Kanazya Laurels, wanita yang hidup sendiri dari kecil. Ayahnya meninggal setelah ditinggal ibunya pergi.
Dia bertemu dengan seorang pria penjual bunga yang sangat tampan hingga membuatnya terpesona. Tetapi lelaki itu ternyata tunanetra.
Tak disangka, Kana setuju menikah dengan Krishan lantaran ia terhimpit dan butuh tempat tinggal. Tetapi pesona Krishan yang luar biasa itu, membuatnya jatuh cinta.
Masalah terus berdatangan saat Kana menyadari bahwa lelaki buta yang ia nikahi bukanlah orang sembarangan.
Siapa sebenarnya Krishan? Bagaimana cara dirinya melindungi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marriage Proposal
"Noah. Dia bersama perempuan. Bermesraan disana." Ucapnya dengan suara yang nyaris hilang.
"Ayo". Krishan merangkulnya, membawa gadis itu berjalan dengan perlahan meninggalkan pesta.
Kana menangis tersedu-sedu di dalam mobil bersama Krishan yang tidak tahu harus berbuat apa.
"Krish, maafkan aku mengganggumu karena tangisanku". Ucapnya dengan suara parau.
"Tidak begitu, menangislah sampai puas."
"Aku masih sayang padanya, Krish. Tetapi mengingat kelakuan bejatnya membuatku bersedih. Kau tahu, aku memergokinya melakukan itu dengan perempuan di dalam kamar." Lirihnya sembari mengelap air mata dengan tisu.
"Kenapa kau tidak cerita dari tadi? Kalau aku tahu, dia takkan lepas dariku pagi tadi". Krishan mencengkram kuat tongkatnya.
"Tidak perlu, biarkan saja dia menerima karmanya".
"Apa kau mau berjalan-jalan dulu?" Tawar Krishan.
"Aku ingin minum".
"Baiklah. Antar kami ke Bar biasa". Ucap Krish pada supirnya.
~
Kana menenggak minumannya dengan sekali teguk. Dia mengisinya lagi.
"Kau jangan minum terlalu banyak". Krishan duduk di depan Kana, menggenggam tongkatnya dengan wajah ke depan. Dia bisa mendengar rintihan gadis itu.
"Krish, katakanlah sejujurnya walau kita baru bertemu dan kau tidak bisa melihat, apakah menurutmu aku menyedihkan?" Kana terisak, dia menangis sesegukan.
"Aku sudah beberapa hari menahannya, yang membuatku semakin tidak berdaya adalah hatiku masih menyayanginya". Kana menenggak minumannya lagi. Dia menangis, mengambil beberapa tisu dan mengelap cairan yang keluar dari hidungnya.
Krishan berdiam, mendengarkan saja curahan hati Kana.
"Krish, kau tahu, banyak laki-laki yang memperebutkan aku. Dengan bodohnya aku memilih dia. Dia selalu menipuku, Krish."
"Bagaimana caramu untuk bersenang-senang?" Tanya Krishan yang ingin menyelamatkan wanita di depannya.
"Aku? Apalagi, mencari pelarian dengan laki-laki tampan dan seksi". Ucapnya dengan memutarkan jari telunjuk di gelas kecilnya, Kana mulai mabuk namun dia terus menenggak minumannya.
"Kalau gitu, kau bisa menggunakanku semaumu".
Kana tergelak, "benarkah, kau mau aku menggunakanmu?"
"Ya, jika itu membuatmu lebih baik."
Kana berdiri sempoyong, "Yang benar?" Kana tertawa dan berjalan menuju kursi Krishan.
"Ya, lakukan saja".
"Kau yakin.." Goda Kana lagi, lalu duduk di pangkuan Krishan dan melingkarkan tangannya di leher pria itu.
"Kau memang tampan, kau sangat seksi". Kana mengelus rahang Krishan yang tumbuh rambut halus disekitarnya.
Kana tersenyum menatap wajah itu, lalu memeluk tubuh Krishan yang harumnya memikat. "Wangimu enak sekali". Ucapnya dengan terbata.
Kemudian dia tidak bergerak beberapa menit sampai Krishan mendengar dengkuran halus dari mulut Kana yang menyentuh leher Krishan.
Krishan menjentikkan jari, seorang pengawalnya datang.
"Bawa wanita ini ke rumahku, jangan sampai kau membangunkannya." Titahnya, lalu pengawal itu menggendong Kana dan membawanya pergi bersama Krishan yang berjalan dengan tongkatnya.
...♥︎♡♥︎♡...
Kana mengerjap, dia langsung memalingkan wajah saat matanya menangkap cahaya matahari yang masuk menembus gorden jendela.
Matanya terbuka, dan mengerjap lagi untuk menjernihkan pandangan. Rasa kantuk masih menyelimuti matanya, Kana menguap lebar, lalu ternganga karena dia tidak mengenal tempatnya berada sekarang.
Kana langsung bangkit, melihat kesetiap sudut untuk mengetahui dimana ia kini. Lalu matanya menangkap satu bingkai foto, lelaki bertelanjang dada yang penuh dengan tato.
Kana menyipitkan mata, "Krishan?" Ucapnya saat yakin yang ia lihat di atas meja adalah foto lelaki yang ia baru kenal kemarin.
Kana berdiri, mengambil foto itu dan melihatnya dengan seksama. Benarkah tubuh lelak itu penuh tato? Dia tidak tahu Karena selalu melihat Krishan yang memakai kemeja lengan panjang.
Sekilas Kana mengingat dirinya yang mabuk, pasti Krishan membawanya ke rumahnya.
