NovelToon NovelToon
Pelacur Metropolitan

Pelacur Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arindarast

Pelacur mahal milik Wali Kota. Kisah Rhaelle Lussya, pelacur metropolitan yang menjual jiwa dan raganya dengan harga tertinggi kepada Arlo Pieter William, pengusaha kaya raya dan calon pejabat kota yang penuh ambisi.

Permainan berbahaya dimulai. Asmara yang menari di atas bara api.
Siapakah yang akan terbakar habis lebih dulu? Rahasia tersembunyi, dan taruhannya adalah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arindarast, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lily of the valley

Pria itu terpaku ketika Rhaell menanggalkan seluruh gaunnya, terbius oleh keindahan kulit tubuh yang eksotis.

Dia tidak bisa menebak isi pikiran Rhaell. Semula ingin merapikan kekacauan yang diperbuat Marco, malah sendirinya terjebak dalam lingkaran setan.

Sekarang diamnya bukanlah karena Rhaell yang telanjang, melainkan karisma yang terpancar. Bukan sekadar keindahan fisik, melainkan kekuatan, kecerdasan dan manipulasi yang membuat seseorang merasa tak berdaya.

Ini adalah pengalaman pertama baginya, menghadapi seorang wanita yang begitu lihai dalam mengendalikan situasi dan emosi orang lain.

Berbeda dengan adiknya yang selalu berbuat onar. Arlo terbiasa dengan kekuasaan dan kendali yang stabil, tetapi di hadapan Rhaell, semua itu lenyap.

Ia seperti tersesat di hutan belantara, tanpa peta, tanpa kompas dan tanpa kemampuan untuk memahami lingkungan sekitarnya.

Taktik permainan nakal menyeruak dalam diri Arlo. Ia memutuskan mengikuti arus, menyerahkan kendali kepada Rhaell dan melihat kemana permainan ini akan membawanya.

Ponsel berdering di dalam saku celana hitamnya, tapi Arlo tidak peduli siapa yang memanggil. Prioritas saat ini adalah Rhaell.

“Kamu gak mau pegang ini?” Nada manja Rhaell menggelitik, menunduk melihat payudaranya sendiri. Bulat sempurna dengan ujung yang ranum kemerah-merahan.

Arlo tersenyum kecil, “Untuk apa aku menyentuhnya?” Suaranya berubah menjadi intens, “bukankah mereka bekas orang lain?”

Ia melangkah lebih dekat ke tubuh Rhaell, dengan tangan kekar yang terampil dan tenang, menggulung lengan kemeja putihnya.

“Bagaimana kalau Miss Lily saja?” Bisik Arlo tepat di telinga kanan Rhaell. Ia merengkuh wanita itu dengan kekuatan satu tangannya, membawa tubuh polos Rhaell kedalam dekapan.

“Dari mana kamu tau Miss Lily?”

Rhaell menegang ketika Arlo menyibak rambutnya dan menghirup dalam leher jenjang wanita itu yang beraroma manis. Bulu kasar di sekitar wajah Arlo menimbulkan sensasi geli yang luar biasa pada tubuh Rhaell.

Punggung halus yang tak luput dari jarahan tangan Arlo, menari turun ke bawah diiringi remasan-remasan kecil.

“Jadi…” Rhaell mundur selangkah dan cengkraman Arlo terlepas dari bokongnya, “kalau kamu bermain denganku. Apa itu artinya aku sudah tidak menjijikan lagi, seperti katamu kemarin?” Rhaell tersenyum angkuh karena berhasil merubah keadaan, membuat pria itu terdiam.

Rhaell kembali merebahkan dirinya di atas kasur dengan tangan terentang ke atas, seakan menyambut Arlo untuk menjelajahinya.

Pria dengan tubuh atletis, serta bahunya yang lebar, menyambut kenakalan Rhaell dengan seringai, mengikuti jejak wanita itu dan menindihnya perlahan.

Hanya berjarak setengah jengkal, Rhaell dapat melihat jelas fitur-fitur sempurna wajah Arlo. Rahangnya yang tegas, hidung, mata, semuanya terpahat dengan indah.

Ia tidak pernah peduli dengan lelaki manapun, semua dicapnya sama. Hanya sebagai “pencari pelampiasan nafsu”.

Namun kepada Arlo, Rhaell merasa perlu membuktikan dirinya. Seolah ingin menghancurkan gagasan bahwa ia bisa dikalahkan, seolah pria ini harus takluk kepadanya.

