NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Menang

​​"Seratus dua puluh miliar! Ayo, angkat plakat lo kalau berani, Nona Kacamata!"

​Teriakan Gideon menggema keras membelah ruang aula yang megah. Pria gempal itu berdiri dari kursinya dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena kombinasi euforia dan dendam kesumat. Dia mengacungkan plakat lelangnya tinggi-tinggi seolah itu adalah piala kemenangan. Ujung cerutunya yang menyala dia arahkan lurus menantang Riana yang duduk tenang di sudut gelap.

​Jace yang duduk bersandar di sebelah Riana langsung menyipitkan mata. Pria berjas hitam Vivaldi itu mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Riana.

​"Orang gila itu benar-benar mau membakar uang hasil korupsinya demi menjatuhkan harga diri lo," bisik Jace tajam. "Seratus dua puluh miliar itu harga yang terlalu mahal, Riana. Nilai asli kontainer senjata itu cuma di kisaran tujuh puluh miliar. Lo mau terus meladeni si babi hutan ini?"

​Riana tidak langsung menjawab. Perempuan bergaun merah marun itu menatap lurus ke arah panggung, jari telunjuknya mengetuk pelan tepi meja bundar mengikuti irama detak jarum jam.

​"Gue berhenti," ucap Riana dengan suara datar yang teramat tenang. Dia meletakkan plakat lelangnya tertelungkup ke atas meja. "Biar dia yang menang."

​"Seratus dua puluh miliar dari Pak Gideon!" seru sang juru lelang dari atas panggung, matanya menyapu seluruh penjuru ruangan mencari penawar lain. "Apakah ada yang berani menaikkan harga? Perwakilan dari meja empat puluh lima?"

​Riana sama sekali tidak bergerak mengambil plakatnya. Dia hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga nyaris tidak terlihat.

​"Tiga! Dua! Satu! Terjual kepada Pak Gideon dari Aegis Corp!"

​Terdengar bunyi ketukan palu kayu yang sangat keras menghantam podium.

​Gideon tertawa luar biasa kencang mendengarnya. Dia membusungkan dadanya, menepuk-nepuk perut buncitnya dengan bangga. Beberapa bos mafia di sekitarnya memberikan tepuk tangan formalitas, meski sebagian besar dari mereka menatap Gideon dengan pandangan meremehkan karena pria itu baru saja membuang uang terlalu banyak untuk satu kontainer senjata.

​"Bawa mesin pembayarannya ke sini sekarang juga!" perintah Gideon arogan kepada pelayan lelang yang berjalan menghampirinya. "Gue mau selesaikan transaksinya detik ini juga biar si culun di pojok sana tahu siapa bos logistik yang sebenarnya!"

​Pelayan berseragam rapi itu menyodorkan sebuah mesin pembaca kartu nirkabel khusus yang terenkripsi jalur satelit. Di dunia pelelangan bawah tanah, aturan mainnya sangat ketat: barang yang dimenangkan harus dibayar lunas hari itu juga tanpa sistem kredit atau cicilan.

​Gideon merogoh saku dalam jas kebesarannya. Pria itu menarik keluar sebuah kartu hitam polos tanpa logo bank sama sekali. Itu adalah kartu akses menuju rekening bayangan lepas pantai miliknya di Kepulauan Kura-kura. Rekening rahasia yang dia isi selama bertahun-tahun dari hasil memanipulasi anggaran logistik Aegis Corp.

​"Anggaran resmi divisi gue memang lo bekukan, Riana sialan," gumam Gideon pelan pada dirinya sendiri sambil menyeringai licik menatap kartu hitam itu. "Tapi lo terlalu bodoh buat tahu kalau gue punya brankas rahasia sendiri."

​Di sudut ruangan yang jauh, Riana tidak membuang waktu. Sembari Gideon sibuk memamerkan kartunya, Riana membuka ritsleting tas kecilnya dan mengeluarkan tablet kerja layarnya.

