Selesai membaca biasakan tekan LIKE ya.
Seorang perempuan cantik bernama Nindi harus menikah dengan pria pilihan orang tuanya yang tak lain adalah seorang pengusaha muda yang sukses.
Nindi tak bisa menolak permintaan sang papa dengan alasan balas budi, dia dengan terpaksa menerima pernikahan itu karena tak ingin membuat kedua orang tuanya bersedih.
Akankah hidup Nindi bahagia dengan pria pilihan orang tuanya itu atau justru berakhir dengan kesedihan??
Yuk simak kelanjutan kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Nindi menghela nafas panjang, tak bisa membayangkan bagaimana kalau suaminya itu benar-benar masuk perangkap mereka, Nindi tak rela suaminya itu di sentuh wanita lain bahkan sampai tidur bersama wanita lain, memikirkan saja Nindi tak ingin bahkan membayangkan juga Nindi tak mau. Jujur Nindi mungkin akan sedih dan tak tahu harus bagaimana kalau sampai semau itu terjadi.
Tiba-tiba Nindi teringat dengan pria yang membantu membawa suaminya itu.
"Oh jadi pria yang kabur karena menolak saat ku mintai tolong membawa mas Tristan masuk ke dalam kamar, itu adalah orang suruhan opa?" Tanya Nindi, dia ingat pria yang langsung kabur di ikuti oleh teman-temannya itu.
"Maksudnya?" Tanya Tristan binggung dengan ucapan istrinya itu, ya karena memang waktu itu Tristan tak sepenuhnya sadar akibat obat itu.
"Iya kan ada yg mengetuk pintu pas ku buka ternyata itu mas Tristan yang sedang di papah seorang pria. Nah ciri-ciri pria itu tubuhnya tinggi, kekar, kulit coklat dan senyumannya manis," jelas Nindi menjabarkan keselurahan yang dia ingat, kejadian malam dimana sang suami pulang di papah pria yang tak dia kenal.
Tristan melotot kesal mendengar istrinya itu bukannya menyebutkan ciri-ciri namun seperti memuji pria lain secara terang-terangan di depan suaminya.
"Bisa-bisanya dia memuji pria lain di depan ku," batin Tristan menahan rasa cemburu, wajahnya yang tadi langsung berubah masam mendengar ucapan istrinya tadi.
Namun Tristan langsung sadar, dia tak mungkin marah dengan istrinya yang polos itu.
"Sabar Tristan, istri mu pasti tak akan tergoda pria lain, cuma kamu yang paling tampan," batinnya mencoba bersabar namun di sertai rasa narsis.
"Iya, dia orang suruhan opa," jelas Tristan dengan singkat karena moodnya sedikit buruk karena Nindi yang tanpa sadar memuji pria lain tulah pemikiran Tristan. Mendengar jawaban singkat Nindi hanya mengangguk mengerti.
Nindi teringat hal yang membuat dirinya jengkel. "Tetapi kenapa dia kabur dan tak mau membantu membawa mas masuk ke dalam kamar?" Tanya Nindi binggung.
"Entahlah...." Jawab Tristan dengan cuek.
Tring ... Saat keduanya asyik mengobrol, lebih tepatnya menjelaskan detail kejadian yang membuat Tristan sampai pulang dalam keadaan seperti itu.
Tristan mengambil ponsel, matanya menyipit saat di lihat ada nomor baru yang mengiriminya pesan. "Ini nomor siapa," batin Tristan.
Awalnya dia engan untuk membuka isi pesan itu. "Buka saja mungkin penting," batinnya.
Dia mengerutkan keningnya saat membaca pesan itu, Tristan tersenyum dingin, senyum yang membuat siapapun merinding termasuk Nindi.
Nindi terdiam mengurungkan niatnya untuk bertanya, dia memilih menyimpan sejenak pertanyaan tadi. Nindi memperhatikan raut wajah sang suami yang berubah-ubah membuatnya semakin penasaran apalagi senyum sang suami yang terlihat aneh dan membuatnya merinding. "Apa yang membuat dia tersenyum aneh seperti itu?" Batin Nindi sedikit heran namun semakin penasaran.
"Kenapa?" Ceplos Nindi langsung bertanya karena di landa rasa penasaran. Dia ingat senyum suaminya yang aneh tadi dan dengan cepat menutup mulutnya yang ember itu.
"Ck kenapa aku bertanya, semoga saja dia tak marah karena aku sepertinya terlalu ikut campur. Bisa saja tadi dari kantor,'' batin Nindi merutuki mulutnya yang tak bisa di rem itu.
