Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Air Mata di Balik Kaca Jendela
Suasana di sudut meja Cafe Nuansa itu mendadak terasa canggung, setidaknya bagi Rahmi. Keriuhan suara pelanggan lain, dentingan sendok yang beradu dengan gelas kaca, dan alunan musik indie dari speaker seolah menguap begitu saja, tergantikan oleh dengung panjang di telinganya. Pertanyaan Alan tentang nomor telepon Bunga masih terngiang-ngiang, berputar seperti kaset rusak yang tak henti-hentinya menyayat kesadaran Rahmi.
Alan yang melihat keheningan mendadak dari teman-temannya hanya mengedikkan bahu pelan, mencoba menepis rasa canggungnya sendiri. Ia melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya. Waktu shift kerjanya akan segera dimulai. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri dari kursi kayunya.
"Yaudah," ucap Alan memecah kesunyian, suaranya kembali datar dan tenang seperti sedia kala. "Gue mau ke loker dulu, ganti kostum. Bisa diamuk Bang Hendri kalau gue telat in-frame di depan mesin kopi." Alan tertawa tipis, sebuah tawa formalitas yang sama sekali tidak mencapai sorot matanya yang masih menyisakan bayang-bayang masa lalu.
Pandangan Alan kemudian beralih ke arah Rahmi yang duduk mematung di depannya. Gadis itu menatap kosong ke arah gelas Vanilla Latte-nya yang es batunya mulai mencair, wajahnya sedikit pucat.
"Mi!" panggil Alan sedikit keras sambil menepuk pelan meja di depan Rahmi. "Lu bengong aja dari tadi. Kesambet penunggu mesin espresso ntar lu. Kenapa? Makanan lu kurang enak?"
Rahmi tersentak kaget. Bahunya terlonjak kecil saat lamunannya hancur berkeping-keping ditarik paksa ke dunia nyata. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangannya pada wajah tegas Alan. Jantungnya berdebar menyakitkan, namun ia memaksakan sebuah senyum canggung untuk terukir di bibirnya yang sedikit gemetar.
"Eh.. iya, Lan," jawab Rahmi tergagap, suaranya terdengar sedikit parau. Ia buru-buru membenarkan letak duduknya dan meraih gelas minumannya sekadar untuk menutupi kegugupan. "Enggak... gak apa-apa kok. Gue cuma lagi mikirin tugas Pak Budi tadi, takut ada yang salah catat."
Alan hanya mengangguk pelan, tak sepenuhnya percaya namun terlalu sibuk dengan isi kepalanya sendiri untuk menginterogasi lebih jauh. "Oh, yaudah. Jangan dipikirin terus, ntar botak lu. Gue ke belakang dulu ya," pamitnya.
Alan membalikkan badan dan melangkah pergi menuju ruangan khusus staf karyawan yang berada di lorong belakang kafe. Punggung tegap berbalut jaket denim itu perlahan menjauh, menyisakan kekosongan yang begitu pekat di dada Rahmi. Rahmi menatap punggung itu hingga benar-benar menghilang di balik pintu bercat cokelat tua. Saat pintu itu tertutup, runtuh sudah sisa-sisa pertahanan Rahmi.
Gadis itu tidak bisa lagi berada di sana. Berada di kafe ini, mencium aroma kopi yang sama dengan tempat Alan bekerja, hanya akan membuatnya semakin sesak napas. Ia merasa dadanya seperti dihimpit bongkahan batu besar. Pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama tiga semester ini hancur seketika hanya dengan satu kalimat tanya. Telinganya seolah menjadi tuli seketika setelah kalimat tanya itu meluncur dari bibir Alan, membuat Rahmi sama sekali tidak mendengar kelanjutan percakapan Alan dengan Bang Hendri yang sempat menyebutkan bahwa Alan dan Bunga berasal dari SMA yang sama. Di kepala Rahmi saat ini, Alan baru saja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seorang primadona asing.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Rahmi merogoh saku tas selempangnya dengan terburu-buru, mengeluarkan ponsel pintar miliknya. Ia membuka kontak dan segera menekan tombol panggil pada nomor sopir pribadinya.
Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum panggilan itu dijawab.
