buat nutup lubang-lubang utang keluarga.'

Alan memiringkan tubuhnya, menatap tumpukan buku di meja belajarnya. Ambisi mulai membakar dadanya, lebih panas dari kopi yang ia racik tadi sore.

'Gue harus punya usaha sendiri. Entah itu katering kecil-kecilan, jualan pulsa skala besar, atau apa pun. Gue punya ilmu akuntansi, gue punya tenaga, dan gue punya nekat. Gue harus cari cara supaya secepatnya gue punya usaha sendiri, sekecil apa pun itu asalkan itu milik gue. Gue harus jadi orang yang memberi bonus, bukan lagi orang yang menerima bonus dengan air mata.'

Di atas kasur tipis yang alasnya keras itu, Alan tidak tertidur dengan rasa kantuk yang biasa. Ia tertidur dengan sebuah rencana yang mulai tersusun di kepalanya. Di luar, lampu jalanan yang redup masih setia menerangi aspal yang basah, sama setianya dengan seseorang yang tadi sore ia abaikan kehadirannya. Alan terlelap dalam ambisi, tanpa menyadari bahwa pahlawan sebenarnya dalam hidupnya bukanlah Bang Hendri atau kerja kerasnya semata, melainkan seorang gadis yang saat ini sedang menatap jendela mobilnya sambil menangis, meratapi cinta yang ia beri namun tak pernah Alan sadari asalnya.

Malam itu, rahasia tetap menjadi rahasia, dan rencana tetap menjadi rencana. Namun, benih perubahan telah tertanam, baik di hati Rahmi yang mulai retak, maupun di otak Alan yang mulai berontak terhadap kemiskinan. Babak baru telah menanti mereka saat fajar menyingsing di Kota Kembang.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!