Cinta memang gila, bahkan aku berani menikahi seorang wanita yang dianggap sebagai malaikat maut bagi setiap lelaki yang menikahinya, aku tak peduli karena aku percaya jika maut ada di tangan Tuhan. Menurut kalian apa aku akan mati setelah menikahi Marni sama seperti suami Marni sebelumnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Kartini ( Revisi )
Marni mengerjapkan matanya saat sinar matahari menerobos masuk jendela kamarnya. Ia melihat suaminya sudah tak ada di sisinya.
"Kenapa aku bangun kesiangan lagi," gerutu Marni
Raut wajah kecewa terpancar jelas di wajahnya. Suara berisik dari arah dapur membuat Marni buru-buru merapikan penampilannya dan segera menuju ke dapur. Ia melihat Surti tengah sibuk memasak di sana.
Wanita paruh baya itu sepertinya membutuhkan bantuannya, pikirnya. Marni segera duduk di sebuah kursi kayu dan memotong sayuran yang ada di depannya.
Sementara itu Surti terkesiap saat melihat Marni tiba-tiba berada di belakangnya.
"Astaghfirullah," ucapnya dengan wajah pucat
"Maaf, jika kedatangan Marni mengagetkan Ibu," tandas Marni menyunggingkan senyumnya
Jika Marni tersenyum melihat ibu mertuanya yang kaget melihat kedatangannya, Surti benar-benar ketakutan melihat menantunya itu. Ia masih ingat dengan cerita Amar malam itu. Ia tidak akan melupakan raut wajah putra semata wayangnya yang ketakutan semalam.
Namun bagaimanapun juga ia berusaha menyembunyikan rasa takutnya itu. Seperti pesan Amar ia tak boleh menceritakan kejadian semalam kepada Marni. Ia tak boleh membuat Marni merasa tidak nyaman karena kejadian tersebut.
"Maaf ya Bu, kalau Marni bangun kesiangan, pasti Mas Amar kecewa padaku karena aku tak bisa menjadi istri yang baik untuknya. Sudah dua hari dia mempersiapkan keperluannya sendiri, aku masih pulas saat ia pergi bekerja, istri macam apa aku ini??" ucap Marni
Wanita itu terlihat murung dan sedih.
"Tidak masalah nduk, yang penting besok-besok kamu jangan bangun kesiangan lagi. Coba untuk tidur lebih awal dan jangan lupa berdoa sebelum tidur," jawab Surti menepuk pundak Marni
"Inggih Bu," Marni mengangguk pelan
"Sebaiknya ibu istirahat saja biar Marni yang melanjutkan pekerjaan ini. Ibu katakan saja ingin masak apa, Aku akan memasaknya sesuai permintaan Ibu," ucap Marni
Surti terlihat menganga dengan netra membola, wanita itu benar-benar tak menyangka jika menantunya itu benar-benar mengatakannya.
Mungkin ini yang membuat Amar tidak mau menceraikan Marni, memang tak bisa di pungkiri selain cantik Marni adalah wanita yang sangat baik. Ia tahu bagaimana mengambil hati orang tua dan menyenangkannya,
"Ibu...." sentuhan lembut Marni membuat Surti tergagap
"Iya nduk,"
"Ibu mau masak apa hari ini?" tanya Marni dengan wajah menggemaskan
Jujur Surti begitu terkesan dengan wajah cantik natural Marni. Ia tak tahu bagaimana ia tiba-tiba menyukainya padahal sebelumnya ia tak mau berdekatan dengan wanita itu.
"Sayur lodeh," Surti berusaha mengatur nada suaranya yang terdengar sedikit gagap
"Inggih, silakan Ibu istirahat saja, nanti Marni kabari kalau sudah mateng ya," sahut Marni
Ia buru-buru pergi meninggalkan Marni yang mulai sibuk memotong sayuran di hadapannya.
Surti berlari menemui suaminya yang sedang membersihkan halaman rumah.
"Selain tanda lahir, Marni itu pasti pakai pelet," ucap wanita itu dengan nafas terengah-engah
"Bagaimana kamu bisa tahu, memangnya kamu dukun!" gerutu Paijo
"Aku bisa melihatnya sendiri mas, tiba-tiba mendadak aku jadi suka sama dia padahal sebelumnya kamu tahu kan aku gak suka banget sama dia. Apalagi setelah kejadian semalam. Lah kok tiba-tiba setelah si Marni tersenyum aku kok jadi suka sama dia," jawab Surti
"Memangnya kamu sudah dia karena apa??"