"Halo, Non Rahmi? Ada yang bisa dibantu?" terdengar suara paruh baya yang hangat dari seberang sana.
"Pak," suara Rahmi bergetar, ia setengah berbisik sambil menundukkan wajahnya agar tidak mengundang kecurigaan Randi dan Ardi. "Pak Hasan jemput aku di Cafe Bang Hendri ya sekarang. Cepetan ya, Pak."
Rahmi langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa menunggu jawaban panjang dari sang sopir. Ia buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu meraih resleting tasnya dan menutupnya dengan kasar. Gerakan grasak-grusuk itu tentu saja langsung menarik perhatian dua sahabat karibnya yang duduk di seberangnya.
Randi yang baru saja menelan sepotong sosis goreng utuh menautkan alisnya, menatap Rahmi dengan kebingungan. Di sebelahnya, Ardi juga menunda suapan kentang gorengnya. Keduanya saling bertatapan sesaat sebelum kembali menatap gadis itu.
"Lu mau ngapain, Mi? Kok beres-beres tas?" tanya Ardi bingung.
"Lu mau pulang, Mi?" sambung Randi tak kalah heran. Matanya melotot. "Terus mobil lu yang diparkir di kampus gimana ceritanya? Kan lu tadi bareng Alan ke sininya."
Rahmi memaksakan seulas senyum, meski senyum itu sama sekali tidak menyentuh matanya yang mulai memerah menahan tangis. Ia mengalungkan tas selempangnya. "Iya, Ndi, Di. Gue duluan ya. Gue tiba-tiba lagi gak enak badan nih, kepala gue pusing banget, kayaknya mau flu deh. Kalau mobil sih udah aman, kan tadi udah dititipin sama satpam penjaga gerbang kampus. Besok pagi juga tinggal gue ambil."
Randi menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis, ekspresinya berubah menjadi raut takjub campur iri khas mahasiswa kere. "Gila ya... emang beda kasta kita mah. Kalau anak pengusaha apa-apa serba gampang! Mobil ditinggal di kampus kayak ninggalin sepeda kumbang aja. Kagak ada takut-takutnya tuh mobil mahal lecet atau ilang."
"Bukannya gampang, Ndi, tapi kan ada asuransi," balas Rahmi asal, mencoba menutupi kegugupannya dengan candaan kering. "Lagian gue beneran udah gak kuat nih, pengen rebahan."
"Yaudah, mending lu balik aja gih minum obat. Pucet bener tuh muka lu dari tadi pas si Alan nanya-nanya hal random," timpal Ardi, tanpa menyadari bahwa kalimatnya baru saja menaburkan garam di atas luka Rahmi yang masih menganga.
Tak butuh waktu lama, kebetulan yang sangat berpihak pada Rahmi terjadi. Pak Hasan ternyata tidak berada jauh dari area Dago. Pria paruh baya itu baru saja selesai mengantarkan ibu Rahmi berbelanja di sebuah mall besar yang jaraknya hanya sepuluh menit dari Cafe Nuansa. Sebuah mobil SUV hitam mewah keluaran Eropa meluncur mulus memasuki area parkir kafe, lampu seinnya menyala berkedip-kedip memberi tanda.
Rahmi melihat mobil itu dari balik jendela kaca kafe. Ia menghela napas lega, seakan baru saja menemukan sekoci penyelamat di tengah kapal yang karam.
"Tuh, jemputan gue udah di depan," ucap Rahmi sambil berdiri dari kursinya. "Gue duluan ya gaes! Habisin aja makanannya, udah gue bayar kok semuanya di depan tadi."
"Wah, siap Ibu Negara! Makasih banyak traktirannya!" seru Randi kegirangan, matanya sudah kembali fokus pada tumpukan piring makanan ringan.
"Iya, Mi," tambah Ardi seraya melambaikan tangannya. "Hati-hati di jalan ya! Jangan lupa minum obat biar besok bisa ngerjain tugas akuntansi gue!"
"Sialan lu," umpat Rahmi pelan sambil tersenyum tipis, lalu membalikkan badan dan berjalan setengah berlari meninggalkan meja tersebut. Ia melewati meja kasir, sengaja tidak menoleh ke arah mesin espresso tempat Alan mungkin sudah bersiap memulai shift-nya. Ia tidak sanggup melihat wajah pemuda itu untuk saat ini.
