Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Lampu di aula lelang itu meredup perlahan, menyisakan sorot terang hanya pada panggung utama. Suasana yang sebelumnya ramai kini berubah menjadi lebih hening—tegang, penuh antisipasi. Semua orang tahu… barang terakhir selalu yang paling istimewa.
Aku duduk di samping Adrian, jemariku masih sedikit menggenggam ujung gaunnya sendiri tanpa sadar. Entah kenapa, sejak kalung prasejarah tadi dilelang dan Celine dengan mudahnya meminta Nathaniel menaikkan harga tanpa ragu, ada perasaan tidak nyaman yang terus mengganjal di dadaku.
Dan benar saja—
“Para hadirin sekalian,” suara pelelang menggema, tenang namun penuh wibawa, “kita telah sampai pada item terakhir malam ini.”
Tirai hitam perlahan terbuka.
Dan saat itu terlihat—
Sebuah kalung.
Tapi… bukan kalung biasa.
Kalung itu tampak seperti dibuat dari berlian transparan dengan kilau yang tidak menyilaukan, melainkan… lembut. Di bagian tengahnya tergantung batu besar berwarna biru keunguan, seperti menyimpan cahaya di dalamnya.
Aku terdiam.
Terpesona.
Tanpa sadar, napasku sedikit tertahan.
“Itu…” gumamku pelan.
“Langka,” suara Adrian menyambung, rendah di sampingku. “Sangat langka.”
Aku menoleh padanya.
Tatapannya tidak tertuju ke orang lain. Tidak ke Celine. Tidak ke Nathaniel.
Hanya ke kalung itu.
“Kalung ini,” lanjut pelelang, “berasal dari peradaban kuno yang diperkirakan berusia lebih dari seribu tahun. Ditemukan dalam kondisi hampir sempurna. Dikenal dengan nama—‘Aurelis Tear’.”
Aurelis Tear…
Entah kenapa, namanya saja sudah terasa… indah.
“Dibuka dengan harga… dua miliar rupiah.”
Seketika papan-papan angka mulai terangkat.
“Dua koma lima miliar!”
“Tiga miliar!”
“Tiga koma lima!”
Aku sedikit tersentak.
Cepat sekali.
Baru beberapa detik dan harganya sudah melonjak tinggi.
Aku melirik ke arah Celine.
Seperti yang kuduga—
Dia tersenyum tipis, lalu menoleh ke Nathaniel.
Nathaniel mengangguk kecil.
“Lima miliar.”
Suaranya terdengar santai.
Seolah angka itu… tidak berarti apa-apa.
Beberapa orang mulai ragu.
Tapi tidak semuanya.
“Enam miliar!”
“Tujuh!”
Aku semakin tegang.
Ini bukan sekadar lelang biasa. Ini… seperti ajang pamer kekuasaan.
Aku menelan ludah, lalu tanpa sadar berbisik, “Cantik sekali…”
Aku bahkan tidak sadar aku mengatakannya dengan suara yang cukup terdengar.
Adrian sedikit menoleh ke arahku.
Dan untuk sesaat—
Tatapan kami bertemu.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan, merasa sedikit malu.
“Kalau suka…” katanya pelan.
Aku langsung menggeleng cepat.
“Tidak! Itu terlalu mahal…”
Aku bahkan belum selesai bicara ketika—
“Sepuluh miliar.”
Suara Adrian terdengar.
Tenang.
Datar.
Tapi cukup untuk membuat seluruh ruangan… terdiam.
Aku membeku.
Menoleh cepat ke arahnya.
“Adrian?!”
Dia tidak menatapku.
Tatapannya tetap ke depan.
Pelelang terlihat sedikit terkejut, tapi langsung kembali profesional.
“Sepuluh miliar! Apakah ada yang lebih tinggi?!”
Ruangan hening beberapa detik.
Lalu—
“Dua belas miliar.”
Nathaniel.
Aku menggenggam tanganku sendiri.
Aku tahu ini akan terjadi.
Aku tahu mereka tidak akan diam.
Adrian tidak langsung merespons.
Dia hanya sedikit menggerakkan jari di sandaran kursi rodanya.
Seolah… berpikir.
Lalu—
“Lima belas miliar.”
Aku menahan napas.
Ini… sudah di luar nalar.
Aku menoleh ke arah Celine.
Wajahnya mulai berubah.
Tidak lagi santai seperti sebelumnya.
Ada sedikit ketegangan di sana.
Nathaniel menyipitkan mata.
Jelas tidak suka.
“Delapan belas miliar.”
Suasana semakin panas.
Orang-orang mulai berbisik.
Ini bukan lagi soal kalung.
Ini tentang… harga diri.
Tentang siapa yang lebih tinggi.
Aku merasa tidak nyaman.
Sangat tidak nyaman.
Tanpa sadar, aku meraih tangan Adrian.
“Sudah… jangan,” bisikku pelan.
Dia sedikit terdiam.
Menoleh ke arahku.
Tatapannya… berbeda.
