NovelToon NovelToon
Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat / Badboy / Mafia / CEO
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: alfajry

Kanazya Laurels, wanita yang hidup sendiri dari kecil. Ayahnya meninggal setelah ditinggal ibunya pergi.

Dia bertemu dengan seorang pria penjual bunga yang sangat tampan hingga membuatnya terpesona. Tetapi lelaki itu ternyata tunanetra.

Tak disangka, Kana setuju menikah dengan Krishan lantaran ia terhimpit dan butuh tempat tinggal. Tetapi pesona Krishan yang luar biasa itu, membuatnya jatuh cinta.

Masalah terus berdatangan saat Kana menyadari bahwa lelaki buta yang ia nikahi bukanlah orang sembarangan.

Siapa sebenarnya Krishan? Bagaimana cara dirinya melindungi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tattoo's Meaning

Kana tidak tenang sejak tadi. Ucapan Sherly terus terngiang di telinganya. Sesaat Kana sadar bahwa Sherly hanya ingin membuat hubungannya dengan Krishan hancur. Tetapi tetap saja dia butuh kepastian.

Kali ini, Kana tidak dijemput Krishan. Kata supir, Krishan masih ada di toko bunganya. Kana tidak mau menyusul, dia lebih memilih menunggu saja di hotel.

Sesampainya di lobi hotel, langkah Kana terhenti karena Bastian meneleponnya.

Bastian mengajaknya bertemu, Kana menyetujuinya lalu menelepon Alana supaya mereka tidak berduaan. Terakhir Krishan marah cukup membuatnya ngeri pada emosi pria itu.

Kana memilih Bar di hotel ini untuk tempat pertemuan mereka dan setelah beberapa menit, Bastian benar-benar datang dengan senyum cerahnya.

"Hai, Kana. Apa kabar?" Tanya Bastian sembari duduk berseberangan dengan Kana.

"Baik seperti biasa."

Bastian menatap IDC Kana yang belum ia lepas dari lehernya.

"Kau bekerja di Shanprise?" Mata Bastian terbelalak.

"Haha, ya, begitulah."

"Pantas saja kau memilih berhenti di tempat lamamu." Tuturnya.

"Kalau kau, Bas. Bekerja dimana?" Tanya Kana balik.

"Aku programmer, jadi tidak terikat."

"Programmer? Wah, keren. Apa kau bisa nge-hack data orang?"

Bastian tertawa renyah mendengar celotehan Kana yang seperti anak kecil itu.

"Kanaaaa.."

Alana sudah berteriak dari jauh, Kana melambaikan tangannya.

"Ah, aku yang mengundangnya." Ucap Kana saat Bastian menatap Alana dengan bingung.

"Sudah lama?" Tanya Alana sembari duduk.

"Belum, kok."

"Rokok?" Tawar Alana sementara Kana menggeleng dan Bastian mengambilnya.

"Tidak seru, banyak berubah sekarang." Cebik Alana.

Kana tersenyum kecil lalu mengarahkan matanya pada kedua temannya di depan. "Aku ingin bertanya, bagaimana menurut kalian tentang tato nama mantan kekasih?"

Alana melirik, "Ada apa?"

"Tidak, aku hanya bertanya karena teman kantorku. Dia sudah putus dengan pacarnya tetapi sialnya dia membuat tato nama pacarnya di sini." Kana menunjuk lengannya.

"Dia pasti cinta mati." Sahut Bastian.

"Itu bodoh. Walau suamiku sekalipun, aku tidak akan mau melakukan itu. Karena bisa saja bercerai, kan??" Tukas Alana dan mendapat anggukan setuju dari Kana.

Obrolan mereka berlanjut sampai mereka tidak sadar matahari sudah turun dari tempatnya.

...◇◆◇◆...

Krishan membereskan barang sebelum menutup toko. Beberapa hari ini, dia digantikan oleh anak buahnya. Sontak hari ini dia mendapat banyak sekali pertanyaan, kenapa penjual toko bunganya berganti orang? Tidak setampan Krishan pula. Krishan sampai kerepotan menjawab pertanyaan yang sama dari orang-orang yang datang.

TRING!

"Maaf, sudah mau tutup." Ucap Krishan dengan sopan.

"Krish.."

Krishan menghela napas saat suara Sherly terdengar di telinganya.

"Kau kemana saja? Sudah beberapa hari ini tokomu dijaga pegawai lain." Ucapnya sembari duduk tanpa diminta.

Krishan berjalan perlahan, dia ingin mendiskusikan masalah donor mata itu pada Sherly.

"Apa donor mata darimu masih ada?" Tanya Krishan yang duduk di hadapan Sherly.

Sherly tersenyum lebar, sepertinya Krishan mau menerimanya kembali.

"Tentu. Apa kau sudah berubah pikiran?"

"Bagaimana kalau aku membelinya dengan harga 3 kali lipat?" Tawar Krishan.

Terdengar napas berat dari Sherly.

"Lima kali lipat?" Tawaran Krishan meningkat.