Pintu kaca kafe tertutup di belakang Rahmi, mengisolasi keriuhan di dalam sana. Gadis itu membuka pintu penumpang belakang SUV hitam tersebut dan segera masuk. Begitu pintu mobil tertutup rapat, aroma pengharum ruangan beraroma green tea menyambutnya, kontras dengan bau tajam kopi kafe.
Di dalam kafe, Randi dan Ardi menatap kepergian mobil mewah itu hingga menghilang dari pandangan. Randi mengunyah makanannya perlahan, menelan ludah, lalu menoleh ke arah Ardi dengan kening berkerut dalam. Insting kepekaannya yang biasanya tumpul entah mengapa tiba-tiba berfungsi.
"Di," panggil Randi setengah berbisik sambil mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "Lu liat gak sih si Rahmi tadi? Kayak yang beda banget njir. Kayak yang lagi badmood parah. Pucetnya tuh bukan pucet orang sakit flu."
Ardi yang sedang asyik bermain gim di ponselnya menoleh sekilas, menyedot es teh manisnya dengan berisik. "Ah, perasaan lu doang kali. Mungkin lagi datang bintang kali dia."
Randi langsung memukul lengan Ardi dengan sendok plastik bekas mengaduk teh. "Datang bulan, kampret! Masa datang bintang, lu kata dia langit malam!"
Ardi meringis kesakitan sambil mengusap lengannya. "Ya elah, salah dikit doang. Maknanya kan sama, lagi PMS. Biasa cewek mah kalau lagi periode emosinya kayak wahana rollercoaster. Bentar ketawa, bentar nangis, bentar marah-marah gak jelas."
"Enggak, Di. Firasat gue beda," bantah Randi, kali ini sok menganalisa seperti detektif amatir. Ia menyilangkan tangannya di dada. "Atau... jangan-jangan dia habis ditolak cowok? Lu sadar gak sih akhir-akhir ini dia sering melamun kalau lagi kumpul?"
Mendengar teori konspirasi Randi, Ardi justru tertawa meremehkan. Ia meletakkan ponselnya di atas meja. "Heh, Pe-a! Otak lu ketinggalan di kosan apa gimana? Cewek secantik, se-imut, dan setajir Rahmi ditolak cowok? Yang ada cowok-cowok yang ditolak mentah-mentah sama si Rahmi! Lu amnesia?"
Randi terdiam, mencoba mencerna ucapan Ardi.
"Emang lu gak inget kejadian bulan lalu?" lanjut Ardi dengan menggebu-gebu. "Si Dian, anak Fakultas Hukum yang mukanya mirip aktor Korea, yang pakai mobil sport ke kampus itu? Dia nembak Rahmi di depan perpus bawa bunga mawar segede gaban. Lu inget gak reaksi si Rahmi?"
Mata Randi melebar seolah baru teringat memori penting. "Oh iya bener juga lu! Waktu itu si Rahmi nolak aja enggak pakai mikir, dia malah senyum manis terus bilang, 'Maaf ya, Dian, aku udah punya pacar, takut dia cemburu.' Gila, padahal kan kita tahu betul dia masih jomblo karatan kayak kita-kita! Nongkrongnya aja tiap hari bareng dua curut sama satu kulkas dua pintu."
"Nah, itu dia poin gue!" Ardi menjentikkan jarinya ke udara. "Cewek yang nolak cowok spek dewa kayak Dian dengan alasan bohong 'udah punya cowok', mana mungkin nangis gara-gara ditolak cowok lain? Siapa emang cowok di kampus ini yang speknya di atas Dian dan berani nolak Rahmi? Gak ada, Bos!"
Randi manggut-manggut setuju, merasa logika Ardi sangat masuk akal. Padahal, tanpa mereka sadari, cowok yang berani membuat Rahmi patah hati sedemikian rupa sedang berdiri di balik meja bar, memakai celemek hitam, dan sibuk meracik biji kopi dengan bayang-bayang Bunga di kepalanya.
"Iya juga ya," gumam Randi sambil menggaruk dagunya yang tidak gatal. "Mungkin emang lagi datang bulan aja kali ya. Soalnya mood cewek yang lagi dapet tuh emang suka rubah-rubah gak jelas. Serem dah urusan hormon."