Dari mana keberanian itu muncul, ia sendiri tak tahu pasti. Yang jelas, ia tak mudah melupakan rasa sakit yang pernah dialaminya.

Napas Rhaell mendadak tercekat, lenguhan panjang keluar dari bibirnya yang penuh dan sensual. Bara api serentak menyulut jiwanya.

“Minggir!” Rhaell menggoyangkan tubuhnya, berusaha melepaskan kuncian tubuh Arlo, ia panik sejadi-jadinya ketika sesuatu mulai mengusik Miss Lily.

“Jadi…” bisik Arlo, jemari nakalnya sengaja membelai bagian paling sensitif tubuh Rhaell, “Sekarang kamu bermain denganku, huh? Apa itu artinya kamu menjilat ludah sendiri?” Pria itu berkata dengan penekanan disetiap kalimatnya, memutar kembali ucapan Rhaell yang penuh ke-angkuhan tadi.

“Lepas. Ah!” Rhaell memukul dada Arlo lagi, kali ini lebih keras, namun tetap tak berpengaruh. Arlo tak bergeming, tangannya masih tertahan di tempat yang membuat Rhaell meronta-ronta.

“Kelemahanmu cuma Miss Lily?”

Pekikan suara Rhaell yang menunjukkan keputus asaan memenuhi seluruh ruangan, berharap siapa saja dapat menghentikan laju tangan iblis itu.

“Stop! Please stop!” Kepala Rhaell menggeleng liar, rambutnya terurai berantakan dan matanya memejam.

Sampai akhirnya, ketukan pintu tiba-tiba memecah ketegangan mencekam.

Arlo dengan santai melepaskan Rhaell yang tubuhnya gemetar hebat.

Memandangi manusia yang baru saja ia beri pelajaran itu dengan tatapan merendahkan, sebuah kilatan yang dingin dan penuh penghinaan.

“Mimpimu terlalu tinggi untuk seorang pelacur yang ingin mempermainkanku.” katanya, suaranya datar dan tanpa emosi, “Sudah jelas sekarang. Siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.” Kalimat itu terdengar seperti sindiran.

Dengan gerakan cepat dan tanpa ekspresi, Arlo meraih selimut dan menutupi tubuh mengkilap Rhaell yang bermandikan keringat, menutupi jejak interaksi mereka yang penuh taktik nakal dan penghinaan.

Lalu, Arlo meninggalkan Rhaell sendirian dalam ruangan yang sunyi, meninggalkan wanita itu bergulat dengan rasa malu, luka, dan ketakutan yang mendalam.

Ketukan pintu itu telah menyelamatkan Rhaell dari situasi yang mengerikan, namun juga meninggalkan bekas luka yang mungkin akan sulit untuk disembuhkan.

...****************...

“Wartawan sudah mulai mencarimu, Rhaell.” Seorang laki-laki muda dengan rambut cokelat gelap yang disisir rapi, menyodorkan beberapa lembar foto.

Rhaell melirik sekilas Arlo yang duduk di hadapannya dan laki-laki itu, Atlas, terus mengeluarkan bukti-bukti yang bisa menghancurkan reputasi bosnya.

“Saya hanya ingin kamu menandatangani surat perjanjian ini.” Ucap Arlo sambil mengeluarkan kertas putih dari dalam map cokelat.

Kertas itu disodorkan pada Rhaell dan Rhaell mengerutkan kening, jari-jarinya gemetar saat membolak-balik surat perjanjian itu. Setiap poin yang tertulis semakin mengikatnya, merenggut seluruh kebebasannya.

Larangan muncul di publik selama masa pencalonan Arlo, larangan mengunjungi klub malam, menghapus semua akun media sosial dan menyerahkan akses penuh atas ponsel dan komputernya kepada Arlo atau orang yang ditunjuknya.

Ia juga dilarang untuk menghubungi siapa pun yang terkait dengan kasus ini, termasuk Atlas, Marco, Dayana dan harus selalu siap sedia jika Arlo atau timnya membutuhkannya—semuanya terdengar seperti hukuman.

Namun, yang paling membuatnya merinding adalah poin terakhir, yang tertulis dengan huruf kecil dan samar: “Kegagalan untuk mematuhi poin-poin di atas akan mengakibatkan konsekuensi yang tidak menyenangkan, baik bagi Anda maupun keluarga Anda.”

“Kenapa kalian gak bunuh aku aja sekalian?”

“Bisa saja. Tapi aku sedang tidak ingin mengotori tanganku.”