"Aku tidak menjualnya, Krish. Aku mencarinya memang khusus untukmu. Tapi aku juga perlu sesuatu darimu. Aku mau kau kembali padaku. Itu saja. Kita bisa mulai lagi dari awal, kan? Kau bahkan masih punya tato yang kau buat khusus untukku."

Krishan membuang wajah, selama ini dia lupa akan tato itu karena memang tidak pernah melihatnya lagi.

Sherly berpindah tempat kesebelah Krishan. "Krish, aku benar-benar menyesal atas perbuatanku. Aku tahu, aku keterlaluan. Tapi kali ini aku benar-benar menyesal. Apalagi Danny berbeda sekali denganmu."

"Apakah ada hal lain selain aku? Aku akan mengabulkannya demi kornea itu."

"Tidak, aku hanya mau dirimu. Aku mencarinya susah payah karena aku ingin menebus kesalahanku."

Krishan berdiri dari tempatnya, nampaknya sudah tidak ada lagi yang perlu didiskusikan jika kemauan Sherly tidak berubah.

"Apa sih, yang buat kau sangat tertarik dengan wanita itu? Aku tahu kok, kalau kalian hanya pura-pura berkencan supaya aku cemburu. Iya, kan?"

"Apa untungnya membuatmu cemburu? Aku bahkan lupa padamu." Tukas Krishan sambil melanjutkan beres-beresnya.

"Aku tidak percaya. Memangnya ada, perempuan yang menerima laki-laki buta? Maaf ya, Krish, bukannya aku bermaksud menyinggungmu. Hanya saja, tidak masuk akal jika ada yang mau menerima itu! Aku tahu dia punya maksud lain!"

"Pergilah, ucapanmu tidak akan mempengaruhiku pada kekasihku." Krishan keluar dari tokonya, bersiap menutup pintu saat mendengar langkah kaki yang ikut keluar dari toko.

"Krish, kau harus melihat dulu siapa orang yang kau kencani itu! Dia pasti membodohimu. Dia pasti punya kekasih lain selain dirimu. Aku yakin itu!"

Krishan tidak peduli, dia berjalan dengan tongkatnya setelah mengunci toko.

"Kau tidak mencintainya, kan??"

Krishan berhenti, menoleh pada sumber suara. "Aku sangat mencintainya, Sherly. Bahkan melebihi perasaanku padamu dulu."

Wajah Sherly terlihat sangat kesal sementara Krishan melanjutkan langkahnya.

Sherly menghentak-hentakkan kakinya ke jalan. "Aku tidak percaya! Mana bisa orang yang tidak bisa melihat, jatuh cinta pada wanita?" Gumamnya tak terima.

...♡♥︎♡♥︎...

"Jia.. kau sudah pulang?"

Kana yang belum mengganti pakaiannya langsung berdiri di hadapan Krishan.

Krishan tersenyum lalu merentangkan tangan supaya istrinya itu memeluknya.

Kana mendekat namun bukan menyambut pelukan. Dia langsung membuka kancing kemeja Krishan.

"Baby, kau masih bergairah, ha?"

Kana tak menyahut, dia melebarkan bagian dada dan melihat detail tato Krishan di dadanya.

Kana menyentuh bunga itu, dia sedikit membungkuk untuk melihat dengan jelas kelopak bunganya.

"Jia, apa kau sesuka itu pada tubuhku?" Tanyanya dengan senyum lebar di bibirnya.

Kana tak mendengarkan Krishan. Dia terus mengamati tato itu walau sudah jelas matanya menangkap huruf S di kelopak bunga mawar yang diapit dua pistol itu.

"Huff.." Kana menutupkan kemeja Krishan dengan kasar lalu duduk di sofa dengan kesal.

"Jia, ada apa?" Krishan berjalan perlahan ke sofa tempat Kana duduk. Dia meraba sebentar lalu duduk disebelah istrinya.

Kana ingin bertanya, tetapi dia juga tahu itu masa lalu. Namun tetap saja mengganggu pemandangannya.

"Jia.." Krishan mengelus lembut pipi Kana.

"Aku ingin bertanya."

"Tanya saja, apa yang membuatmu sampai seperti ini?"

"Pasti ada banyak yang belum kau ceritakan padaku, kan?"

Krishan diam. Dia sempat berpikir banyak hal tentang pertanyaan Kana. Apakah wanita itu tengah bertanya tentang siapa dirinya sebenarnya?

"Apa yang kau ingin tahu, Jia?"

"Bisa tidak, kau ceritakan saja hal-hal tentang dirimu baik dulu atau sekarang, dari pada harus menunggu aku yang bertanya?"

Krishan diam, nada Kana sedikit naik dari biasanya. Suaranya juga terlihat kesal. Nampaknya ada sesuatu yang telah merusak suasana hatinya.

"Maafkan aku, Jia. Aku bukan bermaksud menutupinya.." Krishan mencoba mencari kata yang tepat untuk menyampaikan kalimatnya. Ia tidak ingin Kana kecewa dan meninggalkannya kalau tahu bahwa dirinya adalah Yohan, orang yang hampir setiap hari Kana umpat.

"Kenapa kau tidak bilang kalau Shanprise itu dulu kantormu??"