Lebih lembut.
“Aku tidak membutuhkannya,” lanjutku, jujur.
“Kalung itu memang indah… tapi aku tidak ingin kamu bertarung hanya karena itu.”
Beberapa detik—
Hanya hening.
Aku pikir dia akan tetap lanjut.
Tapi—
Dia menghela napas pelan.
Lalu bersandar.
Tidak mengatakan apa-apa lagi.
Pelelang mulai menghitung.
“Delapan belas miliar… pertama…”
Aku menahan napas.
“Delapan belas miliar… kedua…”
Tidak ada suara dari Adrian.
“Dan—”
“Dua puluh miliar.”
Semua orang menoleh.
Bukan Adrian.
Bukan Nathaniel.
Tapi—
Seorang wanita di barisan depan.
Aku langsung mengenalinya.
Vanessa.
Dia duduk dengan anggun, kaki menyilang, senyum tipis di bibirnya.
Matanya… menatap lurus ke depan.
Bukan ke kalung.
Tapi—
Ke arahku.
Aku langsung merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungku.
Dia tidak hanya menaikkan harga.
Dia… sengaja melakukannya.
Pelelang terlihat semakin bersemangat.
“Dua puluh miliar! Apakah ada yang lebih tinggi?!”
Nathaniel terlihat kesal.
Celine membisikkan sesuatu padanya.
Tapi—
Nathaniel akhirnya menggeleng.
“Lewat.”
Satu kata.
Tegas.
Vanessa tersenyum tipis.
Seolah… dia sudah menang bahkan sebelum palu diketuk.
“Dua puluh miliar… pertama…”
Aku menatap Adrian.
Dia diam.
Tidak bergerak.
Tidak bereaksi.
Dan entah kenapa—
Aku tahu.
Dia sengaja berhenti.
Bukan karena tidak mampu.
Tapi karena… aku memintanya.
Dadaku terasa hangat.
“Dua puluh miliar… kedua…”
Vanessa masih tersenyum.
Tatapannya belum lepas dariku.
Seolah berkata—
Ini baru permulaan.
“Dan… terjual!”
Tok!
Palu diketuk.
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan.
Tapi bagiku—
Suasana justru terasa semakin berat.
Aku menarik napas pelan.
“Maaf…” bisikku pada Adrian.
Dia menoleh.
“Untuk apa?”
“Aku… menghentikanmu.”
Dia menatapku beberapa detik.
Lalu—
Senyum kecil muncul di bibirnya.
Tipis.
Tapi nyata.
“Justru itu… yang aku butuhkan.”
Aku terdiam.
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Sementara itu—
Di sisi lain ruangan—
Vanessa berdiri perlahan.
Kalung itu sudah menjadi miliknya.
Tapi yang dia dapatkan malam ini…
Bukan hanya itu.
Dia menoleh sekali lagi ke arahku.
Senyumnya masih sama.
Misterius.
Berbahaya.
Dan kali ini—
Aku benar-benar yakin.
Dia tidak hanya ingin menang di lelang.
Dia… ingin menjatuhkanku.
Dan malam ini—
Dia baru saja membuat langkah pertamanya.
Malam itu berakhir dengan suasana yang masih menyisakan ketegangan. Lampu-lampu aula lelang sudah meredup saat kami keluar, udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Aku masih memikirkan kalung itu… dan lebih dari itu—tatapan Vanessa yang seolah menantang.
Aku pikir semuanya selesai sampai di sana.
Tapi ternyata tidak.
Begitu mobil mulai melaju meninggalkan gedung lelang, Adrian tidak langsung menyuruh pulang.
“Ada tempat yang ingin aku datangi,” katanya tiba-tiba.
Aku menoleh. “Sekarang?”
“Iya.”
Nada suaranya santai. Terlalu santai untuk seseorang yang baru saja “kalah” dalam lelang bernilai puluhan miliar.
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Mobil terus melaju, meninggalkan pusat kota, masuk ke jalanan yang lebih sempit dan tidak terlalu ramai. Lampu-lampu toko kecil berjajar, beberapa sudah tutup, beberapa masih buka dengan pencahayaan kuning hangat yang terasa… berbeda.
Bukan mewah.
Tapi hidup.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti.
Aku sedikit terkejut saat melihat ke luar jendela.
“Ini… pasar barang antik?”
Adrian hanya mengangguk.
Aku turun perlahan, mataku langsung menyapu sekitar. Tidak seperti aula lelang yang penuh dengan jas mahal dan gaun elegan, tempat ini… sederhana. Bahkan cenderung berantakan.
Tapi justru itu yang membuatnya terasa unik.
Lorong-lorong sempit dipenuhi kios kecil. Di setiap sudut ada benda-benda aneh—jam tua, lukisan kusam, patung kayu, kotak musik, bahkan perhiasan yang tampak kuno.
“Ayo,” kata Adrian.
Aku berjalan di sampingnya, mendorong kursi rodanya pelan.
