Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.
Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.
Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.
Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.
Bertahan… atau melepaskan?
Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Langit Berbintang
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil Bintang berhenti di sebelah satu-satunya mobil di tempat itu. Tanpa ragu, ia keluar dan melangkahkan kaki ke arah pemuda yang tengah berdiri memunggunginya. Kemudian, mengambil posisi di sebelah manusia yang masih bergeming meski kesendiriannya kini telah berakhir. Bintang pun ikut menikmati pemandangan di depannya—perairan nan gelap dilengkapi kelap-kelip lampu bangunan di pulau seberang.
“Kakak, kenapa lo suruh gue datang kesini?” tanya Bintang tanpa menoleh pada siapa yang diberi pertanyaan.
Pemuda itu berseringai.
“Apa lo nggak mau tanya kabar gue dulu?” tanya balik ‘dia’ yang sempat tertawa heran.
Bintang membuang napas jengah. Ia menoleh dan menatap lamat manusia di sampingnya dengan mata berbinar. “Kak Damar, gimana kabarmu? Bintang harap, Kakak selalu sehat tanpa kekurangan,” sarkasnya bernada imut.
Damar—pemuda itu—terkekeh. “Apa ini sikap lain dari Bintang Mahendra yang selalu terlihat dingin di basecamp?” cibirnya.
Binar itu terhapus, tergantikan dengan tatapan datar pun dingin yang selama ini Damar tahu.
“Sebenarnya ada apa, Kak? Gue mau cepat pulang. Besok masih ada sekolah. Jadi, cepat katakan saja!”
Air muka Bintang sungguh mendukung satu kalimatnya; mau cepat pulang. Setelan jersey basket yang masih melekat di badan menjadi saksi bisu betapa lelah raganya sekarang.
Damar berbalik. Menjauhi Bintang dan duduk di atas penutup ruang mesin mobilnya.
“Kudengar, lo sekarang sudah punya pacar,” katanya pada Bintang yang masih mematung di tempat.
Bintang membuang pandangan ke arah dermaga yang tidak jauh dari posisi mereka. Dermaga yang memperlihatkan sebuah kapal ferry tengah bersandar.
“Siapa nama pacar lo itu? Lu … lun … siapa? Ah~ Kenapa gue bisa lupa gini, sih?” eluhnya di tengah mengingat nama Aluna.
Rahang Bintang mengeras. Ia berbalik dan netranya memandang lurus perawakan manusia itu.
“Memang, kenapa lo mau tahu?” tanyanya setengah hasrat dalam pembahasan ini.
Damar tersenyum kecil. “Hanya ingin tahu.”
“Siapa pun namanya, itu bukan urusan lo.”
Bintang kembali memunggungi Damar.
Deburan ombak yang menabrak bebatuan di dekat pagar pembatas mengisi kebisuan mereka.
Otak Bintang berpikir keras—menerka—siapa gerangan yang dengan kurang ajarnya membawa nama Aluna ke pemuda di belakang sana. Tak bisakah orang itu membiarkan gadis itu sendiri?
“Lo tahu, ‘kan, kalau Dara suka lo? Tapi, kenapa lo macarin cewek lain?” tanya Damar setelah memegang pundak Bintang.
Anak tunggal Atmadja menghadap Damar.
“Kak Damar, lo benar-benar naruh harapan ke gue?” Bintang menjeda. “Gue yang lo sendiri tahu kalau gue nggak sebaik itu?” tanyanya memperjelas.
“Kalau nggak karena Dara suka banget sama lo, apa lo pikir gue akan tanya ini ke lo?”
Hembusan napas berat keluar kasar dari birai Bintang. Ia kembali melemparkan pandangan ke titik yang jauh di sana.
“Gue sudah jelasin ke Dara, Kak. Gue nggak punya perasaan apapun ke dia,” jelas Bintang.
“Apa lo nggak mau kasih di kesempatan?”
“Kak Damar …,” sambar Bintang, menoleh cepat. Keningnya berkerut dan tatapannya penuh akan tekanan.