Tristan tersenyum menatap istrinya yang seperti tak enak hati itu. "Ini orang suruhan opa, dia bilang keduanya sudah diamankan,'' jelas Tristan.
"Terus bagaimana mereka sekarang? Apa mas Tristan tak ingin memberi pelajaran untuk mereka?" Tanya Nindi, terbesit dendam hatinya meskipun sedikit. (Mulai hari ini Nindi memanggil suaminya dengan sebutan MAS TRISTAN ya gaes biar enak. He he he he.....)
"Aku sudah meminta asisten ku untuk memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan mereka," jelas Tristan tanpa ada di kebohongan.
"Itu saja?" Tanya Nindi sedikit kecewa, dia tak ingin memaafkan perempuan itu karena kalau suaminya tidak beruntung dan masuk jebakannya kemarin mungkin rumah tangga yang baru mereka bina akan hancur.
"Kenapa?' tanya Tristan menatap sang istri dengan binggung.
"Aku tak rela saja mereka tidak mendapat hukuman, takutnya mereka dendam dan menjebak mas lagi."
Tristan bukannya marah justru tersenyum ternyata istinya itu mengkhawatirkan dirinya.
"Ternyata istri ku pendendam juga ya,'' goda Tristan menoel hidung sang istri.
"Ishh mas..." Nindi tersipu malu membuat Tristan gemas sendiri.
"Tenang sayang, anak buah opa tadi menghubungiku dan bilang kalau sudah mengurus 2 orang itu dan menempatkan mereka berdua di markas. Kalau istri ku tercinta ingin memberi merea hukuman silahkan nanti aku antar ke markas,'' kata Tristan.
"Nanti aku pikirkan,'' jawab Nindi.
''Sayang main lagi yuk,'' ajak Tristan membuat Nindi melotot.
''Tetapi tadi malam kan sudah,'' protes Nindi cepat, dia tak sanggup mengatasi nafsu suaminya yang seperti kemarin malam.
" Ayolah sayang, please....'' Tristan memelas membuat Nindi tak tega.
Melihat istrinya seperti bimbang, Tristan pun memasang wajah memelas.
"Ayolah sayang,'' bujuk Tristan saat melihat istrinya itu seperti ragu-ragu.
''Satu kali saja ya,'' tawar Nindi.
"kok sekali sih,'' protes sang suami.
"Sekali atau tidak,'' peringatan Nindi , dia tak ingin kehabisan tenaga dan berakhir di kamar seharian karena ulah suaminya yang mesum itu.
"iya deh daripada tidak,'' jawab Tristan dengan manyun.
"He he he he he he. kita lihat saja siapa yang akan minta lagi,'' batin Tristan tersenyum licik.
Akhirnya kamar itupun menjadi panas karena ulah pasangan pengantin baru itu.
SIANG HARI.....
Tristan tersenyum menatap ke samping tempat tidur di mana istrinya itu tertidur lelap karena ulahnya.
" Memang benar kata orang, bulan madu itu enak,'' kata Tristan terkekeh.
"Terimakasih sayang,'' kata tristan dengan tulus mencium kening sang istri yang masih tertidur karena ulahnya.
Merasa terganggu tidurnya, nindi pun menggeliat. "Eehhh....''
Wajahnya langsung masam karena suaminya itu membohongi dirinya, katanya cuma sekali tetapi....... Ah sudahlah memikirkannya membuat Nindi jengkel.
''Jam berapa sekarang?'' Tanya Nindi, dia merasa sudan tertidur lama.
Tristan melihat ponselnya ternya sudah sangat siang. Dian meringis tak enak.
''Jam 2,''jawabnya pelan.
"Hah?Apa?..." Nindi kaget langsung duduk membuat selimutnya melorot.
"Hei apa istriku ingin menggoda ku? Apa masih kurang hem....'' goda Tristan.
"Ishhh dasar suami mesum,'' kesal Nindi memukul dada sang suami.
Ha ha ha ha.... Bukannya kesal Tristan justru tertawa bahagia.
"Masa liburan di kamar terus, tidak mau di kamar terus pokoknya ajak aku jalan-jalan,'' rengek Nindi.
"Ya sudah cepat siap-siap, kita jalan-jalan yuk,'' ajaknya.
"Benar?" Tanya Nindi memastikan.
"Hemmm.... Siap-siap gih.''
Nindi pun turun dari ranjang dengan semangat, meskipun tubuhnya sedikit pegal.
"Aku mau spa pokonya gara-gara mas, tubuhku pegal-pegal,'' teriak Nindi dari dalam kamar mandi.
''Hmmmm....'' Jawab Tristan.
Bersambung.....