Kakak readers tersayang, tolong jangan di boomlike ya! Budayakan kasih like setelah membaca. Terima kasih 🙏🏻
Saat dia dicampakkan oleh kekasihnya, dia bertemu dengan seorang lelaki yang kemudian menjadi suami sirinya.
"Dengar! Meski kita sudah menikah, tapi kamu jangan berharap banyak padaku, karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai," Dave Sky Pradipta
"Aku tidak keberatan jika kamu menceraikanku sekarang juga. Lagipula pernikahan kita hanya siri," Sevia Kireina Dzakiya
Pernikahan yang awalnya dijalani tanpa cinta, tetapi saling menguntungkan untuk keduanya, mampu menumbuhkan benih-benih cinta tanpa disadari oleh Sevia dan Dave.
Sampai pada saat cinta semakin berkembang dalam pernikahan rahasia mereka. Keduanya sepakat untuk mengungkapkan perasaan di hari yang telah di tentukan. Namun ternyata, hari itu adalah awal dari perpisahan yang tidak mereka harapkan. Sementara tanpa Sevia ketahui, dia telah mengandung anaknya Dave. Mungkinkah cinta dapat menyatukan mereka kembali ataukah hanya menjadi sebuah kenangan yang tak akan terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thatya0316, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Seminar
"Maaf, Di! Aku pulang dijemput suamiku," tolak Sevia. "Aku masuk dulu ya!" Sevia langsung berlalu pergi tanpa menunggu Andika berbicara.
Saat sampai di dalam gedung, suasana sudah ramai dengan beribu-ribu mahasiswa baru yang akan mengikuti seminar motivasi. Sevia pun asal mengambil tempat duduk yang sekiranya kosong. Merasa jenuh karena dia hanya sendirian sedangkan yang lain pergi bersama temannya, Sevia pun mengajak kenalan pada seorang gadis yang duduk di sampingnya.
"Hai, aku Sevia! Namamu siapa?" tanya Sevia.
"Aku Reina! Senang berkenalan denganmu, kamu dari kampus mana?" tanya gadis yang bernama Reina.
"Aku dari Cikarang, kalau kamu?"
"Sama aku juga dari sana. Kamu ambil jurusan apa?" tanya Reina.
"Akuntansi, kalau kamu?"
"Sama, wah asik aku dapat teman satu jurusan. Semoga kita satu kelas ya!" Reina yang sama seperti Sevia datang sendiri ke acara seminar, dia begitu senang saat berkenalan dengan Sevia.
Kedua teman baru itu larut dalam obrolan. Sampai tidak terasa acara demi acara sudah mereka lalui bersama. Kini saatnya acara seminar di jeda karena memasuki jam makan siang. Sevia dan Reina pun mencari tempat makan untuk mengisi perutnya yang sudah lapar. Namun, jiwa pemalas kedua gadis itu ternyata lebih besar dibanding dengan rasa lapar yang mendera sehingga mereka hanya membeli mie instan yang ada dalam cup dari penjual keliling yang memang banyak berjualan d luar area gedung.
"Rei, enak banget ya makan mie dibawah pohon begini." Sevia terus saja meniup mie yang memang masih panas.
"Iya, Via! Kalau ketahuan mamaku, aku pasti dimarahin." Reina pun asyik memasukkan mie ke dalam mulutnya.
"Mamamu perhatian banget ya!" ujar Sevia. Ada sedikit cemburu di hatinya karena sedari dia kecil, Sevia sudah berpisah dengan ibunya.
"Mamaku protektif banget sama aku. Mungkin karena aku anak cewek satu-satunya," ungkap Reina.
"Memang kamu berapa bersaudara?" Sevia mulai tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang keluarga teman barunya.
"Aku tiga bersaudara, aku anak bontot cewek satu-satunya," jelas Reina.
"Pantas saja kamu sangat disayang, bersyukur Rei, kamu memiliki keluarga yang sayang dan perhatian sama kamu karena tidak semua anak bisa seberuntung kamu." Sevia semakin mempercepat makan mienya untuk melupakan rasa sesak di hatinya.
