Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 05
“Kau kelihatan sedih saat tinggal di sini,” celetuk Nadya saat melihat Kaluna yang duduk termangu di ruang tamu.
Kaluna memilih mengabaikannya dan asyik bertukar pesan dengan teman-temannya. Semenjak diminta tinggal bersama dengan ayahnya lagi, Kaluna memang merasa tidak bahagia. Lebih tepatnya, merasa tidak bersemangat.
Namun, Nadya yang merasa gemas dengan Kaluna itu akhirnya mendekatinya, ia meletakkan cangkir jus yang dibawanya dari dapur dan meletakkannya di meja.
“Aku tahu, kau pasti merasa sedih karena tidak bisa tinggal di rumah besar milik ayah sambungmu itu, kan? Kau dipaksa tinggal bersama kami lagi karena ibumu dan suami barunya itu ingin menghabiskan waktunya hanya berdua saja,” kata Nadya, seolah sengaja mengompori.
Kaluna menatap Nadya dengan malas, mood-nya yang sudah memburuk jadi semakin memburuk gara-gara Nadya mengungkit masalah itu lagi.
“Sepertinya kau memang sangat menyukai keributan, ya? Apakah kau akan terkena serangan jantung jika tidak mengganggu orang lain?” balas Kaluna malas.
Nadya mengernyit. “Apa?! Kau berani mengataiku, Kaluna? Aku hanya bertanya saja, kenapa ucapanmu itu begitu kasar?” tanyanya memulai drama.
“Kenapa? Kau tidak suka? Jika kau tidak suka dengan ucapanku, maka diamlah dan jangan ganggu aku,” ucapnya lalu berdiri. “Jangan sok bersikap akrab denganku dan bertingkah seolah kau sangat memahamiku.”
Kaluna berlalu pergi dengan kesal, Nadya benar-benar membuat suasana hatinya memburuk. Jika ia tidak mengingat nasihat ibunya untuk jangan mencari masalah dengan Nadya dan Mahesa selama tinggal di sini, ia sudah pasti akan mencakar wajah Nadya.
Memasuki kamarnya, Kaluna berniat untuk menghubungi ibunya, ia benar-benar rindu dan ingin menceritakan apa yang terjadi padanya. Namun, tiga kali mencoba menghubungi sang ibu, panggilannya itu tak kunjung tersambung.
“Ck! Sepertinya Ibu benar-benar ingin menghabiskan waktu hanya berdua saja sampai ponselnya pun tak bisa dihubungi,” gerutu Kaluna, mulai merasa bosan.
“Apa yang harus kulakukan sekarang? Di sini benar-benar sangat membosankan.” Menutup wajahnya dengan bantal, Kaluna justru terpikir untuk keluar main.
Ia meraih dompet dan mengeluarkan kartu kredit pemberian Shaka. “Ayah Shaka memberiku ini satu minggu yang lalu, aku bisa menggunakannya untuk berbelanja, bukan?” gumamnya tersenyum senang lalu menyambar tas dan ponselnya cepat.
***
Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Incheon. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, Gayatri tanpa sadar menggenggam sandaran kursinya sedikit lebih erat. Ini adalah pertama kalinya ia naik pesawat dan pergi ke luar negeri. Hal yang dulu bahkan tidak pernah ia bayangkan.
Shaka menoleh, menangkap ekspresi itu dengan senyum tipis. “Kita sudah sampai. Kau sudah bisa merasa lega sekarang. Kau tidak perlu takut lagi pesawatnya akan jatuh,” kata Shaka diiringi kekehan kecil.
Gayatri mengangguk pelan. Tatapannya mengarah ke jendela, memperhatikan deretan pesawat dan bangunan asing yang terasa begitu berbeda dari yang biasa ia lihat.
“Kita benar-benar sudah tiba di Soul,” gumamnya hampir tak percaya.
“Seoul,” koreksi Shaka, lagi-lagi terkekeh. Sejak berangkat, ada saja tingkah Gayatri yang membuatnya gemas.
Setelah proses kedatangan selesai, mereka keluar dari bandara dan langsung disambut udara yang lebih dingin. Gayatri sedikit merapatkan jaketnya, sementara Shaka sudah lebih dulu menyiapkan kendaraan untuk membawa mereka ke pusat kota.
Perjalanan menuju Seoul dipenuhi dengan pemandangan yang membuat Gayatri sulit mengalihkan pandangan. Gedung-gedung tinggi berdiri rapi, jalanan bersih dengan lalu lintas yang teratur, dan suasana kota yang terasa hidup namun tetap tertib.
“Indah sekali,” ucap Gayatri lirih.
