Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Pagi pertamaku di rumah itu… terasa aneh.
Aku terbangun tanpa suara.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada suara langkah kaki yang tergesa atau nada dingin yang memerintahku.
Hanya… sunyi.
Aku membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang masih terasa asing. Beberapa detik aku hanya diam, mencoba mengingat di mana aku berada.
Lalu semuanya kembali.
Pernikahan. Rumah ini. Dan dia.
Aku menghela napas pelan, lalu bangkit dari tempat tidur.
Kebiasaan lama masih melekat.
Tanpa perlu disuruh, aku langsung merapikan tempat tidur, lalu berjalan ke kamar mandi. Air dingin menyentuh kulitku, membuat pikiranku sedikit lebih jernih.
Setelah selesai, aku berdiri di depan cermin.
Wajahku terlihat… lebih tenang.
Atau mungkin… hanya lebih kosong.
Aku mengenakan pakaian sederhana, lalu keluar dari kamar.
Tujuanku jelas.
Dapur.
Meski tidak ada yang menyuruh, tubuhku tetap bergerak seperti biasa. Seolah kalau aku tidak melakukan apa-apa, maka aku sedang melakukan kesalahan.
Aku berjalan menyusuri lorong.
Langkahku pelan.
Mataku memperhatikan sekitar.
Rumah ini… terlalu besar.
Lorong panjang bercabang ke berbagai arah. Pintu-pintu tertutup di kanan kiri. Tangga lain yang tidak kukenal.
Aku berhenti.
Mengernyit pelan.
“Kemarin lewat mana ya…” bisikku.
Aku mencoba mengingat jalur yang kulewati saat pertama kali datang.
Tapi semuanya terasa sama.
Putih. Luas. Sunyi.
Aku memilih berjalan ke arah kiri.
Beberapa langkah.
Lalu belok lagi.
Namun bukannya menemukan dapur, aku justru sampai di sebuah ruang tamu lain—lebih kecil, tapi tetap mewah.
Aku berhenti.
“…Ini bukan tadi.”
Aku tertawa kecil.
Pelan.
Sedikit tidak percaya.
Aku… tersesat?
Di rumah sendiri?
Aku menghela napas, lalu berbalik, mencoba kembali ke arah semula.
Namun setelah beberapa menit berjalan—
Aku kembali ke tempat yang sama.
Ruang tamu itu.
“Serius?” gumamku.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah ini, ekspresiku berubah sedikit.
Bukan sedih.
Bukan terluka.
Tapi… bingung.
Aku berdiri di tengah ruangan, memegang ujung bajuku pelan.
“Aku cuma mau ke dapur…” bisikku lirih.
Konyol.
Hal sesederhana itu… tapi aku tidak bisa melakukannya.
Aku berjalan lagi.
Kali ini mencoba arah yang berbeda.
Lorong lain.
Tangga lain.
Pintu lain.
Namun semakin aku berjalan, semakin aku merasa asing.
Rumah ini bukan hanya besar.
Tapi juga… seperti labirin.
Beberapa menit berlalu.
Aku mulai lelah.
Langkahku melambat, hingga akhirnya aku berhenti di ujung lorong panjang yang bahkan tidak kukenal.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Tidak ada satu pun pelayan.
Tidak ada suara.
Tidak ada petunjuk.
Aku menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungku ke dinding.
“Hebat…” gumamku pelan. “Hari pertama… sudah nyasar.”
Ada rasa aneh di dadaku.
Bukan sakit.
Lebih seperti… kosong yang sedikit lucu.
Kalau dulu, mungkin aku sudah dimarahi karena tidak becus.
Atau ditertawakan.
Atau disalahkan.
Tapi sekarang…
Tidak ada siapa-siapa.
Aku benar-benar sendiri.
Dan entah kenapa… itu terasa berbeda.
Belum sempat aku berpikir lebih jauh—
Suara halus terdengar dari ujung lorong.
Aku langsung menoleh.
Dan di sanalah dia.
Adrian.
Ia mendekat dengan kursi roda canggihnya yang bergerak halus dan hampir tanpa suara. Tidak ada dorongan tangan, tidak ada gerakan kasar—kursi itu melaju stabil, seolah mengikuti perintahnya dengan presisi.
Ia berhenti beberapa meter dariku.
Menatapku.
“Kamu sedang apa di sini?”
Pertanyaannya sederhana.
Tapi tetap membuatku sedikit kaku.
“Aku…” aku ragu sejenak, lalu menjawab jujur, “mau ke dapur.”
Ia mengangkat satu alis tipis.
“…Lewat sini?”
Aku melirik sekitar, lalu tersenyum kecil.
“Sepertinya… tidak.”
Beberapa detik hening.
Lalu—
Ia menghela napas pelan.
Bukan kesal.
Lebih seperti… tidak percaya.
“Kamu tersesat,” katanya.
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Aku mengangguk kecil.
“Iya.”
Sunyi lagi.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Bukan tegang.
Lebih… ringan.
Adrian kemudian menggerakkan kursi rodanya dengan tenang, berbalik arah tanpa usaha terlihat.
“Ikuti aku.”
Aku terdiam sejenak.
“Iya…”
Aku melangkah pelan di belakangnya.
Kami bergerak menyusuri lorong—ia di depan, aku mengikuti.
Aneh.
Saat mengikutinya, semuanya terasa lebih jelas.
Belok kiri.
Lurus.
Turun.
Belok kanan.
Dan beberapa saat kemudian—
Kami sampai di dapur.
Aku berhenti.
Menatap ruangan itu.
