NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Manipulasi Rekaman

​"Mana rekamannya?! Putar ulang dari jam tujuh tepat!"

​Gideon menggebrak meja panel kontrol ruang keamanan dengan kepalan tangannya yang super besar. Layar monitor di depannya berkedip sesaat sebelum kembali menampilkan gambar statis bersemut putih.

​"Sumpah, Bos. Rekamannya benar-benar hilang," jawab petugas keamanan yang duduk di kursi operator. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras di pelipisnya. "Kamera di area parkir bawah tanah mendadak mati selama satu jam penuh. Sistem jaringannya seolah dihapus paksa dari luar."

​"Alasan sampah!" Gideon menarik kerah seragam petugas keamanan itu hingga tubuhnya setengah terangkat dari kursi. "Empat orang andalan gue masuk rumah sakit dengan tulang hancur lebur, dan lo bilang kamera kebetulan mati? Cari tahu siapa yang meretas sistemnya, atau mata lo yang gue cungkil keluar detik ini juga!"

​Di luar ruang keamanan yang berdinding kaca transparan itu, Jace sedang mengelap kaca perlahan-lahan. Pria berseragam petugas kebersihan itu menyenandungkan lagu kecil yang tidak bernada sama sekali. Jari tangannya memutar sebuah alat penyimpanan data kecil di dalam saku celananya dengan santai.

​Jace tersenyum miring melihat Gideon yang sedang mengamuk layaknya orang gila di dalam sana. Menghapus jejak pertarungan di parkiran tadi adalah hal paling mudah bagi pewaris Diwantara Group sekelas Jace. Tidak boleh ada satu pun petinggi Aegis Corp yang tahu seberapa mematikannya sang Manajer HRD baru itu. Senjata rahasia harus tetap menjadi rahasia sampai Jace benar-benar paham cara kerja pikiran perempuan tersebut.

​Brak!

​Sebuah tumpukan map tebal berwarna merah dilempar dengan keras ke tengah meja bundar besar. Suara hantaman map itu menghentikan tawa dan obrolan selusin pria berjas mahal di dalam ruang rapat Divisi Keuangan.

​Riana berdiri tegak di ujung meja. Kemeja putihnya terlihat sangat rapi tanpa noda sedikitpun. Kacamata tebalnya bertengger angkuh di wajahnya yang sedingin balok es.

​"Gue tolak semua pengajuan dana operasional dari divisi kalian," ucap Riana tanpa basa-basi sedikit pun.

​Frans, Direktur Keuangan Aegis Corp yang sedang mengisap rokok elektroniknya, menatap Riana dengan tatapan sangat merendahkan. Pria paruh baya dengan rambut klimis itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewahnya.

​"Gadis kacamata dari HRD," sapa Frans dengan senyum sinis yang dibuat-buat. "Siapa yang kasih lo izin masuk ke ruang rapat petinggi keuangan? Lo nyasar? Ruang fotokopi ada di ujung lorong sebelah kiri sana."

​Beberapa pria di meja rapat itu tertawa mengejek dengan suara keras. Riana sama sekali tidak terpancing. Dia menarik kursi terdekat dan duduk dengan punggung tegak lurus menatap lurus ke arah Frans.

​"Kuitansi bodong," ucap Riana singkat. Jari telunjuknya mengetuk tumpukan map merah di depannya dengan ketukan bernada konstan. "Kalian mengajukan pencairan dana operasional lapangan senilai delapan ratus juta rupiah dengan alasan tunjangan dinas karyawan luar kota. Tapi tidak ada satupun stempel resmi dari hotel, tiket pesawat, atau bukti kegiatan. Ini cuma tulisan tangan asal-asalan dari buku bon murahan."

​"Itu uang pelicin buat aparat keamanan di pelabuhan," balas Frans terang-terangan tanpa merasa bersalah sedikitpun. "Kita ini Aegis Corp. Perusahaan ini butuh uang tunai cepat untuk menyumpal mulut lapar di luar sana supaya bisnis kargo ilegal kita tetap aman. Lo itu anak baru, mending lo diam dan tanda tangani saja surat pencairan dananya sekarang juga."

​"Gue tidak akan menandatangani dokumen sampah yang melanggar prosedur administrasi perusahaan," tolak Riana mutlak.

​Frans menggebrak meja pelan, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Wajahnya berubah mengeras dan tatapannya berubah menjadi tajam.

​"Lo jangan sok suci di sini," ancam Frans dengan nada rendah. "Perusahaan ini berdiri di atas uang kotor. Kalau aparat di pelabuhan tidak dapat jatah mereka minggu ini, barang selundupan kita bakal disita total. Lo mau tanggung jawab atas kerugian miliaran rupiah, hah?"