“Gue nggak mau terus-terusan dikatai sebagai manusia dengan beast’s attitude. Gue sudah beri penjelasan yang panjang ke Dara. Gue hanya anggap Dara sebagai teman, nggak lebih! Apa Dara nggak paham dengan itu?!” Dalam satu tarikan napas, Bintang membiarkan rasa kesalnya meledak.
Lagi, ia mengalihkan pandangan pada perairan yang nampak tenang. Dada Bintang naik turun dengan antusias. Rahang tegas itu mengatup kuat. Tangannya mencengkeram erat pada pagar besi untuk melampiaskan amarah yang tersisa.
Seakan tidak mengenal kata menyerah, Damar kembali meraih Bintang. Dengan lembut, sebuah kalimat penenang berisi harapan ia tuturkan, “Dara paham kebenarannya dan itu kenapa dia selalu berusaha ada buat lo.”
“Tapi, gue nggak suka Dara, Kak Damar!” sambar Bintang dan berhasil mematahkan kubu pertahanan seorang Damar Aditra.
Wajah tampan yang setia menunjukkan kehangatan pergi seketika. Berganti dengan tatapan dingin tak berjiwa.
“Kalau lo nggak ada perasaan apapun, kenapa lo bersikap seakan-akan memberi dia harapan?” tanya Damar lirih lebih mendekati sebuah bisikan.
Bintang tak gentar meski tatapan menusuk itu tertuju lurus pada retinanya. Ia tahu dan benaknya percaya bahwa momen ini adalah waktu yang tepat untuk membuat gadis bernama Dara itu keluar dari hidupnya.
Teman berarti teman.
Dan semua ‘selalu berusaha ada buat lo’ tidak berarti lebih dari satu kata lima huruf itu!
Toh, bukan Bintang yang mengemis pada gadis yang kini menambah masalahnya untuk melakukannya. Ia pun tidak pernah lupa memperingatkan orang itu tentang status juga perasaan mereka.
“Gue nggak mau bikin dia malu, Kak Damar. Andai lo adalah gue, gimana lo akan bertindak jika Dara beri lo sesuatu saat kalian ada di depan teman-teman? Apa Dara bisa tahan diri kalau lo terus terang nolak niat baiknya itu?”
Bintang berharap, sosok yang dikenalnya setahun lalu itu masih cukup mengerti maksud dari sikapnya. Tapi sayang, ia tidak mendapat respon yang diharapkan.
Dengan rahang mengeras dan mata memerah, Damar menimpali perkataan Bintang, “Lo nggak perlu sok peduli dengan perasaan Dara, Bintang Mahendra. Biarin aja dia malu daripada harapannya rusak kayak gini.”
“Ck!” decak Bintang. “Jadi, Kak Damar pikir hanya gue yang salah disini?” tanyanya seraya mengubah posisi untuk menghadap perawakan Damar Aditra.
Intens, iris coklat gelap itu memandang Damar.
“Salahin juga adik lo, Kak! Ratusan kali gue kasih dia peringatan biar nggak bersikap kayak pacar gue dan sebanyak itu juga Dara tutup telinga.”
“Adik lo itu keras kepala, Kak Damar! Bukan gue yang berniat MEMPERMAINKANNYA!”
Plakkk!
Satu tamparan Damar layangkan begitu saja.
Bintang yang awalnya tercengang, perlahan mengarahkan lagi kepalanya untuk menghadap sosok di depannya. Perlahan …, seringaian lahir di bibirnya. Tanpa kata yang perlu disuarakan, Bintang seolah berkata, “Lo pikir gue takut?”
“Kak Damar …,” panggil Bintang rendah—sengaja menggantungkan kalimat dan berhasil membuat pemilik nama makin mengerutkan dahi. “... apa lo juga mau menghabisi gue karena masalah sepele ini?”
Damar diam, tetapi tangannya mengepal kuat.
“Sudah gue bilang, Kak …, gue nggak ada niatan buat mempermainkan Dara. Begitu juga gadis-gadis yang lain. Mereka sendiri yang bersikap nggak tahu diri karena terus menganggap diri mereka istimewa dimata gue,” terang Bintang dengan sinis.
“Ngikutin gue kemana pun gue pergi. Gandeng tangan gue sesuka hati. Ajak gue nonton tanpa mau mengerti.”