"Karena dia cantik, selain itu karena dia mau menggantikan aku memasak di dapur," jawab Surti
Paijo tertawa mendengar jawaban istrinya. Ia tahu benar bagaimana peranan istrinya. Surti memang tipe orang yang mudah terharu saat seseorang membantunya.
"Yowes kalau begitu, semoga langgeng!" sindir Paijo
Surti terlihat kesal melihat reaksi datar sang suami. Wanita itu terus menggerutu kemudian pergi meninggalkannya.
*******
.
Matahari mulai naik diatas kepala. Cahaya teriknya membuat Amar memilih beristirahat di sebuah kedai kopi. Cuaca terik membuatnya menghentikan sejenak pencarian kediaman Kartini. Ia masuk ke sebuah kedai kopi untuk menghilangkan rasa dahaganya.
Amar memesan segelas es teh manis dengan semangkok mie instan rebus. Rasa lapar membuatnya begitu lahap menikmati mie instan itu hingga tak bersisa.
Seorang wanita paruh baya duduk di sampingnya. Meskipun ia terlihat sudah berumur namun kecantikannya masih terpancar di wajahnya.
"Apa kabar Mbak Yu," sapa Amar
"Loh kamu pemuda yang kemarin toh, kok bisa ada di sini, memangnya yang kemarin belum selesai?" tanya wanita itu
"Iya, aku sedang mencari kediamannya Mbak Kartini. Kebetulan sahabatku merekomendasikan untuk menemui wanita itu. Ia bilang Kartini memiliki toh yang sama dengan Marni," jawab Amar
"Memangnya Apa yang ingin kau ketahui dari Kartini, bukankah aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu jadi apalagi yang kurang?" ucap wanita itu
"Ustadz Zibran bilang hanya kamu satu-satunya orang yang bisa menghapus toh brahma dari tubuhmu, bagaimana caranya?" tanya sama semakin penasaran
Tiba-tiba wanita itu tertawa terbahak-bahak, wanita itu seolah menertawakan kepolosan Amar.
"Asal kamu tahu cah bagus, sejauh ini kamulah yang sudah jauh. Kamu sudah bertahan semala tiga hari dengannya dan itu tidak mudah. Mengingat semua suami Marni di meninggal di hari pertama mereka. Dengan kata lain kau sudah bisa menaklukkan iblis yang bersemayam di tubuh istrimu," jawab wanita itu
Wanita itu kemudian menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya ke wajah Amar.
"Kau pasti ingin tahu bagaimana caranya untuk melawan iblis itu bukan??" tanya Kartini disambut anggukan pelan Amar
Wanita itu menarik kerah baju Amar hingga hidung keduanya saling bersentuhan.
Kartini meletakkan rokoknya diatas meja kemudian mengecup bibir Amar.
Bak sebuah sengatan listrik jantung Amar seketika bergemuruh itu. Desiran aneh mulai menjalar di tubuhnya membuat pria itu berkali-kali beristigfar.
Kartini semakin menggila dengan membuka kancing bajunya sehingga tanda lahir di dadanya terlihat jelas.
Bola mata Amar membulat melihat tanda lahir itu berubah warna.
"Bukankah toh itu harusnya berwarna coklat, kenapa sekarang berubah jadi merah??" tanya Amar dengan wajah pucat
Wanita itu mengambil kembali rokoknya, ia menghisapnya lagi dan mengepulkan asapnya ke udara.
"Sekarang kau tahu kan apa yang membuatnya berubah warna?" jawab wanita itu sambil memasang kembali kancing bajunya
Amar menggelengkan kepalanya, membuat wanita itu langsung menempelkan telunjuknya ke keningnya.
"Dasar bodoh, jadi orang itu jangan terlalu naif, apa aku harus tidur denganmu agar kamu paham," ucap wanita itu
Wajah Amar langsung bersemu merah, pria itu buru-buru mengambil minumannya dan meneguknya untuk menghilangkan rasa malunya.
"Maaf," pungkasnya
"Kalau begitu pulanglah, jangan pernah membuat istrimu marah karena itu bisa membahayakan nyawamu," bisik wanita itu
Amar mengangguk, ia buru-buru membayar makanannya dan segera pergi meninggalkan kedai itu.
Sementara itu Kartini terus menatap pria itu hingga ia menghilang.