"Iya juga sih. Udah ah, mending abisin nih makanan mumpung gratis," pungkas Ardi, mengakhiri analisis dangkal mereka dan kembali fokus pada layar ponsel cerdasnya.
Sementara itu, di dalam kabin mobil SUV yang melaju membelah padatnya jalanan Kota Bandung malam itu, suasana terasa begitu hening dan mencekam. Rintik gerimis mulai turun, mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan ritme tak beraturan. Lampu-lampu jalan raya, pendaran lampu merah kendaraan di depan, serta kerlap-kerlip neon papan reklame membias indah di atas kaca mobil yang basah.
Di kursi penumpang belakang, Rahmi duduk meringkuk. Ia memeluk tas selempangnya erat-erat di depan dada, seolah tas itu adalah satu-satunya pelindung dari kehancuran hatinya. Kepalanya bersandar lemas pada kaca jendela yang dingin. Pandangannya kosong, menembus rintik hujan, menatap buramnya lampu-lampu kota yang seakan mengejek kepedihannya malam ini.
Sesekali, bahu kecil gadis itu bergetar halus. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mati-matian menahan agar isak tangisnya tidak pecah memenuhi ruang kedap suara mobil tersebut. Namun, air mata pengkhianat itu tetap saja menetes dari sudut matanya, mengalir hangat melewati pipinya yang pucat, lalu jatuh membasahi kerah kemeja flanelnya.
Pak Hasan, sang sopir paruh baya yang sudah mengabdi pada keluarga Rahmi sejak gadis itu masih duduk di bangku sekolah dasar, melirik melalui kaca spion tengah. Pria yang rambutnya sudah memutih di bagian pelipis itu mengerutkan kening. Ia sangat mengenal nona mudanya ini. Rahmi selalu ceria, ramah, dan tidak pernah membeda-bedakan status sosial. Melihat Rahmi bersandar lemas dengan tatapan kosong dan jejak air mata di pipinya, hati Pak Hasan ikut tersayat.
Suasana kabin yang terlalu sepi dengan suara AC yang mendesir pelan membuat keheningan itu semakin menyesakkan. Pak Hasan berdeham pelan, mencoba memecah kebisuan.
"Non Rahmi... kayak yang lagi ada masalah ya?" tegur Pak Hasan dengan suara lembut, hati-hati, layaknya seorang ayah yang bertanya pada putri kandungnya sendiri. Tangannya memutar kemudi dengan pelan saat mobil berbelok di persimpangan jalan Braga.
Rahmi terkesiap ringan. Ia buru-buru menegakkan posisi duduknya, mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan secara kasar, berusaha menghapus jejak kelemahannya.
"Eh.. enggak.. enggak kok, Pak," jawab Rahmi dengan suara yang tergagap dan bergetar hebat. Ia memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat dipaksakan. "Ini cuma kelilipan aja tadi pas nungguin Bapak di luar, anginnya kenceng banget. Terus kepala Rahmi juga agak pusing, kayaknya kena angin malam."
Pak Hasan tersenyum maklum, meski matanya menyiratkan ketidakpercayaan. Ia tahu gadis itu sedang berbohong. Ia menatap jalanan di depannya yang mulai tersendat oleh kemacetan khas malam akhir pekan.
"Non Rahmi," panggil Pak Hasan lagi, kali ini nadanya lebih mengayomi. "Bapak ini kan udah momong Non dari Non masih seukuran jok mobil ini. Kalau ada masalah, cerita aja sama Pak Hasan. Jangan dipendam sendiri, nanti jadi penyakit di hati. Apalagi kalau masalah anak muda zaman sekarang... lagi putus cinta ya, Non?" goda Pak Hasan setengah tertawa, bermaksud mencairkan suasana agar majikan mudanya itu tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Namun, alih-alih tertawa, pertanyaan candaan Pak Hasan itu justru tepat menembus ulu hati Rahmi layaknya anak panah beracun. Kata 'putus cinta' entah mengapa terasa begitu menyakitkan karena mengingatkannya pada posisinya yang menyedihkan.
Tanpa sadar, benteng kendali Rahmi runtuh, dan kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir mungilnya dengan nada yang luar biasa getir.