​"Itu urusan divisi lo, bukan urusan gue," balas Riana sangat santai. "Tugas gue dari CEO Aegis sebagai Manajer HRD termasuk memastikan tidak ada aliran dana tenaga kerja yang bocor tanpa bukti yang sah. Uang operasional lapangan masuk dalam kategori tunjangan kinerja staf. Kalau kwitansinya palsu, artinya kalian menggelapkan uang tunjangan karyawan. Dana gue blokir secara permanen mulai menit ini."

​Suasana ruang rapat mendadak berubah sangat tegang. Beberapa pria berjas mulai memasukkan tangan mereka ke balik jas kerja, bersiap menyentuh gagang senjata api yang selalu mereka bawa di balik pakaian mahal mereka.

​Frans tertawa hambar memecah kesunyian. Dia mematikan rokok elektroniknya dan menatap Riana seolah sedang menatap mayat hidup yang berjalan.

​"Lo tahu," ucap Frans pelan tapi penuh ancaman mematikan. "Di gedung ini, nyawa orang jauh lebih murah daripada selembar kertas kuitansi yang lo pegang itu. Banyak orang hilang tanpa jejak cuma karena mereka terlalu banyak tanya soal uang operasional. Lo yakin mau cari mati menantang seluruh divisi keuangan sendirian?"

​Riana sama sekali tidak berkedip. Dia justru memajukan wajahnya, menantang balik tatapan membunuh Frans tanpa keraguan sedikit pun. Mantan algojo ini sudah terlalu bosan dengan ancaman kematian receh semacam ini.

​"Gue tanya balik ke lo, Frans," desis Riana sangat tajam. "Lo pikir kenapa tiba-tiba posisi Manajer HRD diberi wewenang penuh untuk memeriksa seluruh aliran dana operasional karyawan? Lo pikir gue kurang kerjaan masuk ke sarang serigala berjas ini sendirian tanpa persiapan matang?"

​Frans mengerutkan keningnya. Dia baru menyadari ada yang aneh dengan wewenang baru departemen HRD yang menurutnya biasanya hanya mengurus hal sepele ini.

​"Bos besar sedang bersiap untuk membawa perusahaan ini melantai di bursa saham publik," jelas Riana dengan suara lantang yang menggema di seluruh sudut ruangan. "CEO menunjuk gue secara langsung untuk menjadi palang pintu pertama kepatuhan internal. Kenapa? Karena dokumen tenaga kerja dan tunjangan operasional karyawan adalah target pertama yang akan diobrak-abrik oleh tim audit negara bulan depan."

​Riana berdiri dari kursinya dengan gerakan elegan. Dia mengeluarkan tablet kerjanya dari dalam tas dan menghubungkannya dengan kabel proyektor yang ada di atas meja rapat. Dalam hitungan detik, layar putih besar di dinding ruangan menyala terang benderang.

​Layar proyektor itu menampilkan sebuah draf laporan resmi dengan stempel garuda emas yang sangat mencolok di sudut kanan atasnya.

​"Kalian pikir gue takut sama peluru kalian?" Riana tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman algojo yang siap mencabut nyawa para koruptor ini lewat selembar kertas laporan. "Satu peluru dari kalian mungkin bisa membunuh gue. Tapi peluru tidak bisa menghentikan sistem pengiriman surat elektronik yang sudah gue pasang dengan pengatur waktu. Kalau gue tidak menekan tombol aman di tablet ini setiap satu jam sekali, laporan ini akan terbang otomatis."

​Napas Frans tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar melihat deretan angka dan nama-nama yang terpampang jelas di layar proyektor tersebut.

​"Silakan bunuh saya sekarang, Pak Frans," tantang Riana dengan nada suara yang kembali formal namun mematikan. "Tapi kalau Bapak melakukannya, agen pajak akan menyita seluruh aset pribadi dan perusahaan ini sore ini juga. Silahkan lihat sendiri daftar nama kalian yang sudah saya tandai sebagai pelaku penggelapan pajak di layar itu."

1
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Muft Smoker: yuuuuuk ,, sbntaar yx aq ambil Pisang goreng sama teh anget dluuu ,, 😁😁😁
total 5 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
FHR
Apakah Bramantyo akan curiga siapa Riana sebenarnya?
Savana Liora: suatu saat akan curiga
total 1 replies
hana
makasih thor akhir nya up juga🙏🙏🙏🙏
Susilawati
jaga kesehatan dan terus semangat Thor 💪, di tunggu kelanjutannya 👍
Savana Liora: siapp kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!