Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah perbedaan.
Terkadang memang banyak orang mengetahui hanya sekedar apa yang mampu mereka lihat, lalu ia berkata "ini yang terbaik bagiku", atau mengatur pada orang yang paling dekat, "lakukan hal ini, itu yang terbaik bagimu".
Namun pada kenyataannya dia tak mampu melihat dari apa yang masih tersembunyi, dari makna yang tampak buruk di permukaan namun lebih baik bagi orang itu di dalamnya.
Sungguh seseorang tak pernah tahu pasti di dalam kerang ada mutiara yang tersimpan, maka dia ingin mengambilnya ketika sudah terlihat keindahannya, tanpa tahu dan tak ingin tahu bagaimana caranya mencari, bagaimana caranya mengambil saat keberanian dan pertaruhan hidup dan mati ketika menyelami lautan.
Anita sedikit demi sedikit mulai menyadari bahwa keindahan dalam hidup itu tak benar-benar nyata maupun abadi selamanya.
Atau keindahannya hanyalah sebentar dan entah itu hari esok atau sekarang itu benar-benar akan menghilang.
Mereka berdua pulang.
Sebelum pergi ke rumah Bayu, mereka berdua mampir ke rumah Anita.
Disana ada garis kuning yang terpasang di depan Rumah.
Anita berdiri di depan rumah itu, tatapannya terpaku ke dalam rumah yang tertutup rapat.
Bayu berjalan mendekatinya, lalu memegang pundak Anita. "Kamu gak apa-apa?" Tanya Bayu pelan memecahkan lamunan Anita.
Anita menggeleng dalam diam.
"Kedua orang tuamu di bawah ke rumah sakit untuk di periksa, apa kamu mau kesana?" Bayu berkata pelan, setiap katanya sangat hati-hati seolah tak ingin melukai, seperti seseorang yang sedang membawa kue tar, jika tersentuh akan mudah rusak.
Sekali lagi Anita mengangguk pelan, masih terdiam tanpa kata.
Bayu menyadari ini hari yang sangat berat bagi Anita, hari ini Bayu tak ingin sedetik pun meninggalkannya sendiri.
Bayu kembali memegang pundak Anita, bukan untuk memeluk, melainkan untuk menggandeng berjalan bersama menuju mobil hendak pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung pergi menuju kamar mayat.
Anita melihat kembali wajah yang ia sangat kenali yang biasanya tersenyum hangat itu, yang biasanya membantu berdiri saat ia terjatuh, dan yang biasanya menasehati dengan sabar saat ia tersesat, yang biasanya selalu tersenyum di depannya walau ia lelah terus tersenyum demi melihat dirinya merasa senang, kini wajah itu hanya diam dengan tubuh yang dingin dan kaku.
"Ayah, ibu.... Maafkan aku", gumamnya pelan lalu tubuhnya terjatuh lemas bersimpuh di lantai yang dingin.
Bayu yang berada di belakangnya menghampiri kemudian membantunya berdiri, dia tahu apa yang di rasakan Anita, sebab dua belas tahun yang lalu dia pernah merasakan hal yang sama, keadaan yang serupa seperti ini... Dia sangat tahu bagaimana rasa sakitnya itu.
"Aku akan mempersiapkan pemakaman mereka, semua akan aku urus, kamu istirahat saja", Bayu berkata pelan, sangat lembut, suara itu hampir terdengar berbisik terasa berat dan dalam.
Kali ini Anita tak memberi gerakan menolak maupun mengiyakan, dia hanya terdiam, menatap pada kedua tubuh yang telah kaku itu.
Air matanya terjatuh lagi melewati pipi, hanya itu... Lalu Bayu membawanya kembali pergi keluar dari ruangan itu.
Anita duduk dikursi saat Bayu mengurus biaya administrasi, ia melihat Anita termenung disana, wajahnya pucat sangat menghawatirkan.
Bayu kembali memapanya ke mobil, lalu pergi menuju Arah pulang.
Sesampainya di rumah Bayu, Anita masih duduk termenung, Bayu membuatkan minuman teh hangat, namun Anita tak menyentuhnya sama sekali.
Bayu menarik tubuh Anita pelan, lalu kepalanya ia rebahkan di pangkuannya, "Tidurlah tutup matamu, aku tahu hari ini kamu sangat lelah, dan jangan bicara satu katapun", Bayu membelai kepala Anita pelan.
Anita menutup mata, dari sudut matanya, air mata hangat terjatuh lagi melewati pipi meronanya.
Bayu tak menghapus Air mata itu, tangannya tetap membelai lembut di kepala Anita, setiap belaiannya membuat Anita nyaman dan memejamkan mata, kenyamanan itu semakin membuat ia tenggelam sampai tertidur.
Mungkin saat ini, hanya ini yang Bayu bisa lakukan untuk Anita.
Dua jam telah berlalu, Anita tertidur di pangkuan Bayu.