Krishan berkedip beberapa kali. Ternyata Kana bukan menanyakan perihal dirinya sebagai Yohan.

"Itu.."

"Apa benar kalau Shanprise itu kantor yang kau bilang bangkrut?"

"I-iya, tapi.."

"Apa tuan David itu yang merebutnya darimu??" Tanya Kana lagi.

"Jia, kau tahu ini dari siapa?"

"Mantanmu!" Ungkap Kana dengan kesal.

"Ah, begitu rupanya." Krishan mengerti kenapa istrinya itu mendadak kesal, ternyata Sherly yang mengatakan hal-hal itu padanya.

"Aku kesal! Masa dia yang lebih tahu banyak dariku! Padahal yang jadi istrimu kan, aku. Bukan dia! Tapi aku malah tidak tahu apa-apa!" Pekik Kana geram.

"Iya, maafkan aku, ya. Aku akan ceritakan banyak hal padamu." Krishan mencoba menenangkan istrinya, dia mengelus lembut pundak Kana namun wanita itu menepisnya.

"Cerita apanya! Setiap aku bertanya, kau selalu malas menjawabnya."

"Aku janji, aku akan ceritakan padamu apapun itu, supaya istriku yang lebih tahu banyak tentang aku dari pada orang lain." Tutur Krishan dengan lembut. Dia paham betul kekesalan istrinya.

"Satu lagi, Krish."

"Apa itu?"

Kana membuka kemeja yang belum dikancingkan. Dia menunjuk dada Krishan.

"Apa maksud tato ini?"

"Aah.." Krishan melemaskan otot lehernya kiri dan kanan. Dia paham arah pertanyaan Kana karena Sherly pasti memberitahunya.

"Kenapa? Apa ada sesuatu yang lagi-lagi kau sembunyikan padaku?"

Krishan menarik napas perlahan, dia sadar ini akan menjadi buah simalakama baginya. Jika dijawab jujur akan berbahaya bagi kelangsungan hidupnya. Berbohong apalagi, karena Kana sebenarnya sudah tahu jawabannya. Kalau tidak menjawab lebih bahaya lagi.

Hah, perempuan, kenapa suka sekali mencari ribut.

"Kenapa diam??"

"Baiklah. Itu hanya ukiran biasa yang aku pilih di studio tato. Tidak ada makna lain, hanya karena aku suka saja."

"Lalu?" Pertanyaan Kana seolah tahu, cerita itu belum lengkap.

"Apanya, sayang?"

"Ini, maksudnya apa? Yang seperti huruf S di kelopak bunganya?" Telunjuk Kana menekan-nekan dada Krishan.

"Itu..."

"Itu??"

"Itu huruf S. Yang artinya Sayang." Krishan masih mencari alasan.

"Sayang Sherly, maksudmu?"

Helaan napas terdengar dari mulut Krishan. Dia tahu betul bahwa ia tidak bisa mengelak apalagi mencari alasan supaya Kana teralihkan. Rasanya tidak mungkin. Coba saja nama Istrinya itu dari S juga, rasanya hidupnya akan lebih mudah.

"Jia, itu hanya.."

"Iya, aku tahu." Kana bangkit dari tempatnya. "Aku tahu kau dan dia sudah hampir menikah, jadi wajar kalau kau menulis namanya di tubuhmu." Ucapnya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia memilih membersihkan tubuhnya dari pada melanjutkan perdebatan yang Kana sendiri tahu, itu hanya masa lalu.

Sedangkan Krishan malah terlihat bingung. Kenapa istrinya itu malah tidak marah, sepertinya hal itu lebih menakutkan. Padahal dia sudah mulai bersiap apabila Kana meledak.

"Haah, Krishan bodoh. Aku juga cinta mati pada Noah dulu. Tapi aku tidak pernah mau ditato pakai inisial namanya!" Pekik Kana dari kamar mandi dan Krishan bisa mendengar itu dengan sangat jelas.

1
Anna Nurhasanah
direpeti means dicerewetin...
Herni Marianty
Luar biasa
Herni Marianty
Lumayan
Paytren Nury Cahyono
Aku rela nonton iklan sampai habis thor
Paytren Nury Cahyono
😍😍😍
Rahmi Mamimima
keren bgt critanya
Rahmi Mamimima
ganasss juga si kana
Rahmi Mamimima
🤣lgsg di ulti
Rahmi Mamimima
kereenn
Rahmi Mamimima
ksian kana
Rahmi Mamimima
🤣🤣 suamimu trllu galak
Rahmi Mamimima
🤣
nah loohh .. bini' mu sdh angkat bicara
Rahmi Mamimima
🤣
Rahmi Mamimima
eh 🤣🤣
Rahmi Mamimima
si kana juga aneh . jelas2 ada supir d depan mata bisa2nya malah milik taksi
Rahmi Mamimima
di repeti itu apa sih?aq g tau
Rahmi Mamimima
Luar biasa
Rahmi Mamimima
yg d gibahin suaminya sendiri 🤣
Rahmi Mamimima
🤣🤣 ide bagus
Wulan Sari
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!