Dia selalu sedih saat ada orang yang bercerita tentang keluarganya yang bahagia dan saling menyayangi. Selama ini, hanya neneknya yang dengan tulus merawat, mendidik dan membiayai sekolahnya meski hanya sampai SMU. Akan tetapi, Sevia sangat bersyukur memiliki nenek yang luar biasa dan selalu menyayanginya apapun keadaannya. Teringat pada neneknya, Sevia pun berencana untuk pulang sekalian memberikan uang yang kemarin Dave beri untuk merenovasi rumah neneknya.
"Via, kamu di sini rupanya! Aku berkeliling mencarimu, ternyata sedang makan mie di bawah pohon." Andika langsung mendudukan bokongnya di atas baju yang ada di samping Sevia.
"Memang kenapa kamu mencariku?" tanya Sevia jengah.
"Aku hanya ingin memaksimalkan kesempatan yang ada untuk bisa bersamamu." Andika tersenyum cerah dan langsung mengambil cup mie yang ada di tangan Sevia. "Aku habiskan mie-nya, kamu makan nasi kotak aja."
"Apa-apaan sih, Di? Siniin itu punya aku, kenapa kamu gak beli aja?" tanya Sevia makin jengah dengan apa yang Andika lakukan.
"Sudahlah Via! Kita kan sering makan satu mangkok mie berdua, kenapa sekarang kamu keberatan?" Andika balik bertanya dan terus memakan mie bekas mantan pacarnya itu.
"Kalian pacaran?" tanya Reina yang merasa aneh dengan kelakuan Andika dan Sevia.
"Iya!" jawab Andika singkat.
"Itu dulu, sekarang mantan pacar. Dia sudah menikah Rei, kamu gak boleh naksir!" sahut Sevia jengah dengan apa yang Andika katakan.
"Nggak kho! Aku hanya heran melihat kedekatan kalian. Bukankah Mas ini panitia seminar, berarti dosen dong!" tebak Reina.
"Aku dosen baru. Nanti kalian ketemu aku saat di lab komputer," ucap Andika dengan terus memakan mie milik Sevia.
Sevia hanya menghela napas dalam. 'Kenapa mantannya ini malah terus menguntitnya? Apa dia sedang butuh uang lagi?' pikirnya. Setelah Andika menghabiskan mie milik Sevia, dai pun kembali berkumpul dengan panitia lainnya. Sedangkan Sevia dengan terpaksa membuka nasi kotak yang tadi di bawa oleh Andika.
"Rei, bareng yuk! Kamu kan belum makan nasi," ajak Sevia.
Reina pun hanya mengikuti ajakan Sevia. Entah kenapa, meskipun mereka baru bertemu sekarang, tetapi Reina sudah merasa sangat dekat dengan Sevia. Dia pun tidak merasa sungkan dengan teman barunya itu.
Kedua gadis itu pun kembali ke gedung setelah mereka melaksanakan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Seminar pun kembali berjalan dengan tertib. Sampai saat sore menjelang, semua peserta pun dibubarkan oleh panitia. Sevia sudah menghubungi suaminya. Akan tetapi, ponselnya tidak tidak bisa dihubungi sehingga dia hanya mengirimkan pesan agar Dave bisa membacanya. Namun, sudah satu jam Sevia menunggu di depan gedung, Dave tidak datang juga sehingga dia berjalan gontai menuju ke pintu gerbang Senayan berniat akan naik bis pulang ke kotanya.
"Tahu Dave gak mau jemput, tadi aku ikut pulang sama Reina saat dia ajak. Bukannya balas pesanku kalau memang gak bisa jemput. Dasar brondong mesum suka sesuka hatinya saja." Sevia terus menggerutu sepangjang jalan menuju ke pintu keluar area senayan. Sampai akhirnya aada sebuah suara yang mengajaknya untuk pulang bareng.
"Sevia ayo naik!"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...