"Patah hati gimana, Pak... orang jadian aja belum," lirih Rahmi, suaranya sangat pelan, nyaris seperti embusan angin.
Begitu kalimat itu keluar, Rahmi langsung terdiam. Matanya membelalak kaget. Ia segera menutup mulutnya dengan sebelah tangan, mengutuki kebodohannya sendiri karena membiarkan isi hatinya tumpah di depan Pak Hasan.
Di kursi kemudi, Pak Hasan juga ikut terdiam. Senyum candaan di wajah keriputnya perlahan memudar, digantikan oleh raut simpati yang mendalam. Ia mengerti sekarang. Luka yang dialami nona mudanya bukanlah luka karena ditinggalkan, melainkan luka paling perih yang bisa dirasakan oleh seorang wanita: mencintai dalam diam tanpa pernah diakui keberadaannya. Terjebak dalam labirin persahabatan sepihak yang tak berujung.
Pak Hasan menarik napas panjang, menatap pantulan Rahmi di spion yang kini menunduk dalam-dalam.
"Yaudah, Non," ucap Pak Hasan memecah keheningan yang canggung itu dengan bijaksana, tak berniat mengorek lebih dalam agar tak membuat Rahmi semakin malu. "Namanya juga perasaan, kadang jalannya emang gak gampang ditebak. Kalau ada apa-apa, kalau Non butuh tempat buat ngobrol atau sekadar dengerin keluh kesah, jangan sungkan cerita ke Pak Hasan ya, Non. Bapak siap dengerin kapan aja."
Mendengar pengertian dari pria paruh baya itu, hati Rahmi sedikit menghangat. Ia mengangkat kepalanya, memandang punggung Pak Hasan, lalu mengulas senyum manis khasnya—senyum yang meskipun masih diwarnai kepedihan, namun terasa tulus.
"Siap, Pak Hasan. Makasih banyak ya, Pak," balas Rahmi lembut.
Gadis itu terdiam sejenak, mengingat sesuatu yang penting. Mobilnya. Ah, ayahnya yang over-protektif pasti akan banyak bertanya jika melihat anak perempuannya pulang dijemput sopir sementara mobilnya tidak ada di garasi. Ia butuh sebuah kebohongan yang logis agar ayahnya tidak melacak keberadaan mobil itu ke kampus dan membuat kehebohan.
"Oh iya, Pak," panggil Rahmi lagi, nada suaranya sedikit lebih tenang sekarang. "Pak, kalau nanti Ayah nanya mobil aku di mana, bilang aja lagi di bengkel ya, Pak. Bilang aja tadi pas dipakai mesinnya agak aneh, jadi langsung aku masukin ke bengkel langganan dekat kampus. Ya, Pak?"
Pak Hasan mengangguk patuh tanpa banyak bertanya, memahami bahwa nona mudanya butuh ruang untuk menyelesaikan urusannya sendiri. "Siap, Non! Tenang aja, urusan sama Tuan Besar biar jadi tanggung jawab Bapak. Non Rahmi istirahat aja yang tenang di belakang."
"Makasih, Pak."
Rahmi kembali menyandarkan tubuh lelahnya ke punggung jok mobil. Ia kembali memutar kepalanya, menyandarkan keningnya ke kaca jendela yang terasa sedingin hatinya saat ini. Rintik hujan di luar semakin deras, mengaburkan pandangannya, seiring dengan air mata yang kembali luruh tanpa bisa dicegah.
Kepala Rahmi berdenyut hebat. Kenangan demi kenangan yang ia lalui bersama Alan selama satu setengah tahun terakhir berkelebat cepat layaknya potongan film dokumenter di benaknya.
Momen saat ospek di semester satu, saat Alan dengan wajah kakunya dan seragam hitam-putih yang kedodoran membantunya mencari topi jerami yang disembunyikan oleh senior nakal. Momen saat mereka pertama kali mengerjakan tugas kelompok Akuntansi Dasar bersama, berdebat soal neraca lajur hingga berjam-jam di perpustakaan. Momen-momen di mana Rahmi menatap punggung lebar itu dari belakang meja kelas. Momen saat ia menyuapkan obat penurun panas ketika Alan terkapar tak berdaya di rumah sakit semester lalu, menggenggam tangan pemuda itu sepanjang malam, berdoa kepada Tuhan agar memindahkan rasa sakit itu padanya. Momen di mana ia membohongi dunia dan menyembunyikan identitas aslinya sebagai anak kolongmerat hanya agar Alan tidak merasa insecure berteman dengannya.