Sorot mata Bintang berubah sendu.
Ia pun melirihkan suaranya—sedih, “Mereka itu, Kak, yang salah. Mereka sudah salah mengartikan rasa peduli gue ke mereka.”
Tiga detik setelah kalimat panjang tadi, gelak kecil Bintang bergema. Dia merasa miris tatkala menyadari kebodohan yang entah milik siapa. Dirinya, kah? Atau mereka—gadis-gadis yang selalu saja mengusik dirinya?
Dari dalam hati yang terdalam, Bintang sudah benar-benar muak. Ia mau segera terbebas dari sikap manja yang menuntut timbal balik atas perasaan yang tercipta dari imajinasi mereka sendiri. Ia ingin mereka enyah dari hidupnya.
Selamanya!
“Peduli?” Ia bersuara lagi. “Ah~ nggak! Gue sudah salah, Kak. Maksud gue tadi itu rasa kasihan ke mereka. Sikap gue itu hanya dilandasi oleh rasa kasihan, Kak, bukan peduli!”
Damar yang tidak bisa menahan diri akhirnya menggapai dan mencengkeram baju Bintang bagian atas. Mata merahnya melotot; gambaran dari diri yang benar-benar berada pada titik didih kemarahan.
“Lo sadar atas apa yang lo bilang itu, hei, bocah?” tanya Damar selagi menahan diri.
“Pukul aja, Kak, kalau lo memang ingin melakukannya. Gue emang dengan sadar bilang itu semua. Pukul aja sampai lo puas dan setelah itu larang adik lo buat ngedeketin gue lagi,” tantang Bintang masih di atas ego, tetapi nadanya terbilang kosong.
Mata yang telah kehilangan cahaya itu meredamkan niatan Damar. Perlahan, genggamannya merenggang dan terlepas.
“Kenapa lo tahan? Gue sudah ngizinin, maka lakuin aja,” ujar Bintang lelah.
“Lo … kenapa lo kayak gini?”
“Kenapa?” tanya balik Bintang. Senyum tipis terukir di birainya. “Penjelasannya sudah jelas di awal, Kak. Harus gue jelasin berapa kali lagi baru Kak Damar paham?”
Memandang satu titik dalam bola mata Bintang, Damar terpaku.
“Apa urusan Kakak sudah selesai? Kalau iya, gue mau pulang sekarang.”
Melihat tidak ada respon dari Damar, Bintang akhirnya memutuskan hengkang dari hadapannya. Namun, begitu langkah kedua akan diambil, pemuda yang lebih tua setahun itu menahan pergerakan Bintang.
Putera Atmadja mengamati tangan Damar yang mencengkram pergelangan tangan kirinya. Ia kemudian menatap kembali paras tegas persona di hadapan.
“Gue bakalan cegah Dara biar nggak ngedeketin lo lagi. Jaga diri lo baik-baik setelah ini,” Berhenti guna menelan ludah, ia juga melepaskan tangan Bintang. “Sesuai dengan keinginan lo, gue bakal kasih lo pelajaran sekarang.”
“Baik,” jawab Bintang tanpa terbebani akan bagaimana pelajaran itu ia dapatkan nanti.
Damar menoleh pada mobilnya, diikuti Bintang yang penasaran kenapa pemuda ini melakukannya. Dan ternyata dua pemuda dengan masker dan hoodie yang membungkus sempurna tubuh mereka keluar dari dalam sana. Bintang menoleh tak percaya pada Damar yang kini sudah menyorotinya dengan tatapan datar.
“Jadi, Kak Damar memang sudah ngerencanain ini semua?”
Yang ditanya belum bersuara, tetapi dua pemuda tadi sudah meraih setiap sisi lengan Bintang. Mengapitnya di antara mereka dan tidak membiarkan kuncian tersebut terlepas meski Bintang memberontak.
Disebabkan daya baterai tubuhnya sudah terkikis sejak sebelum pertemuan ini, Bintang akhirnya memilih pasrah.
“Kak Damar?”
Suara Bintang membuat Damar yang sedang melakukan pemanasan pada tangannya segera memandang wajah calon korban dari aksinya.