​"Apa yang mau lo lakukan?" tanya Jace melirik layar tablet Riana yang menyala terang. "Gideon mau bayar pakai dana bayangan miliknya. Otoritas HRD lo tidak bisa menjangkau rekening pribadi luar negeri."

​"Otoritas HRD memang tidak bisa," jawab Riana dingin, jari-jarinya mulai mengetik cepat di atas layar sentuh. "Tapi akses Direktur Kepatuhan bisa meratakan segalanya."

​Riana baru saja menjatuhkan Frans siang tadi. Dari hasil audit berdarah itu, Riana sudah menguasai seluruh master sandi portal keuangan mafia Aegis Corp. Karena Frans adalah orang yang bertugas mencuci semua uang kotor petinggi perusahaan, brankas digital Frans memegang kunci akses langsung ke setiap rekening bayangan milik semua kepala divisi, termasuk milik Gideon.

​Hanya butuh waktu sepuluh detik bagi Riana untuk meretas masuk ke dalam portal perbankan gelap tersebut menggunakan sandi tingkat atasnya. Deretan nama samaran dan nomor seri rekening muncul di layar. Riana mencari nomor seri yang terhubung dengan Divisi Logistik.

​"Kena kau, tikus got," desis Riana mematikan.

​Dia menekan sebuah tombol merah besar di layar tabletnya yang bertuliskan: SITAASET.

​Di meja depan, Gideon menggesekkan kartu hitam polosnya ke celah mesin pembayaran dengan gaya pongah. Mesin itu berkedip memproses data. Gideon menatap ke sekeliling ruangan, menunggu suara persetujuan yang akan meresmikan kemenangannya.

​Tit. Tit. Tit.

​Layar mesin itu mendadak berkedip merah terang. Bukannya mencetak struk bukti pembayaran, mesin itu justru mengeluarkan bunyi alarm penolakan yang cukup keras.

​"Maaf, Pak Gideon. Saldo kartu Anda ditolak oleh sistem pusat," lapor pelayan lelang itu dengan nada datar tanpa ekspresi.

​Tawa Gideon terhenti seketika. Wajahnya berkerut bingung.

​"Mesin rongsokan lo yang rusak! Coba gesek lagi yang benar!" bentak Gideon menunjuk mesin itu dengan kasar. "Uang gue di dalam sana jumlahnya ratusan miliar!"

​Pelayan itu kembali menggesek kartu hitam milik Gideon untuk kedua kalinya.

​Tit. Tit. Tit.

​Hasilnya sama persis. Tulisan PENOLAKAN OTORITAS menyala terang di layar mesin.

​"Kartu Anda tidak bisa digunakan, Pak. Sistem perbankan internasional membaca bahwa rekening ini baru saja dibekukan dan disita secara sepihak oleh otoritas keuangan Aegis Corp," jelas pelayan itu tegas, membacakan keterangan eror yang tertera di layarnya.

​Wajah Gideon langsung memucat pasi seperti mayat hidup. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Uang ratusan miliar hasil jerih payahnya menguras anggaran selama lima tahun mendadak lenyap tidak bisa diakses sama sekali.

​"Nggak mungkin! Siapa yang berani sentuh rekening pribadi gue?!" raung Gideon histeris, panik luar biasa, tangannya gemetar merebut mesin itu dan mencoba memencet tombolnya sendiri. "Frans! Pasti ini kerjaan Frans si tukang cuci uang bangsat itu!"

​Suasana di ruang aula mendadak berubah drastis. Ratusan bos mafia yang tadinya diam kini mulai tertawa merendahkan dan berbisik-bisik mencemooh pemandangan memalukan tersebut.

​"Aegis Corp sekarang sudah jatuh miskin sampai berani kirim gembel buat ikut lelang?" ejek bos kartel berkepala plontos dari meja sebelah sambil menghembuskan asap cerutunya. "Kalau tidak punya uang tunai, jangan sok-sokan angkat plakat."