Atlas menatap Rhaell dengan tatapan iba. Ia tahu betapa beratnya beban yang harus Rhaell tanggung atas kekacauan yang dilakukan Marco. Ia ingin membantu, namun ia tahu bahwa melawan Arlo sama saja dengan menyerahkan diri pada kematian.

“Kami akan memberikan kompensasi yang setimpal,” kata Atlas, suaranya pelan, mencoba memberikan sedikit harapan di tengah keputusasaan Rhaell.

Sedangkan Arlo mendorong pulpen ke arah Rhaell, suaranya tenang namun tegas, “Baca lembar selanjutnya. Keuntungan yang kamu dapat dan biaya pendidikan kedokteran adikmu, sepenuhnya akan kutanggung.”

Mendadak semua kekesalannya runtuh, mata Rhaell membelalak. Ia hampir melupakan adiknya, Edgar, yang juga perlu dilindungi dari skandal ini. Rekam jejak digital yang dimiliki wartawan bisa menjadi bom waktu bagi Edgar di masa mendatang.

Kali ini Rhaell memutuskan untuk menghancurkan sendiri benteng pertahanannya. Ia meraih pulpen Arlo yang mengkilap.

Tanda tangannya menjadi bukti dari kekalahannya. Kekalahan yang dibungkus dengan manisnya janji masa depan untuk Edgar.

“Antar Rhaell pulang, Tlas.” Arlo beranjak dari sofa, langkahnya tenang namun penuh wibawa. Rhaell menatap punggung iblis itu menjauh dan pandangan menyapu ruangan 202, ruangan yang beberapa saat lalu masih terasa membuai, kini berubah menjadi saksi bisu sebuah kekejaman yang baru saja terjadi.

“Arlo?” Seru Rhaell. Ia ikut beranjak dan menghampiri Arlo yang sudah sampai depan pintu kamar hotel.

Tanpa aba-aba, dengan kekuatan yang tak disangka-sangka, Rhaell menarik kakinya ke belakang dan melayangkan tendangan tepat ke arah selangkangan Arlo.

BUGH! Suara benturan itu menggema di ruangan, Arlo meringkuk kesakitan, teriakannya tertahan di tenggorokan. Atlas membelalak, tak menyangka Rhaell akan melakukan hal tersebut.

“Dapet salam dari Miss Lily. Karna kamu lancang menyentuhnya.” Ucap Rhaell tanpa penyesalan dan melangkah pergi, meninggalkan jejak kehancuran.

Bersambung…

-Disaat semua bunga menunjukan kecantikannya dengan menghadap ke atas. Lily of the valley tetap menunduk penuh dengan keanggunan.-

1
Grace
aku baca ini sambil makan 2 bungkus indomie, /Smile/
auralintang___-
marco, lu bisa minggir dlu gx? INI AREA ARLO DAN CIA OMEJII ngapa elu ngikut" sih ah elah ah elaaaah🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️
Galih
seru batt gilak
Mrlyn
jgn2 Cia udh diincer mau dijadiin ibunya Sienna 😅🤌🏻
Mrlyn
lanjutannya jgn lama2 ya thoorrr
Mrlyn
kira2 kenapa ya Arlo sedih 🤔
Mrlyn
Wangi manis 🌼🌼🌼🌼🌼 bayi mongmong bayi😌🫶🏻
Mrlyn
Tuh kan kepincut juga 🤣🤣🤣
Mrlyn
❤️❤️❤️❤️❤️
Mrlyn
Kasian Cia🤧 tp gpp nanti juga ada hikmahnya. sabar ya nduk
Mrlyn
wkwkwk makanya jgn macem2 sama Miss Lily🤣🔥
Mrlyn
makin menarik alurnya 😍🔥
Mrlyn
waduh udh mulai main apa🙈 awas loh kebakaran😌
Mrlyn
Nah ngejob begini aja Cia, kali ketemu jodoh 🙈
Mrlyn
Panjangin lagi babnya thorrrrrr, lagi asik baca tau2 abis🤧
Mrlyn
nungguin Arlo sama Cia interaksi lagi😍🔥
Mrlyn
Awas Lo Arlo ditandain Cia tr kepincut lagi🤣
Elok Senja
up dunk thorr....pliiisss 🤗🙏🥰
Elok Senja
ada typo kecil,
tu kan mo arah ke ❤❤ gituu 😅🤗
Elok Senja
jadi tertarik dg merek parfum nya Thor 🤣🤣😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!