“Pukul aja dimana pun, tapi jangan di wajah,” kata Bintang mencoba bernegosiasi.
Ketiga pemuda itu melempar pandangan pada satu sama lain. Jujur saja, mereka ingin tertawa mendengar permintaan konyol manusia ini.
“Lo masih bisa, ya, mikirin wajah lo disaat yang seperti ini? Kenapa? Lo takut, ya, kalau gadis-gadis itu bakalan ngejauhin lo?” sarkas Damar.
Namun, Bintang menggeleng. “Gue yakin kalau Kakak pasti nggak bakalan mau kalau orangtua kita turun tangan karena ini.”
Begitu paham, Damar mencebikkan bibir seraya mengangguk.
“Ok!” ucap Damar. “Dan sekarang, gue nggak mau buang waktu lagi,” lanjutnya selagi memperpendek jarak.
“Apa perlu kayak gini?” monolog batin Bintang begitu pegangan dua pemuda di sampingnya semakin erat.
“Ini buat rasa kecewa Dara.”
Bugh!
Tubuh Bintang refleks membungkuk begitu tinjuan itu mendarat di perutnya dan berhasil mengambil napasnya sesaat.
“Ini untuk kelalaian lo karena nggak nemuin dia akhir pekan lalu,” jelas Damar ketika akan melayangkan tinjuan lainnya setelah dua orang tadi memaksa Bintang untuk berdiri tegak kembali.
“Ugh ….” Suara pemuda Atmadja kembali tertahan di tenggorokan.
“Ini untuk ucapan lo yang ngatain Dara bersikap nggak tahu diri.”
Bugh!
“Dan yang terakhir …, untuk ketidak-bijaksanaan lo dalam menyikapi perlakuan gadis-gadis itu.”
“Akh!”
Setelah pukulan berkekuatan penuh itu diakhiri, tubuh Bintang dihempaskan begitu saja pada lantai paving. Ia meringkuk selagi memegangi perut kosongnya yang nyeri setengah mati.
“Gue harap lo segera dapat balasan atas semua kecerobohan lo itu, Bintang Mahendra!” tukas Damar bersama tatapan sengitnya.
Dengan posisi Bintang yang menyamping, kelopak yang tidak bisa dibuka sempurna karena menahan sakit di sekujur tubuh dapat menyaksikan tiga pasang kaki dengan sepatu boots hitam itu melangkah pergi.
Suara pintu yang tertutup dan mesin mobil yang dinyalakan mencapai pendengaran.
Sinar lampu yang dihasilkan Headlight High Beam langsung menyoroti perawakan tak berdaya Bintang. Membuatnya merapatkan kelopak dan menggunakan tangan kanan guna menghalangi silaunya.
Tidak berselang lama, deru mobil pun menjauh.
“Issshhh!”
Bintang meringis kuat ketika mengubah posisi menjadi telentang.
Lamat, ia memandangi langit malam bertabur bintang. Rasa nyeri yang datang beberapa kali datang tidak membuatnya segera beranjak dan meminta bantuan.
Ia memilih untuk menutup kelopak mata dan menjadikan alunan dari debur ombak sebagai penenang jiwa dan penghibur diri.
“Itu, sih, salah Kakak sendiri! Kalau Kak Bintang bisa lebih tegas lagi pada gadis-gadis itu, maka masalah ini nggak bakalan terjadi.”
Omelan Biru di masa lalu mencuri senyum tipis Bintang. Ia kembali membuka mata dan memandang satu bintang dengan sinar paling terang.
Tarikan kurva yang tadi masih setia perlahan melonggar. Ia tertegun manakala bayangan Aluna mencuat dalam lamunan.
“B-Bintang, t-tolong tutup matamu.”
Suara lembut yang melantunkan permintaan waktu itu terngiang. Bahkan wajah yang sama sekali tidak mencoba mencuri pandang padanya kala berucap kembali menampakkan diri.
Malam ini dan malam itu, Bintang berakhir babak belur. Namun …, keduanya jelas berbeda.
Kembali menenggelamkan mata coklat gelap itu dalam pelupuk, ia berbisik pada malam yang menyaksikannya dengan rasa iba …
“I see … now!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...