​"Bayar atau potong jari lo sebagai ganti rugi waktu kami!" teriak bos mafia lainnya dari arah belakang.

​Dua orang penjaga keamanan pelelangan berbadan raksasa langsung melangkah cepat menghampiri meja Gideon. Mereka tidak menoleransi penipuan finansial dalam acara elit ini. Kedua penjaga itu mencengkeram lengan gempal Gideon dengan sangat kasar.

​"Lepasin gue! Gue punya uangnya! Kasih gue waktu lima menit buat telepon kantor pusat!" Gideon meronta-ronta liar, tapi tenaga kedua penjaga itu jauh lebih kuat. Dia diseret mundur layaknya karung beras rongsokan. Harga diri, uang, dan reputasinya hancur lebur tanpa sisa di depan seluruh penguasa bawah tanah kota.

​Jace yang melihat kejadian itu dari jauh hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa pelan. "Lo benar-benar iblis birokrasi, Riana. Lo hancurkan dompet rahasianya di detik yang paling krusial."

​"Waktunya gue belanja," ucap Riana tenang, menyimpan kembali tablet kerjanya ke dalam tas.

​Perempuan itu berdiri dari kursinya. Jace baru saja hendak ikut berdiri untuk mengawalnya, tapi Riana menekan bahu pria itu dengan cepat.

​"Tetap duduk di sudut gelap ini," perintah Riana mutlak tanpa menoleh ke belakang. "Lampu panggung terlalu terang. Kalau lo maju mendampingi gue, paman lo di meja nomor tujuh bakal melihat wajah lo dengan sangat jelas. Penyamaran lo bisa hancur. Biar gue yang selesaikan ini sendirian."

​Jace menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, menyunggingkan senyum bangga. "Hati-hati di panggung, Bu Direktur."

​Riana mengangguk pelan. Langkah kakinya yang dihiasi sepatu hak tinggi mengalun anggun membelah kerumunan bos mafia. Meski berjalan sendirian tanpa pengawal, postur tubuhnya yang tegak dan sorot matanya yang sedingin es memancarkan aura membunuh absolut. Tidak ada satu pun preman atau bos mafia yang berani menghalangi jalannya.

​Riana berhenti tepat di depan podium juru lelang. Dia membuka tas kecilnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu tebal berwarna hitam pekat dengan lambang tengkorak emas di sudutnya—kartu kredit platinum tanpa limit yang diberikan langsung oleh CEO Bramantyo.

​"Karena penawar sebelumnya terbukti melakukan penipuan finansial dan telah didiskualifikasi dari ruangan ini, barang lelang itu otomatis kembali ke pasar," Riana berbicara dengan suara yang sangat lantang, jernih, dan penuh dominasi, memastikan seluruh ruangan mendengarnya.

​Dia melempar kartu hitam tersebut hingga mendarat dengan bunyi dentingan pelan di atas meja pelayan.

​"Gue ambil alih kontainer senjata itu di harga penawaran terakhir gue sebelum pria gempal tadi ikut campur," putus Riana mutlak, menatap lurus ke arah juru lelang tanpa berkedip sedikit pun. "Seratus miliar rupiah. Gesek kartu platinum Aegis Corp ini sekarang dan cetak surat jalannya detik ini juga."

1
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Muft Smoker: yuuuuuk ,, sbntaar yx aq ambil Pisang goreng sama teh anget dluuu ,, 😁😁😁
total 5 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
FHR
Apakah Bramantyo akan curiga siapa Riana sebenarnya?
Savana Liora: suatu saat akan curiga
total 1 replies
hana
makasih thor akhir nya up juga🙏🙏🙏🙏
Susilawati
jaga kesehatan dan terus semangat Thor 💪, di tunggu kelanjutannya 👍
Savana Liora: siapp kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!