Ia telah berada di sana. Di setiap titik jatuh bangunnya Alan. Di setiap hela napas kelelahan pemuda itu. Rahmi adalah fondasi yang menjaga Alan agar tidak rubuh oleh kejamnya tekanan hidup.
Namun, apa balasannya hari ini?
'Lan...' batin Rahmi menjerit pilu, matanya terpejam erat, membiarkan air mata membasahi pipinya. 'Apa kamu memang tidak peka? Apa hatimu benar-benar terbuat dari gunung es yang tak bisa kucairkan dengan kehangatan sebesar apapun? Ataukah selama ini, kamu sadar akan perasaanku, namun memilih untuk mengabaikannya karena di matamu, aku tidak pernah lebih dari sekadar sahabat? Sekadar tempat persinggahan yang aman, sekadar bayangan yang tak pernah kau anggap pantas untuk berdiri di sampingmu sebagai seorang wanita?'
Dada Rahmi naik turun, menahan isakan. Tangannya mencengkeram erat ujung sweternya tepat di bagian dada, mencoba meredam nyeri tak kasatmata yang mencabik-cabik jantungnya.
'Aku sudah mengenalmu sejak awal ospek, Lan,' isak hatinya berlanjut, sebuah protes diam yang tak akan pernah terdengar oleh sang empunya nama. 'Aku menemanimu dari semester pertama, melewati masa-masa paling sulitmu, hingga sekarang kita ada di semester tiga. Ratusan hari aku menghabiskan waktu bersamamu, mengenal setiap detail kecil kebiasaanmu, mengetahui betapa kerasnya kau berjuang untuk keluargamu. Aku mencintai setiap inci ketidaksempurnaanmu.'
Rahmi membuka matanya, menatap kosong pada titik-titik air hujan yang berlomba turun di kaca mobil. Ingatan tentang kilatan mata Alan saat menatap Bunga dari koridor lantai dua siang tadi kembali menghantamnya seperti palu godam. Kilatan mata penuh ketertarikan, keterkejutan, dan... kerinduan? Sesuatu yang tak pernah Alan tunjukkan padanya selama hampir dua tahun ini. Sesuatu yang tak pernah ia berikan pada Ayu, pada Helena, atau pada wanita mana pun di kampus itu.
'Tapi kenapa, Lan? Kenapa...' Bibir Rahmi bergetar hebat saat memikirkan kenyataan pahit itu. 'Kenapa segala pengorbanan dan waktuku selama berbulan-bulan ini, kenapa semua senyum dan air mataku untukmu... bisa kalah telak hanya dengan pertemuan pertamamu dengan Bunga? Kenapa hanya dengan satu tatapan ke arah wanita asing itu, kau bersedia menghancurkan tembok yang mati-matian kau bangun, lalu mencari nomornya? Sebegitu tak berartinyakah aku di matamu?'
Di tengah guyuran hujan malam Kota Bandung, di dalam kemewahan mobil yang ironisnya tak bisa membeli sepeser pun kebahagiaannya, Rahmi sang pewaris takhta itu menangis dalam keheningan yang paling mematikan. Ia tidak tahu menahu bahwa Bunga adalah masa lalu Alan. Baginya saat ini, ia baru saja kalah dalam sebuah peperangan melawan orang asing, dan menyedihkannya, ia kalah sebelum ia sempat mengangkat senjatanya di medan tempur.
Dan di Cafe Nuansa yang berjarak belasan kilometer di belakang sana, Alan sedang sibuk melayani pelanggan, sama sekali tidak menyadari bahwa pertanyaan sederhana yang meluncur dari bibirnya sore tadi, telah meruntuhkan dunia seorang gadis yang paling tulus mencintainya. Kesalahpahaman ini baru saja mengakar, bersiap tumbuh menjadi benalu yang akan merusak persahabatan mereka di babak-babak kehidupan selanjutnya.