Suara langkah kaki terdengar pelan dari arah belakang mereka.
April berjalan mendekat, ia terbangun dari tidurnya saat merasa haus.
Saat April melihat keduanya, tangan bayu sudah terangkat dan jari telunjuknya sudah menyentuh bibirnya, mengisyaratkan agar April tidak berisik.
April mengerti, dia tak berkata dan tak bersuara, dia hanya mengangguk, kemudian mengambil air minum lalu kembali menuju ke kamarnya.
Pagi hari datang begitu cepat. Bayu tak tidur semalaman, sangat terlihat jelas dari kantong matanya yang berwarna hitam.
Acara pemakaman diadakan, dua gundukan tanah yang masih basah menjadi fokus setiap mata yang hadir, satu persatu pergi meninggalkan tempat itu.
April dan Anita menabur bunga, sedangkan Ratih juga ada disana duduk disamping menemani Anita.
Hampir dua jam mereka berjongkok, namun Anita masih tak kunjung ingin pulang.
"Nita, aku pamit dulu ya... Soalnya masih ada perlu", Ratih ijin pamit pulang.
Anita mengangguk, hanya mengangguk.
Ratih pun pergi meninggalkan mereka, namun sebelum ia benar-benar pergi, ia menitipkan amplop kecil yang berisi uang kepada Bayu, "aku tak bisa memberi apa-apa, semoga ini bisa membantu sedikit buat keperluan Anita", Ratih pun pergi dengan senyum kesedihan.
Bayu menerima amplop itu, ia langsung memasukkan Ke kantong jaketnya.
Dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah uang dengan Anita, bagi bayu sekarang, senyum Anita lebih penting, bagaimana caranya membuat Anita melupakan kesedihan ini.
Bayu melangkah mendekat lalu duduk di samping Anita, "kamu sudah capek ayo kita istirahat pulang dulu", Bayu berkata pelan.
Anita menoleh, tatapannya penuh dengan kesedihan, "aku ingin tetap disini, aku gak ingin meninggalkan mereka", jawab Anita dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu, tapi mereka gak ingin kamu bersikap seperti ini, yakinlah... Mereka ingin kamu bahagia, mereka gak ingin melihat kamu sedih seperti ini". Bayu kembali mengusap kepala Anita.
Anita terdiam, sedang tatapannya masih terkunci pada kedua mata Bayu.
"Terimakasih", akhirnya Anita mengucap kata-kata itu.
Bayu tersenyum, kemudian menuntun Anita pergi ke mobil dan diikuti April disamping Anita.
April menatap wajah Bayu, sikap Bayu terhadap Anita, disana ia menemukan sebuah perbedaan, perbedaan sikap yang selama ini ia tak menemukan di setiap prilaku Bayu terhadap semua wanita meski itu pada dirinya sendiri, kecuali saat berada di dekat Anita.
"Aku gak tahu sebelumnya, pria ini ternyata memiliki ketulusan yang sangat besar, saat wanita terjatuh dalam titik kerapuhan, dia mampu mengatasi dan menemani dengan kesabarannya". April mengambil napas pelan terus berjalan mengikuti mereka.
Siang itu suasana Bayu masih berkabung, Anita berada di dalam kamar ditemani April, sedangkan Bayu keluar rumah.
Taxi turun tepat di rumah Anita, Bayu berjalan hendak mengambil mobil Anita, dia ingin membantu Anita agar untuk sementara waktu ini, Anita gak pergi kerumahnya dulu.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Vivi.
"Aku sudah katakan berkali-kali padamu, jauhi Anita, kamu gak pantas bersamanya.", Vivi tiba-tiba memaki dan merebut kunci mobil yang berada di tangan Bayu.
Bayu hanya terdiam, mulut wanita jika sudah tak cocok memang kejam, jadi dia hanya diam.
Vivi menatap kearah Bayu sekali lagi, "kenapa diam, kamu itu jangan harap jadi benalu adekku, sekarang om dan Tante sudah gak ada jadi kamu sok-sokan mau mengambil mobil Anita,"
Bayu tetap diam,
Vivi menaiki mobil lalu meludah pas di samping Bayu, "cuiih... Minggir, kamu berharap hidup numpang jangan mimpi", itu kata makian terakhir yang keluar dari mulut Vivi sebelum dia tancap gas.
Sesaat kemudian seorang pria menghampiri Bayu, "kamu kenal dengan Anita" tanya pria itu.
Bayu menoleh, pria itu berawakan sedang, lumayan tampan namun terlihat dari wajahnya memang sudah dewasa.
"Kamu...?".
"Oh iya, aku Doni mantan suami wanita tadi", ujarnya dengan tersenyum.
Bayu mengangguk, "iya aku Bayu, kawan Anita", jawabnya menyambut senyum ramah itu.
Doni Menghela nafas pelan.
Bersambung.