“…Aku nggak mungkin nemu ini sendiri,” gumamku pelan.
Adrian tidak menanggapi.
Ia hanya diam sebentar, lalu berkata—
“Lain kali, tanya pelayan.”
Aku mengangguk. “Iya.”
Aku menoleh ke arahnya.
“Terima kasih.”
Ia terdiam sejenak.
Seolah kata itu… tidak biasa ia dengar.
“…Tidak perlu,” jawabnya singkat.
Namun ia tidak langsung pergi.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Lalu—
“Kamu bangun pagi.”
Aku sedikit terkejut.
“Iya… sudah biasa.”
Ia mengangguk kecil.
Tidak ada komentar lagi.
Namun sebelum ia benar-benar pergi, aku tanpa sadar berkata—
“Aku mau masak.”
Ia berhenti.
Sedikit menoleh ke arahku.
Tatapannya… berbeda.
Tipis.
Namun jelas.
“Tidak perlu,” katanya. “Di sini sudah ada yang mengurus.”
Aku tersenyum kecil.
“Iya… aku tahu.”
Aku menatap dapur di depanku.
“Tapi aku sudah terbiasa.”
Sunyi.
Lalu Adrian berkata pelan—
“Lakukan sesukamu.”
Dan kali ini, ia benar-benar pergi.
Aku berdiri di sana beberapa detik.
Menatap punggungnya yang menjauh.
Aneh.
Sangat aneh.
Ini pertama kalinya…
Seseorang tidak melarangku.
Tidak menyuruhku.
Tidak merendahkanku.
Hanya… membiarkanku memilih.
Aku menoleh ke dapur.
Lalu melangkah masuk.
Dan tanpa kusadari—
Langkah kecil seperti ini,
mulai mengubah sesuatu di dalam diriku.
Aku masuk ke dapur dengan langkah pelan.
Dapur itu besar dan sangat rapi. Peralatan modern tersusun rapi, meja marmer bersih tanpa noda, dan lemari bahan makanan tertata seperti di hotel.
Bahkan dapurnya saja lebih besar dari ruang tamu rumah lamaku.
Aku berdiri beberapa detik, melihat sekeliling, lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
“Aku bisa masak banyak di sini…” gumamku pelan.
Aku mulai membuka lemari, mencari bahan sederhana. Aku tidak berniat memasak sesuatu yang mewah, hanya sarapan biasa. Tanganku bergerak otomatis—mengambil telur, sayur, dan roti.
Namun baru saja aku menyalakan kompor—
“Nyonya!”
Suara itu membuatku kaget dan langsung menoleh.
Seorang wanita paruh baya—yang kemarin menyambutku di pintu—berdiri di sana dengan ekspresi panik.
“Nyonya tidak perlu memasak!” katanya cepat sambil mendekat. “Biar kami saja.”
Aku sedikit bingung. “Tidak apa-apa, aku hanya mau masak sedikit.”
Wanita itu terlihat semakin panik. “Tidak bisa, Nyonya. Kalau Tuan tahu, kami bisa dimarahi.”
Aku terdiam sejenak.
“Dimarahi?” ulangku pelan.
“Iya,” jawabnya cepat. “Tuan tidak suka orang rumah bekerja terlalu berat. Apalagi… Nyonya adalah istrinya.”
Aku menatap kompor di depanku.
Perasaan aneh muncul di dadaku.
Dulu, aku dimarahi kalau tidak bekerja.
Sekarang… orang takut dimarahi kalau aku bekerja.
Dunia benar-benar aneh.
“Tidak apa-apa,” kataku pelan. “Aku sudah izin.”
Wanita itu terlihat ragu. “Izin…?”
“Tadi aku bertemu Tuan Adrian di lorong,” jelasku. “Aku bilang mau masak. Dia bilang tidak masalah.”
Wanita itu masih terlihat tidak yakin.
“Benarkah?” tanyanya hati-hati.
Aku mengangguk. “Iya. Jadi kalian tidak perlu khawatir.”
Wanita itu saling berpandangan dengan dua pelayan lain yang berdiri tidak jauh dari situ. Mereka tampak bingung harus melakukan apa.
“Aku tidak akan bilang kalau kalian menyuruhku masak,” kataku pelan sambil tersenyum kecil.
Mereka terlihat semakin bingung, tapi akhirnya wanita itu menghela napas.
“Kalau begitu… kami bantu saja, Nyonya.”
Aku menggeleng pelan. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”
Aku mulai memotong sayur pelan. Tanganku bergerak otomatis seperti biasanya. Aneh rasanya—sudah lama aku tidak memasak tanpa dimarahi atau disuruh.
Sekarang aku memasak… karena aku ingin.
Beberapa menit berlalu.
Aroma makanan mulai memenuhi dapur.
Aku membuat sarapan sederhana: telur dadar sayur, sup ringan, dan roti panggang.
Salah satu pelayan memperhatikan dengan heran. “Nyonya biasa memasak?”
Aku tersenyum kecil. “Dari kecil.”
Ia terlihat sedikit sedih mendengarnya, tapi tidak berkata apa-apa lagi.
Setelah semuanya selesai, aku menaruh makanan di piring.
Tanpa sadar, aku membuat dua porsi.
Aku menatap dua piring itu beberapa detik.
Lalu tersadar.
“…Kenapa aku bikin dua ya,” gumamku pelan.
Aku terdiam sejenak.
Lalu menghela napas kecil.
“Yang satu untuk pelayan saja,” kataku.
Namun sebelum aku sempat memindahkan piring itu—
Suara halus terdengar dari belakang.
“Kamu beneran masak?”