Kana mengernyitkan dahi, "kenapa kemari? Bukannya dia tahu alamatku?" Gumamnya.
Dia berjalan menuju pintu yang melewati cermin besar, Kana ternganga, "Bajuku berganti?"
Pikirannya mulai kacau, siapa pula yang mengganti bajunya?
Kana keluar dari kamar, mencari sosok Krishan yang entah dimana karena kini matanya sibuk mengagumi rumah Krishan yang amat sederhana dengan banyak tumbuhan di dalamnya. Rumah Krishan seperti taman hijau, begitu menyegarkan mata.
Kana menyentuh bunga lili yang berada di atas rak panjang, bunga putih itu sangat indah membuatnya tersenyum.
Dia lalu melihat Krishan, tengah berjemur di taman kecil yang berada di pertengahan rumah tanpa atap hingga membuat cahaya matahari masuk dan menyinari bunga-bunga sekitarnya.
"Krish.." Panggilnya pada Krishan yang memejamkan mata di bawah hangatnya sinar matahari.
"Kau sudah bangun?" Krishan membuka mata, lalu duduk tegak. Di depannya ada beberapa sandwich, air putih, dan segelas kopi yang asapnya masih mengepul.
Lelaki itu benar-benar terlihat gagah, memakai kaos polo putih berlengan pendek hingga memperlihatkan tatonya sepanjang mata tangan.
Kana duduk di depannya, "Si-siapa yang mengganti pakaianku?"
Krishan tersenyum, "Aku".
"Apa? Kau.. kau yang.."
Krishan tertawa, "Aku kan tidak bisa melihatmu".
"Tapi kau bisa menyentuhnya!" Bentak Kana karena merasa Krishan ternyata berbahaya.
"Maafkan aku, jangan marah. Yang menggantinya adalah Marry. Dia asisten rumah tangga disini". Jelasnya.
"Kau ini!"
"Makanlah. Marry membuatkanmu sandwich, kau perlu sarapan sebelum pulang."
Kana melahap satu sandwich karena dia terasa amat lapar.
"Bagaimana aku berada disini?" Tanyanya sambil mengunyah.
"Kau tidak ingat?"
Kana menggeleng tanpa ingin mengingat, dia melahap lagi sandwich yang lain.
"Ini enak sekali". Ucapnya setelah menelan 2 sandwich.
"Apa aku melakukan kesalahan tadi malam?" Tanya Kana mencoba berpikir. Rasanya berdosa jika dia melupakan apa yang terjadi hingga membuat Krishan kerepotan.
"Ya, kau mengatakan sesuatu".
Kana memicingkan matanya, mencoba mengingat lagi dan..
"Astaga!" Kana menutup mulutnya saat potongan ingatan demi ingatan timbul di pikirannya. Kana berdiri dan melihat Krishan dengan tatapan menyesal.
"Krish, aku..."
"Apa kau sudah ingat?"
Kana menelan ludahnya. "Maafkan aku, Krish. Aku tidak bermaksud kurang ajar padamu. Aku hanya..."
"Tetapi aku serius dengan ucapanku padamu". Ucapnya yang memotong kalimat Kana. "Jika kau menerimaku, aku bersedia menjadi pelarianmu."
"A-apa?" Kana tergagap. Menurutnya pernyataan Krishan tak masuk akal.
"Bukankah kau menyukaiku dan ingin memanfaatkanku?"
Kana mundur dari tempatnya hingga kursi di belakangnya terjatuh. Kana gelagap, mencoba tetap berdiri setelah mendengar ucapan Krishan.
"Aku tidak memaksamu, Jia. Aku hanya menawarkan diriku karena menurutku, kau membutuhkanku supaya bisa melupakan mantan kekasihmu itu." Ucap Krishan dengan mata yang sayu.
"Bukan begitu maksudku, Krish. Aku memang ingin melupakannya tapi.."
"Aku mengerti. Tapi aku juga serius ingin menikahimu jika kau bersedia. Aku tahu kau merasa segan pada sahabatmu, kan?"
Krishan masih ingat pada Kana yang meracau dengan mata yang hampir tertutup tadi malam.
Kana tadi malam sempat menangis memikirkan nasibnya yang tak kunjung membaik, padahal dari kecil dia sudah hidup dengan kepayahan, menumpang dengan sahabatnya tanpa mau dibayar.
Dia ingin menikah supaya hidupnya tertopang oleh suami dengan menaruh harap pada Noah. Namun ternyata laki-laki brengsek itu berselingkuh, membuat harapannya hancur berkeping-keping.
"Ba-bagaimana kau tahu?"
Krishan tersenyum lembut, "Kau yang mengatakannya padaku, Jia. Aku akan menanggung semua hidupmu dan apapun yang kau inginkan asal kau hidup denganku, menjadi teman berbagiku disini."
Kana membeku, dia tak sangka semua yang ia keluhkan dalam hatinya bisa keluar saat bersama Krishan.
"Jia, mungkin kau tidak percaya, tetapi aku menyukai suaramu. Aku menyukai harummu, dan kau membuatku lebih semangat dalam menjalani hidupku."
"Jia, aku tidak akan menyentuhmu sebagai istriku jika kau tidak mengizinkannya. Aku janji padamu. Dan kau, tetap bisa memanfaatkanku dan apapun yang aku miliki, juga milikmu. Jia, apa kau bersedia?"
Kana tak menyahut, dia tidak bisa berkata-kata. Walau dia menyukai Krishan karena pesonanya, tetapi jika untuk menikah...
TBC
Visual Krishan
nah loohh .. bini' mu sdh angkat bicara