NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Salam Penuh Harapan

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 Aluna menelusuri koridor. Sedikit lebih cepat dari berjalan normal, kini loker miliknya yang menjadi tujuan. Belum lima menit bel masuk berdering, tetapi dirinya harus meminta ijin pada pengajar untuk mengambil buku catatan yang mungkin saja tertinggal di sana.

 Dan keberuntungan bagi Aluna karena apa yang dia cari dapat ditemukan. Selagi menata barang dalam loker yang sempat diacak-acak, indera pendengar Aluna menangkap suara. Awalnya dia biasa saja, akan tetapi tatkala suara lain menginterupsi, ia mulai penasaran.

 “Apa ini?” Suara tak asing ini yang membuat Aluna mencari sumbernya.

 Berada di deretan yang sama dengan loker Aluna, Bintang sedang berdiri. Ia tengah berhadapan dengan seorang gadis yang juga familiar di pandangan Aluna.

 “Ini untuk tanda terima kasih karena tadi Kak Bintang sudah menolongku,” kata siswi tersebut selagi tersipu.

 “Oh, nggak perlu repot-repot. Gue nggak apa-apa. Sungguh.” Bintang menjulurkan lagi paper bag dalam genggaman.

 “Tidak, Kakak. Aku serius. Ini juga untuk tanda maaf. Karena Kakak menolongku, seragam Kak Bintang jadi kotor.” Dia menyembunyikan tangan di balik punggung. Menghindari Bintang yang akan mengembalikan hadiah darinya.

 “Hehehe,” kekeh Bintang seraya menggaruk tengkuk karena gugup. “Tapi—”

 “Tolong terima, ya, Kak. Maaf, aku harus pergi sekarang,” potong gadis itu cepat lalu berlari menjauhi Bintang. Ia sempat melemparkan sapaan pada Aluna ketika melintas di depannya. Aluna membalas, meski dia sendiri sedikit malu karena ketahuan menjadi penonton dari kejadian itu.

 Aluna tercekat di saat matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan Bintang yang masih memperhatikan punggung sang adik kelas yang kian menjauh. Aluna sontak mengangguk kikuk, tanda salam tak terduga. Secepat kilat ia membalikkan diri pada loker yang masih menganga. Dan lagi, jantungnya kembali terpacu. Berharap, Bintang segera pergi, Aluna membuat kegiatan kecil di sana walau tempat pribadinya menyimpan barang sudah terkemas rapi.

 “Kumohon, cepatlah pergi.” Demikian pengharapannya.

 Setelah mengambil dan membuang napas berat, ia memutuskan diri untuk beranjak. Namun, siapa yang menyangka bahwa persona yang Aluna harap hilang keberadaanya dari sana sudah berdiri di balik pintu loker gadis Wicaksana tersebut. Tentu saja, Aluna terperanjat.

 “Gue minta maaf. Gue nggak ada maksud buat kagetin lo,” ujar Bintang manakala mendapati Aluna mengelus dada juga menarik ulur nafas tak beraturan akibat perbuatannya.

 “Nggak apa-apa. Hehe,” balas Aluna sembari melambai kecil. Ia tertawa ringan demi membuang setitik kecanggungan antara keduanya.

 “Gue minta maaf,” pinta Bintang untuk kedua kalinya.

 “Nggak apa, kok. Jangan khawatir,” jawab Aluna. Senyum terbaik hiasi bibirnya, walau pertanyaan akan alasan Bintang menghampirinya bermain dalam benak.

 “Terima kasih. Ini.” Bingkisan yang Bintang dapat tadi kini tersodor begitu saja di hadapan Aluna. Lantas, gadis itu memandang bingung sang empu.

 “Ini cokelat. Gue nggak mungkin ngabisin ini sendiri,” jelas Bintang. Kepalanya bergerak seakan meminta Aluna melihat lokernya yang terpisah antara sepuluh loker dari milik Aluna.

 Mengerti maksud Bintang yang memiliki makna ada banyak bingkisan seperti ini dalam loker membuat Aluna mengangguk paham.

 “T-tapi …” Aluna tergagap. Entah bagaimana dirinya harus merespon niat baik Bintang. Ini sungguh diluar dugaannya.

 “Ambillah. Ini pertama kalinya gue kasih ini ke cewek.”

Penjelasan Bintang berhasil membekukan Aluna.

 “Pe-pertama kali? Oh, Tuhan. Apa ini?”

 “Lo terima, ya.”

 “Apa dia serius? Aku? Pertama?”

 “B-baiklah.” Tersadar akan posisi terpojok, Aluna akhirnya menerima uluran itu. Mati-matian dia berusaha untuk menahan getaran tangan yang terlalu kentara. “T-terima kasih.”

 “Hehehe. Kenapa lo tergagap?”

 “A! Ah, bukan apa-apa. Hehehe.” Kali ini Aluna yang harus mengusap tengkuk.

 “Apa suhu udara mulai naik? Kenapa sangat panas?” batinnya.

 “Sekali lagi terima kasih,” kata Aluna malu-malu.

 “Ah, nggak masalah, kok. Gue yang seharusnya bilang terima kasih,” cengir Bintang.

 Aluna makin tersipu.

 “Apakah harus berakhir sekarang?”

 Aluna tahu diri. Ia tidak ingin egois karena satu momen berharga ini. Dia sadar jika di sisi lain bangunan, gurunya sedang menunggu sosoknya kembali.

 “Apakah kamu baik-baik saja?”

 Kesadarannya masih terjaga, tetapi tidak dengan refleks pemikirannya. Aluna melempar pertanyaan tatkala maniknya menangkap noda yang tertinggal pada jas Bintang.

 Senyum simpul sang lawan bicara mencairkan rasa gugup Aluna. Apalagi tatapan hangat kala Bintang berbicara, membuat Aluna terbius akan karisma sang idola. Ia tidak ingin melepaskan peluang emas ini. Ia hanya ingin waktu berhenti.

 “Gue baik-baik aja. Sebentar lagi gue akan ganti baju.”

 “Oh, syukurlah,” puji syukur Aluna. “Baiklah, aku harus kembali ke kelas. Terima kasih, ya, untuk cokelatnya.”

 “OK! See you later.”

 Ini benar-benar keterlaluan! Hanya mendengar kalimat itu sudah berhasil membuat pipi Aluna makin panas. Seolah dirinya masih ada harapan menikmati waktu seperti ini lagi di masa depan. Oh, entahlah! Si bucin Aluna bak melayang-layang di surga dunia.

 “Iya. See you.” balasnya cepat.

 Berbalik kemudian, lalu melangkah dengan tubuh yang mati rasa. Alih-alih dapat meninggalkan TKP secepatnya, langkah yang belum genap tiga pijakan itu pun harus berhenti. Buku dan pemberian Bintang terlepas dari genggaman. Berjongkok cepat, Aluna berusaha mengambil kembali barang-barangnya.

 Adegan klise akhirnya terjadi.

 Bintang yang melihat itu mengambil tindakan serupa dan netra keduanya kembali bersua dalam tatap. Aluna yang terkejut karena Bintang berjongkok di hadapan, sekali lagi terdiam. Sendinya seakan hilang daya seketika. Terampas oleh desiran darah yang mengalir begitu deras.

 “Aluna?” panggil Bintang.

 “I-iya?”

 “Apa lo baik-baik aja?”

 “Nggak! Aku nggak baik-baik saja,” teriak isi kepala Aluna.

 “I-iya. A-aku baik-baik saja. Terima kasih.”

 Kalimat itu menjadi balasan berisi dusta seorang gadis keluarga Wicaksana.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!