Suasana di sini jauh lebih santai. Tidak ada tatapan menghakimi. Tidak ada persaingan diam-diam seperti di lelang tadi.
Hanya… orang-orang yang mencintai benda-benda lama.
“Kamu sering ke sini?” tanyaku.
“Dulu.”
Aku sedikit terdiam.
Dulu…
Sebelum semua berubah.
Kami berhenti di salah satu kios.
Seorang pria tua duduk di belakang meja kayu, sedang membersihkan sebuah cincin dengan kain kecil.
“Sudah lama tidak melihatmu,” katanya tanpa melihat.
Adrian tersenyum tipis. “Masih ingat saya?”
Pria itu akhirnya menoleh.
Matanya langsung sedikit melebar.
“Ah… tentu saja.” Senyumnya muncul. “Anak muda yang dulu selalu mencari barang aneh.”
Aku sedikit terkejut.
Adrian… seperti punya sisi lain yang belum pernah kulihat.
“Sekarang membawa istri?” tanya pria itu, melirik ke arahku.
Aku langsung canggung.
Adrian tidak menjawab, tapi tidak menyangkal.
Dan entah kenapa… itu membuat pipiku sedikit hangat.
“Lihat-lihat saja,” kata pria itu santai.
Aku mulai memperhatikan barang-barang di meja.
Tanganku berhenti pada sebuah kotak kecil.
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya—
Sebuah gelang sederhana.
Tidak berkilau seperti berlian.
Tidak besar.
Tapi… indah.
Gelang itu terbuat dari perak tua, dengan ukiran halus seperti pola bunga yang saling menyambung. Di bagian tengahnya ada batu kecil berwarna hijau pucat.
Tidak mencolok.
Tapi… menenangkan.
“Cantik…” gumamku pelan.
Aku bahkan tidak sadar aku tersenyum.
Adrian memperhatikanku.
Lama.
Tanpa berkata apa-apa.
“Berapa ini?” tanyanya pada penjual.
“Yang itu?” pria tua itu melirik. “Tidak mahal. Lima juta.”
Aku langsung tersentak.
“Tidak, tidak usah—”
“Bungkus.”
Aku terdiam.
“Adrian…”
Dia menoleh sedikit ke arahku.
“Yang tadi kamu bilang… kamu tidak butuh yang mahal,” katanya pelan. “Tapi kamu tidak pernah bilang… kamu tidak ingin sesuatu yang kamu suka.”
Aku tidak bisa menjawab.
Kata-katanya… sederhana.
Tapi langsung mengenai.
Pria tua itu tersenyum kecil sambil membungkus gelang itu.
“Pilihan yang bagus,” katanya. “Barang lama… tapi tahan lama. Seperti perasaan yang tumbuh pelan.”
Aku tidak tahu kenapa kalimat itu membuatku semakin tidak bisa berkata apa-apa.
Beberapa menit kemudian, kami keluar dari kios itu.
Aku masih memegang kotak kecil di tanganku.
“Apa kamu tidak kecewa?” tanyaku tiba-tiba.
Adrian menoleh.
“Karena kalung tadi?”
Dia menggeleng.
“Tidak.”
“Tapi itu sangat berharga…”
Dia sedikit tersenyum.
“Nilai sebuah benda… bukan dari harganya.”
Aku menatapnya.
“Lalu dari apa?”
Dia tidak langsung menjawab.
Tatapannya turun ke kotak di tanganku.
“Dari siapa yang memakainya.”
Deg.
Jantungku terasa berdetak lebih cepat.
Aku langsung mengalihkan pandangan.
Suasana tiba-tiba terasa… berbeda.
Lebih hangat.
Lebih dekat.
Kami berjalan lagi menyusuri pasar.
Tanpa sadar, langkahku melambat.
Aku menikmati suasana ini.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada Vanessa.
Tidak ada Celine.
Hanya… aku dan Adrian.
“Boleh aku pasangkan?” suara Adrian tiba-tiba terdengar.
Aku menoleh.
Dia menunjuk gelang di tanganku.
Aku ragu sejenak.
Lalu… mengangguk pelan.
Aku mendekat.
Dia mengambil gelang itu.
Tangannya menyentuh pergelangan tanganku—hangat.
Gerakannya pelan.
Hati-hati.
Seolah… benda itu sangat berharga.
Padahal tidak semahal kalung tadi.
Tapi entah kenapa—
Rasanya jauh lebih berarti.
“Pas,” katanya.
Aku melihat gelang itu.
Sederhana.
Tapi… terasa seperti sesuatu yang tidak bisa digantikan.
Aku tersenyum kecil.
“Terima kasih…”
Adrian tidak menjawab.
Tapi tatapannya—
Lebih dalam dari sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya—
Aku merasa…
Aku tidak kalah dari siapapun malam ini.
Bahkan Vanessa sekalipun.
Karena apa yang aku dapatkan…
Bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan angka besar.
Tapi sesuatu yang… tumbuh pelan.
Dan nyata.