Shaka meliriknya sekilas. “Masih banyak yang bisa kau lihat nanti, dan kau pasti akan menyukainya.”
Mereka tiba di sebuah hotel mewah yang telah dipesan sebelumnya. Proses check-in berjalan cepat, dan tak lama kemudian mereka sudah berada di kamar yang luas dengan pemandangan kota Seoul yang terbentang dari balik jendela kaca besar.
Gayatri melangkah mendekat, menatap ke luar dengan mata berbinar. “Aku tidak menyangka akan sampai di sini.”
Shaka berdiri di belakangnya, memperhatikan ekspresi itu dengan tenang. “Apa kubilang? Kau pasti akan menyukainya.”
Setelah beristirahat sejenak, Shaka mengajak Gayatri keluar untuk makan siang. Ia memilih sebuah restoran sederhana, namun tetap nyaman. Makanan yang disajikan berbeda dari yang biasa Gayatri santap, tapi justru itulah yang membuat pengalaman itu terasa menarik.
“Rasanya unik, ya?” komentar Gayatri setelah mencicipi.
Shaka tersenyum. “Kalau kau tidak menyukainya, kita bisa mencari makanan yang lain. Apa yang ingin kau makan sekarang.”
Gayatri menggeleng. “Tidak, tidak. Aku ingin mencoba makanan ini saja. Rasanya memang agak aneh di lidahku, tapi tidak terlalu buruk juga.”
Setelah makan, mereka tidak langsung kembali ke hotel. Shaka mengajak Gayatri berjalan-jalan menyusuri beberapa sudut kota. Mereka melewati jalanan yang ramai, berhenti di beberapa tempat yang menarik perhatian, dan sesekali berbincang ringan. Gayatri tampak menikmati semuanya.
Pemandangan Seoul yang modern berpadu dengan sudut-sudut kota yang lebih tenang memberi kesan yang berbeda. Ia beberapa kali berhenti hanya untuk memperhatikan sekitar, seolah ingin menyimpan setiap momen dalam ingatannya.
“Terima kasih sudah membawaku ke sini,” ucapnya tiba-tiba.
Shaka menoleh. “Kau mengucapkan terima kasih lagi, padahal sudah kukatakan jangan berterima kasih pada suamimu sendiri,” gerutunya pelan. “Tapi kau senang, kan?”
Gayatri mengangguk. “Sangat. Aku sangat menyukainya. Apalagi aku pergi bersamamu.”
Mereka berjalan sedikit lebih lama, hingga akhirnya langkah Gayatri melambat. Ia terdiam sejenak, seolah mengingat sesuatu yang sejak tadi berada di benaknya.
“Nares,” panggilnya pelan.
“Ya?”
“Apa kita bisa menemui Keandra sekarang?” tanyanya pelan, penuh harap. Tujuan utama Gayatri pergi ke sana adalah demi menemui Keandra.
Shaka terdiam sejenak. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan datang. “Tentu saja,” jawabnya akhirnya.
Gayatri langsung tersenyum, meski ada sedikit ketegangan yang terselip. “Aku ingin segera melihatnya.”
Shaka mengangguk, lalu mengajak Gayatri mencari taksi. Perjalanan kali itu terasa berbeda bagi Gayatri, terasa lebih sunyi dan dipenuhi oleh harapan yang tak terucap.
Dan arah yang mereka tuju bukanlah gedung perusahaan atau studio tempat Keandra bekerja. Taksi mereka justru berhenti di depan sebuah rumah sakit.
Gayatri mengernyitkan kening begitu menyadarinya. Ia menoleh cepat ke arah Shaka. “Untuk apa kita ke sini? Apa kau merasa sakit?”
Shaka tidak langsung menjawab. Ia membayar ongkos taksi lebih, lalu menghela napas pelan sebelum menoleh.
“Sebenarnya, ada sesuatu yang perlu kau tahu,” ujarnya hati-hati setelah taksi mereka pergi.
Gayatri menatapnya, jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat. “A-apa maksudmu?”
Shaka menahan pandangannya sejenak, lalu berkata pelan, “Maaf karena tidak memberitahumu lebih awal. Sebenarnya, Keandra sedang dirawat di sini.”
Mendengar kabar itu, seolah ada sesuatu yang runtuh dalam diri Gayatri detik itu juga. “Apa? Keandra dirawat? Kau tidak bercanda, kan?” ulangnya, seolah tak percaya.
Shaka mengangguk yakin. “Dia mengalami cedera di kakinya,” jelas Shaka. “Cederanya cukup serius, jadi dia harus menjalani perawatan.”
Wajah Gayatri langsung berubah pucat. “Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?”